NovelToon NovelToon
Hipertenlove

Hipertenlove

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Teen Angst / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:141.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

Menyukai seseorang itu bukan hal baru untuk Bagas, boleh dibilang ia adalah seorang playernya hati wanita dengan background yang mumpuni untuk menaklukan setiap lawan jenis dan bermain hati. Namun kenyataan lantas menamparnya, ia justru jatuh hati pada seorang keturunan ningrat yang penuh dengan aturan yang mengikat hidupnya. Hubungan itu tak bisa lebih pelik lagi ketika ia tau mereka terikat oleh status adik dan kakak.

Bagaimana nasib kisah cinta Bagas? apakah harus kandas atau justru ia yang memiliki jiwa pejuang akan terus mengejar Sasmita?

Spin off Bukan Citra Rasmi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hipertenlove~ Bab 18

Kang Widya meninggalkan keduanya saat asistennya memanggil dan menghentikan konser mini mereka.

"Yaaa....konser udahan deh!" Sasi berseru dan terkekeh.

"Lain waktu ya den rara. Nanti ikut lah kalo ada pentas rutin di depan turis, minggu besok tuhh...ada turis dari Jerman yang datang ke saung, den...kalo gitu akang tinggal dulu."

Bagas menghampiri dengan sedikit melompat-lompat melewati bonang, kecapi dan jentreng. Sementara Sasi masih anteng memukul-mukul gambang meski terjeda-jeda dan salah nada saat ia mencoba mengingat nada irama sebuah lagu.

"Eh, apa ya lupa lagi..." lirihnya bergumam memperhatikan deretan bambu.

"Cik! A Bagas cobain, Si..." pintanya pada Sasi.

"Oh, sok atuh...a Bagas mau belajar? Gampang da..." ujarnya menyerahkan pemukul lain pada Bagas, lalu mengajarinya.

"Nadanya sama kaya angklung kok, da--mi--na--ti--la." Sasi memegangkan pemukul di tangan Bagas. Keduanya tertawa saat Bagas melakukan kesalahan berulang kali, "hahaha, bukan yang itu ih! Aa mah bodo!" umpat Sasi.

"Ngga ada manusia yang bodo, neng. Catet..."

"Iya...iya...maaf." angguk Sasi melanjutkan mengajarkan Bagas, namun kembali ia marah dan kesal saat Bagas kembali melakukan kesalahan, "katanya anak band!"

Nyatanya butuh waktu untuk belajar. Dari doremi, ke daminatila cukup membuat Bagas berusaha keras.

Kondisi hatinya tak kunjung membaik, apalagi saat kini Sasi berlatih jaipongan bersama teh Iceu, bocah itu seolah memiliki aura menaknya lagi. Persis seperti saat 3 tahun lalu, tak berubah sedikit pun, justru aura yang mengikat itu semakin terasa kuat menguasai hati.

Bagas benar-benar dibuat bertekuk lutut kembali tak bisa berkata apapun, melihat lekukan tubuh yang biasanya ditutupi seragam atau baju kebesaran, kini justru hanya dilapisi manset hitam mencetak tubuh dengan legging senada dan selendang hijaunya melenggak-lenggok di depannya.

Bahkan hanya tatapan Sasi yang lelah saja mampu mengusir Salsa dari hatinya saat ini. Salahnya yang kekeh dan ngeyel mengantar Sasi, mungkin selama dua bulan ke depan ia harus menyibukan diri berusaha keras mengenyahkan bayangan Sasi yang telah menjeratnya.

Ia jatuh cinta, sejatuh-jatuh cintanya pada Sasi, adiknya.

Ia menyodorkan tumbler milik Sasi, dimana gadis itu sudah bersimbah keringat dan selesai latihan dengan letih.

Bahkan keringatnya saja menguarkan aroma wangi, dan anehnya Bagas suka.

"A...jam berapa ini? Pulang aja yuk, a Bagas bukannya mau latihan sekaligus gladi? Kapan manggungnya?" tanya Sasi mencoba mengelap keringat dari garis wajahnya.

"Besok."

"Si..."

"Hm?" mata bulat itu menatap Bagas seraya beristirahat barang sejenak di pinggiran pendopo, sepeninggal teh Iceu.

Tangannya nakal terulur membawa anak rambut Sasi yang keluar dari ikatan dan terbasahi menempel di kening oleh keringat.

Dengan penuh kesadaran, Bagas telah menciptakan suasana canggung antara mereka, dan Sasi dapat merasakan itu.

"A." Ia benar-benar tak bisa menahannya lagi. Tindakan Bagas sudah lancang, begitupun hatinya yang sudah kurang ajar mengikuti aliran arus menyukai Bagas.

"Jangan kaya gini..." tatap Sasi dengan sorot mata memohon.

