Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka yang Tidak Tercatat
Wijaya selalu percaya bahwa sejarah bukan kumpulan tanggal, melainkan pola yang terlalu sering diabaikan.
Pagi di Surabaya datang dengan suara yang tertib. Tidak seramai Jakarta, tidak setenang Yogyakarta. Kota ini bergerak dengan ritme yang terlatih, cukup cepat untuk efisien, cukup lambat untuk terlihat manusiawi. Wijaya menyukai itu. Ia menyukai keteraturan yang tidak berisik.
Ia duduk di balik meja kayu panjang di perpustakaan tempatnya bekerja. Rak-rak buku berdiri rapi, seperti barisan saksi yang tidak pernah dipanggil ke pengadilan. Di hadapannya terbuka sebuah buku tebal tentang sejarah administrasi negara, edisi lama, sampulnya sudah kusam, tapi isinya masih tajam.
Wijaya membaca bukan untuk mencari kejutan. Ia membaca untuk memastikan satu hal:
...bahwa dunia jarang benar-benar baru.
Ia berhenti di satu paragraf yang sudah ia tandai bertahun-tahun lalu.
Tentang bagaimana negara-negara modern mulai mengatur warganya bukan lewat larangan, tapi lewat pendaftaran. Tentang bagaimana hak perlahan bergeser menjadi akses, dan akses selalu punya syarat.
Ia menghela napas pelan.
Ponselnya bergetar. Notifikasi dari WAG Random. Pesan Yanto semalam masih tertera:
“Gue takut suatu hari nanti, pertanyaan dianggap lebih berbahaya daripada ketidakadilan.”
Wijaya tidak langsung membalas. Ia menyimpan ponsel di samping buku, seperti menyimpan penanda halaman hidup di tengah teks mati.
Ia teringat masa kuliahnya sendiri, ketika sejarah masih terasa seperti cerita masa lalu yang aman. Ketika kebijakan lama dianggap kesalahan primitif, dan kebijakan baru selalu diasumsikan lebih manusiawi. Butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa kemajuan sering kali hanya mengganti metode, bukan niat.
Seorang mahasiswa datang ke meja, bertanya soal arsip digital. Wijaya menjawab dengan ramah, menjelaskan prosedur, syarat, dan waktu tunggu. Kata-kata itu keluar lancar dari mulutnya, seperti hafalan. Tapi di dalam kepalanya, kata-kata yang sama sedang ia pertanyakan.
Prosedur.
Syarat.
Validasi.
Ia kembali duduk, membuka laptop, mengecek sistem katalog. Layar menampilkan daftar akses, izin, dan pembatasan. Semua terlihat masuk akal. Semua terlihat rapi.
Wijaya teringat kalimat lama dari salah satu sejarawan favoritnya:
“Ketika negara mulai terlalu tertarik pada keteraturan, manusia sering kali dianggap gangguan.”
Ia membuka Random, mengetik pelan.
Wijaya:
“Dalam sejarah,
hak jarang dicabut sekaligus.
Biasanya diubah dulu jadi akses.”
Ia mengirim pesan itu, lalu menunggu.
Balasan datang dari Doli beberapa menit kemudian.
Doli:
“Akses selalu bisa ditunda.
Dan penundaan jarang dianggap pelanggaran.”
Wijaya mengangguk kecil, meski sendirian.
Ia menutup laptop, berdiri, dan berjalan menyusuri lorong rak buku. Tangannya menyentuh punggung buku-buku tua, merasakan teksturnya. Ia membayangkan bagaimana di masa lalu, orang-orang berdiri di antrean panjang hanya untuk membuktikan keberadaan mereka di mata negara.
Ia berhenti di satu rak, menarik buku tentang sensus dan identitas nasional. Membuka halaman acak. Membaca sebentar. Lalu menutupnya kembali.
Semua ini sudah pernah ada, pikirnya.
Yang berbeda hanya kecepatan dan ketenangan.
Tidak ada tentara. Tidak ada larangan keras. Tidak ada teriakan.
Hanya layar.
Hanya sistem.
Hanya pesan: data tidak ditemukan.
Wijaya kembali ke mejanya. Ia duduk, menatap ponsel. Ada satu pesan baru dari Kusuma, singkat:
Kusuma:
Jay, lo pernah baca soal orang yang “hilang” bukan karena mati?
