Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Di Ambang Keputusan
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun mentari mulai memanjat perlahan di balik gumpalan awan. Defit dan Maya berdiri di pinggir jurang, di tepi sebuah jurang yang dalam seperti jalan yang mereka pilih, yang semakin curam dan penuh rintangan. Tidak ada yang mengarah pada kepastian, hanya semacam desakan hati yang memaksa mereka untuk terus maju.
Maya menggenggam tangan Defit erat, seakan itu satu-satunya yang mengikatnya pada dunia yang masih layak dijalani. Namun di balik tatapan itu, ada sebuah perasaan yang lebih berat dari sekadar kekhawatiran. Sesuatu yang semakin membuatnya terombang-ambing di antara dua pilihan.
“Aku tidak tahu lagi, Defit…” kata Maya, suaranya lirih, penuh keraguan. “Apakah kita benar-benar bisa bertahan? Dunia ini sudah terlalu gelap. Keluarga itu, orang-orang itu… mereka tidak akan membiarkan kita begitu saja.”
Defit menoleh padanya, wajahnya tidak menampakkan sedikit pun kelemahan. Ia tahu bahwa ketakutan yang dirasakan Maya adalah ketakutan yang juga dia rasakan. Hanya saja, ia tidak bisa membiarkan dirinya runtuh, tidak sekarang. Tidak ketika mereka sudah sejauh ini.
“Kita sudah terlalu jauh, Maya,” jawabnya, suara penuh keyakinan. “Kita sudah memilih jalan ini, dan kita tidak bisa kembali. Tidak ada yang bisa menghalangi kita jika kita bersatu.”
Maya menatapnya lama, matanya penuh rasa bingung. Ia ingin percaya. Namun bayang-bayang masa lalu yang gelap itu terlalu kuat, dan dunia yang mereka hadapi terasa lebih kejam dari sebelumnya. Setiap kali ia menoleh ke belakang, ia melihat bayang-bayang itu, orang-orang yang tak pernah memaafkannya, dunia yang terus berusaha menekan mereka. Tidak ada ruang untuk kebebasan di tempat yang penuh dengan kutukan itu.
“Bagaimana jika kita gagal?” tanya Maya, suaranya hampir tidak terdengar. “Bagaimana jika kita terjebak dalam lingkaran ini selamanya?”
Defit menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan perasaan yang mengganggu pikirannya. “Kita tidak akan gagal, Maya. Kita tidak akan membiarkan mereka menang. Kita sudah cukup menderita. Sekarang saatnya untuk menghentikan semuanya.”
Namun, di dalam diri Maya, ada ketakutan yang lebih besar dari sekadar kegagalan adalah rasa bersalah yang terus menggerogoti, sebuah perasaan bahwa ia telah membiarkan semuanya terjadi. Membiarkan Defit merasa terasing, membiarkan keluarganya merusaknya.
“Defit, aku takut…” suara Maya hampir pecah, penuh tangisan yang tertahan. “Aku takut bahwa kita akan kehilangan lebih banyak. Aku takut bahwa aku akan kehilanganmu.”
Seketika, Defit memeluk Maya dengan erat. Ia bisa merasakan getaran tubuh Maya, ketakutan yang begitu nyata. Namun ia tahu bahwa mereka harus menghadapinya, bersama. Dalam pelukan itu, ada semacam kekuatan yang mulai tumbuh kekuatan yang mereka ciptakan sendiri, tanpa tergantung pada dunia yang telah memutuskan jalan mereka.
“Kita tidak akan kehilangan apa pun, Maya. Karena kita sudah memilih untuk tetap bersama. Tidak ada yang bisa menghancurkan kita jika kita bersatu.”
Maya mengangguk, meski air mata masih membasahi pipinya. "Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan, Defit," katanya, suara penuh keraguan. "Aku merasa seperti terperangkap antara dua dunia di satu sisi, aku ingin melanjutkan, tetapi di sisi lain, aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang telah kita tinggalkan."
Defit menatapnya dalam-dalam, matanya penuh keyakinan. “Aku tahu ini sulit. Aku tahu ini bukan jalan yang mudah. Tapi kita tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu kita. Kalau kita terus terperangkap di sana, kita tidak akan pernah bisa maju. Kita harus berhenti melihat ke belakang dan mulai melihat ke depan.”
Maya menghela napas panjang, mendorong rasa takut yang terus menggerogotinya. Perlahan, ia mulai menyadari bahwa meskipun ketakutan itu nyata, hanya dengan melangkah maju mereka akan menemukan kedamaian yang selama ini hilang.
“Aku… aku akan berusaha, Defit,” katanya, suaranya lebih tegas, meski ada gemetar di dalamnya. “Aku akan berusaha untuk melepaskan semuanya dan berjalan bersamamu.”
Defit tersenyum lembut, mengusap rambut Maya dengan penuh kasih sayang. “Kita akan menjalani ini bersama. Kita akan menulis kisah kita sendiri. Bukan kisah yang ditulis oleh orang lain. Kisah kita dimulai dari sini.”
Dengan langkah yang lebih mantap, mereka melanjutkan perjalanan mereka, menuju tempat yang tidak mereka ketahui. Langit semakin terang, namun bayang-bayang yang menunggu di balik setiap tikungan masih ada. Tidak ada jalan yang benar-benar aman. Tetapi di dalam hati mereka, ada sebuah harapan yang mulai menyala, bahkan di tengah gelapnya dunia yang penuh ancaman.
Mereka berjalan lebih jauh, satu langkah lagi, dan satu langkah lagi. Karena apa yang mereka miliki lebih berharga dari segala ancaman yang ada mereka memiliki satu sama lain. Itu sudah cukup.
terus menarik ceritanya 👍