Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Biarkan Saja
Hari itu menandai langkah baru dalam hidup Leon Mahesa. Setelah berbulan-bulan menghilang dari sorotan publik, namanya kembali bergema di jantung Mahesa Group. Bukan sebagai pria yang runtuh, melainkan sebagai pemimpin yang bangkit dengan cara berbeda.
Kursi roda yang kini menjadi bagian dari tubuhnya tak sedikit pun meredupkan wibawa Leon. Saat ia memimpin rapat perdana pagi itu, ruang rapat utama dipenuhi keheningan penuh hormat. Setiap direktur dan manajer senior menyimak dengan seksama, seolah takut melewatkan satu kata pun dari keputusan Leon.
Nada bicaranya tetap terukur, argumennya tajam, dan sikapnya dingin namun berkelas. Tak ada simpati yang ia minta, tak ada kelemahan yang ia pertontonkan. Di mata mereka, Leon Mahesa masihlah sosok yang sama—pemimpin yang tak mudah digoyahkan.
Menjelang sore, aktivitas di lantai eksekutif perlahan mereda. Nayla, yang kini resmi mendampingi Leon bukan hanya di rumah tetapi juga dalam aktivitas profesional, bersiap mengakhiri hari pertamanya dengan perasaan campur aduk. Tatapan-tatapan penasaran, bisik-bisik halus, hingga ekspresi sulit ditebak dari para karyawan—semuanya ia rasakan sejak pagi.
Saat Nayla mendorong kursi roda Leon keluar dari gedung utama, beberapa pasang mata tertuju pada mereka. Ada yang terkejut, ada yang menebak-nebak, dan ada pula yang menyimpan rasa ingin tahu berlebihan.
Mobil khusus keluarga Mahesa sudah menunggu. Rafa ikut masuk ke dalam karena kendaraannya tertinggal di rumah Leon. Perjalanan pulang berlangsung cukup tenang. Rafa sesekali berbincang dengan sopir, sementara Leon larut dalam pikirannya sendiri. Nayla duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan, namun cukup dekat untuk memastikan pria itu nyaman.
Di tengah perjalanan, Rafa mendadak terdiam. Alisnya berkerut saat ia menatap layar ponsel yang baru saja menyala karena notifikasi.
Ia menggeser layar, membaca cepat, lalu mengunci ponsel itu kembali.
“Leon…” gumamnya pelan, namun kalimat itu terhenti di tenggorokannya.
Leon tak menoleh, tetapi ia tahu benar kebiasaan Rafa. “Kau menemukan sesuatu,” ucap Leon tenang, tanpa perlu menatap.
Rafa memilih diam. Ia memutuskan menunggu waktu yang lebih tepat.
Sesampainya di rumah, Nayla membantu Leon masuk ke ruang tengah. Gerakannya cekatan, penuh perhatian, tapi tetap menjaga batas. Leon lalu menoleh padanya.
“Nayla, istirahatlah. Bersihkan diri. Aku perlu berbicara sebentar dengan Rafa,” ujarnya singkat.
“Baik, Tuan,” jawab Nayla, lalu melangkah ke lantai atas.
Begitu Nayla menghilang dari pandangan, Rafa mendorong kursi roda Leon menuju ruang kerja pribadi. Setelah pintu tertutup rapat, Rafa akhirnya menyerahkan ponselnya.
“Ada unggahan yang mulai ramai sejak sore,” katanya serius.
Leon menerima ponsel itu. Bukan artikel berita, melainkan potongan unggahan media sosial yang sudah menyebar luas—foto dirinya saat keluar gedung, dengan Nayla di sisinya. Caption-nya ambigu, dipenuhi asumsi dan spekulasi, sengaja memancing opini publik.
Beberapa komentar mempertanyakan profesionalitas Mahesa Group, sebagian lain menyentil kondisi fisiknya dengan nada meremehkan. Tak sedikit pula yang menyoroti Nayla dengan cara yang tidak pantas.
Leon membaca dengan wajah datar. Tak ada amarah, tak ada kejutan.
“Mereka cepat sekali,” ucapnya pelan.
Rafa menegang. “Kau tidak tersinggung?”
Leon menggeleng. “Orang yang tak punya kuasa hanya bisa berisik. Aku tidak akan membuang energi untuk itu.”
“Tapi Nayla—” Rafa ragu melanjutkan.
Leon terdiam sejenak. Tangannya mengepal ringan di atas sandaran kursi roda. “Dia tidak seharusnya terseret. Dan aku tidak akan membiarkannya.”
“Kau akan klarifikasi?” tanya Rafa.
“Bukan sekarang,” jawab Leon mantap. “Semakin cepat ditanggapi, semakin besar api yang mereka nyalakan. Aku punya caraku sendiri.”
Rafa mengangguk. Ia tahu, Leon Mahesa tidak pernah bertindak tanpa perhitungan.
