ON GOING | UPDATE SETIAP HARI
Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.
"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"
"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega
"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega
"cancel aja pak makasih!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Mall siang itu tidak terlalu ramai. Rega memarkir mobilnya di basement, lalu menoleh ke arah Ayra.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya lagi, memastikan.
"Apa aja. Yang penting bukan makanan berat banget," jawab Ayra pelan. Nada kesalnya tadi sudah mereda, tapi wajahnya masih terlihat sedikit tegang.
Rega memperhatikannya sekilas. "Masih kepikiran soal berita itu?"
Ayra menghela napas. "Iya sih... heran aja. Istrinya cantik, anaknya juga masih kecil keluarganya kelihatan harmonis. Tapi tetap aja bisa selingkuh."
Rega tersenyum tipis. "Kadang yang kelihatan harmonis belum tentu benar-benar baik-baik saja."
Ayra langsung menoleh. "Maksud kamu?"
"Maksudku... kita nggak pernah tahu isi rumah tangga orang. Jangan gampang nilai."
Ayra terdiam. Jawaban Rega terdengar netral, tapi entah kenapa justru membuat dadanya terasa tidak nyaman. Ia membuka pintu mobil dan turun tanpa berkata apa-apa lagi.
Mereka memilih sebuah restoran Jepang di lantai dua. Tempatnya cukup tenang, hanya beberapa meja terisi. Setelah memesan makanan, Ayra menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Besok kamu mulai kerja lagi?" tanya Ayra.
"Iya. kamu juga kan? Hari ini cuma urus berkas. Habis dari sini aku mau ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, bikin kartu keluarga baru sekalian update data."
Ayra mengangguk pelan. "Oh... iya ya, kemarin kamu bilang mau urus itu. Iya aku besok harus kerja karena kasihan yura aku tinggal lama"
"Iya. Sekalian aja mumpung sempat. besok aku anter ya"
Ponsel Rega bergetar di atas meja. Ia melirik layar sekilas lalu membalikkan ponselnya dengan cepat.
Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Ayra.
"Siapa?" tanyanya ringan, tapi matanya menajam.
"Kerjaan," jawab Rega singkat.
Ayra menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. "Kenapa dibalik?"
"Biar nggak ganggu."
Jawaban yang sederhana. Masuk akal. Tapi entah kenapa Ayra merasa ada yang berbeda. Biasanya Rega tidak pernah menutup-nutupi notifikasinya di hadapannya.
Makanan datang, memecah keheningan di antara mereka. Ayra mencoba menikmati makanannya, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal kata selingkuh itu.
Setelah selesai makan, Rega berdiri. "Aku anter kamu ke coffee shop depan ya. Habis itu aku ke Disdukcapil. Biasanya antre."
Ayra mengangguk.
Di coffee shop, Rega memesan minuman untuk Ayra lalu menatapnya lembut. "Kalau ada apa-apa, telepon aku."
"Aku bukan anak kecil," balas Ayra, tapi tersenyum tipis.
Rega terkekeh, lalu tanpa sadar mengusap kepala Ayra sebelum pergi.
Ayra memperhatikannya berjalan menjauh. Sosok itu terlihat sama seperti biasa tenang, bertanggung jawab, dan dewasa. Lalu kenapa hatinya tiba-tiba merasa gelisah?
Ia mengeluarkan ponselnya lagi. Tanpa sadar, ia membuka ulang berita artis yang tadi dibacanya. Kolom komentar penuh dengan opini orang-orang.
"Cowok itu kalau sudah bosan pasti cari yang lain."
"Awalnya juga harmonis kok."
"Istrinya terlalu percaya."
Ayra menelan ludah.
Terlalu percaya.
Ia mengingat kembali beberapa hari terakhir. Rega sering terlihat sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali menerima telepon dan menjauh untuk menjawabnya. Wajahnya serius, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Ayra tidak pernah mempermasalahkan itu. menurutnya tidak perlu ikut campur lebih dalam. Tapi sekarang, pikirannya seperti dipaksa menghubungkan potongan-potongan kecil yang belum tentu benar.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Rega.
[Sudah dapat nomor antrean. Lumayan panjang. Jangan overthinking. Aku cuma urus berkas 😊]
Ayra terdiam.
Ia tidak pernah bilang kalau ia sedang overthinking.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Apakah ekspresinya tadi terlalu jelas? Atau Rega memang bisa membaca pikirannya?
Ia membalas singkat.
[Iya. Hati-hati ya] balas ayra
Ayra menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya mengunci ponselnya. Ia mencoba menenangkan diri. Tidak adil jika ia mulai curiga hanya karena berita gosip.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Satu jam kemudian, saat Ayra sedang menyeruput minumannya, matanya menangkap sosok yang tidak asing.
Rega.
