NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Gitagracia Gea

Genre: Romance Drama


"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."

Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.

Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.

Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalinya Hari Yang Pernah Hilang

Pesan dari ayahnya membuat jantung Nara berdebar kencang. Sudah delapan tahun sejak dia terakhir bertemu dengannya – saat dia harus pergi dari rumah untuk mencari kerja di Jakarta agar bisa membantu biaya pengobatan ayahnya yang sakit parah.

"Aku tidak bisa percaya dia menghubungiku," bisik Nara sambil menatap layar ponselnya. Dia sedang duduk di taman kota bersama Dito, Reza, dan Rendra setelah acara yang sukses kemarin.

"Kamu harus bertemu dengannya," ucap Rendra dengan suara lembut. "Mungkin dia punya sesuatu yang ingin katakan padamu. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan."

Nara mengangguk perlahan. Dia tahu bahwa Rendra benar. Selama bertahun-tahun, dia menyimpan rasa sakit dan kecewa terhadap ayahnya yang dulu harus meninggalkannya sendirian di kota kecil itu. Tapi sekarang, saat dia sudah dewasa dan mengerti lebih banyak tentang hidup, dia merasa sudah saatnya untuk menghadapi masa lalu yang belum selesai.

Pada hari berikutnya, Nara datang ke rumah tua yang dulu menjadi tempat tinggal keluarganya sebelum dia pergi ke Jakarta. Rumah itu sudah berubah pemilik dan direnovasi, tapi bentuk dasarnya masih sama seperti yang dia ingat.

Di halaman depan rumah, seorang pria berambut sudah mulai berpudar dengan wajah yang penuh kerutan sedang menunggunya. Itu adalah ayahnya – Bapak Safitri.

"Nara," panggilnya dengan suara yang sedikit getar saat melihat putrinya datang. "Kamu sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik dan kuat."

Nara merasa air mata mulai menggenang di matanya. Dia ingin berlari dan memeluknya, tapi rasa sakit masa lalu masih membuatnya ragu.

"Apa yang kamu inginkan dariku, Bapak?" tanyanya dengan suara yang tenang tapi penuh emosi.

Mereka masuk ke dalam rumah yang sekarang sudah menjadi kediaman keluarga baru, tapi pemiliknya dengan senang hati menyewakan ruang tamu untuk mereka bertemu. Setelah duduk, Bapak Safitri mulai bercerita.

"Aku tahu bahwa aku telah gagal sebagai ayah untukmu," ucapnya dengan suara yang penuh rasa menyesal. "Saat kamu harus pergi ke Jakarta sendirian pada usia muda, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berbaring di tempat tidur karena sakit. Aku merasa sangat tidak berharga sebagai ayah dan suami."

Dia mengambil sebuah amplop dari kantong jasnya dan menyerahkannya kepada Nara. "Ini adalah semua uang yang aku kumpulkan selama ini dari bekerja sebagai penjual sayur di pasar. Aku tahu ini tidak cukup untuk mengganti semua yang kamu lewati, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu berusaha untukmu."

Nara membuka amplop dan melihat tumpukan uang yang sudah dihitung rapi. Air mata akhirnya menetes dari matanya. Semua rasa sakit dan kecewa yang dia simpan selama bertahun-tahun mulai sirna digantikan oleh rasa kasihan dan cinta kepada ayahnya.

"Aku tidak pernah menyalahkanmu, Bapak," ucapnya dengan suara yang menangis. "Aku hanya merasa sedih dan sendirian saat itu. Tapi aku tahu kamu sudah melakukan yang terbaik untuk kami."

Mereka saling memeluk dengan erat, menangis bersama sambil melepaskan semua beban yang telah mereka simpan selama bertahun-tahun. Setelah itu, Bapak Safitri menarik napas dalam-dalam dan mulai bercerita tentang sesuatu yang dia simpan selama ini.

"Saat kamu pergi ke Jakarta, aku bertemu dengan seseorang yang mengubah hidupku," ucapnya. "Dia adalah seorang dokter yang membantu aku sembuh dari penyakitku dan mengajarkanku untuk tidak menyerah pada hidup. Dan dia juga memberitahuku tentang seseorang yang selalu memantau perkembanganmu dari jauh."

"Siapa?" tanya Nara dengan rasa penasaran.

"Bapak Bambang – bosmu yang sudah meninggal dunia," jawab Bapak Safitri dengan senyum lembut. "Dia adalah teman sekolahku yang sudah lama tidak bertemu. Saat aku memberitahukan padanya bahwa kamu bekerja di perusahaan nya, dia sangat senang dan selalu memastikan bahwa kamu mendapatkan kesempatan yang layak. Dia bahkan pernah datang ke kota ini untuk memeriksa kondisiku tanpa kamu tahu."

Nara merasa seperti terkena petir. Semua ini waktu dia berpikir bahwa kesuksesannya di Jakarta hanya karena kerja kerasnya sendiri, tapi ternyata ada orang yang selalu membantunya dari balik layar.

"Saat dia sakit parah sebelum wafat, dia memintaku untuk menjaga kamu dan memastikan bahwa impianmu untuk membantu anak-anak tetap tercapai," lanjut Bapak Safitri. "Itu sebabnya aku menghubungimu sekarang – karena aku ingin membantu kamu dalam proyek besar yang sedang kamu jalankan."

