"Hahaha… kamu memang tidak tahu apa-apa. Tidak heran kalau anak saya tidak senang denganmu nanti. Kamu tidak bisa memenuhi standar yang keluarga kami inginkan. Hhh!"
Nur Berliana Putri menggenggam tangannya sendiri, meremasnya karena merasa gugup. Tapi Kenzie segera menghentikan kegugupannya, dengan mengambil tangan tersebut.
Wajah Berliana mendongak ke arah suaminya, dan dia melihat bagaimana Kenzie tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Memberikan tanda, bahwa tidak usah menjawab atau menanggapi perkataan mamanya.
"Aku tidak pernah berharap memiliki menantu yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan seperti kami ini. Awas saja jika kamu membuat malu keluarga!"
***
Up hanya di Noveltoon untuk lomba menulis Novel wanita dengan tema air mata pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan Di Rumah Sakit
Pada saat Juwita mengalami kecelakaan, Kenzie dan Berliana sedang ada di dalam perjalanan ke ponpes. Jadi pada saat polisi memberikan kabar tentang Juwita yang mengalami kecelakaan, mereka belum tiba di ponpes yang di tuju Juwita.
..."Selamat sore, saya dari pihak kepolisian. Apakah ini nomor telepon Bapak Kenzie?"...
..."Ya, ini saya. Ada apa?"...
..."Mohon maaf mengganggu, Anda. Saya hanya ingin memberitahu bahwa ibunya Bapak, Ibu Juwita, sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit karena mengalami kecelakaan."...
..."Apa?! Ada apa dengan mama saya? Apakah dia baik-baik saja?"...
Kenzie bingung dan gugup saat mendengar laporan yang disampaikan oleh pihak kepolisian terkait dengan kejadian yang terjadi pada Juwita.
..."Tenang saja, Bapak. Ibunya Bapak ada luka-luka dan saat ini kemungkinan besar sudah berada di rumah sakit. Beliau pasti sudah mendapatkan pertolongan medis."...
..."Oh, begitu. Terima kasih sudah memberi tahu saya. Apakah saya bisa mendapatkan informasi tentang rumah sakit yang menanggani mama saya?"...
..."Sampai saat ini, kami masih melakukan investigasi mengenai kecelakaan tersebut. Kami akan memberi tahu Bapak jika ada perkembangan lebih lanjut. Mohon untuk tetap tenang dan memberi dukungan kepada keluarga Bapak. Dan Ibu Anda ada di rumah sakit Mulia, km 78."...
..."Baik.Terima kasih sudah memberi tahu saya, Pak. Saya akan segera datang ke rumah sakit yang merawat mama saya."...
..."Sama-sama, Bapak. Mohon jangan ragu untuk menghubungi kami jika ada yang diperlukan."...
Klik
Berliana yang sudah berada di perjalanan untuk ke ponpes akhirnya harus pergi ke rumah sakit untuk menjaga mama mertuanya.
Kenzie meminta maaf pada istrinya, karena rencana mereka gagal dan berakhir di rumah sakit menemani Juwita yang baru saja mengalami kecelakaan.
"Maafkan aku, Liana. Rencana kita untuk ke ponpes gagal, dan sekarang kita harus ke rumah sakit."
"Ada apa, Mas Kenzie? Siapa yang sakit, dan siapa yang tadi menelpon?" Berliana bertanya dengan beberapa pertanyaan, karena dia memang tidak tahu apa yang terjadi.
"Ma-mama kecelakaan. Di-diaa ada di rumah sakit Mulia. Kita ke sana, ya?" Kenzie berusaha untuk tetap tenang, berusaha untuk berkata dengan lembut meskipun gugup.
"Tidak apa-apa, Mas. Kita harus bersyukur bahwa kita bisa menemani mama di rumah sakit. Sebaiknya kita pergi sekarang juga."
Kenzie merasa bersalah karena mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ponpes untuk menghadiri acara besar di ponpes, tempat di mana Berliana belajar agama sejak kecil hingga dewasa, kemudian menikah dengan Kenzie juga di ponpes tersebut.
Setelah menerima kabar tentang mamanya, Kenzie, suami Berliana, meminta maaf karena rencana mereka gagal dan berakhir di rumah sakit menemani Juwita. Berliana memahami situasi ini dan tidak marah kepada suaminya, ia malah merasa bersyukur bahwa mereka bisa ada di samping ibu mertuanya pada saat seperti ini.
"Aku khawatir kamu kecewa karena tidak bisa datang ke ponpes lebih awal." Kenzie merasa bersalah atas semua yang terjadi sekarang.
"Tentu Liana sedih, tapi Liana lebih khawatir dengan kondisi mama. Kita harus fokus pada mama, karena mama yang lebih penting sekarang."
