"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Maya yang Tertekan
Maya yang tertekan hanya mampu mematung saat melihat cairan merah kental mulai merembes cepat dari balik sela-sela jemari tangan Arga Dirgantara. Napasnya memburu dengan hebat sementara matanya terus menatap noda gelap yang semakin melebar pada seragam hijau yang kini sudah compang-camping tersebut. Keheningan malam di dalam persembunyian bawah tanah itu terasa sangat mencekam hingga detak jantung mereka terdengar seperti tabuhan genderang perang.
"Berhenti menatap luka ini dan segera ambilkan kotak pertolongan pertama di dalam tas hitam itu," perintah Arga Dirgantara dengan suara yang sangat parau.
Maya Anindya bergerak dengan sangat kaku laksana sebuah boneka kayu yang digerakkan oleh rasa takut yang luar biasa besar. Tangannya gemetar hebat saat dia membongkar isi tas taktis sementara air mata terus mengalir membasahi pipinya yang kotor oleh tanah serta debu. Dia merasa dunianya telah runtuh sepenuhnya karena harus menghadapi situasi hidup serta mati di saat usianya masih sangat muda.
"Apakah Anda akan mati dan meninggalkan saya sendirian di tempat yang mengerikan ini?" tanya Maya Anindya dengan isak tangis yang mulai pecah.
Arga Dirgantara mencoba untuk tersenyum tipis meskipun rahangnya terlihat sangat mengeras laksana batu karang demi menahan rasa sakit yang luar biasa dahsyat. Dia meraih kain kasa dengan gerakan yang sangat tangkas untuk menyumbat pendarahan pada perutnya agar tidak semakin banyak kehilangan tenaga. Sorot matanya tetap tajam serta mengintimidasi seolah-olah dia sedang memberikan peringatan bahwa maut bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan.
"Jangan pernah berpikir bahwa saya akan menyerah semudah itu karena tugas saya melindungimu belum selesai," jawab Arga Dirgantara sambil menekan lukanya dengan sangat kuat.
Gadis remaja itu merasa sangat sesak di dada saat melihat keberanian suaminya yang sangat tidak masuk akal bagi akal sehat seorang warga sipil biasa. Dia mendekat dengan sangat ragu-ragu lalu mencoba membantu membersihkan noda darah pada telapak tangan pria yang selalu bersikap dingin tersebut. Sentuhan kulit mereka yang terasa sangat panas karena suhu tubuh yang meningkat membuat Maya Anindya merasakan sebuah getaran emosi yang sangat asing serta membingungkan.
"Saya sangat takut jika orang-orang bertopeng itu kembali dan menemukan tempat persembunyian rahasia kita," bisik Maya Anindya sambil menundukkan kepalanya secara mendalam.
Lelaki perwira itu mengulurkan tangannya yang bersih untuk mengangkat dagu istrinya hingga mata mereka saling bertemu di bawah remang cahaya lampu senter. Dia melihat sebuah trauma yang sangat mendalam pada binar mata gadis yang seharusnya saat ini sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah. Keheningan kembali menyelimuti ruangan sempit itu sementara suara gemuruh guntur dari luar sana mulai terdengar bersahut-sahutan dengan sangat menyeramkan.
"Selama napas saya masih berembus maka tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyentuh sehelai rambutmu," tegas Arga Dirgantara dengan nada bicara yang sangat penuh dengan otoritas.
Maya hanya bisa terdiam sambil meremas ujung seragam sekolahnya yang sudah tidak berbentuk lagi karena kejadian mengerikan beberapa jam yang lalu. Dia menyadari bahwa statusnya sebagai istri seorang prajurit menuntut kekuatan batin yang jauh lebih besar daripada yang pernah dia bayangkan sebelumnya. Namun rasa lelah yang luar biasa mulai menguasai kesadarannya hingga kepalanya terasa sangat pening serta berat untuk sekadar ditegakkan kembali.
"Tidurlah sebentar agar pikiranmu bisa sedikit tenang sebelum fajar pertama tiba di ufuk timur," perintah Arga Dirgantara sambil memberikan jaket militernya sebagai alas tidur.
Gadis itu menurut dengan sangat patuh lalu memejamkan matanya dengan perasaan yang masih sangat tidak menentu serta penuh dengan kegelisahan yang mendalam. Dia bisa merasakan aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau besi dari darah yang menempel pada jaket tersebut saat dia mulai tertidur. Dalam mimpinya dia melihat sebuah meja makan yang penuh dengan hidangan lezat pada saat pagi pertama di rumah dinas.