Di kantor yayasan Bakti Anak Indonesia, Rendra sedang berkumpul dengan timnya untuk merencanakan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka sedang membahas detail program yang akan dijalankan di seluruh Indonesia – mulai dari pelatihan instruktur hingga pembangunan pusat pendidikan kreatif di berbagai daerah.

"Sekarang kita punya dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat," ucap Rendra dengan semangat yang tinggi. "Kita bisa membantu ribuan anak-anak di seluruh Indonesia menemukan bakat kreatif mereka."

Pada saat yang sama, Dito dan Reza sedang mengunjungi beberapa desa terpencil untuk mengevaluasi lokasi-lokasi yang akan menjadi sasaran program nasional. Mereka melihat kondisi sekolah yang masih sangat sederhana tapi anak-anak yang memiliki semangat belajar yang luar biasa.

"Sekarang kita punya kesempatan untuk mengubah hidup mereka semua," ucap Reza kepada Dito sambil melihat anak-anak yang sedang bermain dengan mainan yang mereka buat sendiri dari bahan alam.

"Sangat benar," jawab Dito dengan senyum. "Dan semua ini tidak mungkin terjadi tanpa perjuangan dan dedikasi Nara."

Malam itu, seluruh tim proyek berkumpul di taman kota untuk merayakan keberhasilan mereka dan merencanakan langkah selanjutnya. Anak-anak juga datang dengan membawa karya seni baru yang mereka buat, berbagi cerita dan tawa bersama.

Nara datang bersama ayahnya dan Bu Lina. Saat mereka memasuki taman, semua orang menyambut mereka dengan tepuk tangan yang meriah. Anak-anak berlari mendekatinya dengan wajah yang penuh keceriaan, menunjukkan karya seni mereka yang terbaru.

"Kakak Nara, lihat ya lukisanku!" teriak Rara dengan membawa lukisan yang menggambarkan seluruh tim proyek bersama anak-anak di taman kota.

Nara melihat lukisan itu dengan hati yang penuh kebahagiaan. Dia melihat wajah-wajah orang-orang yang telah membantu dia melewati semua rintangan – Dito yang selalu ada untuknya, Reza yang tetap setia pada impian mereka bersama, Rendra yang memberinya kesempatan kedua, ayahnya yang akhirnya kembali, dan semua anak-anak yang menjadi alasan dia terus berjuang.

Lina juga datang ke acara tersebut, berdiri di kejauhan dengan membawa sebuah bingkai kayu yang indah. Dia mendekati Nara dengan hati-hati dan menyerahkan bingkai tersebut.

"Ini adalah hadiah dariku," ucapnya dengan suara yang penuh rasa hormat. "Aku membuatnya sendiri sebagai bentuk maaf dan dukungan padamu. Aku ingin bergabung dengan timmu jika kamu mau menerimaku."

Nara tersenyum dan mengambil bingkai tersebut. Di dalamnya ada foto bersama mereka ketika masih muda dan masih menjadi sahabat baik.

"Kita semua pernah membuat kesalahan," ucap Nara dengan lembut. "Yang penting kita bersedia untuk memperbaiki dan maju bersama. Kamu sangat diterima di tim kita, Lina."

Lina menangis haru dan memeluk Nara dengan erat. Semua rasa benci dan cemburu yang ada di dalam hatinya akhirnya sirna digantikan oleh rasa persahabatan dan tujuan yang sama.

Setelah acara meriah selesai dan sebagian besar tamu pulang, Nara duduk bersama Dito, Reza, dan Rendra di bawah pohon beringin besar yang sama tempat dia pertama kali bertemu mereka semua.

Mereka sedang berbicara tentang masa depan program ketika tiba-tiba seorang wanita asing datang mendekati mereka dengan membawa sebuah tas yang penuh dengan dokumen. Dia menunjukkan kartu identitasnya – dia adalah perwakilan dari organisasi pendidikan dunia yang berbasis di Swiss.

"Bu Nara Safitri?" tanyanya dengan suara yang ramah. "Kami telah mengikuti perkembangan program Anda dan sangat terkesan dengan apa yang Anda lakukan untuk anak-anak di Indonesia. Kami ingin mengundang Anda dan beberapa anak terbaik Anda untuk menghadiri konferensi pendidikan kreatif internasional di Swiss dan menerima penghargaan atas kontribusi Anda."

Dia menyerahkan surat undangan kepada Nara. "Acara akan diadakan dalam dua bulan mendatang. Kami akan menanggung semua biaya perjalanan dan akomodasi. Ini adalah kesempatan besar untuk menunjukkan kepada dunia apa yang bisa dilakukan oleh pendidikan kreatif inklusif dari Indonesia."

Nara merasa seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Setelah semua perjuangan yang dia lewati, kini dia punya kesempatan untuk membawa nama Indonesia ke kancah internasional. Namun sebelum dia bisa menjawab, dia merasa ada tiga pasangan mata yang sedang melihatnya dengan perasaan yang sama kuat – Dito, Reza, dan Rendra.

Setiap orang darinya memiliki tempat tersendiri di hatinya, dan sekarang dia harus memikirkan apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka ketika dia pergi ke luar negeri selama beberapa waktu. Dan yang paling penting – apakah dia siap untuk menghadapi tantangan baru yang lebih besar di kancah internasional?

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!