Alhena tidak pernah berhenti memikirkan Althara dari 3 tahun setelah Althara meninggalkan nya tanpa sebab. Alhena terus di hantui pertanyaan apa yang membuat Althara pergi, padahal sebelum nya mereka baik-baik saja, bahkan mereka selalu mengucapkan janji tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Tapi kenapa sekarang Althara meninggalkan Alhena tanpa pamit ?
Ada apa dengan Althara ?
Apa Alhena telah membuat kesalahan sampai Althara pergi ?
Apakah Althara menyembunyikan rahasia besar dari Alhena ?
Bisakah Alhena memaafkan Althara setelah Althara kembali ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Endrawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahu yang sebenarnya
Begitu berat bagiku menjalani hari-hari ku di sekolah. Aku tidak pernah menyangka akan mengalami masalah berat di sekolah saat itu.
Althara benar-benar menuruti perintah ku untuk tidak menggangguku lagi. Setiap kali kami berpapasan Althara selalu membuang muka nya bahkan dia berusaha untuk tidak memperdulikan ku. Jujur, aku begitu sedih, aku merasa kehilangan dia, aku tahu ini keinginan ku namun mengapa aku harus merasa hampa seperti ini.
“Al lo ga mau coba buat obrolin ini sama Althara ?” Tanya Venna ketika kami sedang mengerjakan tugas tambahan di kelas ketika istirahat bel pertama.
Semua teman ku masih saja terlihat khawatir dengan ku yang sepertinya masih memikirkan Althara. Dan prasangka mereka memang benar,aku masih memikirkan Althara.
“Ven, gue denger cerita dari Ghea aja udah cukup”
“Tapi Al, apa ga sebaiknya lo denger cerita juga dari Althara langsung, dari pada lo nyakitin diri lo sendiri kaya gini” tambah Ghea.
“Nyakitin diri gue gimana? gue gak apa apa kok” tentu saja aku berusaha berbohong, aku tidak ingin mereka semua tahu kesedihan yang sedang ku alami.
“Al, lo itu temen kita. Dan kita tau persis lo tuh lagi ngerasa suasana hati lo lagi ga baik banget akhir akhir ini”
Aku tak lagi mengelak. Aku melepaskan pulpen di tangan ku dan menyandarkan tubuh ku di kursi.
“Ya oke. Gue akuin,gue emang ngerasa bimbang aja akhir-akhir ini. Gue sakit hati banget sama Althara, tapi ga tau kenapa hati kecil gue malah ngerasa hampa aja kehilangan dia”
Teman-teman ku membulatkan mata mereka tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
“Astaga Al. Lo jatuh cinta sama Althara” ucap Tata sambil menutup mulut nya tak percaya dengan apa yang di katakan nya.
Aku menutup wajah ku dengan telapak tangan.
“Gue bisa liat itu kok Al” ucap Venna mengelus lembut punggung ku.
“Sekarang gue harus gimana ? Althara kayak nya udah bener-bener ga mau ketemu sama gue” ucap ku dengan sedih.
“It’s oke Al, kalo memang Althara juga punya perasaan yang sama kayak lo, dia pasti juga ngerasa kehilangan lo kaya gini” ucap Venna.
Aku memang salah. Seharusnya aku mendengar dulu semua cerita dari dia, agar aku bisa mengerti benar dengan apa yang terjadi. Tidak seharusnya tiba-tiba aku marah kepada Althara hanya karena aku mendengar kisah nya dari orang lain.
Istirahat bel kedua sudah berbunyi.
“Girls gue ke perpus dulu ya ngerjain tugas terakhir yang ketinggalan”
“Lo ga akan makan dulu?”
“Ngga Ta, gue masih kenyang banget ga apa apa gue nunggu disini ya”
“Oke deh”
Suasa begitu hening ketika aku masuk ke dalam perpustakaan. Beberapa orang ada yang menulis di meja, ada yang mencari buku di setiap lorong, dan ada bu Rosi sang penjaga perpustakaan yang sedang menerima pinjaman buku dari siswa. Aku mengambil buku pelajaran dan segera duduk di meja bergabung dengan beberapa orang lain.
