NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Liburan Romantis atau Uji Nyali?

​Matahari baru saja terbit di ufuk timur, memantulkan cahaya keperakan di atas permukaan laut yang tenang. Sebuah jet pribadi baru saja mendarat di pulau pribadi milik keluarga Mahendra. Clarissa keluar dari pesawat dengan kacamata hitam besar menutupi matanya, mencoba menyembunyikan rasa kantuknya yang luar biasa.

​"Devan, kau bilang kita akan merayakan kemenangan. Tapi kenapa aku merasa kau sedang menculikku ke antah berantah?" gumam Clarissa sambil menyeret langkahnya di atas dermaga kayu yang mewah.

​Devan berjalan di sampingnya, tampak segar bugar dengan kemeja linen putih yang kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang kecokelatan. "Antah berantah? Ini adalah Pulau Dewa, Clarissa. Satu malam di sini biayanya cukup untuk membeli satu unit apartemen di pusat kota. Harusnya kau berterima kasih karena aku membawamu ke sini, bukan malah mengomel seperti nenek-nenek kehilangan gigi."

​"Apa kau bilang? Nenek-nenek?!" Clarissa berhenti melangkah dan menoleh dengan tatapan tajam. "Dengar ya, Tuan Posesif. Kalau bukan karena aku yang meretas server semalam, kau mungkin sudah jadi gelandangan sekarang! Harusnya aku yang memilih tempat liburan, dan pilihanku adalah tidur 24 jam di kasur empuk, bukan berjemur di bawah matahari yang bisa merusak kulit mulus Lestari ini!"

​Devan terkekeh, lalu tiba-tiba ia merangkul bahu Clarissa dan menariknya mendekat. "Oh, jadi kau mau tidur? Bagus. Aku sudah memesan satu kamar paling mewah dengan kasur king size. Kita bisa tidur bersama sepuasmu."

​Clarissa menyikut perut Devan dengan keras. Pluk!

​"Aw! Kau ini kasar sekali," keluh Devan sambil meringis, meski tangannya tidak juga lepas dari bahu Clarissa.

​"Tidur bersama dalam mimpimu! Aku tidur di kasur, kau tidur di bak mandi. Itu aturan mainnya," cetus Clarissa sambil berjalan mendahului Devan menuju vila megah yang menghadap langsung ke pantai.

​Vila itu benar-benar indah. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca besar, memberikan pemandangan 360 derajat ke arah laut biru toska. Namun, fokus Clarissa teralihkan oleh satu hal: hanya ada satu tempat tidur besar di tengah ruangan yang dihiasi taburan kelopak bunga mawar merah berbentuk hati.

​"Apa-apaan ini, Devan?! Mawar? Bentuk hati? Kau pikir kita sedang syuting drama picisan?" Clarissa menunjuk kasur itu dengan jari gemetar.

​Devan melempar tasnya ke sofa dan merebahkan diri di atas mawar-mawar itu dengan santai. "Pelayannya yang terlalu bersemangat. Aku bilang aku membawa 'wanita istimewa', mereka pikir kita sedang bulan madu. Lagi pula, ini lucu kan?"

​"Lucu gundulmu! Cepat bersihkan bunga-bunga ini sebelum aku menendangmu ke laut!"

​"Galak sekali," Devan bangkit dan mendekati Clarissa. Ia berdiri sangat dekat, hingga Clarissa bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di dahinya. "Clarissa... kau tahu kan, di pulau ini hanya ada kita dan beberapa staf. Tidak ada Hendrawan, tidak ada Kenzo, dan tidak ada ancaman. Bisakah kau berhenti menjadi CEO galak selama satu hari saja?"

​Clarissa terdiam. Tatapan Devan melembut, tidak ada lagi kilat nakal atau sombong. Hanya ada ketulusan yang membuat pertahanan Clarissa runtuh perlahan.

​"Aku... aku hanya belum terbiasa," bisik Clarissa, memalingkan wajahnya yang mulai memerah.

​"Terbiasa dengan apa? Dengan aku yang mencintaimu?" tanya Devan parau.

​"Terbiasa dengan kau yang tidak menyebalkan! Cepat ganti baju, aku lapar!" teriak Clarissa tiba-tiba, mencoba menutupi kegugupannya. Ia segera berlari menuju kamar mandi, mengunci pintu, dan bersandar di sana dengan jantung yang berdegup kencang. Sial, kenapa dia harus jadi tampan di saat seperti ini?

​Sore harinya, mereka memutuskan untuk makan siang di tepi pantai. Devan sudah menyiapkan pemanggang barbekyu kecil. Si CEO Mahendra Group itu sekarang sibuk mengipasi sate udang dengan wajah yang sangat serius, seolah sedang memimpin rapat pemegang saham.

​"Jangan sampai gosong, Devan. Aku tidak mau makan arang," instruksi Clarissa sambil duduk santai di kursi malas, menyesap jus kelapa muda.

​"Kau pikir memanggang itu mudah? Ini butuh teknik tingkat tinggi!" balas Devan sambil menyeka keringat di dahinya. "Harusnya kau membantuku, bukan malah jadi mandor!"

​"Tugas ratu adalah mengawasi rakyatnya bekerja. Cepat, udangnya sudah berubah warna!"

​Setelah perdebatan panjang yang berakhir dengan beberapa udang yang sedikit "eksotis" warnanya, mereka makan dengan tenang di bawah naungan pohon kelapa. Namun, ketenangan itu terusik saat Clarissa teringat kembali pada pesan misterius tentang 'Naga Hitam'.

​Ia merogoh ponselnya diam-diam di bawah meja. Ia melihat kembali foto Lestari kecil dengan pria bertato naga itu.

​"Apa yang kau lihat?" suara Devan mengagetkannya.