Kenzie tersenyum mendengar perkataan Berliana. Istrinya yang sering mendapatkan tekanan secara terus menerus dari mamanya selama ini. Tapi nyatanya, istrinya ini masih selalu baik dan memikirkan keadaan mamanya.
"Ya, kamu benar. Mari kita bersama-sama menghadapi ini dan berdoa untuk kesembuhan mama."
"Amin. Terima kasih sudah berusaha, Mas Kenzie, meskipun akhirnya justru tiba di rumah sakit." Kenzie mengangguk dengan tersenyum tipis.
***
Clek
"Mama," panggil Kenzie begitu masuk ke dalam ruang rawat inap Juwita.
"Assalamualaikum, Ma." Berliana mengucapkan salam saat ikut masuk ke dalam kamar rawat inap mama mertunya.
Berliana menyalami tangan Juwita, bergantian dengan Kenzie. Suasana cangung langsung terasa di dalam ruangan karena Juwita belum bisa menerima kenyataan bahwa dia mengalami kecelakaan ini karena rencananya. Tapi dia menganggap semua ini adalah kesalahannya Berliana.
"Ma, apa yang terjadi?" tanya Kenzie, mengalihkan kecanggungan.
"Ummm..."
Juwita tidak bisa bicara apa-apa tentang kecelakaan tersebut. Dia memang yang salah, jadi dia malu menceritakan kronologinya. Dia merasa sangat sedih dan menangis, serta meminta maaf pada mereka berdua, terutama pada Berliana yang seringkali menjadi sasaran kemarahannya.
"Ma-afkan aku, Berliana. Huhuhu... A-ku tahu, aku sering marah padamu dan merasa cemburu dengan putraku yang lebih dekat denganmu sekarang." Juwita
Berliana meraih tangan Juwita. "Tidak apa-apa, Mama. Saya mengerti perasaanmu dan mencoba untuk memahami situasi."
Juwita mengelengkan kepalanya. "Ta-pi a-ku salah besar. Kamu selalu membantu dan peduli padaku, tapi aku tidak pernah menghargai mu. A-ku minta maaf. Hiksss hiks hiks..."
Kenzie ikut menggenggam tangan kedua perempuan yang sama pentingnya untuk dirinya. "Tidak perlu minta maaf, Mama. Kami semua keluarga dan harus saling mendukung."
"Tapi ka-mu tidak harus bersabar dengan kemarahan ku dan sikapku yang egois. Kamu terlalu baik padaku. Huhuhu..."
Juwita terus menangis saat ingat dengan semua perlakuannya pada Berliana. Dia sadar jika selama ini salah, karena menyiksa menantunya secara fisik maupun psikis secara tidak langsung.
"Kami saling berusaha untuk memahami satu sama lain, Mama. Tidak ada yang sempurna, tapi kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik. Maaf, Kenzie bukannya menjauhi Mama. Tapi memang sedang ada banyak pekerjaan yang menyita waktu dan perhatian Kenzie."
"Kami semua keluarga, Mama. Kita harus saling mendukung dan memaafkan satu sama lain." Berliana tersenyum.
"Huhuhu... Terima kasih, Berliana, Kenzie. Kalian benar-benar keluarga yang baik dan selalu ada untukku. Mama berjanji akan berusaha menjadi lebih baik lagi."
Kenzie: "Kami semua berjanji untuk selalu mendukung dan saling memaafkan. Sekarang, mari kita fokus pada kesembuhan, Mama."
"Hiksss hiks hiks... Baiklah, terima kasih. Kalian masih peduli dengan Mama."
Suasana di dalam ruangan yang awalnya terasa canggung dan tegang karena Juwita merasa sedih dan bersalah atas kejadian ini, dan Berliana merasa tidak nyaman karena takut jika mamanya marah, kini telah mencair.
"Ja-di, kalian berdua tidak jadi pergi?" tanya Juwita, setelah beberapa saat kemudian ingat jika Kenzie akan pergi bersama dengan Berliana ke ponpes.
"Bisa besok-besok, Ma. Yang penting kami tahu keadaan Mama terlebih dahulu," jawab Kenzie, yang diangguki oleh Berliana juga.
"Hiksss... Mama jadi merasa bersalah. Mama yang menyebabkan kalian gagal pergi. Huhuhu..." Juwita justru kembali menangis karena ingat rencananya.
Sekarang, meskipun rencananya untuk menggagalkan kepergian Kenzie berhasil, tapi keadaannya sekarang justru terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa luka di sekujur tubuhnya.
Juwita ngeri juga saat ingat dengan kejadian yang menimpanya tadi sore, di saat dia pergi dengan menyetir mobil sendiri tanpa supir.
'Aku yang salah,' kesah Juwita dalam hati.
kuta senasib berlian
by your side..
by your side, hadir
yuk saling dukung, By Your Side
Yuk saling dukung, *By Side You
salam dari kekasihku menantuku