Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Rahasia di Balik Karat
Setelah meninggalkan gerbang sekte dengan suasana yang begitu emosional, Jian Yi melesat membelah hutan menuju wilayah pusat kota tempat kediaman Keluarga Yuan berada.
Kecepatannya sebagai seorang Grand Master membuat pohon-pohon di sampingnya tampak seperti garis hijau yang kabur.
Namun, di tengah kesunyian perjalanannya, pikiran Jian Yi mulai terusik oleh satu hal yang selama tujuh tahun ini tidak pernah ia tanyakan dengan serius.
"Hei, Pedang Tua," panggil Jian Yi dalam hati sambil terus melompat dari dahan ke dahan.
"Apa lagi, Bocah? Kau harus fokus. Aura Keluarga Yuan mulai terasa dari sini." jawab suara serak itu di benaknya.
"Kita sudah bersama selama tujuh tahun, tapi aku baru sadar... aku tidak tahu kau ini laki-laki atau perempuan. Suaramu memang serak seperti kakek-kakek yang kebanyakan makan asap, tapi kadang kau sangat cerewet seperti nenek-nenek di pasar."
Hening sejenak. Pedang di punggung Jian Yi bergetar sedikit lebih keras dari biasanya, seolah-olah ia sedang menahan napas (jika ia punya paru-paru).
"Hmph! Akhirnya kau bertanya juga," jawab pedang itu dengan nada yang tiba-tiba berubah.
Suara seraknya perlahan menipis, memunculkan nada bicara yang lebih halus namun tetap angkuh. "Jika kau benar-benar ingin tahu... asalku adalah dari energi Yang murni, namun kesadaranku adalah perempuan."
Jian Yi hampir saja terpeleset dari dahan pohon karena terkejut.
Ia berhenti mendadak dan mendarat di atas batu besar. Ia mencabut pedang berkarat itu dan menatapnya lurus-lurus.
"Kau... perempuan?" Jian Yi menatap bilah pedang yang penuh bopeng dan karat itu dengan tatapan tidak percaya. Kemudian, sebuah senyum jahil muncul di wajahnya.
"Hahaha! Pantas saja kau tidak punya wujud fisik!" Jian Yi tertawa terbahak-bahak.
"Apa maksudmu, Bocah?!" gertak sang pedang, getarannya membuat telinga Jian Yi berdenging.
"Lihat dirimu! Berkarat, bopeng, tumpul, dan berat sekali! Aku bisa membayangkan jika kau punya wujud manusia. Kau pasti perempuan yang sangat gemuk, pipimu bengkak karena terlalu banyak bicara, dan mungkin kau memakai riasan tebal untuk menutupi karatmu itu. Kau pasti perempuan aneh yang hobinya marah-marah!"
"KAU...! BERANINYA KAU!" Pedang itu berteriak di dalam kepala Jian Yi hingga ia harus meringis kesakitan. "Aku adalah pusaka kuno! Kecantikanku dulu bisa membuat kaisar sujud di kakiku! Jika aku mendapatkan kembali wujudku, kau akan memohon-mohon untuk menjadi pelayanku!"
"Iya, iya. Pelayan untuk membawakan makanan karena kau terlalu gemuk untuk berjalan, kan?" ejek Jian Yi lagi, sambil menyarungkan kembali pedang itu.
"Sialan kau, Jian Yi! Aku bersumpah, saat aku berubah nanti, aku akan menendangmu sampai ke ujung langit!"
Jian Yi terkekeh. Meskipun ia mengejek, sebenarnya hatinya merasa lebih ringan.
Beban berat setelah berpisah dengan teman-temannya sedikit terangkat berkat pertengkaran konyol ini.
"Kau tahu... memanggilmu 'Pedang Tua' atau 'Hei' itu tidak sopan jika kau ternyata seorang perempuan, meski kau perempuan yang aneh," ujar Jian Yi sambil mulai berjalan santai. "Bagaimana kalau kuberi nama? Karena kau berisik seperti burung gagak tapi merasa cantik seperti rembulan..."
Jian Yi terdiam sejenak, menatap langit yang mulai terang.
"Namamu adalah Ling'er. Kedengarannya cukup bagus untuk pedang karatan sepertimu."
Pedang itu terdiam. Getaran marahnya mereda, digantikan oleh denyut energi yang terasa hangat dan lembut di punggung Jian Yi.
"Ling'er..." bisik suara itu, kali ini benar-benar terdengar seperti suara wanita muda yang merdu, jauh dari kesan serak sebelumnya. "Nama yang cukup sederhana untuk orang sepertimu. Tapi... baiklah. Aku terima."
"Jangan terlalu senang," potong Jian Yi cepat. "Aku memberimu nama itu agar mudah memanggilmu saat aku menyuruhmu membantuku membantai Keluarga Yuan. Ayo, Ling'er. Mari kita tunjukkan pada mereka apa jadinya jika pendekar Grand Master dan pedang gemuknya sedang tidak dalam suasana hati yang baik."
"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK GEMUK!"
Dengan candaan itu, Jian Yi melesat kembali. Namun kali ini, niat membunuhnya kembali memuncak.
Gerbang besar kediaman Keluarga Yuan sudah terlihat di depan mata. Kemegahan yang dibangun di atas penderitaan orang lain itu akan segera ia ratakan dengan tanah.