NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Galen

Usai perdebatan yang melelahkan, Anya memutuskan untuk menginap di rumah mertuanya. Ia menempati kamar milik Arga, yang ternyata bernuansa seperti kamar anak TK. Lukisan-lukisan bertema astronot menghiasi dinding kamar itu, dan berbagai mainan memenuhi lemari-lemarinya.

Menjijikkan, batin Anya. Namun, ia harus menahan diri dan bersabar. Ia harus menjaga sikapnya di dekat Arga karena ia berada di kawasan Arga.

"Anya lihat Arga! Arga tampan kan pakai baju tidur seperti ini?" seru Arga riang, memamerkan pakaiannya setelah selesai mandi.

Lihatlah! Sekarang matanya terasa sangat pedih melihat pakaian Arga yang bergambar tokoh kartun si merah jambu dan si kuning, pemandangan itu membuatnya sangat mengelikan.

Dengan susah payah, Anya menyunggingkan senyum yang dipaksakan. "Emm, iya... bagus," ucapnya berbohong, berusaha menyembunyikan rasa jijiknya.

Tanpa diduga, Arga langsung berlari dan meloncat ke atas tempat tidur, lalu memeluk Anya dengan erat. "Terima kasih, Anya! Arga sayang Anya!" ucapnya riang.

"Ya Tuhan, ingin sekali aku berteriak sekarang juga," batin Anya kesal. Kalau saja ia tidak ingat bahwa ini adalah rumah Arga, sudah ia dorong Arga hingga terjatuh dari tempat tidur.

"Arga, lepas!" Anya berusaha melepaskan diri dari pelukan Arga, namun pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.

Dengan bibir yang mengerucut, Arga mendongakkan kepalanya dan menatap Anya dengan mata yang berkaca-kaca. "Anya nggak suka dipeluk Arga ya?" bisiknya pelan.

Anya tertegun. Ekspresi Arga saat itu benar-benar memancing rasa gemas. Wajahnya tampak begitu polos dan menggemaskan, seperti anak kelinci yang ketakutan. Namun, ia segera menepis pikiran itu.

"Tidak mungkin! Arga tidak mungkin imut! Dia itu menjijikkan!" seru Anya dalam hati, berusaha keras untuk menyangkal kenyataan yang mulai mengganggu pikirannya.

"Bukan begitu, Arga. Aku mau turun sebentar untuk ambil minum dan sekalian membuatkan susu untukmu," ucap Anya, berusaha melepaskan diri dari pelukan Arga yang terasa menyesakkan. Ia terpaksa mencari alasan, meskipun sebenarnya ia enggan membuatkan susu untuk Arga.

Mendengar itu, mata Arga berbinar-binar senang. "Wah, benarkah? Kalau begitu, Arga boleh temani Anya turun ke bawah?" tanyanya antusias.

Anya menghela napas dalam hati. Ia berniat menghindari Arga, tetapi sepertinya pria itu tidak ingin berpisah darinya barang sedetik pun.

"Oh, tidak usah. Kamu di sini saja, biar aku yang turun," ucap Anya, berusaha menolak dengan selembut mungkin, meskipun dalam hatinya ia ingin berteriak.

"Tapi, Anya nggak boleh lama ya? Arga nggak suka nunggu!" ucap Arga sedikit merajuk, membuat Anya semakin merasa tertekan.

Anya bergegas meninggalkan kamar Arga dan menuruni tangga menuju dapur, seolah melarikan diri dari sesuatu yang menakutkan.

"Kalau terus-terusan berdekatan dengan Arga, apa aku bisa ikut gila?" gumam Anya dengan nada khawatir sambil menuangkan air.

Anya menggeleng keras, berusaha menghapus bayangan mengerikan itu dari benaknya. "Tidak, Anya! Kamu harus tetap waras! Jangan sampai kamu kehilangan akal!" bisiknya pada diri sendiri.

"Ekhem," suara berat itu tiba-tiba memecah keheningan malam. Anya tersentak kaget dan langsung berbalik, jantungnya berdebar kencang.

"Galen," ucap Anya dengan nada waspada, menatap pria itu yang berdiri di bawah remangnya lampu dapur.

"Hai, manis," sapa Galen dengan seringai yang membuat Anya merasa risih dan ingin segera menjauh.

Anya refleks memundurkan langkahnya saat Galen mulai mendekat. "Kenapa malam-malam sendirian di dapur?" tanya Galen, namun Anya hanya membalasnya dengan tatapan datar tanpa berniat menjawab pertanyaannya.

"Bosan ya di kamar? Nggak bisa bermesraan dengan si idiot?" tanya Galen dengan senyum mengejek yang membuat Anya semakin geram.

