NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 32

Ruang arsip kembali sunyi setelah pintu besi ditutup. Bau kertas tua dan logam lembap bertahan di udara, seperti kenangan yang menolak diusir. Yurie duduk di kursi kayu dengan punggung tegak, tangannya bertaut di pangkuan. Map cokelat itu kini terbuka di depannya, tak lagi ia sentuh, seolah benda itu bisa mendengar detak jantungnya.

Kaiden berdiri tak jauh, memerhatikan tanpa menginterupsi. Ia tahu, ada saat-saat tertentu ketika kata-kata justru menjadi beban. Yurie menatap satu lembar dokumen—salinan laporan medis yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Tanggalnya membuat tenggorokannya kering.

“Ini bukan arsip rumah sakit umum,” ucap Yurie akhirnya, suaranya datar namun rapuh di bawahnya. “Capnya berbeda.”

Kaiden mendekat, membaca sekilas. “Klinik swasta,” katanya. “Yang tidak sembarang orang bisa masuk.”

Yurie mengangguk. “Ibuku… Shella… tak pernah dirawat di tempat seperti ini. Setahuku.”

Ada jeda. Bukan jeda yang canggung, melainkan jeda yang mengizinkan luka bernapas. Di sudut ruangan, lampu berkedip pelan, seperti memberi tanda bahwa sesuatu sedang bergeser.

Yurie membalik halaman berikutnya. Di sana tercantum nama obat—ditulis rapi, dosisnya presisi. Ia bukan ahli, tapi nalurinya tahu: ini bukan obat biasa. Ada catatan tangan kecil di pinggir halaman, tulisan yang miring ke kanan, terburu-buru namun tegas.

Pantau reaksi. Jangan campur dengan zat X.

“Zat X?” Yurie berbisik.

Kaiden menggeleng pelan. “Catatan semacam ini biasanya dihapus.”

“Kenapa tidak yang ini?”

Kaiden tidak menjawab. Ia tahu, pertanyaan itu lebih baik dibiarkan menggantung. Kadang, jawaban datang bukan dari mulut, melainkan dari waktu.

Di apartemen yang terlalu rapi, pria itu duduk di kursi kerja, menatap layar komputer. Cahaya biru memantul di wajahnya, membuat garis rahangnya terlihat lebih tegas. Ia membuka folder lama—nama foldernya sederhana, hampir remeh. Namun isi di dalamnya jauh dari remeh.

Satu foto terbuka. Seorang perempuan dengan senyum yang tidak sempurna, berdiri di bawah cahaya yang terlalu terang. Ada kelelahan di matanya, tapi juga keteguhan yang sulit dipatahkan.

“Shella,” gumamnya.

Ia menutup foto itu, lalu membuka file lain: jadwal penerbangan, catatan komunikasi, potongan transaksi yang terpisah-pisah. Semua tampak acak bagi orang lain. Baginya, semuanya terhubung.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk tanpa nama.

Ada yang mulai membuka arsip lama.

Ia menarik napas panjang. “Terlambat,” katanya pelan. “Atau tepat waktu.”

Ia berdiri, meraih jasnya. Di meja, kotak kayu itu masih tertutup. Jam tangan retak di dalamnya seolah berdetak meski sudah lama mati. Ia tidak membukanya. Tidak perlu. Ada hal-hal yang cukup diingat tanpa disentuh.

Hujan turun lagi, tidak deras, tapi cukup untuk membasahi jalan dan membuat lampu-lampu memantul di aspal. Yurie dan Kaiden duduk di mobil, mesin menyala namun belum bergerak. Wiper menyapu kaca dengan ritme yang menenangkan.

“Kalau ini benar,” kata Yurie pelan, “berarti aku hidup di rumah yang salah.”

Kaiden menoleh. “Rumah tidak selalu tentang tempat.”

Yurie tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi tetap saja… rasanya aneh.”

Kaiden mematikan mesin. “Kita tidak perlu memutuskan apa pun malam ini.”

