NovelToon NovelToon
Meminjam Ibu Sehari

Meminjam Ibu Sehari

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: ririn rira

Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.

"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepastian yang manis

Langit pagi tak menampilkan semburat oranye seperti biasanya, melainkan hamparan abu-abu lembut yang tenang. Rintik gerimis mulai turun tipis, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menciptakan simfoni halus saat menyentuh permukaan daun yang masih mengantuk. Aroma wangi tanah yang basah, menyeruak masuk melalui celah jendela, membawa kesegaran yang murni dan menenangkan jiwa.

Awan kelabu di atas sana tidak membuat Byan cemberut. Baginya, rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela mobil justru seperti musik latar yang pas untuk petualangannya kali ini.

Sambil menempelkan hidung ke kaca yang dingin, ia memperhatikan bagaimana tetesan air saling berkejaran, bergabung menjadi satu, lalu meluncur cepat ke bawah. Dunia di luar sana tampak lebih berkilau. Aspal jalanan menghitam dan memantulkan cahaya lampu lalu lintas sementara pohon-pohon di pinggir jalan terlihat lebih hijau dan segar setelah mandi.

Byan mengeratkan jaket kuningnya. Ia tidak keberatan kalau nanti harus sedikit melompat menghindari genangan air saat turun, atau merasakan sapaan air yang dingin di pipinya. Baginya, hujan gerimis bukan penghalang, melainkan bumbu yang membuat perjalanannya terasa lebih syahdu dan penuh cerita.

"Nak Byan, senang?" Bi Merry tersenyum melihat tingkah majikan kecilnya itu.

"Senang, Bi. Tante Bria pasti sudah menunggu ku."

"Nak Byan suka sekali ya sama tante Sebria?" Bi Merry merapikan anak-anak rambut bocah kecil itu.

"Hm, suka sekali. Kalau bisa tante Bria aku bawa pulang."

Mobil berhenti tepat di depan pagar kokoh berwarna putih. Menunggu sejenak konfirmasi pagar itu terbuka menampilkan rumah mewah milik orang tua Sebria. Bi Merry dan Byan terperangah melihat kokohnya bangunan itu. Mereka tidak menyangka Sebria penghuni rumah itu.

Aroma tanah basah yang segar langsung menyambut Byan. Dengan langkah ringan, ia melompat turun, membiarkan gerimis tipis menyentuh wajahnya yang ceria lalu berhenti di depan pintu kayu besar.

Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Sebria yang langsung melebarkan senyum begitu melihat bocah berjaket kuning itu. Tanpa menunggu lama, Byan langsung menghambur ke pelukan Sebria, membawa aroma hujan dan dingin yang segera tertutup oleh hangatnya pelukan yang sudah lama ia rindukan.

Sebria mengusap sisa rintik di rambut Byan, lalu menggiringnya masuk ke ruang tengah yang terang benderang. Di sana, sebuah perapian kecil atau setidaknya lampu-lampu kuning hangat menciptakan suasana yang sangat kontras dengan udara dingin di luar. Sambil melepas jaketnya, Byan mencium aroma kayu manis dan pisang goreng yang memenuhi ruangan, membuatnya merasa benar-benar telah sampai di "rumah" kedua.

"Selamat datang, ayo masuk."

Byan dan Bi Merry melangkah ke dalam. Suasana terasa lebih hangat dan cerah. Berbeda dengan aura rumah Jehan yang agak gelap dan terasa hening.

"Tante, tinggal sendiri?" Byan mengimbangi langkah Sebria.

"Tidak, tante tinggal sama keluarga. Nanti tante kenalkan ya."

Mereka melangkah ke arah ruang tengah. Disana Ibu Sandrina dan Pak Fendy duduk menikmati teh hangat dan pisang goreng. Lalu di sofa tunggal, Keona fokus menonton tv.

"Tamu ku sudah datang. Ayo kenalan dulu." Interupsi Sebria. Senyum di bibirnya mengembang sempurna. "Ayo sayang perkenalan diri dulu."

"Halo, nama ku. Levin Byantara. Di luar aku di panggil Levin tapi di rumah di panggilnya Byan."

"Saya Merry, pengasuh Nak Byan."

