NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DELAPAN BELAS

KISAH MIKHASA

Flashback

🍀🍀🍀

“Kamu itu anak yatim piatu. Kalau bukan karena bibimu yang baik hati, mungkin kamu sudah jadi gelandangan, atau ikut mati sama orang tuamu!”

Suara Paman Morgan membelah ruang tengah. Jarinya teracung tepat di wajah Mikhasa yang menunduk.

Mikhasa menggenggam rok sekolahnya yang sudah mulai pudar warnanya. Padahal hari ini harusnya ia bahagia, ia baru saja lulus SMA, bahkan diterima kuliah dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Tapi kebahagiaan itu seketika terasa seperti lelucon pahit.

“Kau pikir kau bisa seenaknya bilang mau kuliah?!” bentak Pamannya lagi. “Kau harus membayar semua jerih payah kami karena membesarkanmu, anak yatim-piatu!”

Bibinya hanya diam. Tidak menegur, tidak membela. Mereka seperti tengah menimbang berapa banyak uang yang bisa mereka dapatkan jika Mikhasa bekerja, bukan malah kuliah.

Mikhasa ingin bicara. Ingin mengatakan bahwa ia bisa kuliah tanpa membebani siapa pun. Tapi suaranya hilang. Terkubur oleh rasa takut yang sudah tumbuh sejak kecil.

Karena hidup di rumah ini memang tidak pernah lunak. Dia harus kuat. Harus selalu kuat.

Sejak usianya baru enam tahun, ketika ia pertama kali datang ke rumah Bibinya, masih dengan mata bengkak dan pakaian berkabung, Mikhasa sudah dipaksa bekerja.

Ia menjajakan keripik buatan bibinya keliling kampung. Berjalan dari pintu ke pintu. Terkadang pulang dengan kaki lecet atau hujan mengguyur tubuh kecilnya. Namun tetap dimarahi jika hasil jualannya tidak sesuai harapan.

Suatu hari, seseorang dengan wajah ramah dan lembut membayarnya dengan uang palsu. Warna itu luntur saat hujan jatuh. Mikhasa kecil tidak tahu. Ia hanya tersenyum, lalu mengucap terima kasih.

Malamnya, ia tidak diberi makan oleh bibi dan pamannya. Perutnya melilit, kepalanya pusing. Ia mencoba mencari makanan sisa, tapi tidak ada.

Hari ini, ia belajar satu hal, bahwa wajah ramah tidak menjamin niat yang baik. Uang palsu itu buktinya.

Dilain hari, dagangannya dirampas oleh seseorang. Mengambil begitu saja tanpa membayar sedikitpun.

Dan lagi-lagi, malam itu ia tidur dengan rasa lapar yang sama, bahkan hingga pagi, Bibi tidak memberinya makan.

Sejak kecil... Mikhasa mengerti, kelaparan bisa dijadikan hukuman, bahkan untuk dosa yang tak pernah ia lakukan.

Takdir memang memukulnya terlalu keras pada usia yang terlalu dini. Dan kini, saat satu-satunya pintu masa depan terbuka… Bibi dan pamannya menutupnya lagi tanpa ragu.

Pada akhirnya, Mikhasa mengubur mimpi itu dalam-dalam. Ia menelan pahit keputusan mereka dan memilih diam. Karena bagaimana pun… bibi dan pamannya telah menampungnya saat tak ada siapa pun yang mau.

Mikhasa merasa ia wajib membalas budi itu, meski sebenarnya ia masih terlalu muda untuk memikul beban sebesar ini.

Dan seperti biasa. Ia mulai bekerja sesuai perintah. Pagi membantu di dapur warung, siang mengantar pesanan, malam mencuci, terus begitu, hari demi hari.

Mimpinya hanya jadi kotak kecil yang ia lipat rapi dan simpan di sudut hati. Hingga suatu sore, keajaiban datang mengetuk pintu rumah itu.

Pak Arman, wali kelasnya, datang dengan kemeja sederhana dan map berisi dokumen beasiswa Mikhasa untuk menlanjutkan kuliah.

Beliau duduk di ruang tamu sempit itu dengan kesabaran yang nyaris tidak pantas diberikan pada keluarga yang begitu keras kepala.

