Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pesan-pesan itu masih menggantung di layar ponsel Gibran. Satu centang abu-abu. Tidak berubah sejak semalam.
Gibran mengembuskan napas kasar, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kafe dengan gelisah. Kopi di depannya sudah mendingin, tak disentuh sama sekali.
“Sejak kapan dia nggak bales?” tanya Rangga akhirnya, menatap sahabatnya yang jelas-jelas kehilangan kesabaran.
“Semalem,” jawab Gibran singkat. Rahangnya mengeras. “Biasanya juga kalo sibuk, minimal dia baca. Ini enggak. Sama sekali.”
Rangga menyandarkan punggung ke kursi. “Lo kebanyakan mikir.”
“Enggak,” potong Gibran cepat. Ia menoleh tajam. “Perasaan gue nggak enak, Ga. Nadia bukan tipe yang ngilang tanpa kabar.”
Ia kembali menatap layar ponselnya, seolah berharap nama Nadia tiba-tiba muncul dengan notifikasi masuk. Namun yang ada hanya sunyi.
Rangga terdiam sejenak, lalu menurunkan suaranya. “Apa ada hubungannya sama Zane?”
Nama itu membuat Gibran mengepalkan tangan. “Itu yang gue takutin.”
Ia menggeser kursinya dengan kasar, berdiri setengah sebelum duduk kembali. “Kalo bener Nadia masih di Pradikta cabang satu… dan Zane ada di sana—”
“Lo nggak bisa asal nyimpulin,” sela Rangga, meski raut wajahnya sendiri tak sepenuhnya yakin.
Gibran tertawa hambar. “Gimana gue nggak nyimpulin? Dia bohong soal kerjaannya, Ga. Sekarang dia ngilang. Coba lo di posisi gue.”
Rangga menghela napas panjang. “Terus lo mau ngapain?”
Gibran terdiam beberapa detik. Tatapannya menerawang ke luar jendela kafe, ke arah gedung-gedung kantor yang menjulang. Ada rasa takut yang ia benci—takut kehilangan, takut terlambat.
“Gue mau ke kantor Pradikta,” ucapnya akhirnya, tegas.
Rangga menatapnya tajam. “Sekarang?”
Rangga berdiri tepat di hadapan Gibran, suaranya diturunkan, nyaris berbisik namun penuh tekanan.“Jangan macem-macem deh, Bran. Kalo lo kesana,” katanya serius, “yang ada semuanya hancur. Identitas yang selama ini lo tutupin dari Nadia bisa kebongkar.”
Kalimat itu menghantam tepat di dada Gibran. Ia terdiam. Tatapannya kosong beberapa detik, lalu berubah gelap. Jemarinya mengepal di sisi tubuhnya, urat-urat di lehernya menegang.
“Justru itu yang bikin gue makin gila, Ga,” ucapnya pelan, suaranya bergetar menahan emosi. “Gue nutupin semuanya demi dia. Tapi sekarang dia ngilang, dan gue disuruh diem?”
Rangga menghela napas panjang. “Gue nggak nyuruh lo diem. Gue nyuruh lo bertahan. Sedikit lagi aja. Sekali Nadia tau siapa lo sebenernya, bukan cuma Zane yang bakal bereaksi—hidup Nadia juga bisa jungkir balik.”
Gibran menelan ludah. Nama Nadia keluar pelan dari bibirnya, seperti doa.
“Gue takut dia ngerasa dibohongin.”
“Lebih baik dia marah karena lo belum jujur,” jawab Rangga tegas, “daripada dia terseret ke masalah yang bahkan belum siap dia hadapi.”
Hening. Suara sendok beradu dengan cangkir terdengar terlalu nyaring di antara mereka. Gibran akhirnya menghembuskan napas panjang, pundaknya merosot. “Terus… gue harus apa?”
Rangga menatapnya mantap. “Percaya sama gue. Kita cari cara aman. Lo tetap di posisi lo sekarang. Gue yang gerak.”
Gibran mengangguk pelan, meski jelas berat.
“Oke,” katanya lirih. “Tapi kalo ada apa-apa sama Nadia…”
Rangga memotong, tanpa ragu. “Gue yang tanggung jawab.”
