"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Akad di Kota Santri
Satu Napas Menuju Halal
Di bawah naungan kubah masjid yang tua,
Dua takdir kini bersimpuh dalam doa.
Bukan lagi tentang jarak Nil dan Jawa,
Tapi tentang janji yang mengikat jiwa.
Tangan terjabat, saksi pun berkata 'Sah',
Segala rindu kini tak lagi berujah.
Hari ini Mas Azam menemukan pelabuhan,
Dalam ikatan suci yang diridai Tuhan.
Kabut tipis masih menyelimuti sebuah pondok pesantren besar di Jawa Tengah saat rombongan Ayah dan Bunda tiba. Suara lantunan selawat dari para santri terdengar bersahut-sahutan, menyambut kedatangan rombongan mempelai pria. Mas Azam tampak begitu gagah mengenakan jas putih bersih dengan kalungan melati yang aromanya memenuhi udara pagi itu.
Di sampingnya, Gus Zidan berjalan dengan tenang bersama Abinya, Kyai besar dari pesantren sebelah yang bertindak sebagai saksi kehormatan. Zidan bisa merasakan betapa dinginnya telapak tangan Mas Azam saat mereka berjalan menuju masjid utama pesantren.
"Tenang, Mas. Doktor Azam biasanya tenang di depan penguji, kenapa sekarang gemetar?" bisik Zidan mencoba mencairkan suasana.
Mas Azam tersenyum kecut. "Gus, menghadapi penguji S3 itu cuma urusan otak. Kalau akad nikah ini urusan dunia akhirat."
Masjid Al-Ikhlas sudah penuh sesak. Di depan meja akad, duduk Abah dari Khadijah. Prosesi dimulai dengan khidmat. Saat tangan Mas Azam menjabat tangan Abah Khadijah, seluruh ruangan mendadak hening.
"Ananda Muhammad Azam bin Ahmad, saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya, Khadijah binti Kyai Hasan, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan kitab Shahih Bukhari tunai!"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Khadijah binti Kyai Hasan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" jawab Mas Azam dalam satu tarikan napas mantap.
"Saksi, sah?"
"SAH!" jawab jamaah serempak.
Setelah doa penutup dan prosesi sungkeman yang mengharukan, keluarga besar berkumpul di serambi masjid untuk ramah tamah. Di saat itulah, Abi dari Gus Zidan berdehem, menarik perhatian Ayah Mas Azam dan Kyai Hasan (Abah Khadijah).
"Kyai Hasan, Pak Ahmad," ucap Abi Zidan dengan nada berwibawa namun tenang. "Hari ini kita menyaksikan sejarah baru bagi Mas Azam. Tapi, sepertinya putra saya, Zidan, sudah tidak sabar ingin menyusul jejak sahabatnya."
Zidan tersentak, wajahnya mendadak panas. Ia tidak menyangka Abinya akan bicara secepat ini.
Abi Zidan menatap Ayah Mas Azam dengan sungguh-sungguh. "Mumpung kita semua berkumpul di sini, di tempat yang mulia ini. Bagaimana kalau sekalian saja kita ikat janji untuk Bungah? Saya ingin meminang Bungah untuk putra saya, Zidan. Jika Pak Ahmad berkenan, kita langsungkan saja akad nikahnya secara gantung atau kita tentukan tanggal pastinya sekarang. Zidan sudah terlalu lama menunggu mentarinya pulang."
Ayah Mas Azam tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar menatap Zidan yang tertunduk malu namun nampak tegas. "Kalau soal itu, Kyai... sepertinya Bungah pun sudah memberikan kuncinya pada Gus Zidan sejak lama. Saya sebagai orang tua hanya bisa rida."
Zidan memberanikan diri mendongak. "Mohon izin, Ayah... Abi. Jika diperbolehkan, saya ingin akad nikah kami dilangsungkan tepat saat Bungah menginjakkan kakinya kembali di bandara nanti. Saya ingin kepulangannya adalah perjalanan menuju rumah yang halal."
"Masya Allah!" Kyai Hasan ikut menimpali. "Hari ini satu pernikahan sah, dan satu janji suci terpatri. Semoga Allah memberkahi niat mulia ini."
Gus Zidan berdiri dari duduknya lalu ia mengambil hp nya di nakas lalu ia menyalakan ponsel nya itu dan membuka aplikasi WhatsApp,lalu ia menyacari nama,bungah,lalu ia telfon,vidio kol.