​Clarissa hampir menjatuhkan ponselnya ke pasir. "Bukan apa-apa! Hanya... melihat ramalan cuaca."

​Devan meletakkan garpunya. Ekspresinya berubah serius. "Clarissa, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu sejak kita meninggalkan gedung K-Corp. Jangan pikir kau bisa membohongiku. Kita sudah melewati ledakan, terjun dari gedung, dan hampir mati bersama. Apa kau masih tidak percaya padaku?"

​Clarissa menghela napas. Ia tahu Devan tidak akan berhenti mengejarnya sampai ia bicara. Ia akhirnya menunjukkan foto itu kepada Devan.

​"Pesan ini masuk setelah kita mengalahkan Hendrawan. Katanya, tubuh Lestari ini punya hutang darah pada organisasi bernama Naga Hitam," jelas Clarissa pelan.

​Mata Devan menyipit tajam saat melihat tato naga itu. "Naga Hitam... mereka adalah sindikat bawah tanah yang bergerak di bidang perdagangan gelap dan tentara bayaran. Jika Lestari terlibat dengan mereka, itu menjelaskan kenapa dia punya kemampuan bertahan hidup yang tinggi meski hanya seorang pelayan."

​"Tapi apa hubungannya dengan ayahku?" tanya Clarissa bingung.

​Devan mengambil ponsel itu dan memperhatikan pria dalam foto tersebut. "Pria ini... aku merasa pernah melihatnya di arsip lama ayahku. Clarissa, sepertinya ayahmu bukan hanya menyembunyikan Lestari untuk melindunginya, tapi juga untuk menjauhkannya dari organisasi ini."

​"Maksudmu?"

​"Ada kemungkinan... Lestari dipersiapkan menjadi bagian dari mereka sejak kecil. Dan ayahmu 'menculik' Lestari untuk memberinya kehidupan normal sebagai anak satpam."

​Clarissa merasa kepalanya pening. Jadi aku masuk ke dalam tubuh seorang calon pembunuh atau apa? batinnya ngeri.

​"Jangan takut," Devan meraih tangan Clarissa dan menggenggamnya erat. "Siapa pun mereka, mereka harus melewati mayatku dulu sebelum menyentuhmu. Naga Hitam atau Naga Pelangi sekalipun, aku tidak peduli."

​Clarissa tersenyum kecil, merasa hangat oleh perlindungan Devan. "Naga Pelangi? Kau pikir ini kartun anak-anak?"

​"Yah, aku mencoba melucu agar kau tidak jantungan. Tapi serius, Clarissa. Besok kita kembali ke Jakarta dan aku akan mengerahkan seluruh tim intelijenku untuk mencari tahu siapa pria ini."

​Malam pun tiba. Mereka duduk di teras vila, memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. Suasana yang tadinya tegang kembali menjadi romantis.

​"Devan," panggil Clarissa.

​"Hmm?"

​"Terima kasih. Untuk semuanya. Meskipun kau sangat menyebalkan, posesif, dan suka memaksa... aku merasa aman bersamamu."

​Devan menoleh, menatap Clarissa dengan dalam. "Kau baru sadar? Padahal aku sudah melakukan itu sejak lima tahun lalu, saat kau masih jadi saingan bisnisku yang paling galak."

​Devan mendekat, tangannya melingkar di pinggang Clarissa. "Clarissa... tidak peduli siapa kau, di mana kau berada, atau tubuh siapa yang kau tempati... jiwamu adalah milikku. Kau mengerti?"

​Clarissa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memberanikan diri untuk bersandar di bahu Devan, membiarkan kehangatan pria itu menyelimutinya. Namun, saat suasana semakin intim, tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari semak-semak di belakang vila.

​Srak... srak...

​Clarissa langsung waspada. Devan berdiri, matanya tajam menembus kegelapan. "Siapa di sana?!"

​Seorang pria berpakaian selam hitam muncul dari balik bayangan. Di tangannya, ia memegang sebuah busur panah modern. Dan di pergelangan tangannya, terlihat jelas tato Naga Hitam.

​"Tuan Mahendra," suara pria itu dingin dan datar. "Kami tidak datang untuk bertarung. Kami hanya datang untuk mengambil kembali 'aset' kami yang hilang."

​Pria itu menunjuk ke arah Clarissa. "Nona Lestari, waktu berliburmu sudah habis. Ketua sudah menunggumu untuk menyelesaikan ritual yang tertunda sepuluh tahun lalu."

​Clarissa berdiri di samping Devan, mengepalkan tangannya. "Aku bukan Lestari yang kalian kenal! Pergi dari sini atau kau akan menyesal!"

​Pria itu tertawa dingin. "Kau boleh memiliki jiwa orang lain, tapi darah dalam tubuh itu adalah darah Naga. Dan darah tidak pernah berbohong."

​Dalam sekejap, pria itu melepaskan sebuah anak panah kecil berisi obat bius. Devan dengan sigap menarik Clarissa untuk menghindar, namun pria itu menghilang ke dalam kegelapan laut secepat ia muncul.

​"Mereka sudah di sini," bisik Devan dengan wajah tegang. "Liburan kita benar-benar berakhir."

​Clarissa menatap ke arah laut yang gelap, menyadari bahwa musuh kali ini jauh lebih berbahaya daripada Hendrawan. Ini bukan lagi soal harta atau jabatan, tapi soal identitas tubuh yang ia tempati.

​"Sepertinya babak baru baru saja dimulai, Devan," ucap Clarissa dengan suara mantap. "Dan kali ini, aku akan menunjukkan pada mereka bagaimana seorang Ratu Wijaya memotong kepala naga."

1
Mommy Ayu
masak iya secepat itu bakal terungkap siapa lestari sebenarnya
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!