"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilasan
Waktu terus berlalu. Tak sadar, langit mulai meredup. Beberapa karyawan sudah mulai bersiap untuk pulang. Rania memasuki ruang kerja Radit yang terbuka setengah, lalu masuk perlahan sambil membawa tas kecilnya.
“Aku pulang duluan, ya,” ucapnya ringan.
Radit yang sedang merapikan dokumen, menoleh cepat. “Udah selesai kerjaannya?”
“Iya, tadi aku lembur sedikit di studio. Sekarang mau beli obat dulu buat Aira, dia kayaknya agak demam.”
Radit langsung berdiri. “Aku antar, ya.”
Rania menggeleng pelan sambil tersenyum. “Enggak usah. Aku udah pesen taksi online, bentar lagi nyampe.”
Radit membuka mulutnya, hendak membantah, tapi urung.
“Yakin?” tanyanya sekali lagi.
“Iya, tenang aja. Lagian kamu masih banyak kerjaan, kan?”
“Oke… hati-hati ya. Jangan lupa kabarin kalau udah sampai.”
Rania mengacungkan jempol. “Siap, Pak Bos.”
Baru saja Rania menutup pintu ruang kerja dan menghilang dari pandangan, ponsel Radit berdering.
Nama “Papa” muncul di layar.
Radit langsung menjawab. “Halo, Pa?”
“Radit…” suara di seberang terdengar lebih ringan daripada biasanya. “Kamu lagi sibuk?”
“Nggak juga. Kenapa, Pa?”
“Papa cuma mau bilang, terima kasih.”
Radit mengernyit, duduk di tepi meja. “Terima kasih... untuk?”
“Untuk Soraya. Dia yang nganterin Papa ke rumah sakit tadi pagi. Katanya kamu sedang banyak urusan, jadi dia yang inisiatif. Padahal katanya dia harus kerja juga.”
Radit tersentak. “Oh... iya.” (Nada gugup sedikit terasa.)
“Papa nggak pernah nyangka calon menantu bisa sepeduli itu. Dia gak banyak bicara, tapi semua tindakannya sopan, tenang, tepat. Bahkan lebih cekatan dari asisten rumah tangga.”
Radit menunduk. Hatinya tertampar lembut oleh kenyataan yang baru ia dengar.
“Dia gak bilang...”
Mahendra melanjutkan, “Dia nungguin Papa sampai selesai periksa, beliin air minum, bahkan bantu ngurus pendaftaran. Dia nggak segan berdiri lama hanya supaya Papa nyaman.”
Radit menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan belum tahu satu hal pun tentang itu. Namun, yang pasti keterlambatan Rania tadi pagi ada kaitannya dengan ini.
“Papa suka dia. Dan Papa tahu, kamu bukan orang yang mudah jatuh hati. Jadi kalau kamu milih dia, Papa percaya, karena dia memang punya sesuatu yang beda.”
Radit masih diam. Hatinya penuh.
“Papa tahu ini belum resmi. Tapi kalau kamu yakin, Papa juga gak akan banyak tanya. Kamu tinggal beri tanggalnya, dan Papa akan tunaikan semua janji Papa.”
Klik.
Telepon terputus.
Tapi tidak dengan efeknya.
Radit tak bisa bergerak. Matanya menatap kosong ke layar ponsel yang mulai meredup. Rasa kagum, syukur, dan kekhawatiran menyatu jadi satu.
“Rania... kenapa kamu selalu muncul dengan cara yang gak terduga?”
___
Beberapa saat telah berlalu, kini Rania tiba di kediamannya.
Ia membayar taksi online yang tadi membawanya pulang dari apotek, lalu segera masuk ke dalam apartemen kecilnya yang hangat. Aira sedang tidur pulas di kamar, Yani sudah mengurung dirinya di kamar, karena hari ini jadwalnya hanya setengah hari.
Tanpa banyak suara, Rania mengganti bajunya dengan daster sederhana, lalu mengikat rambutnya asal di belakang kepala. Tangannya sibuk menata obat di lemari kecil, menyiapkan susu hangat untuk Aira, dan memeriksa suhu tubuh anak itu dengan punggung tangannya.
Kegiatan ibu rumah tangga.
Meski hanya bertiga, rumah itu terasa hidup. Karena setiap sudutnya… mengandung harapan.
Tapi malam ini berbeda.
Sebuah perasaan dingin menyeruak dari dalam dada Rania. Membuatnya berhenti bergerak.