Tatapan Gibran mengeras. Di balik ketenangan yang ia paksakan, ada sumpah diam-diam, jika Nadia sampai terluka, tak ada identitas, tak ada rahasia yang akan ia lindungi lagi.
********
Gedung Pradikta Group cabang satu menjulang dingin dan angkuh, seolah mencerminkan orang-orang yang berkuasa di dalamnya. Rangga melangkah masuk dengan wajah tenang, setelan rapi, dan sikap profesional yang disengaja. Tak ada yang tahu bahwa kedatangannya hari itu bukan sekadar urusan bisnis.
Di balik sorot matanya yang santai, ada kekhawatiran yang dipendam rapi—tentang seorang gadis bernama Nadia.
Gibran mungkin tak berani muncul. Terlalu banyak risiko. Terlalu banyak rahasia yang bisa runtuh jika ia salah langkah. Maka Rangga-lah yang turun tangan, menjadi perantara yang tak terlihat.
Ia berpura-pura punya kepentingan kerja sama, audit kecil, atau sekadar silaturahmi bisnis—apa pun itu, yang penting ia bisa melihat sendiri bagaimana keadaan Nadia di bawah kekuasaan Zane.
Zane Pradikta, dingin dan penuh kendali.
Arya Pradikta, ayahnya, jauh lebih tenang—namun justru itulah yang membuatnya berbahaya. Rangga tahu, di tempat seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berujung petaka.
Ruang direksi Pradikta cabang satu terasa sunyi saat Rangga duduk berhadapan dengan Zane dan Arya. Aroma kopi hitam memenuhi udara.
“Apa yang bisa kami bantu, Rangga?” tanya Arya dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
Rangga membalas senyum itu dengan santai.“Sebenarnya nggak terlalu besar, Pak. Perusahaan lagi mempertimbangkan kerja sama logistik untuk kuartal depan. Saya dengar cabang satu ini performanya paling stabil.”
Zane menyilangkan tangan di dada, menatap Rangga tajam.“Langsung saja ke pusat bukannya lebih efektif?”
“Biasanya iya,” jawab Rangga ringan. “Tapi saya lebih suka lihat langsung cara kerja tim di lapangan. Termasuk… staf-staf yang terlibat.”
Zane mengangkat alis.
“Staf?”
“Iya,” Rangga mengangguk. “Asisten, administrasi, operasional. Soalnya, kerja sama itu bukan cuma soal angka, tapi juga orang-orang di baliknya.”
Arya tertawa pelan.“Kamu detail juga.”
Rangga ikut tersenyum, lalu berpura-pura membuka map.“Oh iya, saya sempat dengar nama salah satu asisten di sini cukup sering disebut. Nadia, ya?”
Zane langsung menoleh.“Kenapa?”
Nada suaranya datar, tapi Rangga menangkap perubahan kecil itu.
“Nggak apa-apa,” jawab Rangga cepat, santai. “Cuma penasaran. Katanya dia cekatan. Profesional.”
Zane mendengus kecil.“Dia cuma karyawan biasa alias asisten pesuruh.”
“Justru karyawan biasa yang sering jadi tulang punggung perusahaan,” balas Rangga tenang.
Arya menatap Zane sejenak sebelum kembali pada Rangga.“Kalau kamu mau lihat langsung, kebetulan Nadia memang sedang bertugas hari ini.”
“Boleh?” Rangga tampak antusias—akting yang rapi.“Sekalian saya mau lihat alur kerja administrasi.”
Zane berdiri lebih dulu.“Aku panggil dia.”
Beberapa menit kemudian, pintu diketuk pelan.
“Permisi, Pak.”
Nadia masuk dengan langkah hati-hati. Wajahnya pucat tapi tetap profesional. Seragam kerjanya rapi, rambutnya disanggul sederhana. Saat matanya bertemu dengan Rangga, ada keterkejutan singkat—lalu ia cepat menunduk.
Rangga menahan napas.
Dia kelihatan capek… tapi nggak luka. Setidaknya nggak secara fisik, batinnya.
“Ini Rangga,” ujar Zane singkat. “Rekan bisnis sekaligus sekretaris di kantor Pradikta Pusat.”
Nadia mengangguk sopan.
“Selamat siang, Pak.”
Rangga tersenyum ramah, berusaha menenangkan.“Siang, Mbak Nadia. Saya cuma mau tanya sedikit soal alur kerja. Nggak lama.”
