Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Peduli mah bilang aja mas... ih gemes..


Arkan mematung, dia tak banyak bergerak sama sekali bahkan untuk melangkah saja entah mengapa kakinya malah kaku. Kaza sedikit gemetar, dalam hati ia tak menyangka kalau leher wanita yang dia ancam akan benar-benar mengeluarkan darah.
'Shit... ' umpat Kaza dalam dada.
Melihat kesempatan tersebut, Arkan segera maju menahan pisau yang diarahkan ke leher Aluna ke telapak tangannya sendiri, tak peduli tangannya yang jadi korbannya—segera pria itu menendang dada Kaza dengan kaki panjangnya.
Brak! Kaza terlempar jauh ke belakang, tangan Arkan yang terluka tersebut malah dibuat untuk menutupi luka di leher Aluna yang tersayat.
"Bangsat, bangsat, bangsat! Bangun! Bangun Brengsek! " seru Arkan, dia panik sendiri, saat akan dia gendong —Kaza masih belum kalah, dia menusuk paha belakang pria itu dengan garpu.
"Don't go! I’m not finished yet—don’t leave… Why did you come back again?! I was sure you had already gone to the airport! That’s what was supposed to happen! I won!"
(Aku masih belum selesai, jangan pergi... Kenapa bisa kau kembali lagi! Aku yakin kau sudah pergi ke bandara! Seharusnya itu yang terjadi! Aku menang—)
Sebelum pria timur itu banyak bicara, Arkan sudah menendang wajahnya berkali-kali dengan kaki kanannya yang tak terluka sama sekali, menahan perih di pahanya, pria itu menggenggam erat tubuh Aluna dalam pelukannya.
"Don’t be ridiculous. Who are you to think you could harm me? You’re beneath me—know your place. You’ve spoiled my pleasant time here. For that, you deserve death. After this, neither you nor your family will be spared."
(Jangan konyol. Siapa kau sampai berpikir bisa melukaiku? Kau berada jauh di bawahku—tahu diri dan tahu tempatmu. Kau telah merusak waktu menyenangkanku di sini. Untuk itu, kau pantas mati. Setelah ini, baik kau maupun keluargamu tidak akan dibiarkan hidup.)
Mendengar keluarganya diancam, Kaza jatuh luruh tak berdaya—pria kriwil itu akhirnya melepaskan diri, menjadi kesempatan Arkan untuk melarikan diri meminta bantuan kepada Dion yang kebetulan lewat.
"Tuan Anda di sini? Saya sudah cari ke mana-mana—" kedua mata pria itu jatuh ke genangan darah yang menetes dari dalam tangan Arkan, pria itu melihat bahwa Aluna yang tuannya bawa wajahnya sangat pucat.
"Di sana, tangkap orang yang di sana... dia pelakunya... " ucap Arkan pelan, dia sedikit lelah karena harus melawan orang asing, namun juga punya kekuatan untuk membawa tubuh Aluna ke dalam kamar untuk dirawat.
...****************...
"Sudah kau urus? " tanya Arkan, dirinya sedang diobati oleh pelayan resort. Setelah tangan dan paha belakangnya telah diperban, pria itu membalikkan tangannya berkali-kali. Kejadian yang begitu cepat, tapi terasa paniknya.
"Sudah Tuan Arkan, saya juga sudah menyelidiki pria tersebut. Dia Kaza Abraham, dari negara timur yang miskin... alasan dia melakukan hal tersebut masih belum dijelaskan, dia masih berani tutup mulut... "
"Terus awasi dia, kalau dia sampai berbuat nekat seperti ini lagi langsung ajukan hukuman mati ke pengadilan. "
Edola keluar dari kamar, wanita itu menunduk pelan di hadapan Arkan yang duduk dengan pose kaki sebelah terangkat ke atas. "Bagaimana keadaan istriku? "
"Syukurlah tidak terjadi hal yang terlalu buruk Tuan, saya bisa menjamin hal tersebut. Hanya dia butuh istirahat saja..."