"Soalnya percuma Sasi ngga akan baper sama buaya." Elak Sasi beralibi, meskipun bohong! Hatinya telah terguncang dan diliputi perasaan nervous.

Bagas terkekeh renyah, ia pun sama halnya dengan Sasi, tengah merutuki sikapnya itu sekarang. Lambat nan perlahan, tangannya merambat menyentuh tangan Sasi lalu menggenggamnya. Kemudian ia mendaratkan tatapan hangatnya pada Sasi lagi.

Ia tau, jika ucapan Sasi barusan sebenarnya adalah pernyataan yang berbanding terbalik dengan kondisi hati Sasi saat ini. Nyatanya Sasi tak menolak perlakuannya. Meski Sasi cukup tersentak pada awalnya, namun gadis itu sama sekali tak berniat menolak.

"Besok, kalo Sasi mau....Sasi bisa nonton konser. Dari pinggir stage, dari tempatnya crew..."

Sorot mata Bagas itu, seperti sedang berkata lain...berharap Sasi ikut dan menemaninya. Kembali, Sasi peka akan hal itu.

"Iya a. Sasi mau."

Senyum keduanya terurai, dengan Bagas yang kemudian mengacak pucuk kepala Sasi lalu meraihnya ke dalam pelukan.

Seperti sebuah hipnotis, Sasi menerima saja apa yang dilakukan Bagas padanya.

Tanpa harus berkata atau mengucap ikrar, mereka tau sama tau arti dari pelukan dan seluruh perasaan yang mengalir saat ini.

Nyatanya perasaan bahagia nan berbunga itu tak bisa bertahan lama mengingat semua tanjakan dan turunan yang akan dilalui, kerikil tajam dan kelokan curam di depan sudah pasti menanti jika keduanya memaksakan bertumbuh dan berkembangnya perasaan.

Sasi melepaskan kedua tangannya dari punggung Bagas dan mendorong badannya pelan, menghentikan arus yang akan membawa mereka semakin hanyut.

Sadar akan ekspresi Bagas, Sasi angkat suara, "ngga etis, a." Sasi tersenyum miring dan bergegas membereskan barang-barangnya, "Sasi pamit dulu sama teh Iceu." ia beranjak dari tempatnya dengan mencangklok tasnya dan memangku sweter, meninggalkan Bagas disana sendirian.

Sasi terus saja menggeleng, padahal Bagas sudah lirih berkata, "kalo a Bagas sayang kamu beneran gimana, Si?"

Sasi terhenti di tempat dengan kaki telan janknya yang mulus tanpa cela. Sebentar diam, namun kemudian bibirnya mencetak senyuman miring yang berubah menjadi getaran di bibir, terlalu banyak rintangan, terlalu kokoh benteng dan terlalu pelik, tak menutup kemungkinan mereka akan berda rah-da rah. Sasi tak yakin juga, jika akan ada pihak yang membela termasuk ibun, om Nata, kang Alva, teh Asmi bahkan a Bajra dan a Candra sekalipun.

"Kalo gitu a Bagas tau, kalo aa bakalan berda rah-da rah." Sasi melanjutkan langkahnya ke dalam.

Sasi turun dari motor Bagas, langsung pulang ke rumah tidak mampir ke rumah Asmi. Toh, amih juga sudah pulang rupanya.

"Langsung bersih-bersih...terus kerjain tugas, makan, tidur..." Bagas menerima salim takzim dari Sasi yang terkekeh-kekeh saat ia memberikan pesannya, dan kedua tangan yang bertaut itu masih enggan untuk mereka lepaskan.

"Iya...ngga sekalian cuci kaki---cuci tangan, gosok gigi?" tawa Sasi renyah, "kaya anak tk."

"Mau dikelonin buaya..." tambah Sasi memancing tawa Bagas dengan tangan satunya mengusap kepala Sasi. Entah berapa kali sesorean ini ia mengusap kepala Sasi.

"Besok jam berapa?" tanya Sasi masih setia menggenggam tangan Bagas, layaknya sepasang kekasih.

"Jam 3 aa jemput."

Sasi mengangguk, manggungnya jam berapa? Ngga usah dijemput atuh, masa nanti artisnya mau manggung dicariin crew malah lagi jemput..."

"Besok biar Sasi dianter mang Ujang aja, sekalian ke padepokan silat...Kan lumayan, bajunya sama-sama item."

(..)

"Bye..."

Sasi masuk ke dalam rumah, tanpa harus menunggu sampai Bagas keluar dari pelataran rumahnya.

"Neng...keluarga dari Cigugur, dari Cirendeu, dari kasepuhan sama uwa-uwa, mang--bibi mau pada ke Bandung buat liat den Falit. Sekalian acara aqiqahan...." Amih menyentuh bahu Sasi, mengusap pucuk kepalanya seolah sedang membersihkan sesuatu dari sana.