"Bukan urusanmu," balas Anya dingin. Ia berusaha menjaga jarak, meskipun Galen terus mendekat. "Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, Galen. Aku tidak ingin ada yang salah paham."

Galen tertawa mengejek, sama sekali tidak merasa bersalah. "Salah paham? Siapa yang peduli? Arga? Otaknya bahkan tidak berfungsi dengan benar." Ia semakin mendekat, membuat Anya terpojok hingga punggungnya menempel ke dinding.

"Aku yakin, dia tidak bisa memberikanmu kenikmatan seperti yang bisa kulakukan."

Anya menatapnya dengan tatapan penuh amarah. "Jaga mulutmu, Galen!" desisnya.

Galen semakin merendahkan suaranya, namun kata-katanya tetap menusuk. "Betul kan? Dia tidak bisa membuatmu bergairah, Anya. Dia itu cuma bocah idiot yang tidak tahu bagaimana caranya memuaskan wanita."

"Kau benar, Galen. Arga mungkin tidak bisa memuaskanku," ucap Anya dengan nada sinis yang menyayat. "Tapi setidaknya, dia tidak perlu menjadi seorang pengecut yang memaksa atau merendahkan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia mau. Kau tahu, sebutan untuk orang seperti itu adalah, pecundang."

Wajah Galen memerah padam karena amarah yang meluap-luap. "Mulutmu memang sangat pedas, Anya. Apa perlu kuberi sedikit pemanis di bibirmu itu?" ucap Galen sambil menyentuh dagu Anya dengan jari-jarinya, mengusapnya dengan gerakan yang menjijikkan.

Anya mendesis jijik dan langsung menepis tangan Galen dengan kasar. Tanpa ragu, ia mengangkat lututnya dan menendang selangkangan Galen sekuat tenaga. Pria itu mengerang kesakitan sambil memegangi bagian bawah tubuhnya.

"Itu balasan untuk mulut sampahmu," ucap Anya dengan nada dingin yang membekukan. Ia segera berbalik dan berlari meninggalkan Galen yang masih meringkuk kesakitan.

Tanpa sepengetahuan mereka, Arga ternyata sudah berdiri di anak tangga. Anya yang pertama kali menyadari kehadirannya langsung terkejut. Ia tidak tahu sudah berapa lama Arga berada di sana, apakah ia melihat kejadian tadi atau baru saja turun?

"Arga, kenapa kamu turun?" tanya Anya dengan nada khawatir sambil menghampiri suaminya itu.

"Arga kan sudah bilang sama Anya, kalau Arga nggak suka nunggu!" ucap Arga dengan wajah yang memerah karena marah.

Anya menghela napas dalam hati. Inilah yang paling ia benci dari Arga. Kalau sudah merajuk seperti ini, pasti ujung-ujungnya akan menangis dan sulit dibujuk.

"Iya, iya, sudah jangan marah. Ini susunya," ucap Anya sambil menyodorkan botol berisi susu kesukaan Arga.

Arga menerima botol susu itu dengan ekspresi datar. Kemudian, tanpa sengaja matanya tertuju ke arah dapur dan melihat Galen yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.

"Kenapa dia ada di sana?" tanya Arga dengan nada tidak suka dan curiga.

"Sudah, jangan pikirkan orang itu. Lebih baik kita tidur, aku sudah lelah," ucap Anya, berusaha mengalihkan perhatian Arga dari Galen.

Arga, dengan patuh, mengikuti langkah Anya menaiki tangga menuju kamar. Sementara itu, Galen masih berdiri di dapur, menatap kepergian mereka dengan tatapan penuh kebencian

Meskipun sudah berbaring di tempat tidur, Anya tetap tidak bisa tidur. Kejadian di dapur terus menghantuinya, membuatnya merasa jijik pada Galen dan bertanya-tanya mengenai motif pria itu mendekatinya.

Anya menoleh ke samping dan melihat Arga yang sedang meminum susu dari botol dot dengan wajah polos. Pemandangan itu membuatnya geli, "Arga, boleh aku bertanya sesuatu?"

Arga hanya mengangguk kecil sambil terus menikmati susunya.

"Kamu dan Galen, apa kalian tidak akrab?" tanya Anya hati-hati.

Arga menarik botol dot dari mulutnya. "Tidak, aku tidak suka dia," jawabnya dengan nada datar.

"Kenapa? Apa Galen pernah menyakitimu?" tanya Anya lagi, semakin ingin tahu lebih banyak mengenai masa lalu Arga dan Galen.

"Galen... Galen membuat Arga takut," bisik Arga pelan, menundukkan kepalanya. Ia tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Itu adalah rahasia yang terlalu menyakitkan untuk diungkapkan.

Anya mengerutkan kening. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arga. Ia ingin tahu apa itu, tapi ia tidak ingin memaksa Arga untuk bercerita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!