Kilasan itu muncul.
Kilasan yang menyakitkan.
Reyhan.
Nama itu kembali mengusik ketenangannya.
Rania menatap wajahnya sendiri. Matanya, bibirnya, semua tampak sama.
Dulu, ia mencintai Reyhan sepenuh hati. Meskipun mereka menikah secara diam-diam. Meskipun keluarganya tidak diundang. Meskipun pernikahan mereka hanya dihadiri saksi seadanya, Rania tak pernah mengeluh.
Ia menerima semua itu karena yakin, setidaknya Reyhan tidak akan menyerah.
Tapi nyatanya, Reyhanlah orang pertama yang lari saat tekanan datang.
Ketika desakan keluarga Mahendra mendera, Reyhan mundur. Menceraikan Rania. Tanpa bertemu, tanpa berbicara. Tanpa penjelasan.
Rania hanya diberi surat.
Surat yang memberitahunya bahwa ia tak cukup pantas, dan keluarga itu tak ingin mengakuinya sebagai bagian dari mereka.
Dan saat itu…
Aira baru dua bulan.
Anak yang tak pernah dilihat langsung oleh ayahnya.
Anak yang menjadi satu-satunya alasan Rania masih berdiri hari ini.
Seketika itu juga, Rania menggenggam pinggiran meja, menahan tubuhnya yang hampir roboh oleh emosi.
Air matanya tidak jatuh. Tapi sesak itu nyata.
"Kau yang menyerah, Reyhan…" gumamnya dalam hati. "Kau yang memilih menyerah, bahkan sebelum kita benar-benar mulai…"
Kini saat ia mulai membuka hati, meskipun untuk sandiwara kontrak—perasaan lama itu kembali. Luka itu kembali berdarah.
Tapi ia tak akan membiarkan itu menguasainya.
Rania memaksa senyum ketika menatap Aira yang mulai menggeliat dalam tidurnya.
Ia mendekat, duduk di sisi kasur, lalu membelai rambut halus putrinya dengan lembut.
“Aira,” bisiknya pelan. “Mau bagaimanapun caranya… Mama akan buat kamu mendapatkan semua yang kamu pantas dapatkan.”
Mata Rania kini lebih tajam, lebih kuat. Ia tak akan membiarkan siapapun menghancurkan kebangkitannya lagi. Termasuk masa lalu. Termasuk Reyhan.
Setelah merasa sedikit lega, Rania mengganti posisi dari duduk menjadi rebah di atas kasur.
Namun, belum sempat tubuhnya benar-benar menempel penuh di kasur, suara gaduh dari luar pintu membuatnya langsung terduduk kembali.
BRAK!
Suara itu seperti—cekcok.
Cekcok dan suara langkah kaki yang tak asing.
Rania buru-buru mengenakan hoodie tipisnya dan keluar dari kamar. Saat membuka pintu…
“Radit?”
Pria itu berdiri dengan senyum polos, wajah sedikit merah, satu tangan membawa bungkusan cokelat dan bunga, satu lagi mengusap hidungnya seolah baru saja terjatuh.
“Astagaaa…” desah Rania sambil memegangi pelipisnya. “Kamu ngapain di sini?! Bikin ribut malam-malam kayak begini?”
“Eh, tadi cuma kepleset dikit... aku gak berantem sama siapa-siapa, kok,” jawab Radit cepat.
Namun suara security dari ujung lorong masih terdengar mengomel. “Lain kali jangan gebrak pintu sembarangan, Pak!”
Rania cepat-cepat menarik tangan Radit dan membawanya masuk ke dalam rumahnya sebelum makin jadi tontonan.
Begitu pintu tertutup, Rania bersedekap di depan dada, menatap pria itu dari atas ke bawah.
“Radit. Ini udah jam berapa?”
“Baru jam delapan… malam.”
“Normal gak sih orang datang jam segini bawa bunga dan cokelat?”
“Romantis, dong?” sahut Radit sambil nyengir.
Rania menutupi wajahnya. “Ya ampun… kamu mabuk lagi?”
“Enggak. Demi Tuhan. Ini… aku sadar. Bener-bener sadar.”
Rania memutar matanya, menahan senyum yang mulai nyelip di bibirnya. Ia menghela napas, lalu menunjuk sofa kecil dekat jendela. “Udah, duduk situ. Jangan bikin kegaduhan lagi.”
Radit menuruti. Ia duduk seperti anak kecil habis dimarahi ibunya, lalu menyodorkan cokelat dan bunga dengan tangan yang ragu.
