Dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja.
Namun jiwa seorang pemimpin sudah melekat sejak kecil dalam dirinya. Dan darah seorang raja mengalir dalam tubuhnya.
Carlos, seorang pemuda yang menjadi pewaris dan penerus dari kakek moyangnya Atalarik attar.
Namun tidak semudah seperti apa yang dibayangkan, rintangan demi rintangan harus ia hadapi. Mampukah Carlos menghadapinya?
Penasaran? Baca yuk!
Cerita ini hanya fiksi belaka tidak ada kaitannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
"Siapa anak ini sebenarnya? Ini adalah lambang kerajaan yang dicari-cari oleh Wiliam. Tapi kenapa ada pada anak ini?" batin pria tua itu.
Ia kembali membuka pakaian Carlos, lagi-lagi pria tua itu heran. Ada darah tapi tubuhnya tidak terluka.
Pria itu memeriksa kembali pakaian Carlos ternyata ada lapisan anti peluru dibagian dalam baju itu. Dan darah itu adalah darah palsu.
Pria itu tersenyum akan kecerdikan pemuda yang sedang berbaring itu. Tidak berapa lama Carlos pun membuka matanya.
"Terima kasih kakek," ucapnya.
"Tidak perlu berterima kasih, kenapa kalian bisa seperti ini?" tanya pria itu.
Carlos menoleh ke Diyan yang masih terpejam. Diyan belum sadarkan diri, mungkin pengaruh obatnya belum habis.
"Kami hanya pendatang yang dengan sengaja masuk ke istana. Kemudian kami ditembak, beruntung kami sudah punya persiapan," jawab Carlos.
"Sepertinya kamu bukan orang biasa, terlihat dari cara kamu mengelabui mereka," kata pria itu. "Oya, nama ku Coen Bahram. Panggil saja kakek," imbuhnya.
"Uh...." Diyan melenguh lalu membuka matanya. "Kita dimana ini?" tanyanya yang baru tersadar.
"Berapa biji kakak memakan pil itu?" tanya Carlos.
"Dua," jawab Diyan singkat. Carlos hanya menghela nafas.
"Pil? Pil apa?" tanya kakek Bahram.
Carlos pun menjelaskan bahwa mereka memakan pil yang bisa membuat orang seperti mati dalam waktu tertentu. Kakek Bahram manggut-manggut, ia merasa tertarik mendengar cerita Carlos.
Flashback ...
"Car, apa tidak bahaya kita memasuki istana raja? Kalau kita ditangkap gimana?" tanya Diyan.
"Tenang kak, pakai ini lalu minum ini," jawab Carlos menyerahkan baju anti peluru dan pil untuk diminum.
"Apa ini?" tanya Diyan.
"Pil, masa gak tahu?" jawab Carlos.
"Maksudku fungsinya," ucap Diyan.
"Kakak akan seperti orang mati dalam waktu satu atau dua jam setelah minum ini. Jadi mereka tidak tidak mungkin akan menangkap orang yang sudah mati," ujar Carlos menjelaskan.
Diyan pun kembali menanyakan waktu sadarnya setelah minum obat itu. Carlos mengatakan jika efek obat itu habis maka akan terbangun dengan sendirinya.
Setelah dengan persiapan yang matang, keduanya pun berangkat. Dan pakaian yang mereka pakai akan otomatis mengeluarkan darah seperti darah asli pada umumnya. Jadi jika tidak teliti, tidak akan ada yang menyangka jika darah itu palsu.
Flashback end ...
"Kakek, apa sudah selesai operasinya?" tanya Sofia. Kemudian ia memalingkan wajahnya karena melihat Carlos tidak memakai baju.
"Sudah, mereka tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja," jawab kakek Bahram. Sofia kembali ke dapur untuk membuatkan mereka minuman.
Carlos memperhatikan kakek Bahram dengan seksama. Merasa ditatap, kakek Bahram pun bertanya.
"Ada apa Nak?" tanyanya.
Carlos menggeleng, ia merasa jika orang tua didepannya ini bukan orang sembarangan. Wibawanya seperti seorang pemimpin.
"Ada orang datang, sebaiknya kalian sembunyi terlebih dahulu," kata kakek Bahram.
Carlos dan Diyan pun bersembunyi. Carlos semakin yakin jika orang tua itu bukan orang sembarangan. Sebelum orang itu terlihat, kakek Bahram sudah menyadari kedatangannya.
"Siapa sebenarnya kakek itu? Kenapa ia tahu jika ada orang datang?" tanya Diyan berbisik.
Carlos tidak menjawab dan hanya memberi kode agar Diyan diam. Tidak berapa lama orang itupun masuk.