Ibu Sandrina tersenyum ramah. "Jadi kamu yang nama nya, Byan. "Sini duduk." Wanita paruh baya itu menepuk sofa. "Panggil apa ya?" Ujarnya sambil berpikir. "Oma, boleh deh. Oma Sandrina. Nah, ini panggil Opa ya tidak mungkin, 'kan di panggil, Om."

Suasana semakin hangat. Gelak tawa menggema mendengar candaan ibu Sandrina.

"Panggil Opa ya..."

Byan mengangguk mengerti. "Oma dan Opa."

Aliran darah di tubuh sepasang paruh baya itu tiba-tiba terasa tersengat ketika panggilan itu keluar dari bibir Byan. Ya, di usia ini mereka memang harusnya mendapatkan gelar itu. Tapi apa boleh buat, di antara dua anaknya belum ada yang memberi gelar itu tapi mereka tidak memaksa terlebih sudah tahu kondisi Sebria.

"Hai, kamu anak nya si Jehan-jehan itu, 'kan?"

"Keo."

"Panggil, Om saja. Kamu suka sama hadiahnya."

"Suka sekali Om, terimakasih hadiahnya." Manik mata Byan berbinar langsung menceritakan koleksi nya.

Melihat senyum dan kebahagiaan kecil terpancar dari manik mata Sebria. Kedua orang tua nya terharu dan merasa senang.

...----------------...

Lampu jalan yang berkedip di kejauhan menjadi satu-satunya saksi bisu saat keheningan malam mulai terasa berat. Di kafe favorite dulu. Dua orang manusia dewasa duduk saling berhadapan, kepulan uap dari dua cangkir kopi yang mendingin seolah membawa pergi kata-kata yang sedari tadi tertahan di ujung lidah.

"Kita tidak bisa terus begini, kan?" Suara sang pria memecah sunyi, nyaris berbisik namun tajam merobek udara malam.

Di depannya seorang wanita menarik napas panjang, matanya menatap kosong ke arah jalanan sepi. Ia tahu pembicaraan ini akan datang, sepasti matahari yang akan tenggelam. "Aku hanya mencoba mencari waktu yang tepat," Jawabnya pelan, "Tapi sepertinya malam ini tidak menyisakan ruang untuk menghindar lagi."

Di bawah langit tanpa bintang, Jehan dan Sebria mulai membongkar tumpukan keraguan yang selama ini disembunyikan di balik tawa basa-basi. Setiap kalimat yang terucap terasa seperti beban yang dilepaskan.

"Aku ingin jawaban kamu." Jehan menatap lekat memberi jeda kesunyian menyela. "Kita dua orang dewasa yang sudah punya pemikiran matang. Aku tahu kamu tidak mudah menyembuhkan diri."

"Je..." Sebria menarik nafas panjang. "Ayo memulai lagi dari awal."

Jehan mematung sejenak mendengar kalimat itu dari Sebria. Dia tidak berhalusinasi, 'kan? Ia menepuk pipinya cukup keras takut ia tenggelam dalam halusinasi.

"Aku serius." Sambung Sebria. "Menceritakan rasa sakit tidak ada habisnya. Byan terlanjur lengket sama aku. Tidak baik pandangan orang tentang kita suatu hari nanti. Seandainya keputusan yang ku ambil malam ini akhirnya menyakitkan lagi maka ini yang terakhir."

"Tidak akan ! Itu tidak terjadi lagi, aku tidak berjanji tapi aku akan menepatinya." Potong Jehan cepat. "Kamu serius, 'kan?" Tangan nya terangkat menggenggam jemari Sebria.

"Aku serius, tapi bagaimana dengan Keona, dan orang tua ku."

"Kalau papa mu tergantung keputusan mu, dan mama kamu serta Keona aku belum tahu. Yang pasti kita menikah setelah mendapatkan restu mereka."

Setelah merasa cukup bicara serius. Jehan mengajak Sebria naik ke rooftop kafe untuk mencari udara. Angin malam yang berembus pelan membawa aroma melati, sesekali memainkan ujung rambut mereka yang berdiri berdampingan, menatap cakrawala yang tenang.

"Lihat semua cahaya itu," Gumam Sebria, jemarinya melingkar di pagar pembatas yang dingin. "Indah, tapi terasa sangat jauh."

