Jiao Lizhi, 25 tahun, seorang agen profesional di abad ke-21, tewas tragis saat menjalankan misi rahasia. Yatim piatu sejak kecil, hidupnya dihabiskan untuk bekerja tanpa pernah merasakan kebahagiaan.
Namun tak disangka, ia terbangun di dunia asing Dinasti Lanyue, sebagai putri Perdana Menteri yang kaya raya namun dianggap “tidak waras.” Bersama sebuah sistem gosip aneh yang menjanjikan hadiah. Lizhi justru ingin hidup santai dan bermalas-malasan.
Sayangnya, suara hatinya bersama sistem, dapat didengar semua orang! Dari keluhan kecil hingga komentar polosnya, semua menjadi kebenaran istana. Tanpa sadar, gadis yang hanya ingin makan melon dan tidur siang itu berubah menjadi pejabat istana paling berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman
Jiao Wenqing merasa sakit, belum lagi Jiao Lizhi telah menggali rahasia orang lain, dan hari ini dengan berani menggali melon Kaisar, dan kini ia juga berencana menggali melon dirinya?
“Berani nya kau?” ucap Jiao Wenqing dalam hati.
Para pejabat menatap Perdana Mentri dengan tatapan kasihan dan penuh prihatin, karna mereka berfikir jika nona Jiao hanya lembut diluar, tapi di dalam hatinya seperti iblis yang akan menelan rahasia mereka jika saja mereka menyenggol nya. salah satu nya adalah Tuan He yang nasib nya sudah tamat.
[Kalau bicara soal ayahmu, tentu menarik, Tuan Rumah. Ayahmu dan pamanmu punya kesalahpahaman lama.]
“Oh?”
[Paman mu dan ibu mu merupakan teman masa kecil, kedua nya selalu bersama, ayahmu berfikir jika, ibumu menyukai pamanmu. Karna ayahmu sangat menyukai ibumu, ia melakukan segala cara untuk merebut ibumu dari pamanmu.]
“Oh? Ayahku? Kenapa terdengar seperti, Ayahku sangat berpikiran picik. Beruntung aku mirip ibuku, menyukai uang dan tidak berpikiran picik.”
Jiao Wenqing yang mendengar keluhan dan ratapan anaknya, merasa terintimidasi. Apalagi ia merasa punggungnya berkeringat deras dan terasa mati rasa karna ditatap oleh banyak pejabat termasuk sang kaisar menusuknya dari segala arah.
Jiao Wenqing tak terima karna anaknya tidak mau mirip dengannya, “Kurang ajar. Kalau aku tidak picik, kau dan kakak mu tidak akan lahir ke Dunia!”
“Ayahku, bukankah suka sekali memaksa mendapatkan seorang istri, beruntung ibuku mau dengan pria tua itu. Amal apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya hingga bertemu dengan Ibuku?”
“PRIA TUA ITU ADALAH AYAHMU!” Jiao Wenqing ingin berteriak, tapi segera ditahan.
[Faktanya, pamanmu tidak menyukai ibumu. Begitu pula ibumu tidak menyukai pamanmu. Mereka hanya teman. Ibumu sejak awal menyukai ayahmu dan maka dari itu, ibu mu menerima lamarannya.]
“Oh. Berarti, bukankah ayahku sangat beruntung bisa menikahi ibuku? Tapi, aku masih bertanya-tanya, apa sih yang Ibu suka dari Ayah?”.
“Hei tentu saja pesonaku. Apa yang kau tau, anak nakal?” ucap Jiao Wenqing dalam hati.
Para pejabat, mengangguk kan kepalanya dan bingung serta bertanya tanya, kenapa ibu Jiao lLzhi menyukai pria bau ini.
“Pesona…? Yang bau ini?” dalam hati para pejabat menertawakan nya.
“Lalu, pamanku menyukai siapa?”
[Tentu saja bibimu saat ini yang telah menjadi istrinya.]
“Oh, tapi kenapa ayahku sangat tidak menyukai pamanku ketika datang?”
[Tentu saja karna ibumu selalu berbincang dengan pamanmu dan tertawa bersama-sama. Dan pikiran nya adalah Ibumu dan Paman mu saling menyukai. Meskipun ayahmu tidak menyukai Pamanmu, tapi ia juga masih ada kasih sayang sesama saudara. Maka dari itu, disini Tuan Rumah lihat, ayahmu membela pamanmu.]
“Ckckck ternyata ayahku cemburu. Kenapa ayahku tidak langsung saja berbicara dengan ibu dan Paman, bertanya secara langsung. Oh apakah ayahku sangat gengsi?”
Jiao Wenqing melotot ke arah Jiao lizhi, Jiao lizhi yang kebetulan menatap sang ayah menemukan nya. “Kenapa ayah melototi ku? Apakah mata ayah sedang sakit? Periksa tabib sana, sebelum mata ayah bintitan.”
Kaisar berdehem pelan, agar drama keluarga Jiao tidak dilanjutkan, memberi muka pada Perdana Mentri.
Hem!!!
