Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Setelah hampir 15 menit tercengang dengan dua berita yang begitu mengejutkan, kelima orang didepan Su Ran akhirnya mulai menenangkan diri.
Mereka menatap Su Ran dengan tatapan.. Rumit. Harapan, tak enak, gelisah dan bahagia jelas tergambar di wajah mereka, Su Ran sangat tahu maksud mereka.
“ Bibi, kali ini bibi semua bisa percaya dan tenang dengan rencana kita,” ucap Su Ran maklum, semakin malulah keempatnya.
“ Bu, Su Ran benar. Dengan hasil jual yang tinggi, kita akan lebih tenang lagi. Apalagi, kita sudah memiliki benih dan pupuk alami justru akan semakin membuat Cabai subur. Bukan begitu, RanRan?” ucap Chen Rui memecah kecanggungan.
“ Benar. Rui’er benar. Bibi, aku benar – benar tidak mempermasalahkan masa lalu. Tentu sangat wajar jika kalian belum yakin. Justru karena itu aku diam – diam menjual hasilnya terlebih dahulu untuk membuat kalian semangat,”
“ Nantinya, kita bisa membantu yang lain,” ucap Su ran penuh arti.
Keempatnya jelas tahu maksudnya dan semakin kagum dengan pola pikir gadis yang baru saja lolos dari keluarga beracun.
Mereka hanya menolongnya sedikit. Hanya memberikan beberapa barang yang kebetulan berlebih di rumah mereka, tetapi gadis baik ini justru membalasnya dengan kebaikan yang berkepanjangan.
“ Lalu, jika kita menanamnya banyak – banyak, apakah akan laku semua?” tanya bibi Wu yang menyadari hal ini.
“ Eh, benar juga. Su Ran, sebaik apapun panen kita, jika kita tidak habis menjualnya malah akan membusuk,” tambah bibi Ma yang setuju dengan ucapan bibi Wu.
“ Duh, saking senengnya mau ngabarin kalian, aku sampai lupa,” ucap Su ran tiba – tiba sambil menepuk pelan dahinya. Ia merogoh tas kain yang dijahitkan bibi Chen untuknya. Lalu mengeluarkan kontrak yang ia buat dengan paman Jiang dan memberikannya kepada bibi kepala desa untuk dibaca terlebih dahulu.
Bibi kepala desa menerimanya meskipun dengan wajah kebingungan lalu membacanya perlahan.
Semakin dibaca, semakin tegang dan kegembiraan meluap dihatinya.
Ini ... ini adalah kontrak penjualan hasil panen Cabai bahkan sambal dalam kemasan?
Untuk kontrak tentang resep dan juga saham tentu saja Su Ran menyimpannya sendiri dengan aman. Itu adalah hartanya sendiri.
“ Ini bukan candaan, kan? Su Ran?” tanya bibi kepala desa dengan nada gemetar menahan kegembiraan. Su Ran tersenyum dan mengangguk. Kertas kontrak segera beralih ke tangan para bibi lainnya.
Ekspresi dan reaksi mereka sama dengan bibi kepala desa. Mereka menatap Su ran dengan mata yang berkaca – kaca, haru juga penuh terima kasih.
“ Nak Ran. Ka..Kamu tidak seharusnya sejauh ini,” ucap bibi kepala desa tersendat dengan airmatanya. Baginya, jika apa yang direncanakan oleh Su Ran berhasil maka seluruh kehidupan desa Fen Tong akan berubah, berubah ke arah yang lebih baik.
Lalu, anak gadis dan para pemuda tidak akan kesulitan dalam hubungan pernikahan mereka nantinya.
“ Bibi, aku hanya berbagi hal yang kecil. Desa kita bukan kekurangan lahan subur. Dan aku hanya kebetulan menemukan benih ini,” ucap Su Ran merendah.
“ Apapun itu, aku mengucapkan terima kasih dulu. Biarkan kita yang mencoba terlebih dahulu. Jika nanti berhasil, kita akan meminta semua penduduk untuk menyisihkan lahan dan menanaminya dengan cabai,” putus bibi kepala desa.
“ Semua terserah bibi kepala desa. Tetapi, aku hanya menyarankan tentang pabrik sambal. Sebaiknya hanya kita saja yang memegang resep – resepnya,” peringat Su Ran penuh arti.
Keempatnya saling berpandangan dan langsung mengangguk paham. Bahan boleh dibeli dari para warga, tetapi teknik dan resep hanya mereka yang akan memegangnya.
