"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: PESAN DALAM KEGELAPAN
Dunia luar ternyata jauh lebih menyilaukan daripada yang diingat oleh Ghea. Setelah berminggu-minggu terkurung dalam kemewahan villa yang menyesakkan, hembusan angin jalanan dan pemandangan lampu kota dari kejauhan terasa seperti mimpi yang tidak nyata.
Adrian mengemudikan mobil sedan hitamnya dengan tenang. Ia tidak lagi memborgol tangan Ghea. Ghea duduk di kursi penumpang dengan gaun hitam elegan, sementara kalung berlian—pelacak biometrik itu—terasa mendinginkan kulit lehernya.
"Kau sangat diam, Ghea," ujar Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan pegunungan yang berkelok. "Apakah kau gugup melihat dunia lagi?"
Ghea menoleh, menatap profil samping wajah Adrian yang tampak sempurna namun dingin di bawah cahaya lampu dasbor. "Aku hanya... merasa asing. Rasanya seperti aku baru saja bangkit dari kubur."
Adrian tersenyum kecil, meraih tangan Ghea dan mengecupnya singkat. "Bagi dunia, kau memang sudah mati, Sayang. Malam ini, kau hanyalah milikku. Kita akan makan malam di tempat yang sangat privat."
Tempat itu adalah sebuah restoran mewah di puncak bukit yang biasanya penuh dengan kaum elit. Namun malam ini, restoran itu sunyi senyap. Adrian telah menyewa seluruh tempat itu. Hanya ada mereka berdua, beberapa pelayan yang menunduk takut, dan anak buah Adrian yang berjaga di setiap pintu keluar dengan setelan jas hitam yang menyembunyikan senjata.
Makan malam berlangsung dengan suasana yang sangat formal. Adrian tampak sangat menikmati perannya sebagai tunangan yang sempurna, memotongkan daging untuk Ghea dan menuangkan anggur dengan gerakan yang sangat sopan.
"Aku ingin kau merasa bahwa dunia ini masih milikmu, Ghea. Selama kau bersamaku, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu," bisik Adrian.
Ghea tersenyum manis, namun otaknya bekerja seperti mesin yang sedang panas. Ia melihat ke sekeliling. Di sudut ruangan, dekat pintu menuju toilet, terdapat sebuah meja kecil dengan telepon dan tumpukan kartu nama restoran.
Itu dia, batin Ghea.
"Adrian, bolehkah aku ke kamar kecil sebentar? Aku ingin merapikan riasanku," tanya Ghea selembut mungkin.
Adrian menatap Ghea lama, matanya menyisir wajah Ghea mencari tanda-tanda kecurangan. "Tentu. Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak suka menunggumu."
Ghea berjalan menuju toilet dengan langkah tenang, sementara kalung di lehernya mengirimkan sinyal keberadaannya langsung ke ponsel Adrian. Di dalam toilet yang mewah dan sunyi, Ghea segera bertindak. Ia tidak menuju cermin. Ia menyambar segulung tisu toilet yang tebal.
Ia merogoh saku gaunnya. Ia tidak punya pena, tapi ia memiliki sesuatu yang lebih baik. Ia mengeluarkan sekrup besar yang ujungnya tajam dari balik lipatan kainnya.
Dengan napas tersengal, Ghea mulai menggoreskan pesan di atas permukaan tisu toilet tersebut. Ia tidak menggunakan tinta, melainkan tekanan yang meninggalkan bekas tulisan di atas serat kertas.
"DETEKTIF GHEA ZANNA MASIH HIDUP. VILLA DI HUTAN PINUS. TOLONG."
Ia melipat tisu itu sekecil mungkin. Rencananya adalah menjatuhkan tisu ini di lorong, atau memberikannya secara sembunyi-sembunyi kepada pelayan yang nanti menuangkan air. Ia hanya butuh satu orang luar untuk membawa pesan ini keluar dari radius gangguan sinyal Adrian.
Ghea keluar dari toilet, menyembunyikan tisu itu di dalam genggaman tangannya. Saat ia berjalan melewati lorong menuju meja, ia melihat seorang pelayan muda yang sedang menyiapkan nampan.
Ghea sengaja sedikit tersandung di dekat pelayan itu. "Ah, maafkan aku," ucap Ghea sambil tangannya bergerak menuju saku pelayan tersebut untuk menyelipkan pesan.
Namun, sebelum tangan Ghea sampai, sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangannya.
"Ada yang bisa kubantu, Sayang?"
Suara itu terdengar tepat di belakang telinga Ghea. Adrian. Pria itu entah bagaimana sudah berdiri di sana tanpa menimbulkan suara. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun sangat mengunci.
Adrian menarik tangan Ghea yang mengepal. "Apa yang kau pegang di tanganmu, Ghea? Kau tampak sangat protektif terhadap telapak tanganmu sendiri."
Jantung Ghea berhenti berdetak. Ia mencoba tertawa kecil, meskipun wajahnya mulai pucat. "Hanya... hanya tisu bekas riasan, Adrian. Aku lupa membuangnya."
"Benarkah? Mari kita lihat," Adrian membuka paksa jemari Ghea.
Tisu yang terlipat itu jatuh ke lantai. Adrian mengambilnya dengan gerakan lambat, sementara pelayan di samping mereka menunduk, tidak berani bernapas. Adrian membuka lipatan tisu itu. Matanya menyisir bekas goresan kasar yang ditinggalkan oleh sekrup tajam Ghea.
Suasana restoran yang tadi hangat seketika berubah menjadi sedingin es. Adrian meremas tisu itu hingga hancur di telapak tangannya. Ia menatap Ghea dengan sorot mata yang bukan lagi penuh cinta, melainkan kekecewaan yang sangat dalam dan mengerikan.
"Kau benar-benar tidak pernah belajar, bukan?" bisik Adrian. Suaranya begitu tenang, namun Ghea tahu itu adalah tanda badai yang akan menghancurkan segalanya.
Adrian berbalik ke arah anak buahnya. "Kosongkan tempat ini. Sekarang."
Anak buah Adrian bergerak cepat mengusir para pelayan. Adrian menarik Ghea mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ghea. "Aku memberimu dunia, aku memberimu kebebasan, aku memberimu berlian... dan kau masih ingin kembali ke pelukan orang-orang yang ingin membunuhmu?"
"Adrian, dengarkan aku—"
"Cukup!" bentak Adrian. Ia menarik Ghea dengan kasar menuju mobil. "Malam ini, aku akan menunjukkan padamu kenapa kau tidak seharusnya merindukan dunia luar. Aku akan menunjukkan padamu betapa busuknya orang-orang yang kau sebut 'rekan' itu."
Ghea tersungkur di kursi mobil saat Adrian membanting pintu. Harapan kecilnya baru saja dipadamkan dengan cara yang paling brutal. Dan saat mobil itu melaju kencang kembali menuju kegelapan hutan, Ghea menyadari bahwa ujian loyalitas ini baru saja berubah menjadi hukuman yang tidak akan pernah ia lupakan.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....