Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: REKAMAN PEMBANTAIAN
#
Layar laptop menyala dengan gambar yang goyang. Kamera handheld yang dipegang tangan gemetar. Suara napas berat terdengar dari speaker yang retak.
"Tanggal dua belas Maret 2025," suara Hendrawan berbisik. Suaranya serak, kayak habis teriak atau... atau nangis. "Jam sebelas malam. Aku... aku gak tau siapa yang akan lihat ini. Tapi kalau ada yang lihat, kalian harus tau apa yang terjadi malam ini."
Kamera bergerak. Nunjukin hutan gelap. Pohon-pohon besar. Cahaya api di kejauhan.
"Desa Harapan Baru," lanjut Hendrawan. "Desaku. Tempat aku sembunyi sepuluh tahun. Tempat aku pikir aman. Tapi..."
Suaranya patah. Kamera goyang lebih keras.
"Adrian nemuin aku."
Arjuna mengencang. Tangannya ngepal kuat sampe kuku mencakar telapak tangannya sendiri.
Kamera zoom in. Gambar jadi lebih jelas meski gelap. Ada desa. Rumah-rumah kayu yang terbakar. Api besar yang menyala tinggi ke langit malam. Asap hitam tebal.
Dan ada orang.
Orang-orang berjas hitam dengan senjata. Mungkin dua puluh, tiga puluh. Mereka berdiri dalam formasi di sekitar desa, ngawasin supaya gak ada yang kabur.
"Ya Tuhan," bisik Pixel. "Ini... ini beneran terjadi?"
Di tengah layar, di depan api yang paling besar, berdiri seorang pria. Tinggi. Tegap. Meski dari jauh dan dalam gelap, siluetnya jelas.
Adrian Mahendra.
Dia berdiri dengan tangan di saku. Santai. Kayak lagi nonton pertunjukan seni, bukan pembantaian massal.
"Dia sendiri yang datang," bisik Hendrawan di video. "Dia sendiri yang pimpin ini. Gak kirim anak buah. Datang sendiri. Kayak... kayak dia mau pastiin aku mati dengan matanya sendiri."
Kamera zoom lebih deket. Gak stabil. Hendrawan harus sembunyi di balik pohon.
Terdengar suara. Suara orang berteriak. Tapi bukan teriak marah. Teriak kesakitan. Teriak minta tolong.
"Mereka bunuh semua orang," suara Hendrawan mulai pecah sekarang. "Semua. Pak Darno yang ngasih tau lokasiku, dia yang pertama dibunuh. Ditembak di depan keluarganya. Lalu keluarganya juga dibunuh. Satu per satu."
Di layar, bayangan orang jatuh. Suara tembakan. Suara tangisan yang perlahan berhenti.
Sari tutup mulutnya. Matanya gak bisa lepas dari layar meski dia pengen.
"Ada anak kecil," lanjut Hendrawan. Suaranya hampir gak keluar sekarang. "Anak perempuan umur enam tahun. Dia lari keluar dari rumah yang terbakar. Nangis panggil ibunya. Dan mereka... mereka tembak dia. Di punggung. Dia jatuh tepat di depan ibunya yang udah mati duluan."
"Matikan," kata Arjuna tiba-tiba. "Matikan videonya."
"Tidak," Sari pegang tangannya. "Jangan. Kita harus lihat. Harus tau apa yang dia lakukan."
Arjuna natap dia. Mata Sari udah merah tapi ada sesuatu di sana yang keras. Keras dan dingin.
Video terus jalan. Hendrawan bergerak. Kamera ikut bergerak. Dia coba dapet angle yang lebih baik.
Dan di sana, jelas sekarang di cahaya api, wajah Adrian terlihat.
Dia tersenyum.
Tersenyum lebar sambil nonton desa terbakar. Sambil dengar teriakan orang yang mati.
"Monster," bisik Ratna dari belakang mereka. "Dia bukan manusia lagi. Dia monster murni."
Adrian jalan. Jalan santai mengelilingi desa. Berhenti di depan rumah yang setengah terbakar. Di depan rumah itu ada seorang pria tua berlutut. Tangan diikat di belakang.
