Kecubung Biru hanya bisa menatap getir. Akan Bumi Menoreh yang membara.
Diantara pertikaian ayah dan pamannya, Pulung Jiwo dan Ronggo Pekik.
Juga mesti membantu perjuangan Diponegoro dalam melawan Kumpeni.
Perang ini mesti mengabaikan segala kepentingannya, asmara yang membara dan kesehariannya yang sunyi, untuk dilewatkan bersama kepingan dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Pesisir
Mereka berhasil menyeberangi sungai. Dalam keadaan basah, masih terus menatap arah lawan menyerang tadi. Mereka kembali mengisi senapan. Dan menembakkannya pada musuh.
“Mundur! Mundur! Kita akan melindungi kalian,“ kata serdadu yang sudah di seberang dan senapannya telah mengarah pada para pengejarnya.
“Tolong dia semakin dekat,“ serdadu itu terus lari dengan dikejar musuh. Berusaha secepat mungkin menjangkau tepian. Tak seperti kawan disampingnya yang tak sempat mendarat karena pedang musuh menusuk punggungnya.
“Akan ku tembak dia!“
Dan yang terlambat langsung terkena peluru pistol laskar Diponegoro hasil rampasan.
“Terus kejar! Mumpung mereka lagi mundur.“
“Dan banyak yang tenggelam.“
Kami terus memberi semangat agar dalam kondisi yang sedikit di atas angin ini bakalan bisa membuat mereka semakin kekurangan kekuatannya. Dan waktu berikutnya tak akan mampu membuat kita ditekan lagi.
Melihat banyak yang tewas, Kumpeni melepaskan tembakan dari seberang sungai. Yang tentu saja membuat laskar menghentikan penyerangan dan hanya mengawasi dari kejauhan.
Kegiatan ini dilakukan untuk melindungi yang masih ada. Juga supaya lawan bisa tewas karena ledakan itu.
Para laskar yang mengejar terus terkena tembakan. Yang lain sudah menghentikan perburuan. Sementara yang asik mengejar terus, tak mendengar seruan mundur. Mereka ini yang langsung terkena peluru musuh.
Diserang para serdadu menghentikan tembakannya. Setelah para laskar tak terlihat. Dan jangkauan senjata mereka tak sampai. Atau tanpa arah. Lalu mereka kembali.
Para Laskar sama-sama mundur, untuk menyusun strategi kembali di hari esok. Kemenangan ini menambah semangat. Satu waktu bakalan kembali menyerbu. Kalau perlu menyerang benteng yang kini tinggal dijaga 400 orang.
Yang jelas kini tak perlu terus memburu. Sia-sia. Karena bakalan terjadi korban lagi di pihak sendiri. Kalau memaksakan menyeberangi sungai. Sudah sama-sama lelah, tapi posisi yang membentengi mereka untuk lebih kuat.
Hanya saja Pangeran Diponegoro bimbang, untuk melakukannya, bagaimanapun si kecil masih keponakannya, yang juga murid kesayangan, sekaligus anaknya.
Ini yang kadang sedikit membingungkan. Sekaligus sedikit mengendurkan perjuangan. Karena atasan kita bimbang dan ragu.
Kami istirahat.
Sebagian besar melepaskan lelah. Sebagian lagi mengerang-erang. Sebagian memakamkan yang mati. Sebagian berikutnya merawat temannya yang luka.
“Adaah adah......“
Seorang terluka menjerit-jerit.
“Kenapa?“
“Sakit....“
“Apanya yang kena?“
“Kepala hampir putus.“
Lalu kepala itu disambung dengan kayu lembut. Dan dikasih obat yang mujarab.
“Ini kaki kiwir kiwir...“ tunjuk yang lain. Dia menunjuk kaki yang terkena pecahan meriam. Dia tak sempat menghindar, saat peluru besi bulat itu menggelinding. Rekannya yang berada tepat di jatuhnya peluru, langsung binasa. Dia di dekatnya dan tak bisa menghindar dari bencana. Itu yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Untung rekannya ada yang menyeretnya agar tak berada di lokasi. Lalu disambut dengan para laskar wanita yang mengobati di barak belakang.
“Wuaduh aku.... “
“Ini lagi.“
“Tangan putus,“ ujarnya. Dia menunjukkan tangan. Yang luka. Kelihatannya oleh sabetan benda tajam. Bukan karena peluru.
“Iya disambung bambu dulu saja ya....“
Para laskar putri membuatkan obat, memboreh luka, meminumkan anggur yang digunakan sebagai pembius, untuk mengurangi rasa sakit bagi yang terluka. Baik kena pecahan meriam maupun sabetan senjata hingga menimbulkan luka terbuka. Mereka-mereka ini yang merasa tak kuat melawan kehebatan musuh. Tetapi ingin membantu perjuangan. Makanya ditaruh pada barisan belakang. Sebagai tenaga cadangan kalau terdesak hebat. Dan ika sedang tak beraktifitas, membantu mengobati para prajurit yang terluka.
