NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi itu langit Jakarta tidak berwarna biru cerah, melainkan abu-abu kusam yang menggantung rendah, seolah semesta sedang menahan napas. Namun, di depan gerbang rumah Keyra, ada sumber kebisingan yang jauh lebih mendominasi daripada cuaca mendung: suara knalpot motor Raka yang sengaja digeber-geber.

Keyra keluar dengan seragam yang sedikit kedodoran—efek berat badan yang turun drastis selama sakit—dan wajah yang masih pucat. Namun, matanya nyalang. Tekadnya untuk kembali ke sekolah hari ini lebih keras daripada batu karang.

"Lo itu sebenernya manusia atau kecoa sih? Susah banget matinya, disuruh istirahat malah keluyuran," sambut Raka tanpa basa-basi. Cowok itu duduk di atas motor sport hitamnya, helm full-face ditaruh di tangki, memamerkan rambutnya yang berantakan tertiup angin. Seragamnya dikeluarkan, dasinya longgar, dan ada plester luka baru di dekat alis kirinya.

"Gue butuh normalitas, Raka. Gue butuh sekolah biar nggak gila mikirin Julian dan garis waktu," balas Keyra sambil menerima helm yang dilempar Raka.

"Normalitas," cibir Raka, menyalakan mesin motor hingga menderu kencang. "Lo cari normalitas sama gue? Itu kayak nyari ikan paus di gurun pasir. Naik. Kalau lo pingsan di jalan, gue iket lo pake lakban ke punggung gue."

Perjalanan menuju sekolah adalah definisi dari serangan jantung ringan. Raka menyelip di antara celah sempit kemacetan ibu kota dengan presisi yang mengerikan sekaligus mengagumkan. Keyra, yang biasanya akan memprotes cara berkendara ugal-ugalan seperti ini, justru mendapati dirinya menikmati adrenalin itu. Angin yang menampar wajahnya membuatnya merasa hidup. Detak jantungnya yang berpacu bukan karena takut mati, tapi karena sensasi berada di tepi jurang yang dikendalikan penuh oleh Raka.

Sesampainya di parkiran sekolah, kedatangan mereka memicu bisik-bisik. Siswi teladan yang menghilang misterius selama beberapa hari, kini turun dari boncengan berandalan sekolah yang langganan masuk ruang BK. Kombinasi itu terlalu mencolok untuk diabaikan.

Raka turun, merapikan rambutnya sekilas, lalu menatap kerumunan siswa yang memandang mereka. "Apa liat-liat? Bayar tiket dulu kalau mau nonton!" bentaknya, membuat beberapa adik kelas langsung bubar jalan dengan wajah ketakutan.

Keyra menahan senyum. "Lo nggak perlu galak gitu."

"Mereka kayak lalat. Kalau nggak diusir, nempel," jawab Raka cuek, lalu berjalan mendahului Keyra. Namun, langkah kakinya melambat, menyesuaikan ritme jalan Keyra yang belum sepenuhnya pulih. Detail kecil yang tidak disadari Raka, tapi tertangkap jelas oleh radar Keyra.

"Gue ke kelas duluan," kata Raka saat mereka sampai di persimpangan koridor. "Jangan cari masalah. Kalau ada guru yang nanya kenapa gue telat masuk jam pertama, bilang aja gue lagi nyelamatin dunia."

"Lo mau bolos lagi?" tanya Keyra curiga.

"Ngerokok di rooftop. Kepala gue pening dengerin ocehan Bu Siska tentang sejarah Majapahit. Gue lebih suka bikin sejarah sendiri," sahutnya sambil melambaikan tangan tanpa menoleh, berjalan menjauh dengan gaya slengean yang khas—tangan di saku celana, bahu tegap yang tampak memikul beban tak kasat mata.

Keyra melanjutkan harinya dengan terseok-seok. Pelajaran Fisika terasa seperti bahasa alien, dan Matematika hanya membuatnya mual. Namun, bukan materi pelajaran yang mengganggunya, melainkan tatapan orang-orang. Mereka melihatnya sebagai "Keyra yang sakit", "Keyra yang aneh", atau "Keyra yang nilainya mulai turun". Identitasnya sebagai siswi sempurna mulai retak di mata publik, dan itu menyesakkan.

Jam istirahat tiba. Kantin penuh sesak. Keyra berdiri di pinggiran, memegang nampan kosong dengan tangan gemetar. Antrean bakso terlalu panjang, dan energinya sudah habis hanya untuk bernapas.

Tiba-tiba, sebuah tangan kekar menyeruak kerumunan, mengambil paksa nampan dari tangan Keyra. Raka muncul entah dari mana, wajahnya masam.

"Minggir! Minggir! Orang sakit mau lewat!" seru Raka sambil menyikut—secara harfiah—jalan di antara siswa-siswa yang sedang mengantre. Dia tidak meminta maaf. Dia justru menatap tajam siapa saja yang berani protes. "Woy, Anton! Geser pantat lo!"