“Mikhasa adalah murid yang sangat cerdas, Pak, Bu,” ucap Pak Arman pelan namun tegas. “Sayang sekali kalau kesempatan ini dilepaskan begitu saja.”

Paman Morgan mendengus, wajahnya memanas.

“Tidak penting bagi orang miskin seperti kami cerdas atau bodoh!” katanya berapi-api. “Yang penting dia bisa menghasilkan uang. Sekarang juga!”

Mikhasa menunduk semakin dalam. Tubuhnya menegang. Kalimat itu selalu terasa seperti cambuk yang mematahkan bagian kecil dari dirinya.

Namun Pak Arman tidak menyerah. “Pak… justru karena kondisi ekonomi, Mikha butuh kuliah,” katanya sabar. “Dengan modal beasiswa penuh ini, Mikha bisa dapat masa depan lebih baik. Dia bisa bekerja di tempat yang kalian bahkan belum pernah bayangkan.”

Paman Morgan diam. Matanya berkedip cepat, ada perhitungan yang jelas di sana.

Bibinya juga terlihat ragu, sebab sejak awal mereka tahu, beasiswa full itu bukan main-main.

“Lagipula,” tambah Pak Arman, suaranya lebih lembut, “Mikha bukan mau lari dari kalian. Dia hanya ingin masa depan. Dan jika ia sukses, bukankah itu juga akan kembali pada keluarga… pada kalian?”

Ada hening panjang. Canggung. Padat. Menegangkan.

Hingga akhirnya, dengan berat hati, Paman Morgan mendesis. “Baiklah. Tapi kalau ada masalah, dia harus berhenti kuliah dan kembali kerja.”

Mikhasa yang sejak tadi hanya menunduk, menahan napas, akhirnya mengangkat wajah. Matanya memerah, tapi ia tersenyum pelan, senyum kecil yang selama ini jarang muncul.

Hari itu… pintu kecil menuju masa depan akhirnya terbuka. Bukan karena keberuntungan. Tapi karena seseorang percaya bahwa hidup Mikhasa pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Terima kasih, Pak Arman.

🍃🍃🍃

Mikhasa --- tahun pertama kuliah.

Gadis itu datang dengan tas murah, sepatu yang solnya sudah tipis, pakaian sederhana namun membawa senyum yang cerah lebih dari siapapun.

Menjadi mahasiswa adalah impiannya. Sekarang, dunia memberinya kesempatan itu.

"Ayah, ibu... Putrimu baik-baik saja di dunia ini. Sekarang aku sudah menjadi mahasiswa. Ayah, ibu... do'akan aku agar jalan ini mudah. Kalian tenang di sana ya."

Di kelas, Mikhasa duduk paling depan. Dosen bertanya, Mikhasa menjawab. Jawaban yang tepat, kadang terlalu tepat.

Teman-teman mulai meliriknya. Sebagian kagum. Sebagian tidak suka.

“Anak beasiswa sok pinter,” bisik seseorang.

"Cari muka."

Mikhasa pura-pura tidak dengar. Dia hanya harus fokus pada masa depannya.

Saat teman-temannya nongkrong, Mikhasa menghafal. Saat orang lain tidur, ia belajar. Sementara yang lain pacaran, Mikhasa menghitung sisa uang bulanannya. Terus mengembangkan diri dengan sibuk di perpustakaan. Terkadang meminjam buku pada Pak Arman.

Ia hidup bukan untuk hari ini. Ia hidup untuk hari di mana ia tidak perlu takut lapar lagi.

Sekarang, impiannya adalah bisa bekerja di perusahaan besar di ibu kota. Menghasilkan uang yang banyak dan meninggalkan rumah itu.

🍃🍃

1
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
Momogi
untungnya Mikha tau tentang ini lebih dlu jadinya dia ga bakal nyesek
Momogi
nyesek banget perjalanan hidupmu mikha 😭
Momogi
ya ampun mikha 🥺 kamu dimanfaatin keluarga bibimu ternyata ya
Momogi
Aihh kok kita sama sih. curiga besok aku ketemu cogan ternyata ceo
Momogi
tom and jarry kalian tuuh
Momogi
dimana lagi dapet 1 milyar ya mikha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!