"Terima kasih atas bantuanmu Nona..." tanya Dion, wanita cantik tersebut menaruh anak rambutnya di belakang telinga.
"Saya Edola..."
"Aha iya terima kasih Edola atas bantuanmu, tanpa dirimu kita tidak bisa apa-apa..."
"Sama-sama tuan, saya permisi dulu..."
Dion memberikan space untuk wanita itu bisa lewat, Arkan mendongak menatap plafon langit yang seolah membuatnya terlena, pria itu melamun sendirian. Dion melambaikan tangan di depan wajah Arkan walau kesannya tak sopan, tapi jujur saja jarak umur mereka sama.
"Tuan apa yang sedang Anda pikirkan? Apakah Anda sedang memikirkan Nyonya Aluna atau..."
"Bukan begitu sialan, " jawab Arkan cepat, dia segera menutup pipinya yang memerah. Dion pelan-pelan tersenyum, baru kali ini setelah kedatangan nyonya Aluna pria itu banyak bicara pikir Dion dia menawarkan secangkir kopi hangat untuk menemani waktu.
"Silakan Tuan,"
"Hm..."
Setelah diseruput, Dion diajak bicara. "Setelah pulang dari Indonesia belikan perhiasan. "
"Perhiasan Tuan? Maaf kalau saya lancang, bukannya kemarin sudah saya pesankan—"
"Belikan yang berbeda dari kemarin, dan yang terbaik—kekuatan esok, jangan yang kemarin-kemarin, "
Dion masih penasaran. "Lalu yang saya belikan sebelumnya Anda bawa ke mana? —"
Arkan langsung menatap pria itu tajam. "Masih saja tanya ya? "
Dion seketika merasa terintimidasi. "Maaf, atas kelancangan saya ini Tuan... tidak akan saya ulangi. "
"Ck, pergilah."
Dion angguk kepala ke bawah, dia diusir keluar agar Arkan bisa masuk ke dalam kamar. Pria itu membuka pintu pelan, tanpa bersuara, juga tanpa membuat Aluna terbangun.
Dari kejauhan, Arkan bersedekap dada. "Ada-ada saja kau, setiap hari selalu saja ada masalah. Kenapa begitu? Apa kau adalah pengundang kesialan? " ucapnya pelan, dia menghampiri sisi ranjang dan duduk di sebelah kepala Aluna.
Terlihat leher wanita itu diperban, kenapa Edola tidak menanyakan soal bekas cekikan di lehernya? Mungkin wanita itu mengira kalau hal itu terjadi karena kekerasan dalam berhubungan, tanpa Edola atau semua orang tahu bahwa Arkan menyesal telah mencekiknya di sisi kolam tadi siang.
"Saya minta maaf soal tadi, saya—saya... sialan, apa yang sebenarnya kukatakan ini? Tidak jelas, "
Arkan memalingkan pandangan, dia berdiri dan akan memilih tidur di sofa, tapi tanpa sepengetahuannya Aluna sudah setengah sadar dan merasa kalau apa yang dia dengar adalah efek mimpi, 'Ah di mana aku bisa mendapatkan mimpi seindah ini? Aneh... mana mungkin Mas bakal ngucapin kayak gitu ke aku... dia kan egois, andai saja itu jadi kenyataan...' pikirnya, kembali terlena dalam tidur.
...****************...
pagi-pagi Ayam air dada putih, burung spesies khas Maldives mematuk tempurung kelapa. Dion dan kawan-kawannya kini menikmati pemandangan pantai Maldives sambil bermandikan sunscreen.
Salah satu bodyguard menghampiri Dion, "Kerja bagus Mas! Karena kita kemarin yang ikut mencari Nyonya Aluna kita juga diperbolehkan ikut menginap! " kata mereka, saking bahagianya mereka semua melompat-lompat seperti anak kelinci.
Setelah disuguhkan es kelapa, pria itu membuka kacamata hitamnya. "Oh jelas saja dong, pokoknya kalian jangan rame kalau Nyonya Aluna dibuat bangun karena ulah kalian, siap-siap aja kena pecat. " katanya terdengar sadis, tapi mungkin benar juga apa yang dikatakannya.
