"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Kantor Pusat Skyline Group, Medan.
Udara di lantai 40 gedung Skyline Group terasa sebeku es, bukan hanya karena pengaturan AC sentral yang selalu berada di suhu terendah, melainkan karena aura ketegangan yang terpancar dari ruang rapat utama. Di balik pintu kaca kedap suara itu, sebuah pertempuran ego sedang berlangsung.
Sava duduk di ujung meja oval yang panjang. Penampilannya masih sesempurna tadi pagi—setelan broken white yang membalut tubuh tinggi semampainya tetap rapi tanpa cela. Namun, sorot matanya yang tajam bak elang sedang memindai satu per satu wajah pria paruh baya di depannya; para dewan komisaris yang sejak tadi mencoba mempertanyakan keputusannya mengenai ekspansi vendor di kawasan industri Belawan.
"Miss Sava, dengan segala hormat, Bapak Garvi sedang tidak ada di tempat. Apakah tidak sebaiknya keputusan sebesar ini menunggu kepulangan Mr. Garvi?" tanya salah satu komisaris, Pak Arga dengan nada meremehkan.
Sava melipat tangannya di atas meja. Sebuah senyum tipis yang sarat akan sarkasme tersungging di bibirnya.
"Pak Arga, jabatan saya di sini adalah COO—Chief Operating Officer. Tugas saya adalah memastikan operasional perusahaan tetap berjalan meski CEO sedang berada di ujung dunia sekalipun. Jika setiap keputusan kecil harus menunggu Mr. Garvi, maka Skyline Group tidak akan menjadi raksasa seperti sekarang, melainkan hanya sebuah toko kelontong yang lambat."
Ruangan itu seketika hening. Beberapa komisaris berdeham canggung, sementara yang lain hanya bisa menatap dokumen di depan mereka. Mereka tahu, di balik kecantikan mempesona wanita berusia 27 tahun ini, tersimpan kecerdasan yang mampu melumpuhkan lawan bicara dalam hitungan detik.
"Rapat selesai. Saya harap laporan implementasi vendor baru sudah ada di meja saya besok pagi sebelum Mr. Garvi tiba," tutup Sava tegas.
Ia bangkit berdiri, membawa iPad-nya, dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Bunyi stiletto-nya yang beradu dengan lantai granit seolah menjadi genderang kemenangan.
Kembali ke ruang kerjanya yang luas, Sava langsung menghempaskan tubuh ke kursi kebesarannya. Ia memejamkan mata sejenak. Kepalanya berdenyut hebat. Seharian ini ia menghandle semua beban kerja yang ditinggalkan Garvi. Memimpin rapat, meninjau kontrak, hingga mengawasi logistik ekspor.
Garvi adalah pria yang manipulatif; dia sengaja membebankan semua ini pada Sava agar istrinya itu tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain—termasuk memikirkan perceraian atau sekadar menikmati hidup di luar kantor.
Tok... Tok... Tok...
Pintu terbuka tanpa menunggu perintah. Hanya satu orang yang berani melakukan itu. Winata masuk dengan sebuah kantong kertas dari salah satu restoran kelas atas di Medan. Aroma bumbu rempah yang menggoda langsung memenuhi ruangan.
"Aku tahu kamu sedang mode 'Robot COO', tapi robot pun butuh pelumas, Va," cetus Winata sambil meletakkan kotak makan di depan Sava.
Sava membuka matanya dan mendesah. "Win, aku tidak lapar. Masih ada lima berkas lagi yang harus ditinjau sebelum besok."
"Makan, Alsava Emily Claretta!" Winata menekankan setiap kata. "Ingat, kamu itu manusia yang butuh asupan. Mesin saja kalau dipaksa bekerja terus-menerus bisa panas dan meledak, apalagi kamu yang isinya daging dan perasaan. Aku tidak mau memungut mayatmu di ruangan ini hanya karena kamu telat makan."
Sava akhirnya tersenyum kecil, menyerah pada omelan sahabatnya. Ia menarik kotak makan itu dan mulai menyuap nasi dengan lauk ayam goreng khas Medan.
"Terima kasih, Win. Kamu memang paling tahu cara menghentikan sifat keras kepalaku."
Winata duduk di kursi di hadapan Sava, memperhatikannya makan dengan teliti. "Tadi aku lewat depan meja sekretaris barumu. Siapa namanya? Desi?"
Sava mengangguk sambil mengunyah. "Ya, pilihan Roy dari kantor pusat."
"Dia tampak... terlalu bersemangat," Winata menyipitkan mata. "Dan pakaiannya, Va. Aku tidak yakin itu standar seragam Skyline Group. Roknya lebih mirip kain yang kurang bahan."
Sava menelan makanannya, lalu meletakkan sendok sejenak. "Aku sudah memperingatkannya pagi tadi. Tapi aku butuh kamu untuk memantau kinerjanya, Win. Bukan hanya soal pakaian, tapi aku ingin tahu apakah dia benar-benar punya kemampuan atau hanya sekadar 'titipan' untuk mengisi kursi itu. Apalagi besok Mr. Garvi tiba. Kamu tahu sendiri bagaimana suamiku itu kalau melihat wanita cantik di dekatnya."