“Baik, Pak,” jawab Nadia, suaranya pelan tapi stabil.
Saat Nadia menjelaskan, Rangga memperhatikan setiap detail—intonasi suaranya, cara ia berdiri, gerak tangannya yang kaku. Ada tekanan di sana. Jelas.
“Terima kasih,” kata Rangga akhirnya. “Penjelasan kamu jelas.”
Nadia mengangguk dan bersiap pergi.
Sebelum ia keluar, Rangga menambahkan dengan nada ringan namun bermakna,
“Kerja yang baik itu harus dijaga, Mbak. Jangan ragu bicara kalau ada kendala.”
Nadia berhenti sejenak. Lalu mengangguk kecil, tanpa menoleh.
Setelah pintu tertutup, Rangga kembali duduk.
“Dia kelihatan kompeten,” ujarnya datar.
Zane tersenyum tipis—senyum yang tak sampai ke mata.“Selama dia tahu posisinya.”
Rangga menatap Zane lurus.
“Semua orang punya posisi. Tapi semua juga punya batas.”
Arya mengamati keduanya dalam diam.
Di dalam hati Rangga, satu keputusan sudah bulat.
Gue harus kasih tahu Gibran. Nadia masih bertahan… tapi jelas nggak aman.
********
Setelah selesai dengan urusannya, Rangga memutuskan untuk pergi.
Lorong kantor Pradikta cabang satu memanjang dingin, dipenuhi langkah kaki pegawai yang berlalu-lalang dengan kepala tertunduk. Rangga berjalan santai, namun pikirannya masih tertinggal di ruang direksi—pada sorot mata Nadia yang terlalu letih untuk gadis seusianya.
Tak disangka, langkah mereka berpapasan. Nadia muncul dari arah berlawanan, menenteng map cokelat, wajahnya sedikit pucat tapi tetap berusaha tersenyum profesional. Saat mata mereka bertemu, keterkejutan kecil tak bisa disembunyikan.
Di tempat seperti ini, pertemuan yang terlalu akrab bisa jadi bumerang.
Namun mereka sudah saling kenal terlalu lama untuk pura-pura asing.
Dialog
“Nad,” sapa Rangga pelan, menahan langkahnya.
Nadia berhenti. Matanya menyapu sekitar dengan cepat sebelum kembali pada Rangga. "Rangga…?”
Rangga mengangguk kecil.
“Iya. Santai aja.”
Nadia menghela napas tipis.
“Aku kaget lihat kamu di sini tadi.”
“Gue juga sebenarnya nggak nyangka ketemu lo di lorong,” jawab Rangga setengah bercanda, lalu suaranya merendah. “Tapi… gue emang ke sini ada urusan.”
Nadia menatapnya penuh tanya.
“Gibran,” lanjut Rangga tanpa bertele-tele, “lagi kepikiran sama lo.”
Wajah Nadia langsung berubah.
“Gibran?”
Nadia memang mengetahui jika Rangga adalah sahabat Gibran.
“Iya. Dia khawatir. Pesan-pesannya ke lo dari semalam nggak dibales. Dia takut kenapa-kenapa.”
Nadia terdiam beberapa detik, lalu refleks merogoh tasnya. Tangannya membeku saat menyadari sesuatu.
“Astaga…” gumamnya lirih.
Rangga mengernyit.“Kenapa?”
Nadia mengusap wajahnya pelan, jelas menyesal.“Aku… kemarin pulang malam. Capek banget. Sampai kos langsung ketiduran.”
Ia menghela napas panjang. “Habis itu pagi-pagi langsung ke kantor. Belum sempat buka ponsel sama sekali.”
Rangga menatapnya dalam.
“Lo nggak kenapa-kenapa, kan?”
Nadia menggeleng cepat.“Enggak. Aku baik-baik aja. Cuma… ya gitu.”
Ada jeda canggung. Langkah kaki orang-orang lain terasa semakin dekat.
Rangga menurunkan suaranya.
“Nad, tempat ini… nggak aman buat lo kelamaan diem sendiri.”
Nadia tersenyum kecil, getir.
“Aku tahu. Tapi aku masih harus bertahan.”
Rangga mengangguk pelan.