Para pejabat yang masih berdiri menundukkan kepala lebih dalam, menunggu keputusan akhir.
“Baiklah,” ujar Kaisar akhirnya, suaranya kembali datar dan berwibawa.
“Kalau begitu, aku tetapkan Jenderal Jiao Gu akan kembali ke ibu kota. Ia akan diberikan sebuah kediaman resmi,” lanjut Kaisar tanpa jeda,
“seratus ribu emas, perhiasan sesuai pangkatnya, serta beberapa peti kain kerajaan.”
“Sidang hari ini,” tutup Kaisar, “dibubarkan.”
Kaisar tidak menunggu lebih lama. Ia berdiri, jubah kekaisarannya berayun, lalu melangkah turun dari singgasana.
“Terima kasih, Yang Mulia!”
Seluruh pejabat bersujud serempak. Suara mereka menggema di aula besar, lalu satu per satu bangkit dengan tertib.
Tak lama kemudian, aula pun kosong, menyisakan gema langkah kaki dan bisik-bisik yang tertahan di lorong-lorong istana, menyisakan beberapa orang yang tidak menyukai keputusan Kaisar.
Sementara itu, di Istana Permaisuri.
Permaisuri duduk di kursi empuk berlapis sutra, satu tangannya memijat pelipis. Wajahnya tampak tenang, namun kelelahan samar terlihat di sudut matanya. Sejak pagi, kabar dari dalam harem terus berdatangan dan semuanya buruk.
Seorang pelayan mendekat dengan hati-hati. “Yang Mulia, Kaisar datang.”
Permaisuri terkejut. Ia segera berdiri, merapikan lengan bajunya sebelum membungkuk hormat. “Yang Mulia.”
Kaisar masuk tanpa banyak formalitas. Wajahnya masih keras, namun tidak lagi bergejolak seperti sebelumnya. Ia langsung duduk, dan Permaisuri pun mengikutinya.
Pelayan menuangkan teh hangat, lalu mundur dengan langkah senyap.
Permaisuri membuka suara lebih dulu. “Yang Mulia… mengenai Selir Cun,” katanya pelan,
“Aku mohon maaf, harusnya aku mengurus Harem dengan benar. Maaf telah mengecewakanmu.”
Kaisar mengangkat cangkir tehnya, meniup pelan, lalu menjawab tanpa emosi. “Lupakan saja. Dia hanya seorang selir.”
Permaisuri terdiam sejenak, jelas terkejut.
“Hanya selir?” ulangnya ragu. “Bukankah Yang Mulia datang untuk membicarakan hal itu?”
Kaisar menggeleng. “Tentu saja tidak,” katanya datar.
“Apakah kau tidak memahami hatiku?”
Kaisar menyesap teh, lalu melanjutkan dengan nada lelah. “Memang itu mencoreng wajah kerajaan. Tapi aku tidak peduli. Jika satu selir hilang, biarlah. Aku sudah lelah dengan harem yang penuh wanita tanpa makna.”
Kata-kata itu membuat Permaisuri terdiam.
Ia tahu, lebih dari siapa pun, bahwa para selir itu bukanlah pilihan Kaisar. Mereka adalah hasil kompromi politik, tekanan bangsawan, dan aturan lama kekaisaran. Kaisar jarang, bahkan hampir tak pernah, mengunjungi mereka.
Tiga anak yang ia miliki, semuanya lahir darinya.
“Kalau begitu,” tanya Permaisuri hati-hati,
“apa yang membawa Yang Mulia kemari?”
Kaisar tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
“Apakah kau tidak penasaran,” katanya,
“Bagaimana aku bisa menangkap para pezina itu tepat waktu?”
Permaisuri mengerutkan kening. “Bukankah karena Yang Mulia memiliki banyak mata-mata di istana?”
Kaisar menggeleng. “Tidak.”
“Bukan?” Nada Permaisuri naik sedikit.
“Bukan,” ulang Kaisar mantap. “Itu karena seorang gadis.”
Permaisuri mengangkat alis. “Gadis?”
“Putri Perdana Menteri Jiao,” jawab Kaisar.
“Gadis yang baru kuangkat menjadi pejabat karna permintaan putra kita.”
Mata Permaisuri sedikit melebar. “Oh, aku pernah mendengar rumor,” katanya perlahan. “Katanya, gadis dari rumah perdana Mentri itu suka membocorkan rahasia dengan pikirannya.”
Kaisar terkekeh kecil. “Itu bukan rumor, itu memang benar.”
Ia meletakkan cangkirnya. “Rahasia Selir Cun, aku mengetahuinya dari pikirannya.”
Permaisuri menutup mulutnya dengan tangan, jelas terkejut.
“Baiklah aku mengerti, selain urusan selir, apakah Yang Mulia sebenarnya masih memiliki keperluan lain datang kemari?”
“Tentu saja,” katanya tanpa ragu. “Aku rindu padamu.”
Nada suaranya rendah, tidak keras, namun jujur.
Permaisuri tertegun sejenak. Pipi putihnya perlahan memerah, dan ia menunduk sedikit.