Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan mempesona. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Melihat istrinya mencari pegangan sambil telpon, Papah Ethan mengambil ponsel dari tangannya. "Siapa ini?" Tanyanya dengan suara keras.
"Saya Menaya, Pak Carlos." Pengacara Menaya mengaktifkan spiker dan letakan ponsel dekat Opah Ethan sesuai permintaannya.
Sontak Papah Ethan melihat layar ponsel istrinya. "Mengapa anda yang bicara dengan istri saya? Kemana Rion?"
"Pak Rion ada di sini, Pak. Karna Bu Judith mau temui Pak Ethan, jadi saya yang bicara. Ibu dan bapak dilarang mendekati beliau." Pengacara Menaya mengulang yang dikatakan Opah Ethan.
Papah Ethan jadi emosi. "Anda siapa, sampai melarang kami bertemu anak kami?"
"Saya pengacara Pak Kendrick. Beliau yang melarang anda berdua temui Pak Ethan."
"Saya mau bicara dengan Papah." Papah Ethan menurunkan tensi emosi. Rasa khawatir mulai menjalar di hati.
"Tidak bisa. Selain kondisi kesehatan Pak Ken, beliau tidak bersedia berbicara dengan anda berdua."
Papah Ethan merasakan sinyal buruk hubungannya dengan mertua disertai detak jantung yang tidak teratur. "Saya akan bicara dengan pengacara saya."
"Silahkan, Pak Carlos. Kami menunggu." Pengacara Menaya berkata singkat.
"Saya akan beritahukan media di depan, perlakuan kalian pada kami." Papah Ethan coba mengancam, agar bisa bicara dengan mertuanya.
"Silahkan, Pak Carlos. Sepertinya anda lupa surat perjanjian yang anda tanda tangan..." Pengacara Menaya tidak meneruskan.
"Dan untuk diketahui, semua pembicaraan ini didengar oleh Pak Ken." Pengacara Menaya balik mengancam, dan langsung menyerahkan ponsel kepada Rion.
Apa yang dikatakan pengacara Menaya membuat Papah Ethan seperti disengat listrik. Dia segera mengembalikan ponsel istrinya, dan mengambil ponselnya sendiri.
Rasa khawatir yang sudah menjalar, mulai menguasai hatinya. Dia segera lakukan panggilan.
Mamah Ethan melongo mendengar suaminya bicara dengan pengacara lain. "Apa yang kau lakukan?"
"Kau tidak dengar? Aku akan menggugat Papahmu yang seenaknya melarang bertemu anakku."
"Kau sudah gila? Kau kira, Papah akan membiarkanmu?"
"Kau yang sudah gila. Membiarkan diatur orang tuamu, sampai tidak punya kendali pada anak sendiri."
"Aku tidak punya kendali?" Mata Mamah Ethan membesar. "Kau yang tidak punya kendali padanya, saat kau ngotot tanda tangan surat perjanjian itu."
"Ethan sudah dewasa. Kau kira dia akan membelamu? Kau kira Papah tidak akan berani hadapimu di pengadilan?"
"Jangan belain Papahmu."
"Ini yang kau lakukan pada anakmu? Dia dalam kondisi kritis, kau persoalkan untuk mengklaim dia sebagai anakmu?" Mamah Ethan jadi emosi.
"Diam." Bentak Papah Ethan.
Mamah Ethan melihat suaminya yang seakan hilang akal. "Jika kau menuntut Papah, siap-siap saja. Aku tidak akan menolongmu lagi." Ancam Mamah Ethan.
Sedangkan pengacara Menaya menenangkan Opah Ethan yang mendengar percakapannya dengan Papah Ethan. "Mungkin beliau lagi terserang virus lupa, Pak." Ucap pengacara Menaya.
"Ya, kadang kekuasaan dan kekayaan bisa membuat orang lupa pada akarnya." Ucap Opah Ethan.
"Dia lupa, itu hanya titipan dan ada waktunya diambil." Ucap Opah Ethan tegas. Pengacara Menaya dan Rion terdiam.
Pengacara Menaya ingat peristiwa hampir 29 tahun lalu, saat diminta datang ke kantor Mikel Kendrick di awal kariernya.
~••~
"Pak Menaya, terima kasih sudah datang. Saya butuh bantuan anda untuk membuat surat perjanjian keluarga saya..."
"Terima kasih, Pak Ken sudah mempercayai saya. Surat perjanjian seperti apa?" Tanya pengacara Menaya setelah dipersilahkan duduk.
"Surat perjanjian dengan putri kami yang ngotot mau menikah dengan pria pilihannya. Mereka baru selesai kuliah dan belum punya pekerjaan tetap..." Pak Kendrick menjelaskan, putrinya yang bernama Judith Kendrick memutuskan, mau menikah dengan teman kuliah bernama Carlos Semanyo.