Dalam dua menit, Raka kembali dengan semangkuk bakso panas dan es teh manis. Dia meletakkannya di meja kosong di sudut kantin, lalu menarik kursi dengan bunyi decit yang nyaring. "Duduk. Makan. Gue nggak mau dituduh pembunuhan berencana kalau lo mati kelaparan."

Keyra duduk, menatap mangkuk bakso itu, lalu menatap Raka yang kini sibuk membuka bungkus roti sobek—makan siangnya sendiri yang menyedihkan. "Lo nyerobot antrean, Ka. Itu nggak sopan."

"Sopan santun nggak bikin perut lo kenyang," Raka menggigit rotinya dengan kasar. "Lagian, mereka semua takut sama gue. Gue cuma manfaatin reputasi buruk gue buat kebaikan. Anggap aja Robin Hood, tapi versi kantin sekolah."

Keyra tertawa kecil. Tawa itu keluar begitu saja, tanpa filter. Dia memperhatikan cara Raka makan, cara cowok itu mengernyit saat melihat ada daun bawang di bakso Keyra (lalu dengan inisiatif sendiri mengambil sendok Keyra dan membuang daun bawang itu karena dia ingat Keyra pernah menyingkirkannya dulu), dan cara Raka membalas sapaan teman gengnya dengan gestur kasar namun akrab.

Saat itulah, di tengah kebisingan kantin yang bau minyak goreng dan keringat remaja, waktu seolah melambat bagi Keyra. Bukan karena anomali waktu. Bukan karena Julian memutar jam.

Keyra sadar dia sedang menatap Raka. Benar-benar menatapnya.

Selama ini, Keyra berpikir dia membutuhkan seseorang yang bisa menariknya keluar dari kekacauan ini. Seseorang yang kuat, heroik, seperti pangeran dalam dongeng yang datang dengan kuda putih dan pedang berkilau. Julian dulu terlihat seperti itu—sempurna, rapi, terencana.

Tapi Raka? Raka adalah antitesis dari pangeran. Dia kasar, dia bau rokok campur parfum murah, dia bolos pelajaran sejarah, dan dia menyikut orang demi semangkuk bakso.

Namun, Raka nyata. Dia tidak memakai topeng kesempurnaan. Dia marah pada dunia, tapi dia mengambilkan daun bawang dari mangkuk Keyra tanpa diminta. Dia bilang dia tidak peduli, tapi dia melambatkan langkahnya di koridor agar Keyra bisa menyusul.

Keyra menyadari jantungnya berdesir bukan karena rasa terima kasih. Dia tidak jatuh cinta pada "penyelamat"-nya. Dia tidak jatuh cinta karena Raka membantunya melawan Julian.

Dia jatuh cinta karena Raka adalah kekacauan yang indah. Dia jatuh cinta pada kejujuran brutal yang Raka tawarkan di dunia yang penuh kepalsuan ini. Raka tidak mencoba menjadi yang terbaik untuk Keyra. Raka hanya menjadi dirinya sendiri, dan anehnya, itu lebih dari cukup.

"Kenapa lo senyum-senyum? Kesambet setan kantin?" tegur Raka, curiga melihat Keyra yang bengong menatapnya.

Keyra menggeleng, menyuapkan bakso ke mulutnya. Rasanya biasa saja, tapi entah kenapa hari ini terasa seperti makanan paling enak di dunia. "Nggak. Gue cuma mikir, lo bener-bener berandalan yang payah."

Raka mendengus, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan angkuh. "Berandalan payah ini yang lagi nyuapin lo energi biar bisa ngelawan takdir. Jadi diem dan abisin, atau gue suapin paksa."

Keyra menatapnya lagi. Di balik mata Raka yang tajam dan sikap defensif itu, Keyra melihat 'rumah'. Bukan rumah yang rapi dan bersih, tapi rumah yang berantakan, penuh coretan di dinding, namun hangat dan aman dari badai di luar.

"Ka," panggil Keyra pelan.

"Hmm?"

"Makasih udah jadi Raka."

Raka berhenti mengunyah. Dia menatap Keyra sejenak, telinganya sedikit memerah—kontras dengan wajahnya yang sok garang. Dia memalingkan wajah, melihat ke arah jendela kantin. "Gue nggak bisa jadi orang lain, Key. Terlalu ribet. Udah ah, cepetan makannya. Bel masuk bentar lagi bunyi, dan gue belum nyalin PR Fisika punya lo."

Keyra tertawa lagi. Di detik itu, ancaman garis waktu yang ingin menghapusnya terasa jauh. Selama ada Raka yang tidak sempurna ini di sampingnya, Keyra merasa dia bisa menghadapi skenario seburuk apa pun. Bukan karena Raka akan menyelesaikannya dengan sihir, tapi karena Raka akan menemaninya merusak skenario itu bersama-sama.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!