Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Mereka tak pernah akur
Cahaya matahari menusuk kaca koridor, memecah menjadi garis-garis panas yang menari di lantai. Langkah ringan mereka menggema pelan; suara Victoria, lugu dan setengah bernyanyi, mengambang di belakang sosok tegap yang berjalan di depan.
Ia berlari-lari kecil sesekali, berusaha mengejar langkah pria itu tanpa terlihat canggung.
Tiba-tiba ponsel Alexander berdering, bunyi singkat yang memotong nyanyian pagi. Ia berhenti, merogoh saku celana dengan gerak sigap, menyentuh layar, lalu menempelkan gagang telepon di telinga sambil bergeser ke tepian lorong. Wajahnya berubah seketika; mata yang tadi tenang menjadi tegang, rahangnya mengeras, otot-otot leher menegang menahan berita yang baru masuk.
Tanpa sepatah kata kepada Victoria, ia berputar dan melangkah cepat ke arah lift, meninggalkan gadis itu berdiri kebingungan di tengah kerlip sinar.
“Hah? Aku ditinggal?” gumam Victoria pada dirinya sendiri, menatap punggung yang semakin menjauh. Ia menarik napas, mengangkat bahu, mencoba meredam rasa penasaran yang mengganjal.
Informasi itu tampaknya bukan untuknya; ia memilih mengabaikan dan kembali pada ritme harian.
Di dalam lift, Alexander menekan tombol turun. Napasnya pendek, langkahnya bergetar tiap kali pintu bergeser. Ketika indikator mencapai lantai dasar, ia keluar dengan langkah yang nyaris tergesa. Di lobi utama, tanpa berhenti berjalan, ia mengetik pesan singkat ke Rico dengan nada yang tajam seperti tebasan pisau.
“Temui aku di lokasi yang ku kirim. Polisi menemukan mayat anak kecil di sana. Kalau kau terlambat—”
Kalimatnya dipotong oleh emosi; kata-kata terakhir terlanjur pedas, menyeret ancaman yang tak sepenuhnya serius namun penuh tekanan.
“Aku akan membunuhmu!!”
Ponsel kembali disimpan. Alexander menyambar kunci mobil, melompat masuk ke kursi pengemudi, dan menginjak pedal. Mesin meraung pelan sebelum berubah menjadi deru konstan yang menandai gerak. Jalanan berlalu cepat; gedung-gedung tinggi berganti dengan rumah-rumah padat, pohon-pohon yang membatasi halaman seperti pagar hijau.
Suasana kota berangsur pudar digantikan kawasan pinggiran yang tenang namun mencurigakan.
Sirene ambulans yang kadang terdengar di kejauhan kini berganti deru kendaraan polisi. Petunjuk lampu biru terpancar di kejauhan; Alexander menambah kecepatan, memotong jalur, menyalip kendaraan lain tanpa ragu.
Jembatan layang dilewati, kemudian jalan sempit yang rumah-rumahnya berderet rapat menyerupai labirin. Bau bahan bakar, keringat, dan keringat kecemasan menyusup di udara ketika ia mulai melihat barisan mobil patroli di sisi jalan.
Ia memarkir kendaraannya seraya hati berdebar. Kerumunan sudah berkumpul di depan salah satu rumah; orang-orang berkerumun, berbisik, menunjuk, wajah-wajahnya dibayang duka. Di sela kerumunan, seorang petugas menenteng tubuh kecil yang tertutup darah, bocah yang sudah tak bernyawa. Pemandangan itu merenggut napas siapapun yang menatapnya; darah menghitam pada kain, tangan kecil terkulai tak berdaya.
Alexander menjerit dalam hati. Ia berdiri terpaku sejenak, kata-kata macet di tenggorok. Seorang polisi yang sibuk dengan tugasnya menghampiri, wajahnya lusuh dan bercak kering darah menempel di sarung tangannya.
“Tuan Reed… apa yang harus kita lakukan?” Suara itu lirih, penuh kelelahan.
Suara Alexander padat, penuh perintah namun tersusun: “Panggil ambulans. Prioritaskan evakuasi korban. Amankan lokasi, periksa sekeliling untuk barang bukti apa pun.” Ia menatap langsung ke mata petugas, tidak ada ruang untuk ragu; setiap detik berarti.
Para polisi mengangguk serentak, menyebar menjalankan instruksi yang baru saja turun, langkah mereka kini terkoordinasi oleh otoritas yang jelas.
