NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 7

Langkah kaki Raka bergema menuruni tangga darurat yang remang-remang, cepat dan tanpa ragu. Di belakangnya, suara sol sepatu Keyra beradu dengan beton dalam ritme yang lebih kacau, mencoba menyeimbangkan kecepatan langkah kakinya dengan cowok jangkung di depannya.

"Raka, tunggu! Gue belum selesai ngomong!" seru Keyra, suaranya memantul di dinding lorong tangga yang sempit.

Raka tidak melambat. Dia menendang pintu besi di lantai dasar hingga terbuka lebar, membiarkan cahaya oranye dari matahari terbenam menyusup masuk dan menerangi debu-debu yang beterbangan. "Pembicaraan selesai, Keyra. Gue udah kasih lo peringatan, gue udah kasih lo alasan. Sekarang pulang, kerjain PR, lupain gue."

Keyra melompat melewati anak tangga terakhir dan berhasil menyusul Raka tepat saat mereka melangkah ke koridor utama yang sudah sepi. Sekolah terasa seperti kerangka raksasa saat murid-murid sudah pulang; hening, luas, dan sedikit mencekam. Tapi Keyra tidak punya waktu untuk takut pada hantu sekolah. Dia punya teka-teki berjalan di depannya.

Keyra mempercepat langkahnya, setengah berlari kecil hingga dia bisa menghadang jalan Raka. Dia merentangkan kedua tangannya, memaksa cowok itu berhenti mendadak.

"Minggir," ucap Raka datar. Matanya terlihat lelah, kantung mata hitam samar terlihat jelas di bawah pencahayaan lampu koridor yang mulai berkedip nyala.

"Nggak sebelum lo denger hipotesis gue," Keyra bersikeras, napasnya sedikit terengah. Dia tidak memberi Raka kesempatan untuk membantah. "Lo bilang itu mimpi. Lo bilang lo 'ingat' kejadian sebelum terjadi. Lo bilang gue anomali karena gue melakukan hal yang nggak pernah gue lakukan di 'mimpi' lo sebelumnya."

Raka memutar bola matanya, hendak melangkah ke samping untuk menghindari Keyra, tapi cewek itu ikut bergeser. "Keyra, sumpah, gue capek."

"Itu bukan sekadar mimpi prekognisi atau *deja vu*, Raka!" Keyra menaikkan volume suaranya, jarinya menunjuk dada Raka dengan tegas. "Pola yang lo sebutin... hapal letak kunci yang rusak, tahu kapan ledakan terjadi sampai ke detiknya, tahu respons orang-orang... itu terlalu detail untuk sekadar firasat. Itu ingatan prosedural."

Raka mendengus kasar, akhirnya berhenti berusaha menghindar dan menatap Keyra dengan tatapan yang bercampur antara jengkel dan geli. "Ingatan prosedural? Wow, bahasa lo berat banget buat anak SMA."

"Dengerin dulu!" Keyra mengabaikan sarkasme itu. Otaknya bekerja cepat, menghubungkan titik-titik data yang baru saja dia dapatkan di atap tadi. "Lo nggak cuma memprediksi masa depan. Lo *mengulanginya*. Lo terjebak dalam *Time Loop*."

Hening sejenak di antara mereka. Angin sore berhembus pelan membawa daun kering menggelinding di lantai koridor.

Raka menatap Keyra lekat-lekat, lalu tiba-tiba tawanya pecah. Bukan tawa jahat, tapi tawa renyah yang terdengar sangat meremehkan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memijat pelipis. "*Time Loop*? Serius? Kayak di film-film?"

"Konsepnya valid secara teoritis!" Keyra membela diri, wajahnya memanas bukan karena malu, tapi karena frustrasi. "Coba pikir. Lo bilang gue 'nggak pernah ngejar lo sampai ke atap' di ingatan lo sebelumnya. Itu artinya sudah ada iterasi sebelumnya dimana gue cuma lari keluar. Kali ini, gue bertindak beda, dan itu mengubah alur kejadian. Itu *Butterfly Effect* klasik dalam skenario *looping*!"

Raka kembali melangkah, kali ini dengan santai menabrak bahu Keyra pelan untuk melewatinya. Dia berjalan menuju parkiran motor. "Lo kebanyakan nonton *Sci-Fi*, Key. Kurang-kurangin *binge-watching* Netflix, banyakin main keluar."

Keyra berbalik dan mengejarnya lagi. Mereka kini berjalan beriringan menuju area parkir yang luas dan nyaris kosong, hanya tersisa motor *sport* butut milik Raka dan beberapa mobil guru yang lembur. "Ini bukan soal film! Ini soal logika. Kalau itu cuma mimpi, kenapa lo bisa hapal *outcome* yang berbeda-beda? Lo bilang lo nyoba cara lain sebelumnya, kan?"