Winata mendengus. "Si Cassanova itu? Tentu saja aku tahu. Dia akan bersikap seolah dia adalah Dewa yang harus disembah, sementara kamu harus menelan semua kecemburuanmu sendirian di ruangan ini."
Sava terdiam. Kata-kata Winata barusan menusuk tepat di titik nadinya yang paling rapuh. Di kantor ini, mereka adalah orang asing. Saat Garvi datang besok, Sava harus kembali ke perannya: Miss Sava yang dingin dan patuh pada perintah Mr. Garvi. Tidak akan ada pelukan selamat datang, tidak ada kecupan di kening. Yang ada hanyalah tumpukan berkas dan tatapan profesional yang hambar.
"Siap laksanakan, Bos!" lanjut Winata, mencoba mencairkan suasana. "Aku akan memantau Desi seperti elang mengintai mangsa. Kalau dia macam-macam, aku sendiri yang akan mendepaknya keluar dari gedung ini bahkan sebelum dia sempat menyapa Mr. Garvi."
Sava tertawa, tawa yang kali ini benar-benar tulus. "Terima kasih, Win. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpa kamu di sini."
"Kamu akan jadi COO yang menyedihkan, itu pastinya," goda Winata. "Oh ya, soal besok... Apa kamu sudah menyiapkan laporan untuk Mr. Garvi? Roy bilang dia ingin langsung ada briefing begitu sampai dari bandara."
Sava kembali menatap tumpukan berkas di mejanya. Tatapannya berubah menjadi sendu namun penuh tekad. "Sudah. Semuanya sudah siap. Termasuk laporan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Beijing."
Winata tertegun. "Maksudmu foto-foto itu?"
"Aku bukan wanita bodoh, Win. Garvi sengaja membiarkan aku melihat semuanya lewat Roy. Dia ingin menunjukkan kekuasaannya, ingin menunjukkan bahwa meski dia di luar negeri, dia tetap bisa menyakitiku dari jauh. Tapi dia lupa satu hal..."
Sava berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Medan dari ketinggian. Bayangannya terpantul di kaca—seorang wanita yang cantik, berkuasa, namun menyimpan luka yang sangat dalam.
"Apa itu?" tanya Winata penasaran.
"Dia lupa bahwa aku yang memegang kendali internal Skyline Group. Tanpa aku, dia hanyalah CEO yang kehilangan otaknya. Dan mungkin... saatnya aku mulai memikirkan bagaimana rasanya hidup tanpa harus menanggung beban namanya di belakang namaku."
Winata terdiam. Ia bisa merasakan ada badai besar yang sedang disiapkan oleh Sava. Pernikahan rahasia ini, yang selama empat tahun menjadi rahasia publik, sepertinya sedang menuju titik didihnya.
Sava kembali ke mejanya setelah makan siangnya selesai. Ia bekerja hingga larut, memastikan setiap detail sempurna. Baginya, pekerjaan adalah satu-satunya tempat di mana ia memiliki kontrol penuh, tempat di mana Garvi tidak bisa memanipulasinya secara emosional.
**
Pukul delapan malam, kantor sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa staf keamanan yang berpatroli. Sava merapikan mejanya, mematikan komputernya, dan mengambil tas tangannya.
Saat ia berjalan melewati meja sekretaris di luar, ia melihat Desi masih di sana, tampak sedang bersolek di depan cermin kecil sambil memperbaiki riasan wajahnya.
"Belum pulang, Desi?" tanya Sava dingin, membuat sekretaris itu terlonjak kaget.
"O-oh, belum Miss Sava. Saya sedang memastikan jadwal kepulangan Mr. Garvi besok pagi," jawab Desi dengan senyum yang dipaksakan manis.
Sava menatap Desi sejenak, tatapannya turun ke arah bibir Desi yang dipoles lipstik merah menyala—warna yang sangat disukai Garvi. Sebuah peringatan instingtif berbunyi di kepala Sava.
"Mr. Garvi tidak suka sekretaris yang terlalu banyak menghabiskan waktu di depan cermin daripada di depan laporan. Pulanglah, simpan energimu untuk besok. Karena besok... akan menjadi hari yang sangat panjang untuk kita semua," ucap Sava tanpa ekspresi, lalu melangkah pergi meninggalkan Desi yang terpaku diam.
Di dalam lift yang bergerak turun, Sava menatap pantulan dirinya sendiri. Besok, pria itu akan kembali. Mas Garvi-nya di rumah, namun Mr. Garvi-nya di kantor. Pria yang ia cintai seiring waktu, namun juga pria yang paling ingin ia lepaskan secepat mungkin.
"Ayo kita lihat, Mas... sejauh mana kamu bisa bermain-main, sebelum aku benar-benar menyerah padamu," bisiknya pelan saat pintu lift terbuka di lobi.
***