Berikutnya, membuat makanan dan minuman. Apa saja dimasak. Demi membuat kuat para laskar. Ada beras, dimasaknya. Dipakainya dandang-dandang yang besar. Dengan kayu bakar yang banyak tersebar langsung direbus hingga layak makan. Jadi nasi yang lumayan keras.
Lalu ada umbi yang dikasih penduduk. Dikumpulkan bersama makanan lain. Dan dimasak bersama juga.
Penduduk memberi hasil panenan di kebunnya. Ada singkong, ubi jalar, gadung hingga bisono. Itu rejeki yang lumayan andai dimakan bersama-sama kala tengah kumpul begini.
“Nah ini makan,“ ujarnya pada kami.
“Apa?“
“Rames.“
“Wih ada yang jualan,“ kami keheranan. Biasanya makanan itu ada di warung. Dimakan dengan sayur dan lauk yang nikmat-nikmat. Kini ada disini, siapa tak suka.
“Kita buat sendiri hanya dibungkus daun pisang,“ jawab laskar wanita itu. Menanggapi keheranan kami. Ini dibuat demi memudahkan dalam membagi. Kalau prasmanan, pasti ada yang tak kebagian, namun yang mengambil dahulu akan mengambilnya banyak-banyak. Karena kondisi lapar. Makanya demi kebersamaan, mereka mesti membaginya dalam bungkusan sederhana itu.
“Ada yang kayu jati?“ tanya kami. Dalam daun itu ada sedikit rasa yang berbeda dan sedikit khas. Membuat pada kangen dimana sebagian besar makanan tersebut terbngkus daun pisang yang bentukannya tak sulit serta mudah didapat di perkebunan penduduk, tak harus ke hutan.
“Ini tapi sedikit.“ Dia memberikan makanan yang dibungkus dengan dedaunan yang semakin langka saja. Hanya ada di hutan-hutan liar. Disana banyak tumbuhan besar itu yang tumbuh.
“Nah rasanya lebih terasa. “
Hari itu kita istirahat bareng. Sedikit merayakan kemenangan. Yang diperoleh dengan susah payah. Mesti mengorbankan segalanya. Bahkan nyawa suatu saat bisa melayang. Makanya hal ini demikian kami syukuri kalau perlu dipertahankan pada pertempuran lainnya. Yang semakin mengarahkan kita kepada kemenangan nantinya. Peristiwa kali ini sedikit banyak bisa menambah semangat kami pada langkah-langkah berikutnya dalam berorganisasi. Dan kemungkinan penambahan tenaga juga akan melonjak, akibat kepercayaan penduduk untuk mendukung perjuangan.
Istirahat kami selesai. Rasa lelah sudah hilang. Sudah berganti waktu. Yang meninggalkan kita semalaman. Berikutnya mesti melanjutkan langkah agar semakin pasti kita dalam memperoleh kemenangan.
Kami kemudian berpencar berusaha mempertahankan wilayah yang kini masih berada dalam kegembiraan menang perang. Kita dibagi dalam berbagai kelompok. Untuk mengawasi sekitar wilayah tanggung jawab. Sehingga bisa mempertahankan kalau sewaktu-waktu ada musuh menyerang lagi.
Beberapa waktu mendatang para laskar bakalan menyerang secara terbuka kembali. Mereka hendak menunjukkan kekuatan. Dan semakin mendekat pada pusat kota.
“Begitu ya.....“ kami meyakinkan apa yeng kami dengar itu.
“Benar. Kita bakalan menyerbu. Mungkin langsung ke kedaton. Biar segera bisa kuasai. Dan musuh langsung angkat kaki dari sini.... “
Itulah rencananya. Andai menang maka kita akan menguasai suatu wilayah yang kemungkinan tak harus bergerilya. Yang di cap negatif oleh dunia bahkan dituduh sebagai pengacau keamanan. Bahkan lebih menyedihkan di anggap perampok. Makanya kita butuh kemenangan untuk mempertahankan wilayah.
Kami mengikuti Bagus Sodewo di tepi barat bengawan Progo. Disana wilayahnya kami kenal dan bisa di awasi dengan lebih teliti. Wilayahnya juga luas. Banyak hutan. Disamping itu pegunungan juga banyak. Bisa dijadikan benteng pertahanan alami yang tak perlu mengeluarkan biaya banyak. Alam begitu saja membantu kita dalam segala hal.
sejauh mana mengerti detilnya Thor 🤗🤗🙏🙏 ada yang ingin saya ketahui
Kutunggu kedatangan kalian
Terima kasih