Carlos dan Diyan terkejut, karena yang datang adalah perdana menteri yang sudah memerintahkan pengawalnya untuk membuang mereka ke sini.
"Itu perdana menteri, kan?" bisik Diyan.
"Ssst ... diam," balas Carlos.
"Yang Mulia." Perdana menteri langsung menunduk hormat didepan kakek Bahram. Carlos dan Diyan saling pandang.
"Ada apa kau kemari?" tanya kakek Bahram.
"Saya diperintahkan oleh raja untuk membuang dua pemuda yang sudah di tembak mati oleh prajurit. Lalu saya buang kemari dengan harapan Yang Mulia bisa menemukan mereka. Saya yakin, mereka berdua bukan orang biasa. Buktinya lencana kerajaan ada pada salah satu pemuda itu," jawab perdana menteri.
"Nak, keluarlah!" panggil kakek Bahram.
Carlos dan Diyan pun keluar, perdana menteri sedikit kaget karena mereka tidak kenapa-napa.
Mereka duduk di lantai saling berhadapan. Dan saling diam untuk beberapa saat. Carlos mengunggu perdana menteri membuka suara.
"Anak muda, siapa kalian sebenarnya? Dan darimana kalian mendapatkan lencana kerajaan negara kami?" tanya perdana menteri.
"Sebelum aku menjawab, aku ingin pastikan dulu apa hubungan Tuan perdana menteri dengan kakek Bahram?" tanya Carlos.
Perdana menteri menoleh ke kakek Bahram, lalu kakek Bahram pun mengangguk. Yang artinya ia setuju untuk di beritahu hubungan mereka.
"Beliau adalah raja terdahulu," jawab perdana menteri. Carlos dan Diyan saling pandang.
"Lalu?" tanya Carlos.
Perdana menteri pun menceritakan kejadiannya. Dari kakek Bahram melepas tahta nya dan di gantikan oleh anaknya.
Namun baru satu tahun naik tahta, anak kakek Bahram dijebak dan difitnah hingga berakhir di penjara.
"Kakek juga akan di bunuh, beruntung perdana menteri menyelamatkan kakek dan cucu kakek. Lalu kakek meminta perdana menteri untuk memalsukan kematian kakek," sela kakek Bahram setelah perdana menteri selesai bercerita.
"Aku tidak bisa lama-lama, nanti raja curiga. Beliau memintaku untuk mencari lencana yang ada pada kalian. Lencana itu ada dua, yang satu ada di tangan raja. Jika sampai raja memiliki keduanya, maka seluruh kekuasaan ada ditangannya," kata perdana menteri menjelaskan.
Carlos pun mengatakan jika lencana itu adalah pemberian sang kakek buyut. Carlos juga mengatakan keinginannya yang sudah di amanah oleh kakek buyutnya.
Kakek Bahram langsung memeluk Carlos karena Carlos adalah keturunan raja Atalarik attar.
Kakek Bahram pun menceritakan jika dirinya terpilih menjadi raja berkat kakek Abbas melalui sahabat kakek Abbas yaitu Zero.
"Kalau begitu saya permisi," kata perdana menteri.
"Paman, boleh aku minta bantuan?" tanya Carlos.
"Katakan," jawab perdana menteri.
"Ambilkan barang-barang di hotel yang dekat dengan istana. Dan nomor kamar 3606. Oya, kalau bisa bawa kemari," pinta Carlos.
"Baik, tapi saya tidak bisa datang setiap hari. Biasanya sebulan sekali untuk mengantar bahan makanan kepada Yang Mulia," jawab perdana menteri.
Carlos pun setuju, kemudian perdana menteri pun segera kembali ke istana setelah memastikan Carlos dan Diyan baik-baik saja.
"Yang Mulia," ucap Carlos.
"Hehe, jangan bercanda Nak, panggil kakek saja," ujar kakek Bahram sambil tertawa .
Sofia datang membawa minuman, sedikit terlambat karena ia harus menunggu airnya matang.
"Silakan di minum Tuan," kata Sofia sambil tertunduk. Ia tidak berani menatap wajah Carlos.
"Panggil nama saja, namaku Carlos," ujar Carlos.
"Aku Diyan," ucapnya memperkenalkan diri.
"Oya kek, aku ingin ke hutan untuk berburu," pamit Sofia.
"Pergilah, tapi jangan lama-lama," ujar sang kakek.
"Boleh aku ikut?" tanya Carlos.
"Pergilah, sekalian menemani cucuku," jawab kakek Bahram.
"Aku juga ikut," kata Diyan.
"Kamu disini saja temani kakek," larang kakek Bahram. Diyan mencebikkan bibirnya karena tidak diizinkan untuk ikut.
mending perang apa bunuh²an aja .. wkkwkw