NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi hari datang tanpa ada suara ayam berkokok, Rania membuka matanya perlahan.

Gadis berambut ikal itu bangun sambil mengucek matanya, dirinya menyadari jika dia di atas kasur dan menoleh ke samping.

Gadis---sematan itu masih layak di terima oleh Rania, karena malam pernikahannya dirinya belum melakukan hubungan badan dengan suaminya.

"Tak ada noda darah." Rania melihat ke arah sprei dan selimut, tak ada noda darah keperawanannya.

Itu artinya bisikan Arga semalam adalah janjinya, jika pria itu tak akan menyentuh Rania sampai dapat izin tersendiri---dari Rania.

Arga Prananda sudah tak ada di sampingnya.

Gadis ini heran bagimana dirinya berada di kasur, bukankah dirinya harusnya di lantai dan di pojok sofa.

"Kemana pria itu?" tanya Rania dalam batinnya.

Apa mereka semalam tidur satu ranjang? apa semalam Arga yang membopong tubuhnya ke atas ranjang? Dan sebenarnya apa yang terjadi.

Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba berkelibat di kepalanya, tubuhnya perlahan terduduk. Di pipinya masih terasa air mata yang mengering.

Tangan Rania memegang dadanya oleh perasaan yang sulit di ungkapkan, antara lega tapi juga kosong.

Ingatan semalam masih teringat jelas.

Suara pintu kamar saat Arga masuk, kedua pundaknya di sentuh oleh Arga, bisikan lembut, juga Rania yang ketakutan.

Rania bangkit dari ranjang pengantin ini, dirinya membuka jendela kamar agar angin masuk dan sirkulasi udara tetap----memenuhi kamar.

Rania berjalan membuka pintu dengan perlahan karena dirinya takut---masih ada Arga di dalam rumah ini.

Tangannya menggenggam gagang pintu membukanya perlahan, lalu menengok kesana-kesini. Setelah memastikan aman---Rania keluar kamar melihat isi rumah ini.

Arga Prananda sebelum menikah Rania, dirinya sudah membeli rumah sendiri. Jadi keduanya memiliki privasi dan tak tinggal bersama mertua atau orangtua.

Rania ke arah dapur disana juga ada ruang makan, di atas  meja sudah ada waffle dan ada secarik kertas.

"Rania...Mas tinggal dulu mau ngasih laporan ke Perusahaan nanti malam akan pulang, Di hari pertama rumah tangga. Mas siapkan waffle buat kamu," tulisnya di secarik kertas itu.

Sungguh terbalik harusnya istri yang menyiapkan suami sarapan dan menyiapkan keperluan kerja, tapi malah di posisi sebaliknya.

Rania yang masih mengenakan daster piyama semalam, hanya menghela napas lelah duduk di kursi.

Tapi sebelum itu Rania ke dapur untuk membuat kopi, hal yang mengejutkan ternyata di dapur sudah ada dispenser untuk membuat air panas otomatis.

Setelah membuat Kopi Rania kembali ke meja untuk makan wafflenya, dirinya masih menatap secarik kertas yang Arga tinggalkan untuknya.

"Bisa bikin waffle juga si tukang bully."

Rania makan waffle buatan sang suami yang pagi ini dirinya ngedumel, saat di cicipi rasanya sangat enak.

"Enak juga nih, dia buka bisnis Cafe bisa buka cabang kaya starbucks."

Rania bicara tanpa sadar, karena hari ini adalah hari pertama kalinya dalam rumah tangga---Ucapan adalah doa---Doa istri yang terucap untuk sang suami pertama kali.

"Ibu lagian kenapa sih peralatan foto gua pake aja di tinggal di rumah 'kan gua mau kerja," gerutu Rania sambil memakan waffle.

Dirinya saat sadar dari pingsan, malah keluarganya termasuk sang ayah---Tak memperbolehkan membawa alat fotografinya selama seminggu.

Karena tugasnya seharian hanya wajib melayani sang suami.

"Layanin gimana? Laki gua aja pergi nambang," ujar Rania mendengus kesal.

Untuk pertama kalinya Rania, mendengus napas kecewa, karena di rumah hanya ada dirinya sendiri.

Setelah habis, Rania mencuci piringnya lalu ke kamar mengambil ponselnya.

Demi memeriksa pendapatan penjualan foto online, tapi hal tak terduga terjadi---Sang ibu menelepon.

"Ibu ngapain sih?" ucap Rania yang badmood.

"Hallo Bu," ucap Rania mengangkat panggilan telepon.

"Rania...ini Eyang kamu mau kesana," kata sang ibu di sebrang telepon yang mau bersiap kesana.

"Hah mau ngapain Bu?" tanya Rania yang kaget.

"Mau ngambil sprei," jawab sang Ibu.

Rania yang sama sekali tak mengerti langsung menanyakan, apa sprei yang mau di ambil.

"Sprei yang mana?" tanya Rania.

"Tentu saja seperti tradisi jawa, Nak. Kami mau mengambil sprei yang ada darah saat malam pertama kalian," jawab sang ibu.

"Mampuss! Tamat riwayat gua!" batin Rania yang merutuki hal konyol semalam, malam pertamanya tak berjalan sesuai pada pengantin---pada umumnya.

"Haloo! Rania!" jerit sang ibu di sebrang telepon.

"I-iya..," ucap Rania gugup dengan peluh.

"Ibu sebenernya juga nggak setuju soal ini, di Papua Nabire tak ada tradisi begini, tapi ya sudahlah daripada ibu di amuk sama Eyang," kata sang Ibu.

"Ok-Oke," jawab Rania dengan ragu.

Lalu tanpa sengaja ponsel berpindah tangan ke tangan Eyang, "Hallo Rania Nduk?" tanya Eyang.

"Iya-Iya Eyang," jawab Rania.

"Eyang mau kesana? Mana suami kamu?" tanya Kartika pada cucunya.

"U-udah berangkat kerja tadi pagi," jawab Rania dengan cemas.

"Oh ini bagus pasti kamu berdandan rapih 'kan? iya dong rapih masa suami mau berangkat kerja mau kaya yang suka di jalan, Bu sedekahnya bu," kata Kartika dengan tawa.

"Ingat sekarang kamu menantu dan istri keluarga Prananda," lanjutnya.

"Hahaha, i-iya dong eyang," jawab Rania dengan tersenyum menyembunyikan kejadian semalam.

"Yaudah eyang mau ke rumah kamu sama ibumu," kata Kartika.

"Ehh," ucapan Rania terhenti saat telepon di matikan sepihak.

"Mampus!" kata Rania yang segera berjalan ke kamar mandi, untuk mandi karena keluarganya mau kesini.

Jujur saja, Rania malas saat mendengar nasihat panjang kali lebar dan kali tinggi dari neneknya.

"Kenapa istri tak melayani suami dengan baik?"

"Kenapa kamu tak berdandan rapih saat suami mau kerja?"

"Kenapa malah suami kamu yang siapkan sarapan? Kamu tak menjunjung tinggi didikan keluarga Wiratama jika istri harus patuh dan memiliki budi pekerti!"

Tentu ucapannya itu Rania bisa menebak, bagaimana nanti neneknya akan mengucapkan kalimat penuh pencerahan dan nasihat.

Rania mengenakan gaun, warna salem dengan rambut masih basah.

Rambutnya segera di keringkan, dan wajah Rania di pakaikan bedak tabur dengan polesan tipis-tipis, "pake kalung nggak ya?" pikir Rania.

Pokoknya Rania harus segera menyiapkan semuanya, sebelum ibu dan neneknya datang.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!