"Tidak akan kok Mas Dion! Ayo kita berseluncur Mas! "
"Au ah kalian aja, aku malas mau gerak. "
Edola memberikan semangkok garudhiya (sup ikan bening) dan Mas Huni (sarapan tuna cincang & kelapa dengan roti roshi).
"Silakan Tuan..."
Dion melirik wanita cantik tersebut dengan sebelah mata, dia sengaja terbatuk untuk mengundang perhatiannya. "Maaf, apa aku boleh minta nomor teleponmu kalau aku komplain soal rasa makanan ini? "
Edola angguk kepala, dia memberikan nomor telepon sesuai kode negaranya.
Dari kejauhan para bodyguard yang hanya memakai celana pendek langsung menggoda Dion yang sangat berani dinegara orang. "Duh Mas Dion ini ya, ga mau berhenti dari status terbengkalainya..."
"Haha iya..." seru mereka, Dion mengepal tangan erat melempari mereka dengan pasir.
DION:
...****************...
Arkan mengusap bibir, dia meregangkan kedua tangannya ke atas. 'Apa dia sudah bangun? ' batinnya masih setengah ngantuk, pria itu terbangun dari tidurnya dan menghampiri sosok Aluna yang terduduk diam di pinggir kasur.
"Akhirnya bangun juga kau, kau tahu seberapa sulitnya saya kemarin? Ck, bikin repot saja. Kalau tahu begini mending kita honeymoon di Bali atau wilayah sekitar saja, agar tak tambah runyam, "
"Sampai yang menyekapmu adalah imigran ilegal kau tahu! "
Aluna menoleh, dia mengedipkan kedua matanya cepat. "Aku tidak tahu..."
Mendengar jawaban tersebut, Arkan langsung mendekat—dia menangkup pipi wanita itu dalam sekali genggam. "Aluna jangan bikin saya kesal lagi, kau mau ku cekik seperti kemarin? " ancam pria itu, sebelah alisnya terangkat ke atas.
Aluna hanya diam saja, "Kemarin? Aku di mana...Memang siapa kamu? " tanya Aluna, dia panik sendiri. Arkan terdiam, matanya seketika kosong melihat kelakuan wanita itu yang tak biasanya begini.
"Jalang jangan main-main ya! Kau mau mempermainkan saya! KATAKAN!!"
"Akh—tolong paman jangan sakiti aku! Aku masih mau hidup... aku..."
"APA? KAU PANGGIL SAYA APA! "
"Aku... "
"Aku ini... siapa..." pikir wanita itu, semakin dipikir semakin pusing jadinya. Arkan sudah muak dengan akting wanita itu, dia menindih wanita itu dari atas dan menyatukan kedua tangan Aluna ke dalam genggaman besarnya.
"Katakan sekali lagi, kau akan ku sikat sekarang juga. "
"Tolong maafkan aku... namaku—aku lupa namaku siapa..."
"ALUNA! NAMAMU ALUNA BODOH!!!"
Aluna yang dibentak langsung terdiam, dia meneguk ludah—geleng kepala cepat. "Bukan... itu bukan namaku... aku rasa namaku itu—"
"Akh—sakit..."
"Bangsat, apalagi ini" Arkan tak mengerti lagi dengan jalan pikiran wanita itu, dia menggoyang-goyangkan wajah wanita itu yang sekali lagi terkapar lemas, seluruh wajahnya pucat lagi, kedinginan seperti sedang berada di Antartika.
"Kau sakit! Ck, sialan! " Aluna diangkat, posisi tubuhnya dibuat senyaman mungkin di atas ranjang. Pria itu segera berlari mengambil kompres hangat untuknya.
Setelah ditinggal, Aluna bergumam tak jelas.
"Kamu Aluna... ingat ini, ya? "
Di seberang ia angguk kepala, "Iya akan kuingat... lalu kamu siapa? "
"Aku? Mungkin adalah sisi yang tak ingin kau ingat. " ucap wanita berponi tebal dengan seragam siswi tersebut, matanya tertutup oleh bayangan hitam.