Wijaya membaca pesan itu lama. Ia tahu jawabannya. Ia sudah membaca banyak contoh.
Ia mengetik pelan, berhati-hati.
Wijaya:
Pernah.
Mereka biasanya tidak disebut hilang.
Mereka disebut “tidak tercatat”.
Ia mengirim pesan itu, lalu meletakkan ponsel dengan hati-hati, seolah benda itu bisa pecah.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Wijaya merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan ketika membaca sejarah: bukan jarak, tapi kedekatan.
Dan kedekatan itu membuat dadanya terasa sempit.
Ia sadar, jika pola ini terus berjalan, maka perannya sebagai pustakawan… penjaga ingatan, tidak akan cukup. Akan tiba saatnya ia harus memilih: tetap menjadi saksi, atau mulai bicara.
Ada jeda pemikiran yang makin menggelitik.
Di titik ketika sejarah tidak lagi terasa jauh, dan masa depan mulai meniru masa lalu dengan cara yang terlalu halus untuk ditolak.
Wijaya baru benar-benar menyadari sesuatu berubah ketika ia mulai membaca bukan sebagai sejarawan, melainkan sebagai warga.
Siang itu, perpustakaan sedikit lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa duduk berkelompok, berbicara pelan sambil menatap layar laptop. Seorang dosen datang untuk mencari arsip lama. Suara langkah kaki bergema lembut di lantai keramik. Semuanya tampak normal. Terlalu normal.
Wijaya duduk di mejanya, membuka kembali pesan Kusuma yang singkat tapi menghantui.
“Lo pernah baca soal orang yang ‘hilang’ bukan karena mati?”
Ia sudah menjawabnya dengan hati-hati. Tapi jawaban itu justru membuka pintu lain di kepalanya… pintu yang selama ini ia jaga agar tetap tertutup.
Ia teringat satu kasus yang pernah ia baca bertahun-tahun lalu. Tentang sekelompok orang yang tidak diasingkan, tidak dipenjara, tidak dilarang secara resmi. Mereka hanya tidak lagi bisa mengakses layanan dasar. Nama mereka tetap ada, tapi statusnya “menunggu verifikasi”. Tahun berganti. Status itu tidak pernah berubah.
Tidak ada berita. Tidak ada protes besar. Tidak ada tragedi yang bisa dijadikan peringatan.
Mereka tidak mati.
Mereka hanya tidak lagi dihitung.
Wijaya menutup buku di hadapannya, lalu membuka komputer kerja. Ia masuk ke sistem katalog internal, sistem yang ia kenal luar kepala. Ia mengetik beberapa kata kunci: akses, validasi, integrasi. Hasil pencarian muncul rapi, lengkap dengan kebijakan terbaru yang baru diterapkan beberapa bulan terakhir.
Ia membaca pelan. Tidak ada yang janggal secara hukum. Semuanya sesuai prosedur. Bahkan bahasanya lembut, nyaris pedagogis.
Demi kemudahan.
Demi keamanan.
Demi ketertiban.
Wijaya bersandar di kursinya. Ia menyadari satu hal yang membuat tengkuknya merinding: sejarah tidak pernah memperingatkan lewat bunyi keras. Ia memperingatkan lewat pengulangan yang nyaris tak terasa.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Random. Kali ini dari Ari.
Ari:
Jay, menurut lo…
kapan sesuatu berhenti jadi “kebijakan”
dan mulai jadi “takdir”?
Wijaya menatap pesan itu lama. Ia tahu pertanyaan itu tidak mencari jawaban cepat. Ia juga tahu, jika ia menjawab jujur, ia sendiri tidak akan bisa kembali ke posisi aman.
Ia mengetik perlahan.
Wijaya:
Ketika orang berhenti merasa
punya pilihan.
Ia mengirim pesan itu, lalu mematikan layar ponsel. Jari-jarinya terasa dingin.
Sore hari, perpustakaan mulai sepi. Wijaya berdiri, berjalan ke ruang arsip, ruang yang jarang dimasuki kecuali oleh orang-orang yang tahu apa yang mereka cari. Di sana, buku-buku dan dokumen lama disimpan dengan suhu terkontrol, seolah waktu bisa diperlambat dengan pendingin udara.