Chen Rui kembali menjadi utusan untuk memanggil para pria kepala keluarga dari keempat keluarga. Bibi Kepala desa memimpin para istri untuk berdiskusi dengan para suami.
Su Ran hanya duduk disamping dengan Chen Rui, mendengarkan dan sesekali memberikan masukan kepada para paman dan bibi.
Keputusan bulat tercapai. Masing – masing keluarga akan menyisihkan 2 Mu lahan mereka untuk ditanami dengan cabai.
4 keluarga selain keluarga Chen yang hanya memiliki seorang putri segera bahu membahu. Awalnya mereka menggemburkan lahan milik kepala desa, lalu keluarga Chen, keluarga Ma, dan keluarga Wu hingga pada hari ke -7 tanah siap untuk ditanami.
Su Ran yang sudah menanam lebih awal, juga tidak tinggal diam. Ia bereksperimen dengan air ajaibnya.
Su Ran ingin sekali mencampur air ajaibnya dengan air biasa di desa. Jika menggunakan air ajaibnya secara langsung, pasti akan menimbulkan kegemparan.
Bagaimana tidak, tanaman yang menggunakan air ajaib akan bertunas dalam hitungan Jam! Su Ran takut dirinya akan dibelah dan dijadikan penelitian!
Maka dari itu, selama keluarga para bibi baik sedang mereklamasi tanah, ia juga sibuk membuat perbandingan. Hingga akhirnya berhenti perbandingan 1 gayung air lingquan bisa dicairkan dengan 15 gayung air biasa untuk mendapatkan hasil yang cukup bisa diterima oleh akal sehat.
Tanaman yang disiram dengan air itu akan lebih segar dan akarnya lebih kuat daripada tanaman biasa.
Ini sudah cukup bagus, pikir Su Ran.
Akhirnya, setelah hari ke 12, semua benih cabai sudah tertanam di lahan sebanyak 8 Mu. Para penduduk desa lainnya sempat kebingungan dengan jenis tanaman ini.
“ Ini hanya benih yang iseng kami tanam,” ucap bibi Chen ketika ditanya oleh salah satu tetangga.
“ Kalian sungguh sembrono. Menanam tanaman tidak jelas langsung 2 Mu? Apakah kalian tidak takut tidak tumbuh dan malah merugi?” cibir salah satu tetangga yang terkenal dengan lambe turahnya.
Bibi Chen hanya tersenyum sopan, tidak berniat untuk membalas ucapan sarkas wanita itu. Ia hanya berbasa – basi sejenak lalu berpamitan untuk menyiangi rumput.
“ Cuihh.. sombong apa! Bilang saja tidak mau memberitahukan tanaman apa. Ku sumpahin tidak akan tumbuh dan rugi besar,” judes wanita yang tadi berbincang dengan bibi Chen.
Su Ran, yang sedang lewat hanya menyingkir dan tidak berkata apa – apa. Biar saja mereka mengatakan apapun yang mereka suka. Toh nanti jika para bibi baik sukses, mereka sendiri yang akan memohon – mohon.
Su Ran baru saja berkeliling untuk ‘menetesi’ air lingquan di tempat tampungan air di ladang para bibi.
Tentu saja Su Ran akan memastikan jika tanaman Cabai gelombang pertama akan sukses. Untuk tanaman selanjutnya, setelah menggunakan bibit dari panen sebelumnya secara otomatis akan mengikuti hasil baiknya.
Beruntung, setiap rumah di desa Fen Tong ini ladangnya memiliki penampungan air untuk stok siram menyiram tanaman di ladang saat kemarau tiba.
Su Ran berjalan ingin pulang, ia sedang berpikir besok ingin ke kota, sepertinya stok cabai di Restoran Sedap Makan sudah habis dan ingin memastikan jika resep – resepnya berhasil membangkitkan restoran tersebut.
Juga ingin bertanya kepada paman Jiang apakah mengenal seseorang grosir gandum dan padi. Jujur saja, selain sibuk mengencerkan air lingquan, ia juga sibuk mengurusi hasil panennya di ruang ajaib sehingga hasil panennya menumpuk.
Sayur seperti kubis, lobak, timun, tomat membludak. Gandum dan juga padi juga tak kalah memenuhi lumbungnya. Sudah saatnya dijual keluar.
“ SU RAN!! BERHENTI KAU...!