“Takut,” Yurie mengakui. “Bukan karena kebenarannya. Tapi karena orang-orang yang terlibat.”

Kaiden meraih tangan Yurie—pelan, tanpa kejutan. “Aku tidak akan membiarkanmu sendirian.”

Yurie menatap tangan mereka yang bertaut. Hangatnya sederhana, tapi cukup untuk menahan gemetar. Di luar, hujan menurunkan tempo, seolah memberi ruang bagi keberanian kecil untuk tumbuh.

Di rumah Nazeeran, lampu ruang makan menyala terang. Agnesa duduk di ujung meja, punggungnya tegak, jarinya mengetuk pelan permukaan kayu. Kayla berdiri di dekat jendela, memandangi hujan tanpa benar-benar melihatnya.

“Sudah lama,” kata Agnesa akhirnya. “Terlalu lama.”

Kayla menoleh. “Maksud Ibu?”

“Arsip,” jawab Agnesa singkat. “Ada orang-orang yang suka menggali masa lalu, mengira itu tidak akan berbalik.”

Kayla menelan ludah. “Apa… mereka tahu?”

Agnesa tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah ramah. “Belum. Tapi bau bahaya selalu datang lebih dulu.”

Ia berdiri, merapikan kerah blusnya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

Kayla ragu. “Aku—”

“Jangan ragu,” potong Agnesa. “Keraguan hanya menguntungkan mereka.”

Di luar, petir menyambar jauh. Bunyi guruhnya tertahan, seperti rahasia yang belum sepenuhnya pecah.

Kaiden mengantarkan Yurie sampai depan apartemen. Hujan tinggal sisa, menyisakan udara dingin yang bersih. Mereka berdiri sebentar, tak ada yang tergesa.

“Ada satu hal,” kata Kaiden. “Tentang laporan itu.”

Yurie menatapnya. “Apa?”

“Nama dokter,” jawab Kaiden. “Aku pernah melihatnya.”

“Di mana?”

“Di berkas lama keluarga Reynard,” kata Kaiden pelan. “Terkait… kakakku.”

Yurie terdiam. Nama itu kembali, menyambung dua garis yang selama ini terpisah. Ia merasakan sesuatu bergetar di dadanya—bukan panik, melainkan kepastian yang menuntut keberanian.

“Berarti ini bukan kebetulan,” katanya.

Kaiden mengangguk. “Tidak pernah.”

Mereka berpisah dengan janji yang tidak diucapkan, tapi dipahami. Yurie naik, Kaiden menunggu sampai lampu unit menyala. Baru setelah itu ia melangkah pergi.

Di sebuah lorong parkir yang sepi, pria itu berhenti. Ia membuka ponsel, menatap layar lama. Sebuah nama tersimpan tanpa foto.

Ia mengetik singkat.

Mulai bergerak. Jangan sentuh mereka langsung.

Balasan datang cepat.

Dimengerti.

Ia menyimpan ponsel. Di cermin mobil, matanya tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menunggu badai.

“Retakan kecil,” gumamnya. “Cukup untuk cahaya masuk.”

Mobil melaju, meninggalkan lorong parkir yang kembali sunyi. Di kota yang tampak damai, rahasia lama mulai bocor—perlahan, tapi pasti. Dan ketika air menemukan jalannya, tak ada tangan yang benar-benar mampu menahannya.

1
Mitsuurii Mitsurikanroji
walaupun sulit di pahami, tapi aku bisa mencoba mengertikan bahasa dan kalimatnya, tak apa, tetap semangat ya author👍💪
new user
D tunggu next up
new user
D tunggu next up thor
Muna Junaidi
Lanjut thor untuk bergadang mumpung liborrr💪💪
new user
Semangat thor, d tunggu next up meskipun otak gk nyampe memahami alurnya
new user
D tunggu next up
Azkyra: diusahakan ❤️👍
total 1 replies
zenyaaqila
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
zenyaaqila
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!