"Pak Hasan," suara Hendrawan gemetar. "Kepala RT. Orang yang selalu baik ke semua orang."
Adrian berdiri di depan pria itu. Bicara sesuatu tapi suaranya gak kedengaran karena Hendrawan terlalu jauh.
Lalu Adrian angkat pistol. Pelan. Tempelkan ke dahi Pak Hasan.
"Jangan lihat," bisik Hendrawan di video. "Kumohon jangan lihat."
Tapi kamera tetap ngerekam.
BANG.
Pak Hasan jatuh. Darah muncrat ke tanah.
Adrian turunkan pistolnya. Lap darah di wajahnya dengan sapu tangan putih. Lalu jalan lagi. Kayak gak ada yang terjadi.
"Aku gak bisa selamatkan mereka," Hendrawan bisik. "Aku cuma bisa sembunyi kayak pengecut dan rekam. Rekam semua ini supaya suatu hari... suatu hari dunia tau."
Kamera bergetar lebih keras. Hendrawan nangis sekarang. Tangisannya terdengar jelas di audio.
"Maafkan aku," dia bilang. "Maafkan aku Pak Hasan. Maafkan aku semua orang. Maafkan aku karena aku yang bawa maut ke desa ini. Karena aku yang..."
Suara ranting patah.
Hendrawan berhenti. Kamera berhenti gerak.
"Ada yang denger aku," bisiknya.
Suara langkah kaki. Dekat. Semakin dekat.
"Siapa di sana?" suara asing. Anak buah Adrian. "Keluar atau aku tembak!"
Hendrawan matikan lampu kamera. Layar jadi hitam tapi audio masih jalan.
Suara napas Hendrawan. Cepat. Panik.
Suara langkah kaki makin deket.
"Aku lihat kau," kata anak buah itu. "Keluar sekarang."
Suara gerakan cepat. Suara pukulan. Suara orang jatuh.
"SIAL!" Hendrawan teriak.
Suara tembakan. Satu. Dua. Tiga.
Suara Hendrawan merintih kesakitan.
"Kena," bisiknya. "Kena di... di rusuk. Tapi gak vital. Harus lari. Harus..."
Suara dia lari. Napasnya semakin berat. Langkah kakinya gak teratur.
"DIAA DI SANA! KEJAR!"
Suara lebih banyak langkah kaki. Suara tembakan lagi.
Hendrawan terus lari. Audio penuh dengan napasnya yang tersengal dan suara ranting yang diinjak.
Lima menit yang terasa kayak jam.
Akhirnya suara langkah kaki pengjar menjauh. Hendrawan berhenti. Jatuh kayaknya.
"Hah... hah... aku selamat," bisiknya. "Untuk sekarang."
Suara dia gerak sesuatu. Kamera dinyalain lagi. Gambar muncul tapi gelap. Cuma cahaya bulan sedikit.
Hendrawan duduk di tanah. Punggungnya ke pohon. Tangannya pegang rusuknya yang berdarah. Baju dia basah merah.
"Kalau aku mati," katanya sambil natap kamera. Wajahnya pucat. "Kalau aku gak bertahan sampai pagi, aku mau orang yang nonton ini tau. Adrian Mahendra adalah pembunuh. Dia bunuh ratusan orang malam ini. Pria, wanita, anak-anak. Gak ada yang selamat kecuali aku."
Dia batuk. Darah keluar dari mulutnya.
"Dan mungkin aku juga gak akan selamat lama."
Dia tutup matanya sebentar. Napasnya berat.
"Arjuna," dia buka mata lagi. Natap kamera. Natap anaknya yang dia tau akan lihat ini suatu hari. "Kalau kau lihat ini, aku minta maaf. Maaf karena Ayah lemah. Maaf karena Ayah gak cukup kuat untuk lindungi desa ini. Lindungi orang-orang yang baik ini."
Air matanya jatuh.
"Tapi jangan buat kesalahan yang sama kayak Ayah. Jangan sembunyi. Jangan takut. Lawan dia. Lawan Adrian sampai nafas terakhir. Karena kalau kau gak lawan, monster kayak dia akan terus bunuh. Terus hancurkan kehidupan orang tidak bersalah."
