Bagaimana jadinya saat tiba - tiba ibumu menanyakan saat ini berapa umurmu dan menawari hadiah ulang tahunmu yang ke 21 dengan hadiah jodoh?.
"Nis, Nisa sekarang umurmu berapa?." Tanya Dewi tiba-tiba saat masuk kamar putrinya. Nisa yang ditanya sang ibu pun langsung menjawab tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun karena memang sang ibu terkadang sangat random. " Dua puluh tahun sebelas bulan ".
" Berarti sudah boleh menikah, hadiah ulang tahunnya jodoh mau? "Jawab sang ibu yang membuat Nisa kaget dan langsung tertawa.
Nisa yang sudah hafal betul tentang kerandoman ibunya pun berniat meladeni pembicaraan ini yang dia kira adalah candaan seperti yang sudah sudah.
" Boleh... Asal syarat dan ketentuan berlaku, yang pertama seiman, yang kedu-".Belum selesai Nisa bicara dia mendengar ibunya sudah tertawa lepas yang membuat Nisa juga ikut tertawa dan langsung pergi dari kamar putrinya.
Tanpa Nisa ketahui bahwa yang ia anggap candaan itu adalah sesuatu yang serius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PERMATABERLIAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.
Tiga buah mobil berhenti didepan sebuah rumah bergaya modern minimalis. Dari depan nampak halaman yang luas dan lumayan asri.
"Gimana suka?" tanya Bagas kepada Nisa setelah mobil yang ditumpanginya berhenti di depan rumah yang akan mereka tinggali.
"Bagus kok Kak, Nisa suka."
Bagas merasa senang dengan respon Nisa yang suka dengan rumah pilihannya.Ya rumah ini dibangun sesuai dengan selera Bagas karena memang sudah disiapkan olehnya jauh-jauh hari sebelum ia menikah.
"Ayo masuk kita lihat dalemnya." ajak Bagas sambil menurunkan koper yang berada di bagasi mobilnya.
Pindahan ini Bagas dan Nisa hanya membawa baju mereka saja karena memang semua perlengkapan rumah sudah lengkap, bahkan Bagas sudah menyuruh orang untuk menyiapkan semua bahan makanan di kulkas jadi rumah itu memang sudah siap untuk ditinggali.
"Selera kamu bagus Gas." Suci mengomentari rumah yang nantinya akan ditinggali oleh anak menantunya.
Saat semua orang sedang mengobrol diruang tamu, Nisa saat ini sedang menyiapkan camilan dan minuman di dapur. Awal masuk dapur ia sedikit ragu karena mengira bahwa tidak ada bahan makanan, tetapi saat ia membuka kulkas ternyata isinya penuh dan sangat lengkap.
Nisa keluar dengan membawa lima gelas minuman beserta camilannya.Cukup lama mereka bercengkrama hingga saat hari mulai sore barulah orangtua Bagas dan kakaknya pulang. Tentunya mereka pulang setelah memberi sedikit wejangan kepada pengantin baru itu.
"Walaupun udah punya rumah sendiri jangan lupa sering nengokin Mama ya sayang." Ucap Suci kepada menantunya.
"Iya Ma pasti." jawab Nisa seraya tersenyum.
"Mama hati-hati pulangnya, jaga kesehatan juga."sambung Nisa lagi kepada sang ibu mertua.
Nisa melambaikan tangan saat kedua mobil yang dikendarai mertua dan kakak iparnya itu mulai melaju meninggalkan rumahnya, dan baru beranjak saat keduanya benar-benar sudah menghilang dari pandangannya.
Saat Nisa masuk kedalam rumah dan menutup pintu entah mengapa ia merasa canggung lagi kepada Bagas, apalagi mereka hanya berdua karena semua orang telah pergi.
"Ayo ke atas kita lihat kamar kita." ajak Bagas sambil merangkul mesra pinggang Nisa.
Bagas membuka kamar utama yang nantinya akan ia tempati bersama Nisa. Kamar itu terdapat sebuah balkon yang cocok untuk menghabiskan waktu di sore hari.
Mata Nisa berbinar memandang ke dalam kamar itu dan tanpa perlu ditanya lagi ia mengatakan jika menyukainya.
"Aku suka Kak, makasih."
"Kakak tidak tahu selera kamu, tapi kalo ada yang tidak kamu suka kamu bisa merubahnya sesuai selera kamu."
Nisa hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Bagas.
"Kak Bagas mau mandi dulu?"
"Iya, tapi ada kerjaan sedikit jadi setelah itu kakak akan diruang kerja sebentar."
"Oke nanti selagi kakak diruang kerja Nisa masak dulu buat makan malam."
"Terserah kamu saja." ucap Bagas tersenyum memandang Nisa sebelum akhirnya masuk kedalam kamar mandi.
Seperti biasa saat Bagas keluar kamar mandi bajunya telah disiapkan oleh Nisa, dan setelah Bagas berganti baju ia meninggal kamar untuk keruang kerja menyelesaikan pekerjaannya.
*
*
Merasa pekerjaannya telah selesai dan baru sadar bahwa telah meninggalkan istrinya sendirian cukup lama, Bagas bergegas mencari keberadaan istrinya.
Bagas ingat bahwa tadi istrinya mengatakan akan memasak jadi ia turun ke lantai bawah dan menuju dapur.
Tapi apa yang dilihatnya didepan sana nyatanya membuat matanya berbinar senang. Bagas melihat Nisa sedang memasak di dapur tetapi ada satu hal yang berbeda dari sebelumnya.
Nisa saat ini sedang mengenakan sebuah baju tidur mini dress tanpa lengan berwarna
pink soft dengan rambut yang dicepol supaya tidak mengganggunya saat memasak.
Greb
"Ah Kak Bagas kebiasaan." ucap Nisa yang terkejut karena dikagetkan dengan kedatangan Bagas yang tiba-tiba dan langsung memeluknya dari belakang.
"Kak Bagas udah laper ya, bentar lagi masakannya mateng kok sabar ya."sambung Nisa yang mengira bahwa Bagas sudah lapar.
"Kok aku baru lihat baju ini." jawab Bagas yang malah bertanya hal lain.
"Ya karena emang baru Nisa pakai sekarang, kok malah bahas baju Nisa si kak, kan tadi Nisa tanyanya kakak udah laper apa belum." Nisa menjawab sambil mematikan kompornya karena masakannya telah masak.
"Iya Kakak udah laper, laper banget malah."jawab Bagas tetapi dengan maksud lain.
"Oke kalo gitu Kak Bagas duduk dulu biar Nisa siapin makannya."
"Tapi Kakak mau makan yang lain dulu."
"Mau makan apa dulu memangnya Kak?" tanya Nisa yang bingung.
"Kamu udah selesaikan?" tanya Bagas lagi sambil membalik tubuh Nisa agar menghadapnya dan pertanyaan itu malah disalah artikan oleh Nisa.
"Udah kok Kak, Nisa masaknya udah selesai."
Bagas tersenyum karena Nisa salah mengira apa maksudnya.
"Bukan masaknya tapi yang itu." jawab Bagas sambil matanya melihat kebawah sana.
"Oh yang itu ... , menstruasi aku kan maksudnya?"tanya Nisa untuk memastikan.
" Iya."Bagas menjawab sambil tersenyum penuh arti.
"Udah selesai kok."
Nisa menjawab sambil jantungnya berdebar-debar karena mulai mengerti kemana arah pembicaraan Bagas dan maksudnya.
"Boleh?" tanya Bagas meminta izin.
Bersambung
Ternyata ada yang nungguin palang merah berakhir guys hihihi