Ia menarik satu map arsip lama. Tentang kebijakan identifikasi penduduk di masa transisi politik. Tentang bagaimana “pembaruan sistem” dijual sebagai solusi, sementara dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Wijaya membuka map itu, membaca satu laporan singkat. Di bagian bawah, ada catatan tangan seorang pejabat lama:
“Kasus-kasus anomali akan terselesaikan seiring waktu.”
Wijaya menutup map itu perlahan.
Anomali.
Kata itu terlalu sering dipakai untuk menyebut manusia.
Ia kembali ke mejanya dengan langkah lebih berat. Dalam kepalanya, wajah Kusuma muncul… bukan sebagai data, bukan sebagai contoh, tapi sebagai seseorang yang ia kenal. Seseorang yang bisa tertawa, marah, mengeluh, dan lelah.
Dan tiba-tiba, sejarah tidak lagi terasa netral.
Wijaya membuka laptop pribadinya, bukan komputer kantor. Ia membuat folder baru, memberi nama sederhana: Catatan Lapangan.
Ia mulai menulis, bukan sebagai akademisi, bukan sebagai pustakawan, tapi sebagai saksi.
Tentang bagaimana sistem bekerja ketika semuanya “sesuai aturan”.
Tentang bagaimana penundaan bisa menjadi bentuk penolakan paling aman.
Tentang bagaimana bahasa kebijakan menciptakan jarak antara keputusan dan dampaknya.
Ia tidak tahu untuk siapa catatan itu. Ia hanya tahu satu hal: jika ia tidak mulai menulis sekarang, ia akan ikut melupakan.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Kusuma.
Kusuma:
Jay,
kalau nanti gue beneran nggak bisa balik kerja,
itu berarti gue salah ya?
Wijaya menutup mata sejenak. Pertanyaan itu tidak adil. Dan justru karena itu, ia tidak bisa menjawabnya dengan cara aman.
Ia mengetik.
Wijaya:
Bukan.
Itu berarti sistemnya nggak punya ruang
buat orang kayak lo.
Ia berhenti, lalu menambahkan satu kalimat lagi.
Wijaya:
Dan itu bukan kebetulan.
Pesan terkirim. Wijaya merasakan dadanya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia tahu, sejak kalimat itu terkirim, ia tidak lagi berdiri di pinggir.
Sore berubah menjadi malam. Lampu-lampu perpustakaan mulai dipadamkan satu per satu. Wijaya merapikan meja, memasukkan laptop ke tas, lalu berjalan keluar. Udara malam Surabaya terasa hangat, sedikit lembap. Jalanan ramai, tapi tidak bising.
Di parkiran, ia berhenti sejenak sebelum menyalakan motor sport-nya. Ia menatap langit yang gelap tanpa bintang. Ada rasa ragu yang kuat… ragu yang sehat, tapi berat.
Ia bertanya pada dirinya sendiri:
…sampai sejauh mana seorang penjaga arsip boleh diam?
Mesin motor menyala. Wijaya melaju pelan, melewati jalan-jalan yang ia kenal. Di kepalanya, ia menyusun rencana kecil. Tidak heroik. Tidak besar. Hanya langkah awal: mengumpulkan catatan, menyimpan bukti, memahami pola.
Ia tahu, bicara terlalu cepat bisa berbahaya. Tapi diam terlalu lama jauh lebih berbahaya.
Setibanya di rumah, Wijaya meletakkan tas, menyalakan lampu, lalu duduk di meja kecil dekat jendela. Ia membuka laptop lagi, menatap folder Catatan Lapangan yang masih kosong kecuali satu dokumen.
Ia menambahkan satu file baru.
Judulnya: Tentang Mereka yang Tidak Pernah Dihapus, Hanya Tidak Dianggap Ada.
Wijaya tersenyum tipis, getir.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai sejarawan, ia tidak menulis tentang masa lalu. Ia menulis tentang sesuatu yang sedang terjadi… dan ia tahu, suatu hari nanti, orang akan menyebut masa ini sebagai titik balik.
Pertanyaannya hanya satu:
…siapa yang masih akan tercatat ketika titik itu lewat?
Pergumulan itu terus berlanjut.
Dengan seorang pustakawan yang akhirnya berhenti hanya menjadi penjaga ingatan,
dan mulai memikul beban pilihan, bahwa mencatat saja tidak cukup jika dunia terus melupakan manusia secara sistematis.