"Terus?"

"Ya, nanti...mereka bakalan mondok disini. Karena ngga mungkin kan di rumah tetehmu. Rumah ini lebih besar buat nampung...."

Sasi mengangguk-angguk paham dan melengos masuk.

"Oh iya...." ucapan menggantung amih menghentikan langkah Sasi.

"Rencananya, nanti....Wilang tinggal disini, pindah sekolah bareng neng Sasi."

Dan pernyataan itu sukses membuat Sasi menoleh, "oh, Wilang kesini? Loh, bukannya dia juga lagi sekolah di Cigugur? Kenapa harus pindah?" tanya Sasi.

"Amih sama apih yang minta, biar neng ada yang temenin di sekolah...." jawabnya membuat Sasi mengernyit tak paham.

.

.

.

.

.

1
Calista
itu mkn waktu brp hr ya klu ad angkot jurusan cibaduyut ke korea.
Yuliasih Dila
Keren bangett...luarbiasa
jumirah slavina
wwoooiii Sasiii....
Kamu kemanaaaa....
ko' gak nongolllll.....
Ney Maniez
menangg ge gak dikasih reward sasi,, yg ada dihukum/Grimace//Grimace//Grimace//Grimace/
Ney Maniez
congratulations sasiiii..
tp kasian jugaa ya
jumirah slavina
Sasi & Bagus kena hukum Amih ya Thor jd lama gak nongol
Syifa Komala Fathir
selalu bagus karya karya nya
Dyah Ayu
ini klo Sasi udh sampe di batas kesabarannya pasti lebih parah dari Asmi..
🌽Mrs.Yudi 𝐙⃝🦜🍇
kisah sasi, ga kalah dinamisnya sama kisah kakaknya....
semangat mbksin bikin sasi vs amih membara yah! 😉
🌽Mrs.Yudi 𝐙⃝🦜🍇
dan...aku sampe disini mbk sinta....

beugh, sasi masih sma udah terjal aja jalan hidupnya, masih dengan amih yang sama ternyata....
🌽Mrs.Yudi 𝐙⃝🦜🍇: haii 🤗😘😍
🌼 Incess Hatari 🌼: ibuuu😘😘😘
total 2 replies
Mika Saja
oh.....dl aa candra kabur sm teh katresnan to,,,,ayo si ada temannya yg pembangkan bisa dicontoh lah aa candra🤭🤭🤭
Mika Saja
amih mah keras sekeras batu,,semoga nti bisa berubah,gengsi aja ditinggin
isni afif
lanjut teh sin.....
Yuni Widiyarti
kok kuat banget ya jadi sasi.aku miris banget sama dia.disaat yg lain bangga akan pencapaiannya dia hrs makin tertekan dengan prestasinya
Vike Kusumaningrum 💜
Semangat membangkang Sasi, teruslah berbuat sampai Amih menyesali tindakannya, orang seperti Amih mah yang ini dituruti, terus nuntut , emang begitu. anak kalau biasa dikasari, biasa dihukum dia akan kebal dan akan mengulanginya. amih jadi kebiasaan menekan anak, kalau Asmi hampir stress mungkin sasi nanti gila. baru Amih akan sadar, atau mungkin sudah di titik lelah, Sasi bundir trus dikuatkan Bagas, baru Amih benar2 sadar. aaah kasihan kan a' sm nasib adek²annya. sehat selalu kak Sin 🤲🤲 kmna wae euy ? lama 😭😭
Bunda AL: ka sin..kmn aja ko blm update lagi.. pdhl q ngguin kelanjutan cerita ny..sehat dan tetap semangat buat ka sin..aamiin🤲🤲
total 1 replies
Yuni Widiyarti
gimana sis si orang berbuatnya berani masak tanggung jawabnya takut.anggap aja latihan minta restu buat nikahan Ning sasi sama aabagas kelak...semangat
MPit Mpit MPit
astaga si amih ituh ihh bener bener akuh mah mau banget ngagetok..
isni afif
lanjut...teh sin....
Fadilah
si Amih mah kayaknya orang tua egois ih, gk d jadikan pelajaran dulu"nya malah makin jadi kayaknya
Marliyanipratama
heeh nya eceu mah t ngarti te ningal k tukang ka jadian asmi kumha cenah pek danguken saran ti besan tuh ibun conto na ngebebasin anak nya tpi masih bisa di kontrol, sadar mih sadar ulah ampe amih nyesel... apa mau neng bawa amih k tujuh curug beh sirah amih te ulah batu" teuing... kudu kitu nya si amih teh di ruat atawa di ruqiah...
Vike Kusumaningrum 💜: hahahha, bener.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!