Ia berdiri di dekat eskalator, berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu terlihat seusia mereka, mengenakan blazer putih dan rok hitam. Rambutnya panjang tergerai rapi.
Ayra membeku.
Mereka terlihat cukup dekat. Tidak terlalu dekat hingga menyentuh, tapi jaraknya jelas bukan jarak formal sepenuhnya. Wanita itu tersenyum, dan Rega membalas senyum itu.
Ayra bangkit perlahan dari kursinya, tanpa sadar melangkah mendekat. Ia berhenti beberapa meter dari mereka.
"Terima kasih sudah datang langsung, Mas" ucap wanita itu.
"Iya, sekalian aku ada urusan administrasi," jawab Rega.
Nada suaranya terdengar lebih santai.
Ayra merasa dadanya sesak.
Wanita itu lalu menyentuh lengan Rega sebentar. Gerakan singkat, tapi cukup membuat kepala Ayra dipenuhi berbagai kemungkinan.
"Semoga data kita cepat diproses," kata wanita itu.
"Amin," jawab Rega.
Ayra tidak tahan lagi. Ia melangkah maju.
"Rega?"
Rega menoleh cepat. Wajahnya berubah kaget. "Ayra? Kamu... ngapain ke sini?"
Ayra tersenyum tipis, senyum yang terlalu dipaksakan. "Katanya lagi antre di Disdukcapil?"
Wanita itu memandang Ayra, lalu kembali menatap Rega dengan bingung.
"Oh, ini..." Rega terlihat mencari kata-kata. "Ini Nadin. Tadi ketemu nggak sengaja. Dia juga lagi urus berkas."
Ayra mengangguk pelan. "Oh."
Wanita itu mengulurkan tangan. "Halo, saya Nadin."
"Ayra."
Nadin tersenyum sopan. "Istri ya?"
Rega mengangguk. "Iya."
"Wah, cantik banget. Pantas Mas Rega tadi bilang lagi urus kartu keluarga," ujar Nadin ringan.
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Tadi bilang.
Ayra menoleh ke arah Rega. "Tadi bilang?"
Rega terlihat semakin kaku. "Aku cuma jelasin kenapa aku ke sini."
Nadin melihat suasana mulai tidak nyaman. "Saya duluan ya. Semoga lancar urusannya."
Setelah Nadin pergi, keheningan menggantung di antara mereka.
"Kamu ngikutin aku?" tanya Rega pelan.
"Aku nggak sengaja lihat," jawab Ayra jujur. "Kebetulan aja."
Rega mengusap wajahnya. "Kenapa kamu lihat aku kayak gitu?"
"Kayak gimana?"
"Kayak aku bikin salah."
Ayra menahan emosinya. "Aku cuma tanya. Tadi kamu bilang lagi antre."
"iya memang lagi antre tapi aku balik lagi karna ternyata ktp kamu juga harus di ganti!"
"Kenapa nggak bilang dari awal kalo kamu ketemu dia? kalo tau begitu aku ikut!" jawab ayra dengan nada sewotnya dan matanya mendelik
Rega terdiam beberapa detik. "aku gak tau! lagian ga semua hal harus aku laporin ke kamu kan? kalo pun aku laporan ke kamu pasti kamu salah paham jadi aku memilih diam."
Benar! jawaban itu justru menyadarkan ayra namun dia tetap kekeuh untuk memojokan rega.
"Jadi kamu sembunyiin biar aku nggak salah paham?" suaranya bergetar tipis.
"Ayra, bukan gitu-"
"Kalau nggak ada apa-apa, kenapa harus takut aku salah paham?"
Rega menghela napas panjang. "Kamu lagi kepancing sama berita gosip itu. Aku lihat dari tadi kamu kepikiran. Aku cuma nggak mau nambah pikiran kamu."
Ayra menatapnya lama.
Apakah ini murni kesalahpahaman? Atau instingnya memang sedang memperingatkan sesuatu?
Mall yang tadi terasa hangat kini seperti terlalu dingin.
"Aku cuma minta satu hal, Ga," ucap Ayra pelan. "Jangan bikin aku merasa bodoh karena terlalu percaya."
Rega menatapnya dalam. "Aku nggak pernah main di belakang kamu, Ayra."
Kalimat itu terdengar tegas. Meyakinkan.
Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Ayra merasa ada jarak tipis yang tak terlihat di antara mereka.
Dan jarak sekecil apa pun, jika dibiarkan, bisa berubah menjadi jurang.
"udah sekarang ikut aku! kamu harus ganti ktp kata pengurusnya" ucap rega lalu menarik ayra namun ayra menghempaskan tangan rega
kini mereka menjadi pusat perhatian dari para pengunjung mall
"seandainya kamu sama dia beneran dekat! aku ga mempermasalahkan itu! aku ga akan terjerumus lebih dalam jika itu memang terjadi!" ucap ayra