"Apa putri bapak tidak bisa diberi pengertian?" Pengacara Menaya bertanya setelah mendapat gambaran tentang pacar putrinya yang belum ada pekerjaan tetap.
"Mungkin kami salah mendidiknya. Kami sudah berikan penjelasan dan dampak menikah muda tanpa pondasi yang kuat. Tapi dia tetap ngotot berdasarkan saling mencintai. Kalau sudah mau, susah..." Pak Kendrick kembali menjelaskan tentang kondisi putri dan pacarnya.
"Iya, Pak Ken. Lebih baik biarkan Carlos bekerja dulu untuk hidupi keluarganya. Supaya tidak menyandarkan hidupnya kepada Judith atau orang tuanya."
"Anda kira kami tidak katakan itu? Judith mengancam mogok makan dan mengurung diri di kamar."
"Mamahnya tidak tahan melihat dia terus menangis dan tidak mau makan. Kami harus memasukan dia ke rumah sakit berkali-kali."
"Saya merasa gagal melihat istri sedih dan anak menangis. Jadi kami putuskan akan menikahkan mereka dengan syarat, ada perjanjian tertulis."
"Anak laki-laki pertama yang Judith lahirkan, akan jadi anak kami sebagai ganti Judith. Dia akan memakai nama belakang Kendrick. Sisanya anda tambahkan sesuai hukum yang sangat mengikat."
"Bagaimana kalau mereka tidak setuju, Pak?" Tanya pengacara Menaya, serius.
"Tidak ada pernikahan. Itu solusi terakhir yang kami putuskan. Berikan waktu mereka berpikir sebelum tanda tangan."
"Baik, Pak. Saya akan bicara dengan mereka."
Setelah membuat surat perjanjian, Menaya bicara dengan Judith dan Carlos. "Hanya itu persyaratannya?" Tanya Carlos dengan wajah senang.
"Iya. Itu persyaratan awal untuk anda bisa menikahi putri Pak Kendrick."
"Kalau begitu, mana surat perjanjiannya? Kami akan tanda tangan sekarang." Carlos bersemangat dan tidak sabar.
"Sebentar. Kami mau gunakan waktu untuk berpikir." Judith mencegah, karena dia mengenal karakter Papahnya kalau sudah adakan perjanjian tertulis.
"Terima saja, Jud. Orang tuamu hanya minta satu anak laki-laki. Kita masih bisa punya anak yang lain." Carlos mendesak, karena melihat Judith masih berpikir.
"Saran saya, anda berdua berpikir lagi. Karena ini perjanjian yang mengikat dua belah pihak. Kalau sudah sepakat, silahkan temui saya."
Tidak sampai menghitung hari, Carlos dan Judith mendatanginya. "Kami sudah sepakat, mau tanda tangan perjanjiannya." Ucap Carlos tegas, Judith mengangguk menyetujui.
~••~
Mengingat kejadian itu, pengacara Menaya menarik nafas perlahan. 'Benar Pak Ken. Kadang orang lupa pada asalnya.' Pengacara Menaya membatin, agar tidak mengganggu Opah Ethan yang sedang diam sambil berdoa.
Mereka tersentak ketika dokter keluarga masuk ke ruangan perawatan VIP. "Pak Ken, Pak Ethan sudah bisa kami pindahkan ke ruangan ini."
"Oh, terima kasih, Tuhan." Opah Ethan berdiri dan bersyukur. "Apa dia tidak apa-apa?" Opah Ethan bertanya lagi.
"Sejauh ini, baik-baik saja, Pak. Sekarang beliau sudah sadar. Beliau tidak terluka, karena terlindung oleh fasilitas pengamanan mobil. Tapi kami akan terus memantau beliau di sini."
Ketika dokter menjelaskan, Ethan didorong masuk ke ruangan oleh dokter dan perawat. "Oh, anakku. Kau hampir membuatku habis nafas menunggumu." Ucap Opah Ethan sambil memegang bahu Ethan yang sudah dipindahkan.
"Opah." Ethan mengenal suara Opahnya.
"Iya, ini Opah. Yang penting kau sudah kembali bersama Opah."
Ethan membuka mata perlahan untuk melihat Opahnya. "Opah, di mana? Mengapa aku tidak bisa melihat?"
"Apa maksudmu. Opah di sini." Opah Ethan mengusap kepalanya.
"Opah, aku tidak bisa melihat apa pun." Ethan mengangkat tangan untuk mengkucek matanya.
"Jangan Pak Ethan..." Teriak dokter sambil berlari dan memegang tangannya.
"Opaaa..." Teriak Ethan memenuhi ruangan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...
. menyelesaikan solusi masalah