Jehan di sebelahnya bergeser mendekat, memangkas jarak hingga bahu mereka bersentuhan. Kehangatan tubuhnya menjadi kontras yang nyaman dengan suhu malam yang mulai menggigit. "Mungkin karena kita terlalu fokus pada jarak, sampai lupa bahwa kita sedang berdiri di sini, bersama."

Sebria menoleh, mendapati sepasang mata laki-laki itu tidak sedang menatap lampu kota, melainkan menatapnya dengan binar yang lebih dalam dari galaksi mana pun. Suasana yang tadinya ringan mendadak berubah menjadi penuh desakan emosi yang manis namun serius.

"Aku tidak ingin hanya menjadi salah satu cahaya yang kamu lihat dari jauh," lanjut Jehan, suaranya rendah dan mantap. "Aku ingin menjadi rumah tempatmu pulang saat semua lampu ini padam."

Di bawah naungan langit yang bertabur bintang, pembicaraan itu mengalir tanpa beban. Tentang masa depan yang ingin mereka bangun dan janji-janji yang tak lagi hanya sekadar angan. Malam itu, keseriusan tidak terasa menyesakkan, melainkan seperti melodi lembut yang mengikat dua jiwa dalam harmoni yang baru.

1
Lisa
Senangnya akhirnya Bria menerima lamaran dr Jehan..
Ayuwidia
Berada di posisi Bria itu nggak mudah. Ada Luka tak kasat mata yang sulit untuk sembuh, apalagi ketika melihat foto dan vidio Ayusa. Ah Sebria, terbuat dari apa hatimu?
Ririn Rira: Iya kak kalau kata Keona ada cermin masa lalu di antara Jehan sama Sebria
total 1 replies
Lisa
Bria sayang banget sama Byan..moga kalian menjadi 1 keluarga yg utuh y..amin..
Ririn Rira: semoga ya kak
total 1 replies
Ayuwidia
Selalu berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa
Percayalah pdJehan Bria..dia sungguh2 mencintaimu dan menerimamu apa adanya
Ayuwidia
Itu artinya... kamu melamar Bria, Je?
Ayuwidia: tho the point dia, nggak mau kehilangan lagi 😄
total 2 replies
Ayuwidia
Bener banget, Jehan
Ayuwidia
Keliatan banget si Delia cembokur
Lisa
Wah Jehan secara tidak langsung melamar Sebria nih 😊
Ririn Rira: Gercep si Jehan 🤭
total 1 replies
Lisa
Syukurlah akhirnya sudah ditemukan penyebab kekacauan..moga Bria mau membuka hati lg utk Byan
Lisa
Kasihan Byan..ayo Bria jgn terpengaruh dgn ucapan sekretaris itu..dia ada hati sama Jehan makanya berkata spt itu..
Lisa
Sok banget si Delia itu..ngapain dia ikut campur urusannya Bria & Jehan..pasti dia naksir Jehan..
Ririn Rira
Deric mulai muncu ya kak 🤭
Ayuwidia
Betoel kata Kanaga. Dan asal kamu tau, Ric... berlian yang sudah dibuang tidak bisa dipungut lagi
Lisa: Bener banget Kak Ayu
total 1 replies
Ayuwidia
Pemandangan yang hangat dan indah. Semoga hati Sebria terbuka lebar lagi untuk Jehan. Menerimanya sebagai pasangan hidup, dan menjadikan Byan seperti anaknya sendiri 🥰
Lisa
Papa & anak kompak nih 😊
Ayuwidia
Selalu nyesek tiap keinget kisah 'Luka Sebria'. Ada Ayusa di antara Jehan & Sebria. Masih berharap, Jehan & Sebria bisa bersatu
Lisa: Benar Kak Ayu..aku jg berharap seperti itu.
total 1 replies
Ayuwidia
Keona... dia sosok adik yang teramat sayang pada kakaknya. Dia tidak ingin dan tidak rela kakaknya kembali terluka. Makanya, dia super tegas. Tugas Jehan menaklukan hati Keona
Lisa
Wah Keona benar² protektif nih
Ayuwidia
Bagus banget. Kisahnya bikin baper. Semangat berkarya Kak Author ✍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!