“Ini buat kamu…”
“Apa, ini?” tanya Rania, masih curiga. “Kalau kamu ngebikin kekacauan lagi gara-gara ini, mending keluar sekarang.”
“Enggak! Aku cuma… menghargai kamu. Serius.”
“Hargai?”
Radit mengangguk mantap. “Iya. Karena kamu berhasil merebut hati Papa.”
Rania nyaris tersedak udara.
“Apa?!”
“Papa bilang… kamu luar biasa. Pintar, sopan, manis, dan kamu nunjukin sisi yang aku sendiri belum pernah lihat dari perempuan mana pun.”
“Terus?”
“Terus... dia bilang kita gak perlu lama-lama nunda. Pernikahan bisa disiapkan segera. Dan dia janji semua harta, saham, akan dikasih ke aku, asal kamu tetep jadi pilihanku.”
Rania membeku.
Kepalanya sempat berputar pelan. Jantungnya tadi sempat melambung—ia kira Radit datang karena rindu. Karena ingin bicara. Karena… cinta.
Ternyata… masih tentang kontrak.
Masih tentang sandiwara.
“Oh,” gumam Rania akhirnya. “Jadi maksud kamu ke sini… karena kontrak kita berhasil?”
“Ya,” jawab Radit polos. Tapi setelah melihat wajah Rania yang mendadak datar, ia cepat-cepat meralat. “Maksud aku, ya nggak cuma itu sih… Tapi, ya itu alasannya juga.”
Rania menatap Radit. Lama.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Hebat.”
“Hah?”
“Kamu tahu caranya bikin orang hampir pingsan karena bahagia… dan kecewa dalam satu kalimat.”
Radit terkekeh. “Itu bakat alami kayaknya.”
“Radit?”
“Hmm?”
“Turun dari sofa. Sekarang kamu boleh pergi.”
“Hah?”
“Kalau kamu bikin ribut lagi, aku akan teriak. Dan bunga-bunga itu… akan aku pakai jadi kemoceng!”
Radit ngakak. “Iya, iya! Maaf, Bu. Saya salah.”
Radit pun bangkit dari duduknya. Niat awalnya hanya ingin menyerahkan cokelat dan bunga, lalu pergi dengan santai. Tapi saat ia melangkah ke arah pintu…
Matanya tak sengaja menoleh.
Dan di sana, berdiri Rania, dengan pakaian yang... Daster tipis dan santai, rambut diikat sembarang, wajah tanpa riasan namun entah kenapa justru lebih berbahaya.
“Ran…” suara Radit nyaris tercekat.
Rania menoleh. “Hah?”
“Kenapa kamu pake baju gitu?”
“Lah, ya masa mau tidur pakai blazer, Pak Bos?” balas Rania santai sambil berjalan mengambil gelas di dekat sofa.
Tapi langkahnya jadi melambat, karena pandangan Radit begitu… aneh.
Rania heran.
Radit meneguk ludah, tubuhnya menegang.
Sial. Ada sesuatu yang bangkit dalam tubuhnya—naluri sebagai laki-laki.
Dan pakaian santai Rania… benar-benar bukan pakaian yang boleh dilihat terlalu lama saat pikirannya sedang rawan.
Radit mendongak ke langit-langit, berpura-pura mengagumi plafon.
“Eh. Aku pulang dulu ya. Lupa ada kerjaan…” katanya cepat-cepat sambil mengambil kunci di saku celana.
“Lho? Cepet amat?” tanya Rania sambil menatapnya curiga.
Radit tidak menjawab. Ia hanya berjalan cepat ke arah pintu, bahkan sempat menabrak meja kecil di dekatnya. Wajahnya merah padam.
“Radit?”
“Iya—aku pergi dulu. Jangan keluar, udah malam. Bunga sama cokelatnya buat kamu!”
Brak.
Pintu tertutup.
Rania terdiam. Masih bingung.
“Aneh banget…” gumamnya, lalu menunduk memandangi bunga dan cokelat yang tadi diberikan.
Ia mencium kelopak bunganya.
Masih harum. Masih ada aroma Radit di sana.
Tanpa sadar, senyumnya tumbuh.
Ia peluk bunga itu… memejamkan mata.
Membayangkan Radit masih ada di ruangan itu, duduk di sofa, mengomel sok galak, dan bertingkah seperti pria yang enggak sadar bahwa dirinya… sudah sangat berarti.