Dia angkat tangan yang berdarah. Tunjuk ke kamera.
"Janji ke Ayah. Janji kau akan jatuhkan dia. Gak peduli apa yang terjadi. Gak peduli berapa yang harus kau korbankan. Jatuhkan Adrian Mahendra."
Dia turunkan tangan. Kepalanya nunduk.
"Sekarang Ayah harus sembunyi rekaman ini. Sebelum mereka balik dan cari."
Kamera dimatiin.
Layar jadi hitam.
Video berakhir.
Hening total di rumah kecil itu. Gak ada yang bicara. Gak ada yang bergerak.
Arjuna duduk dengan mata kosong. Napasnya gak teratur. Tangannya gemetar kuat.
"Ayah," bisiknya. "Ayah lihat semua itu. Ayah rekam semua itu. Dan Ayah... Ayah sendirian."
"Dia gak pengen kau ada di sana," kata Ratna pelan. "Dia gak pengen kau lihat itu. Gak pengen kau jadi bagian dari pembantaian itu."
"Tapi sekarang aku lihat," Arjuna natap laptop. "Aku lihat apa yang Adrian lakukan. Aku lihat dia tersenyum sambil bunuh orang."
"Kita semua lihat," tambah Pixel. Suaranya gemetar. "Dan sekarang... sekarang kita punya bukti. Bukti yang gak bisa dibantah. Bukti langsung dari kejadian."
"Tapi gimana kita sebarkan ini?" tanya Sari. Dia udah gak nangis lagi. Mata dia kering tapi merah. "Gimana kita pastiin dunia lihat? Adrian punya kontrol di semua media. Dia bisa tutup semua yang kita upload."
"Kita butuh platform yang dia gak bisa kontrol," kata Pixel sambil mulai mikir. "Platform yang langsung. Yang real-time. Yang gak bisa dia stop begitu aja."
"Kayak apa?" tanya Arjuna.
Pixel buka tab baru di laptopnya. Search berita terbaru. Scroll. Scroll. Lalu berhenti.
"Ini," katanya sambil putar laptop. Di layar ada artikel berita.
Judulnya: "Adrian Mahendra Dijadwalkan Wawancara Langsung di TV Nasional Minggu Depan"
"Wawancara langsung," baca Sari. "Di Saluran Satu. Minggu depan jam delapan malam."
"Saluran Satu adalah TV paling besar di negara ini," kata Pixel. "Rating tertinggi. Dijangkau puluhan juta orang. Dan yang paling penting..."
Dia zoom ke detail artikel.
"Wawancara akan disiarkan langsung. Tanpa delay. Tanpa editing. Langsung on air."
"Maksudmu kita hack siaran itu?" Arjuna mulai paham. "Kita masukin video ini ke tengah wawancara?"
"Bukan cuma video ini," Pixel senyum. Senyum yang terlihat agak gila. "Kita masukin semua. Semua data. Semua bukti. Semua transaksi. Semua nama. Di saat puluhan juta orang nonton. Di saat Adrian duduk di kursi itu dengan wajah sombongnya."
"Tapi gimana kita hack sistem TV sebesar itu?" tanya Ratna. "Security mereka pasti ketat."
"Ketat tapi gak sempurna," jawab Pixel. "Aku pernah research sistem broadcast TV nasional waktu kuliah. Ada celah. Celah kecil di sistem master control. Kalau kita bisa akses ke ruang kontrol, kalau kita bisa colok device langsung ke server broadcast, kita bisa override sinyal mereka."
"Colok langsung," ulang Arjuna. "Berarti kita harus masuk ke gedung TV itu?"
"Iya."
"Gedung yang pasti dijaga ketat?"
"Iya."
"Saat Adrian ada di sana dengan semua bodyguardnya?"
"Iya."
Arjuna natap Pixel. "Kau gila."
"Aku tau," jawab Pixel. "Tapi ini satu-satunya cara. Kita gak bisa upload online, Adrian akan takedown dalam hitungan menit. Kita gak bisa kasih ke media, mereka semua dibeli dia. Tapi kalau kita broadcast langsung di TV nasional saat dia lagi wawancara? Dia gak bisa stop itu cukup cepat. Video akan tersebar. Orang akan rekam dengan ponsel mereka. Upload ke mana-mana. Jadi viral sebelum dia bisa matikan."