Setelah berpamitan, Rafa meninggalkan rumah itu dengan perasaan waswas namun yakin dengan apa yang akan Leon lakukan.
---
Nayla baru saja keluar dari kamar mandi. Uap hangat masih menggantung di udara, sementara rambutnya yang basah dibiarkannya terurai sebentar sebelum ia menyisirnya perlahan di depan cermin. Tatapannya kosong, bukan karena lelah, melainkan karena pikirannya melayang ke banyak hal yang tak ia dengar secara langsung, namun bisa ia rasakan.
Ia paham betul, berdiri di sisi pria seperti Leon Mahesa berarti hidup di bawah sorotan. Setiap langkah, setiap gestur, bahkan keberadaannya bisa dengan mudah disalahartikan. Dan dunia di luar sana tidak pernah kekurangan orang yang gemar menilai tanpa memahami.
Namun Nayla menguatkan dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Selama Leon masih mempercayainya, selama keberadaannya masih dibutuhkan, ia tak akan pergi. Apa pun risikonya.
Malam merambat tenang di kediaman Mahesa. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada suara televisi yang menyala. Hanya kesunyian yang terasa lebih menenangkan dari biasanya. Usai mandi, Leon kembali ke kamar pribadinya. Kursi rodanya berhenti tepat di depan cermin besar yang memantulkan sosoknya secara utuh.
Sejenak ia menatap bayangan itu.
Tubuh yang sama, wajah yang sama, namun hidup yang berbeda.
Anehnya, malam ini ia tidak merasa marah. Tidak ada kebencian, tidak pula rasa sesal berlebihan. Yang ada hanyalah penerimaan, bahwa hidupnya berubah, tetapi kendalinya tidak sepenuhnya hilang.
Pintu kamar terbuka pelan. Nayla masuk dengan handuk kering di tangannya.
“Rambut Tuan masih basah,” ujarnya pelan, seolah takut merusak ketenangan.
Tanpa menunggu jawaban, Nayla berdiri di belakang Leon. Gerakannya hati-hati, hampir nyaris tak bersuara, saat ia mulai mengeringkan rambut pria itu. Sentuhannya lembut, penuh perhitungan, bukan sekadar tugas, melainkan perhatian yang tulus.
Leon memejamkan mata sesaat.
Ada ketenangan aneh yang merayap ke dadanya, sesuatu yang tidak ia dapatkan dari obat, terapi, atau kata-kata penyemangat palsu. Hanya kehadiran Nayla, sederhana namun nyata.
“Nayla…” suara Leon terdengar rendah, memecah sunyi.
“Iya, Tuan?” Nayla menjawab tanpa menghentikan gerakannya.
Leon membuka mata, menatap pantulan mereka di cermin. Bukan dirinya yang ia perhatikan, melainkan wajah Nayla yang terlihat tenang.
“Kalau suatu hari nanti… orang-orang mulai berbicara buruk tentangmu hanya karena kau berada di sisiku, dengan kondisiku sekarang, apa yang akan kau lakukan?”
Tangan Nayla terhenti.
Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya turun, pikirannya bekerja cepat, menyusun kata yang jujur namun tidak melukai.
“Menurut saya,” ucapnya akhirnya, “orang akan selalu punya pendapat, apa pun yang kita lakukan. Tapi selama Tuan tidak merasa terganggu dan saya tahu niat saya di sini benar, saya tidak melihat alasan untuk ikut terseret oleh asumsi mereka.”
Leon mengernyit tipis. “Kau terlalu memikirkan perasaanku. Seharusnya kau menghawatirkan dirimu.”
Nayla tersenyum kecil, seolah meyakinkan apa yang dikatakan Leon tidak berarti apa-apa baginya.
“Kalau saya terlihat goyah, Tuan justru akan merasa bersalah,” katanya pelan. “Dan saya tidak ingin menjadi alasan Tuan kembali menarik diri dari dunia. Saya di sini bukan untuk membuat Tuan merasa terbebani.”
Leon terdiam.
Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat, bukan sebagai pria cacat, bukan sebagai CEO besar, melainkan sebagai manusia yang masih berusaha berdamai dengan hidupnya.
Tatapan Nayla tidak berisi belas kasihan. Tidak ada simpati berlebihan. Hanya keteguhan dan kejujuran.
“Aneh…” gumam Leon lirih. “Setiap kali kau ada di dekatku, pikiranku terasa lebih ringan.”
Nayla mendengar kalimat itu. Namun ia tidak membesarkannya. Ia hanya kembali mengeringkan rambut Leon dengan gerakan yang sama lembutnya.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “izinkan saya tetap berada di sisi Tuan. Selama Tuan masih membutuhkannya.”
Leon tidak menjawab dengan kata-kata.
Namun di cermin, Nayla bisa melihat senyum tipis yang terlukis di wajah Leon, senyum kecil yang mengandung kepercayaan, penerimaan, dan sesuatu yang perlahan tumbuh tanpa mereka sadari.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