Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Siang itu mengalir pelan, seolah sengaja memberi ruang bagi dua hati yang belum berani saling mengakui apa pun.
Mereka duduk berdampingan di bangku taman, berbincang tentang hal-hal kecil yang terasa hangat dan menyenangkan. Tentang makanan favorit, kebiasaan konyol saat kecil, hingga hal sepele yang entah kenapa terdengar begitu berarti ketika diucapkan.
“Kamu tahu nggak, dulu aku pernah jatuh dari sepeda sampai lututku berdarah. Sejak itu aku sempat takut naik sepeda lagi.”
Gibran tertawa kecil, menoleh ke arahnya.“Tapi sekarang kamu jago. Kayaknya lebih jago dari aku malah.”
“Itu karena kamu kebanyakan gaya.”
Mereka saling lempar senyum, tawa kecil mereka menyatu dengan riuh taman. Tak ada pembahasan berat, tak ada topik rumit—hanya obrolan ringan yang mengalir begitu saja, membuat waktu terasa berlari lebih cepat.
Tak lama, mereka memutuskan menyewa sepeda. Gibran mengayuh lebih dulu, sengaja memperlambat laju agar tetap sejajar dengan Nadia. Sesekali gadis itu tertawa lepas saat hampir kehilangan keseimbangan.
“Pegang setangnya yang kuat. Jangan melamun,"sahut Gibran.
“Aku nggak melamun. Aku cuma… menikmati.”
Kata-kata itu membuat Gibran meliriknya. Senyum Nadia begitu tulus, rambutnya tertiup angin, dan untuk sesaat Gibran lupa bahwa mereka hanyalah dua orang tanpa status.
Mereka bersepeda menyusuri jalur taman hingga langit perlahan berubah warna. Biru cerah berganti jingga keemasan, matahari merunduk pelan di ufuk barat. Mereka berhenti di sebuah area terbuka, memarkir sepeda, lalu berdiri berdampingan memandang senja.
Angin sore menyentuh lembut kulit mereka.
“Senja selalu bikin hari terasa… tenang.”
Nadia mengangguk pelan.“Iya. Rasanya kayak semua capek hari ini ikut pulang bersama matahari.”
Keheningan singkat tercipta, bukan karena canggung, melainkan karena terlalu nyaman. Jarak mereka begitu dekat, tangan hampir bersentuhan, namun tak satu pun berani bergerak.
Dari kejauhan, mereka tampak seperti sepasang kekasih—tertawa bersama, berbagi momen sederhana, dan menikmati senja berdua. Padahal kenyataannya, mereka tak memiliki ikatan apa pun. Tak ada status, tak ada janji.
Hanya dua hati yang sama-sama menahan diri. Nadia menarik napas dalam, lalu melangkah sedikit menjauh, mengingatkan dirinya pada batas yang tak boleh ia lewati.
“Kau tahu… ada yang lebih indah dari senja.”
Nadia menoleh, alisnya sedikit terangkat. Wajahnya berusaha tetap tenang, meski jantungnya langsung berdetak tak karuan.“Apa?”tanyanya.
Gibran menatapnya sejenak, cukup lama hingga Nadia merasa udara di sekitarnya menghangat. Senja memantulkan cahaya keemasan di wajah gadis itu, membuat senyumnya tampak semakin lembut.
“Caramu tersenyum saat menikmati senja.”
Nadia terdiam. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tiba-tiba membuncah. Ia menunduk cepat, menyembunyikan rona merah yang tak bisa lagi ia kendalikan.“Kamu berlebihan…”
Namun suaranya tak setegas yang ia harapkan. Gibran tersenyum kecil, tak memaksa, tak melangkah lebih dekat. Ia tahu batas itu ada—dan ia menghormatinya.“Mungkin. Tapi aku jujur.”
Angin sore berhembus lembut, membawa keheningan yang sarat makna. Nadia menggenggam jemarinya sendiri, berusaha menenangkan debar jantungnya.
Dalam hati, ia mengakui—kata-kata itu lebih indah dari senja mana pun yang pernah ia lihat. Namun ia tetap berdiri di tempatnya, menjaga jarak, menjaga perasaan, karena mereka… masih bukan siapa-siapa.