Raka berhenti di depan motornya, merogoh saku celana untuk mengambil kunci. Dia menatap Keyra dengan pandangan yang sedikit melunak, seperti menatap anak kecil yang sedang menceritakan teman khayalannya. "Key, dengerin gue baik-baik. Hidup ini bukan naskah film Hollywood. Nggak ada mesin waktu, nggak ada lubang cacing, nggak ada dokter gila dengan mobil DeLorean."

"Gue nggak bilang ada DeLorean!" potong Keyra cepat.

"Yang terjadi sama gue itu simpel," Raka menaiki motornya, memasukkan kunci ke kontak. "Otak gue konslet. Gue punya gangguan tidur yang bikin mimpi gue terasa nyata banget. Kadang kebetulan bener, kadang enggak. Kebetulan aja kali ini bener soal lab kimia itu. Gue cuma orang yang punya *bad luck* dengan mimpi buruk, bukan penjelajah waktu."

"Kebetulan yang berulang berkali-kali sampai lo hapal detail teknis kerusakan pipa gas? Itu mustahil secara statistik, Raka!" Keyra bersedekap, berdiri di samping motor Raka, menolak untuk mundur meski mesin motor itu mulai menderu.

Raka mengenakan helm *full-face*-nya, kaca visornya masih terbuka sehingga matanya yang tajam masih terlihat jelas. "Lo tahu apa masalah lo, Keyra? Lo terlalu pintar. Lo selalu butuh penjelasan logis buat segala hal. Lo butuh label, definisi, rumus. Tapi dunia nggak selalu bekerja kayak gitu. Kadang, hal aneh cuma sekadar hal aneh. Nggak ada *Grand Design*, nggak ada *Time Loop*."

"Lo menyangkal karena lo takut," tembak Keyra tepat sasaran. "Lebih gampang nganggap diri lo gila atau sakit daripada ngakuin kalau lo terjebak dalam fenomena fisika yang nggak lo ngerti."

Tangan Raka yang memegang stang motor menegang. Dia memalingkan wajah, menatap gerbang sekolah di kejauhan. "Minggir, Key. Gue mau balik."

"Gue bisa bantu lo memetakan ini," Keyra tidak menyerah. Dia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan aplikasi catatan yang tadi dia buat. "Kalau kita catat setiap iterasi—setiap pengulangan—kita bisa cari pemicunya. *Trigger*-nya apa? Apakah kematian? Apakah waktu tertentu? Kita bisa cari cara buat memutus *loop*-nya!"

Raka menutup kaca helmnya dengan bunyi *klik* yang tegas, memutus kontak mata mereka. Suaranya terdengar lebih gumam dari balik helm. "Nggak ada yang perlu diputus karena nggak ada lingkaran waktu. Berhenti berkhayal, Tuan Putri. Dan berhenti ngikutin gue. Besok di sekolah, kita balik jadi orang asing. Itu yang terbaik buat lo."

Tanpa peringatan lagi, Raka memutar gas. Motornya menderu kencang, knalpotnya memuntahkan sedikit asap hitam sebelum melesat pergi meninggalkan Keyra di tengah parkiran.

Keyra terbatuk kecil terkena asap, mengibaskan tangannya di depan wajah. Dia menatap punggung Raka yang semakin mengecil, menghilang di balik tikungan gerbang sekolah. Angin sore menerbangkan rambutnya, membawa hawa dingin yang menusuk kulit.

"Orang asing?" Keyra bergumam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang penuh determinasi. Dia menatap layar ponselnya, di mana dia sudah mengetik kata: *SUBJEK MENOLAK KOOPERASI.*.

Dia bukan tipe cewek yang akan mundur hanya karena dibilang kebanyakan nonton film. Justru, penyangkalan Raka barusan adalah konfirmasi terbesar baginya. Raka tidak membantah detailnya; dia hanya membantah *nama* fenomenanya. Raka takut pada ketidakpastian, sementara Keyra hidup untuk memecahkannya.

"Lo boleh skeptis, Raka," bisik Keyra pada udara kosong, jemarinya lincah mengetik tambahan baru di catatannya. "Tapi kalau lo pikir gue bakal biarin lo main *Edge of Tomorrow* sendirian tanpa *backup*, lo salah besar. Lo butuh otak gue sama besarnya kayak gue butuh tahu kebenaran ini."

Keyra memasukkan ponselnya ke saku rok, lalu membenarkan letak tas punggungnya. Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan langit ungu gelap yang memayungi sekolah. Besok, dia tidak akan datang dengan tangan kosong. Jika Raka butuh bukti kalau ini adalah *science*, bukan mistis atau gila, maka Keyra akan membawakan bukti itu tepat ke depan hidungnya.

Dia berjalan menuju gerbang, langkahnya ringan dan penuh energi. Raka mungkin menganggap Keyra variabel yang mengganggu, tapi dalam rumus matematika yang rumit, variabel barulah yang seringkali menjadi kunci penyelesaian masalah. Dan Keyra berniat menjadi solusi itu, suka atau tidak suka Raka menerimanya.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!