Keadaan di sekitar sibuk, namun dalam kepala Alexander semua bergerak lebih lambat; ingatan tentang lorong gelap, tentang kata “kembalikan” yang terus menghantui, tentang selongsong panas di tangannya, semua itu berkumpul menjadi urgensi baru. Ia tetap berdiri di sana, menyaksikan timnya bergerak, menyiapkan semua yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang belum sempat terucap.
“Kenapa harus anak kecil yang jadi sasarannya…” gumamnya lirih, jemari mengepal menahan amarah yang terus merambat di dadanya.
Alexander melangkah masuk ke area kejadian. Pandangannya menyapu bercak merah yang menodai aspal. Warna darah itu masih segar, namun tubuh korban justru mengeluarkan cairan hitam pekat, seolah darah itu sudah lama membeku di dalam. Ia berjongkok, menekuk lutut untuk meneliti lebih dekat.
“Apakah ini pembunuhan?” bisiknya, seakan bertanya pada dirinya sendiri.
Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, suara sirene ambulance memecah udara pagi. Suara itu kian dekat, membuatnya menoleh, karena korban telah lebih dulu dibawa ke rumah sakit.
Kendaraan putih itu berhenti di tepi jalan. Pintu belakang terbuka, menampakkan sosok pria berjas maroon turun tergesa. Alexander mengenalnya, itu asistennya Rico. Namun langkah Rico diikuti seorang perempuan berbalut jas putih kedokteran.
Alexander membeku, lalu berdiri dengan tatapan tajam penuh ketidakpercayaan.
“Tuan Reed, maaf membuat anda menunggu.” ucap Rico singkat, membungkuk hormat pada atasannya.
Namun Alexander tak menggubris sapaan itu. Pandangannya hanya tertuju pada perempuan di belakang Rico, sorotnya tajam dan sarat dengan rasa tidak suka. “Kenapa kau membawanya ke sini?” Suaranya rendah, tapi jelas mengandung amarah.
Rico menoleh ke arah gadis yang tersenyum polos, seakan tak memahami ketegangan yang ada. Senyum itu sederhana, mirip anak kecil yang hanya ingin mengikuti ibunya. “Hanya untuk berjaga, Tuan. Kalau ada yang terluka, di ambulans tersedia obat-obatan dari rumah sakit…” jelasnya hati-hati.
“Bukan Victoria!” potong Alexander tajam. “Apa tidak ada dokter lain?” Wajahnya mengeras, rahangnya menegang.
“Dia satu-satunya yang tidak sedang menangani pasien di IGD.” jawab Rico, suaranya makin pelan.
Alexander mengepalkan tangan. “Justru itu yang mencurigakan! Kalau ia hanya duduk menganggur, berarti kinerjanya tak sepadan dengan gelar dokter ahli!” Tekanannya membuat udara di sekitar seakan membeku.
Rico terdiam, tak sanggup menatap balik. Rasa bersalah membuatnya bungkam. Di sisi lain, Victoria justru melangkah ke arah bercak darah, menunduk seakan ingin mengamati.
“Dimana korbannya?” tanyanya lembut, tatapannya kemudian beralih pada Alexander, memantulkan kekhawatiran tulus.
Alexander sempat menahan kata-kata, sulit menyalakan api marah ketika melihat kekhawatiran itu di wajahnya. “Dia… sudah dibawa ke rumah sakit terdekat,” jawabnya akhirnya, dengan nada lebih terkendali.
“Tidak mungkin…” suara Victoria bergetar, matanya melebar seolah menyimpan ketakutan. “Korban itu sudah mati. Untuk apa dibawa ke rumah sakit?”
Kata-kata itu menusuk tajam, membuat dada Alexander bergemuruh. Seketika ia mendorong bahu Victoria dengan kasar. “Apa maksudmu hah?!”
Tubuh gadis itu terhuyung, membuat semua orang di sekitar menahan napas. Beberapa polisi segera berlari, membentuk jarak di antara keduanya, sementara Rico buru-buru menahan lengan Alexander agar tidak bertindak lebih jauh.
“Tuan Reed, kendalikan diri anda!” salah seorang polisi bersuara keras. “Ini tempat kejadian perkara, jangan ciptakan kegaduhan!”
Teguran itu hanya membuat bara di dada Alexander makin menyala. Kata-kata Victoria jelas menyinggung, tapi justru orang-orang di sekitar berdiri membelanya. Rahangnya mengeras, lalu ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan Victoria. Hanya dengan begitu ia bisa meredam amarah, sekaligus kembali mencari petunjuk lain yang mungkin tertinggal.