Gibran memperhatikan wajah Nadia yang terpapar sinar senja, cahaya jingga itu membingkai rautnya dengan lembut—cantik, anggun, dan begitu alami hingga jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada keheningan yang terasa hangat di antara mereka, seolah waktu sengaja melambat.
Tanpa benar-benar ia sadari, Gibran terbawa suasana. Ia bergeser perlahan, mendekat pada Nadia. Jarak yang semula aman kini menyempit, cukup dekat untuk merasakan napas masing-masing, cukup dekat untuk menangkap getar gugup yang tak terucap.
Nadia menoleh, mata mereka bertaut. Detik itu, dunia di sekitar seakan menghilang—tersisa hanya senja, degup jantung, dan perasaan yang tiba-tiba terasa terlalu nyata untuk diabaikan.
Nadia menahan napas. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdetak kencang seolah ingin melompat keluar. Aroma parfum Gibran menyusup pelan, membuat kepalanya sedikit pening. Ya Tuhan… terlalu dekat, batinnya panik.
Gibran membuka bibirnya.“Nadia…”
Satu kata. Lalu diam.
Keheningan itu justru terasa lebih berisik daripada suara apa pun. Nadia menelan ludah, berusaha keras mengendalikan diri. Dalam kepalanya, berbagai kemungkinan berkelebat liar. Apa dia akan bilang sesuatu? Apa dia akan… menyatakan perasaan?
Jantungnya hampir copot.
Namun wajahnya tetap ia jaga. Ia menegakkan bahu, menyamarkan kegugupan di balik ekspresi datar yang dipaksakan.
“Kenapa?”jawab Nadia. Suaranya terdengar tenang—terlalu tenang dibandingkan badai yang sedang terjadi di dalam dadanya.
Gibran tampak ragu. Matanya menelusuri wajah Nadia, seolah mencari celah, mencari keberanian. Tapi kalimat yang sedari tadi ingin keluar tertahan di ujung lidahnya. Ia menarik napas pelan, lalu menghembuskannya perlahan.
Gibran:“Tidak… nggak apa-apa.”
Jawaban itu seperti percikan kecil yang memadamkan api besar—pelan, tapi menyisakan rasa hangus. Nadia tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa saja, meski ada sedikit kekecewaan yang nyaris tak ia sadari.
“Oh,"jawab Nadia singkat. Entah kenapa ada rasa kecewa di hatinya begitu mendengar jawaban Gibran.
Ia melangkah setengah langkah mundur, menciptakan jarak yang sejak tadi membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Tangannya terkepal pelan di sisi tubuh, menenangkan debar yang masih liar.
Dalam hatinya, ia menertawakan diri sendiri. Terlalu baper, Nadia.
Sementara Gibran berdiri di tempatnya, menyimpan kalimat yang tak jadi diucapkan. Karena ia tahu, ada perasaan yang belum waktunya disebutkan—meski jelas terasa di antara mereka, menggantung, tak terucap, dan semakin dalam.
"Sudah sore, sebaiknya kita pulang," kata Gibran akhirnya.
Nadia mengangguk seraya tersenyum kecil, "Iya. Kita pulang saja."
Meskipun ada sisa rasa kecewa yang diam-diam bersemayam di hati Nadia terhadap Gibran, hari itu ia memilih menyimpannya rapat-rapat. Senja, tawa kecil, dan kebersamaan yang tercipta di antara mereka terasa terlalu berharga.
Hari ini, Nadia benar-benar merasa senang—bahkan bahagia. Bisa duduk berhadapan dengan Gibran, berbagi cerita ringan, dan menikmati waktu bersama tanpa jarak yang canggung membuat hatinya hangat. Untuk sesaat, kekecewaan itu memudar, tergantikan oleh perasaan tenang dan harapan kecil yang diam-diam tumbuh di dadanya.
******
Pagi itu, Nadia tampak berbeda.
Sejak menginjakkan kaki di kantor, senyum tak henti-hentinya melengkung di bibir gadis itu. Langkahnya ringan, matanya berbinar, bahkan hal-hal kecil yang biasanya melelahkan kini terasa mudah dijalani.
Sesekali ia melamun, pikirannya melayang pada taman kota, tawa sederhana, dan senja yang dihabiskannya bersama Gibran.
