Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Hutang Rusa dan Lari Pagi yang Kacau
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah atap kedai terasa seperti tusukan jarum langsung ke bola mata Jian Yi.
Ia terbangun dengan kepala yang rasanya seperti dipukul palu godam berulang kali.
Di sampingnya, Lu Feng masih mendengkur dengan mulut terbuka, memeluk kaki meja yang tadi malam ia puji setinggi langit.
"Oi... Bangun, Pemabuk Bau..." Jian Yi menendang pelan pantat Lu Feng.
"Uh... Meja... jangan tinggalkan aku..." igau Lu Feng sebelum akhirnya tersedak ludahnya sendiri dan terbangun dengan kaget.
Tepat saat kesadaran mereka mulai terkumpul, seorang pria bertubuh kekar dengan celemek penuh noda minyak berdiri di depan mereka sambil berkacak pinggang.
Di tangannya ada selembar kertas panjang yang menjuntai sampai ke lantai.
"Total kerusakan: dua meja hancur, lampu gantung patah, dua puluh kendi arak kualitas rendah, dan trauma mental untuk anjingku," ucap pemilik kedai dengan suara berat. "Totalnya sepuluh koin perak. Bayar sekarang atau aku lapor ke penjaga kota!"
Jian Yi meraba-raba jubah elegannya. Kosong. Ia baru ingat bahwa hartanya sudah ia tinggalkan semua di sekte untuk teman-temannya. Ia menoleh ke Lu Feng dengan penuh harapan.
Lu Feng merogoh sakunya, mengeluarkan satu butir kacang goreng yang sudah lembek dan sebuah kancing baju yang lepas. "Ehem... apakah kau menerima pembayaran dalam bentuk... filosofi hidup?"
Pemilik kedai itu mengambil kapak daging dari balik punggungnya. "TIDAK!"
"LARI, YI! LARI SEPERTI KAU SEDANG DIKEJAR ISTRI MARAH!" teriak Lu Feng sambil melesat keluar kedai dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk orang yang baru bangun mabuk.
Jian Yi, dengan sisa-sisa martabat Grand Master-nya yang compang-camping, ikut melesat di belakangnya. "Ini memalukan! Aku baru keluar gua satu tahun dan sekarang aku jadi buronan tukang daging!"
Setelah merasa cukup jauh dan masuk ke dalam hutan lebat, mereka berhenti dengan napas tersengal-sengal.
"Kita tidak bisa lari terus, Lu Feng. Kita butuh uang." ujar Jian Yi sambil menyandarkan kepalanya di pohon yang dingin.
Lu Feng menyeringai konyol, matanya berbinar licik. "Tadi aku lihat ada papan pengumuman di dekat kedai. Pasar kota sebelah berani bayar mahal untuk daging rusa hutan segar. Bagaimana kalau kita bayar hutang itu dengan hasil buruan?"
Jian Yi menegakkan punggungnya, niat kompetitifnya muncul. "Boleh. Tapi aku tidak mau berburu biasa saja. Siapa yang paling sedikit mendapatkan rusa dalam satu jam, dia harus menggendong hasil buruan pemenang sampai ke pasar. Bagaimana?"
"Hahaha! Kau menantang Raja Hutan, Yi? Baiklah! Mulai!"
WHUSH!
Lu Feng menghilang dalam sekejap, meninggalkan jejak angin hijau. Jian Yi tidak mau kalah. Ia mencabut Ling'er dari sarungnya.
"Akhirnya! Kau menggunakanku untuk sesuatu yang berguna daripada bernyanyi tidak jelas!" seru Ling'er penuh semangat.
"Diamlah, Ling'er! Fokus!"
Jian Yi melompat ke dahan pohon tinggi. Dengan penglihatan Grand Master-nya, ia bisa melihat pergerakan di balik semak-semak. Satu, dua, tiga... ada sekelompok rusa di dekat sungai.
Jian Yi meluncur turun seperti elang. Ia tidak menggunakan tebasan mematikan yang menghancurkan daging, melainkan menggunakan punggung pedang dan tekanan Qi untuk memingsankan mereka agar kualitas dagingnya tetap terjaga.
DUAK! DUAK!
"Dua ekor!" teriak Jian Yi.
Dari arah lain, terdengar suara ledakan kecil. "Tiga ekor, Bocah Tahu Rebus! Aku punya teknik 'Jaring Awan'!" teriak Lu Feng dari kejauhan.
Persaingan menjadi semakin absurd. Jian Yi mulai menggunakan teknik tingkat tinggi hanya untuk menangkap rusa.
Ia melakukan gerakan salto di udara sambil menembakkan butiran energi kecil untuk menjatuhkan rusa-rusa yang mencoba lari.
"Enam!"
"Sembilan!" balas Lu Feng yang sekarang terlihat sedang menyeret tiga rusa sekaligus dengan ikat pinggangnya.
Dalam waktu kurang dari satu jam, hutan itu menjadi sangat gaduh.
Rusa-rusa di sana pasti berpikir bahwa kiamat telah tiba.
Dua pendekar tingkat tinggi yang seharusnya bertarung memperebutkan gelar terkuat di kekaisaran, kini saling sikut dan menjegal kaki satu sama lain hanya agar teman mereka tidak menambah jumlah buruan.
"Waktu habis!" teriak Jian Yi sambil berdiri di atas tumpukan dua belas rusa.
Lu Feng muncul dari balik semak dengan wajah penuh daun, menyeret sebelas rusa. "Sial... aku kalah satu karena rusa terakhir itu menendang mukaku!"
Jian Yi tertawa penuh kemenangan. "Aturan adalah aturan, Lu Feng. Sekarang, ikat semua rusa ini dan gendong di pundakmu. Kita kembali ke kedai itu seperti pahlawan (yang berhutang)."
Lu Feng menggerutu sambil mengikat total dua puluh tiga rusa menjadi satu paket raksasa yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. "Kau ini Grand Master paling kejam yang pernah kutemui..."
"Setidaknya kau tidak bernyanyi lagi, Jian Yi. Itu peningkatan besar." bisik Ling'er puas.
Maka, perjalanan mereka kembali ke kota. Seorang pemuda tampan yang berjalan dengan elegan di depan, diikuti oleh gunungan daging rusa yang berjalan dengan kaki seorang pendekar yang terus-menerus mengomel tentang betapa beratnya hidup ini.