"Dan saat itu terjadi," tambah Ratna, "saat puluhan juta orang lihat video itu, lihat bukti itu, Adrian gak bisa lagi sembunyi di balik topeng dermawannya. Dia akan telanjang di depan seluruh negara."
"Dia akan aktifin The Protocol," kata Sari. "Dia akan lumpuhkan negara ini daripada biarkan diri dia hancur."
"Maka kita harus hack The Protocol dulu," Pixel buka file lain. "Ratna, aku butuh Ibu bantu aku masuk ke sistem itu. Matikan sebelum kita broadcast video."
"Butuh berapa lama?" tanya Ratna.
"Kalau kita punya akses fisik ke server pusat Adrian? Mungkin sepuluh menit. Kalau gak ada gangguan."
"Sepuluh menit adalah waktu yang lama kalau ada bodyguard yang mau bunuh kita," kata Arjuna.
"Maka kita butuh distraksi," Sari berdiri. "Kita butuh sesuatu yang bikin Adrian fokus ke tempat lain. Sesuatu yang bikin dia panik."
"Kayak apa?" tanya Pixel.
Sari diam. Mikir. Lalu matanya melebar.
"Kayak aku," katanya pelan. "Aku akan jadi distraksi."
"Apa?" Arjuna berdiri cepat. "Tidak. Gak ada cara kau akan jadi umpan!"
"Kenapa tidak?" Sari natap dia. "Aku anaknya. Dia gak akan bunuh aku. Dia terlalu... terlalu posesif untuk itu. Kalau aku muncul, kalau aku ancam untuk bilang kebenaran di TV, dia akan fokus semua perhatiannya ke aku."
"Dan saat itu terjadi, dia juga akan fokus semua bodyguardnya ke kau!" Arjuna pegang bahunya. "Kau akan mati!"
"Gak kalau kalian cukup cepat," jawab Sari. "Gak kalau Pixel dan Ratna bisa matikan The Protocol dan broadcast video sebelum dia tangkap aku."
"Ini terlalu berbahaya."
"Semuanya berbahaya!" Sari hampir teriak. "Semua yang kita lakukan dari awal adalah berbahaya! Tapi kita tetep lakuin karena gak ada pilihan lain!"
Arjuna mau protes tapi Sari pegang wajahnya. Paksa dia natap mata dia.
"Arjuna, dengarkan aku. Ini satu-satunya cara. Dan aku... aku harus yang lakuin. Karena dia ayahku. Karena darah ibuku ada di tangannya. Karena ini tanggung jawabku."
"Ini bukan tanggung jawabmu," bisik Arjuna. "Kau gak harus ngelakuin ini."
"Tapi aku mau," jawab Sari. "Aku mau karena kalau bukan aku, siapa lagi?"
Mereka natapan lama. Arjuna tau dia gak akan menang argumen ini. Tau kalau Sari udah mutusin, gak ada yang bisa ubah pikirannya.
"Oke," katanya akhirnya. "Tapi aku akan ada di sana. Di dekat kau. Siap untuk tarik kau keluar kalau situasi jadi buruk."
"Deal," Sari tersenyum tipis.
Pixel tutup laptopnya. "Jadi kita punya rencana. Minggu depan, saat wawancara, Sari jadi distraksi. Aku dan Ratna hack sistem. Arjuna jaga Sari. Kita broadcast semua bukti."
"Dan berharap kita gak mati," tambah Ratna.
"Dan berharap kita gak mati," ulang Pixel.
Mereka duduk dalam lingkaran. Empat orang dengan rencana gila yang kemungkinan besar akan bunuh mereka semua.
Tapi setidaknya mereka punya rencana.
Dan setidaknya mereka punya harapan.
Harapan kalau minggu depan, dunia akan akhirnya lihat siapa Adrian Mahendra sebenarnya.
Dan mungkin, hanya mungkin, keadilan akan menang.
Untuk sekali ini.