Setiap detail kemarin terus berputar di kepalanya—tatapan lembut itu, jarak yang nyaris tak wajar, suara Gibran yang memanggil namanya. Nadia berusaha fokus bekerja, namun senyumnya kembali muncul tanpa sadar.
Ia benar-benar tak bisa melupakan hari itu.
Namun perubahan itu rupanya tak luput dari sepasang mata yang sejak lama terbiasa mengamati—bahkan menghakimi.
Zane.
Laki-laki itu berdiri bersandar di ambang pintu ruangannya, tangan terlipat di dada, alisnya berkerut dalam. Tatapannya mengikuti setiap gerak Nadia yang berlalu-lalang dengan wajah ceria.
Aneh, batinnya.
Biasanya Nadia berjalan menunduk, ekspresinya datar, bahkan cenderung murung. Senyum gadis itu pun jarang—dan kalau ada, biasanya hambar, formal, sekadar basa-basi. Tapi hari ini? Terlalu berbeda.
Zane melangkah mendekat, menghentikan Nadia tepat saat gadis itu hendak meletakkan berkas di atas meja.
“Kau kenapa?”tanga Zane to the point.
Nadia tersentak kecil, seolah baru kembali ke dunia nyata. Senyumnya nyaris lenyap, digantikan ekspresi profesional yang biasa ia kenakan di depan Zane.
“Maaf, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”jawab Nadia.
Zane menatapnya tajam, mencoba menembus pertahanan tipis itu.
“Kamu kelihatan… terlalu bahagia hari ini.”
Nadia tercekat sepersekian detik. Tangannya mencengkeram map lebih erat, namun ia segera menguasai diri.
Nadia. “Saya hanya merasa mood saya baik hari ini.”
Zane menyipitkan mata, jelas tak sepenuhnya percaya.“Sejak kapan kamu punya mood seperti itu?”
Nada sinisnya kembali muncul, seperti biasa. Namun kali ini, Nadia tak sepenuhnya terpengaruh. Senyum kecil kembali muncul di sudut bibirnya—ia menahannya, tak ingin terlihat mencolok.
“Kalau tidak ada pekerjaan tambahan, saya permisi.”Tanpa menunggu jawaban, Nadia melangkah pergi.
Namun belum sempat Nadia melangkah jauh, Zane sudah lebih dulu menahannya.
“Eit.”
Langkah Nadia terhenti. Suara itu terdengar datar namun tegas, membuat bahu Nadia menegang seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Zane yang kini berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana, ekspresinya sulit ditebak.
“Kau ikut aku sore ini. Meeting bersama klien di resto.”
Nadia terdiam. Senyum yang sejak pagi menghiasi wajahnya perlahan memudar.
Zane. “Jangan dulu pulang sore ini.”
Kalimat itu seperti menjatuhkan tirai gelap di atas perasaan Nadia. Baru saja ia menikmati sisa-sisa kebahagiaan dari hari kemarin—hangat, ringan, dan penuh senyum—namun kini semuanya runtuh begitu saja. Dadanya terasa berat, mood-nya seketika turun.
“Baik, Pak,"jawab Nadia sopan.
Jawabannya profesional, meski di dalam hati ia menghela napas panjang. Lagi-lagi aku. Nadia melangkah pergi, namun pikirannya dipenuhi tanda tanya. Dari sekian banyak karyawan, mengapa selalu dia? Padahal Zane jelas memiliki sekretaris pribadi yang jauh lebih pantas mendampinginya dalam urusan resmi seperti ini.
Harusnya ini tugas sekretaris, gumamnya kesal. Bukan tugasku.
Ia menatap layar komputernya tanpa fokus. Bayangan senja kemarin perlahan memudar, tergantikan rasa jengah yang sudah terlalu akrab. Setiap kali ia merasa sedikit bahagia, Zane selalu muncul—seperti bayangan yang tak memberinya ruang untuk bernapas.
Sementara itu, dari kejauhan, Zane kembali memperhatikan Nadia. Ada sesuatu dalam raut wajah gadis itu yang berubah—dan entah kenapa, perubahan itu justru membuatnya semakin ingin memastikan Nadia tetap berada dalam jangkauannya.