Pelan-pelan Arkan menempelkan kompres ke dahi wanita itu, dia juga meniup-niup pipi Aluna seolah sedang memberikan mantra khusus. "Sialan, kemarin disekap sekarang kau sakit jalang—" pria itu berhenti setelah dia mengucapkan jalang, ia menggantinya dengan nama perempuan itu yang baik dan benar.
"Aluna... jangan merepotkan saya lagi, kau itu sudah seperti orang amnesia tadi..."
Melihat keadaan Aluna yang demam, Edola juga tak tinggal diam. Dia memberikan obat khas Maldives berupa madu dan susu hangat, "Tuan... ini tolong diminumkan ke Nyonya... saya berharap bahwa istri Anda segera pulih. "
Arkan angguk kepala, dia disuruh untuk meminumkan obat itu saat Aluna sudah membuka mata. Arkan menurut, menunggu selama dua jam sambil mengerjakan pekerjaan kantor yang selalu tak pernah selesai. .
"Mas Arkan... uhuk—"
Mendengar namanya dipanggil, segera pria itu membangunkan wanita itu ke posisi duduk. Pria itu membantu Aluna meminum obat yang sudah diberikan Edola tadi.
"Bagaimana?" tanya Arkan, matanya lembut. Tak pernah Aluna mendapati mata selembut itu dalam hidupnya. Ia angguk kepala, "Enak Mas..."
"Nggak maksud saya segar tidak?! Biasanya ini buat meredakan gejala yang kau alami itu! "
Aluna tak yakin, tapi dia terus angguk kepala. "Aku tidak apa-apa Mas.... uhuk—Mas bisa istirahat saja, aku rasa Mas belum tidur cukup karenaku kan? "
Arkan terdiam, ia pelan-pelan menaruh gelas di atas laci meja. "Kata siapa bodoh! Malahan saya lebih awal tidurnya daripada kau yang terus mengigau tak jelas saat tidur. "
Aluna menutup mulut kaget, dia mengedip mata cepat. "Be—benarkah Mas? Memang apa saja yang aku omongin saat tidur? "
"Ck, istirahat sana... nanti dirimu sakit lagi. "
Aluna mendesah berat, dia terpaksa menurunkan kepalanya ke belakang pelan-pelan.
...****************...
"Sudah kau selidiki Dion? Gejala apa itu? "
Dion memberikan iPad yang ada di tangannya, dengan cermat dan pelan-pelan jemarinya menggeret layar ke bawah.
"Kemungkinan yang saya dapatkan adalah kepribadian ganda Tuan, gejala tidak mengingat namanya dengan jelas tapi terasa kepribadian lain hidup sendiri. Kemungkinan kedua adalah gejala traumatik akibat kecelakaan. "
"Itu bisa diakibatkan oleh benturan keras yang saling menghantam, saya sudah mengecek masa lalu Nyonya Aluna... sedikit miris, setelah lulus kuliah. Baru saja kelulusan, saat pulang Nyonya Aluna ditabrak oleh pengendara tak bertanggung jawab, yang membuatnya kehilangan sebagian memori tentang keahliannya dalam bidangnya sendiri, untung saja Nyonya tak mengalami amnesia atau hilang ingatan, hanya saja dia tak ingat masa kecilnya sendiri. Sebelum Anda membuat kontrak dengan Nyonya Aluna wanita itu bolak-balik ke psikiater, untuk mengobati penyakitnya. "
Arkan meneguk ludah, dia baru tahu hari ini. Dia tak tahu kalau selama ini Aluna tak hanya menderita karena ayahnya tapi juga karena otaknya yang gampang konslet di waktu-waktu tertentu.
"Dion, setelah pulang ke Indonesia berikan terapi terbaik untuknya dan tetap rahasiakan semua ini dari Kakek Seo. Jangan sampai kakek tahu soal gejala yang dialami Aluna. "
Dion membungkukkan badan memahami apa yang diperintahkan. "Baik Tuan."
Bersambung...