“Gue bakal bilang ke Gibran. Biar dia nggak overthinking.”
“Titip bilang ke dia,” ujar Nadia cepat, matanya sedikit berkaca tapi ia tahan,
“aku minta maaf. Nanti aku balas sekarang.”
Rangga tersenyum tipis.
“Dia cuma pengin tahu lo aman.”
Nadia mengangguk.“Makasih… udah peduli.”
Rangga melangkah mundur setengah langkah, menjaga jarak.
“Hati-hati, Nad. Kalau ada apa-apa—”
“Aku tahu harus ke siapa,” potong Nadia pelan.
Mereka saling menatap singkat, penuh makna yang tak bisa diucapkan di tempat ini. Rangga kemudian berbalik pergi, sementara Nadia berdiri sesaat, menatap ponselnya yang kini terasa jauh lebih berat dari map di tangannya.
"Rangga...!"
Langkah Rangga sempat terhenti ketika suara Nadia kembali memanggilnya. Bukan nada biasa—ada keraguan dan kecurigaan yang menyelip di sana.
Pertanyaan itu datang tiba-tiba, terlalu tajam untuk sekadar basa-basi.
Di tempat seperti Pradikta, setiap informasi bisa menjadi senjata. Dan Rangga tahu, satu jawaban ceroboh saja bisa membuka pintu ke rahasia yang selama ini Gibran tutupi rapat-rapat.
“Rangga.”
Rangga menoleh.
Nadia menggenggam mapnya lebih erat.
“Boleh aku nanya satu hal?”
Rangga mengangguk pelan.“Tanya aja.”
Nadia ragu sejenak, lalu akhirnya berucap,“Zane… dari mana dia kenal sama Gibran?”
Pertanyaan itu menghantam tepat di dada Rangga. Alisnya terangkat refleks. Untuk sepersekian detik, wajahnya kehilangan ketenangan. Otaknya bekerja cepat—terlalu cepat.
“Hah?” Rangga berusaha terdengar biasa.“Maksud lo?”
Nadia menatapnya lurus.“Beberapa hari lalu dia sempat bilang kalau kenal sama Gibran. Di caffe.”
Ia menelan ludah. “Zane nyebut nama Gibran. Seolah dia tahu… dan itu bikin aku bingung. Aku nggak pernah cerita apa-apa ke siapa pun di sini.”
Lorong terasa semakin sempit.
Rangga menghela napas pelan, lalu terkekeh kecil—tawa yang sengaja dibuat ringan.“Oh… itu.”
Nadia makin waspada.“Itu apa?”
Rangga menyelipkan tangan ke saku celananya, mengatur nada bicara.
“Gibran sama gue itu satu kantor. Gue, Gibran dan Zane pernah ada satu proyek bareng.”
“Terus?”
“Namanya juga kerja,” lanjut Rangga tenang, meski jantungnya berdegup keras.“Kadang ada masalah pribadi. Selisih paham. Nggak terlalu enak lah ceritanya.”
Nadia mengernyit.“Jadi… Zane tahu Gibran karena urusan kerja itu?”
“Iya,” jawab Rangga cepat, terlalu cepat—lalu ia memperbaiki nadanya.“Dunia bisnis kecil, Nad. Nama orang gampang nyebar. Apalagi kalau pernah ada gesekan.”
Nadia terdiam. Matanya menelusuri wajah Rangga, seolah mencari celah kebohongan.
Rangga menahan napas.
“Kalau gue boleh saran,” tambah Rangga pelan,“nggak semua hal perlu lo pikirin terlalu jauh. Kadang tahu sedikit itu justru bikin kita lebih aman.”
Nadia akhirnya mengangguk kecil.
“Maaf. Aku cuma… kaget.”
“Wajar,” ujar Rangga lembut.“Yang penting sekarang, lo fokus kerja dan jaga diri.”
Nadia menghela napas, lalu tersenyum tipis.“Iya.”
Rangga melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah, wajah santainya runtuh.
"Hampir aja gue kelepasan" batinnya.
Di belakangnya, Nadia berdiri mematung.
Ada sesuatu yang janggal. Dan untuk pertama kalinya, nama Gibran terasa seperti bayangan yang mulai merambat ke dunia yang selama ini ia kira terpisah.