“Alhena” sapa seseorang ketika aku duduk di samping nya.
“Lusi” jawab ku ketika aku lihat itu adalah teman satu kelas ku ketika MOS dan kini dia duduk di kelas Sepuluh dua (X.2)
“Lo apa kabar?” Tanya ku dengan nada begitu pelan,karena tidak ingin di usir oleh Bu Rosi jika mendengar ada yang berisik dan mengganggu ketenangan yang lain.
“Gue baik Al” terlihat sekali jika Lusi sedang memikirkan sesuatu sambil menatap ku.
“Kenapa?” Tanyaku.
“Al, sebenernya gue mau cerita sesuatu sama lo”
“Cerita apa?”
“Tentang kejadian Kak Althara sama Ka Devan di gudang Sekolah minggu lalu”
Jantung ku seketika berhenti sejenak mengingat kejadian mengenaskan itu dan juga teringat kembali masalah di antara mereka.
“Kenapa bisa lo tau?”
“Gue ada di sana Al saat kejadian itu. Gue lagi nyimpen sesuatu di gudang, terus ga sengaja gue denger percakapan mereka di luar gudang”
***Flashback kejadian itu***
Devan menggiring Althara ke belakang sekolah dekat dengan Gudang sekolah.
“Lo mau ngomong apa?” Tanya Althara.
“Gue mau ngomongin soal Alhena”
Althara diam.
“Gue cuma mau peringatin lo kalo Alhena cewe gue,jangan pernah lo berusaha buat deketin dia”
Althara tersenyum kecut mendengar ocehan Devan.
“Tapi sayang nya Alhena bersikeras bilang kalo lo sama dia itu ga ada apa-apa” jawab Althara sambil terkekeh menertawakan nya.
*“Althara, gue yakin lo sama sekali ga ada perasaan apa-apa sama Alhena*, bahkan buat lo milikin rasa suka aja ga ada sama dia kan ? Jadi gue minta sama lo, jangan pernah halangin gue untuk dapetin Alhena”
“Siapa bilang gue ga punya perasaan apa-apa sama dia?”
“Apa lo bilang?”
“Siapa yang bilang kalo gue ga suka sama dia ?” Ucap Althara mempertegas ucapan nya.
Ucapan Althara berhasil membuat Devan diam. Dan Lusi terus berusaha mendengarkan percakapan mereka di dalam gudang.
“Gua coba peringatin lo sekali lagi. Jangan pernah berusaha buat rebut Alhena dari gue” ucap Devan memperingati Althara dengan begitu tajam.
Namun Althara terus menatap nya dengan dingin.
“Kalo gue ga mau, lo mau apa?”
Devan sudah tidak bisa lagi menahan emosi nya. Dan dia melayangkan tinju nya tepat ke pipi sebelah kanan Althara, membuat Althara tersungkur dan dia memegang bibir nya yang berdarah.
“Gue ga akan biarin lo deketin Alhena, lo bakal liat sendiri gue bisa dapetin Alhena” ujar Devan dengan menunjuk nunjuk wajah Althara.
“Pede banget lo, sejauh ini kayak nya dia lebih milih deket gue di banding sama lo” ucap Althara terus memancing emosi nya.
Devan terlihat tersenyum menatap Althara.
“Kita liat aja. Alhena pasti bisa dengan mudah gue dapetin,sama seperti dulu kan ?” Ucapnya seolah meminta Althara mengingat sesuatu yang akan membuat Althara kesal.
“Sama seperti saat Tania bisa dengan mudah gue dapetin,dan lo tinggal tunggu kabar berita nya lagi aja” kini Devan yang berbalik memancing amarah Althara dengan mengingat kan kembali masalah nya dulu.
“Beresengsek lo!!” ucap Althara dengan geram.
Dia bangun dengan cepat dan menghantam wajah Devan berkali kali sampai dia menghantam tembok Gudang. Devan sempat melawan balik meninju wajah Althara, namun kekuatan Althara terlihat lebih kuat di bandingkan dengan Devan.
Lusi yang berada tepat di balik tembok itu semakin ketakutan tidak ingin keluar Gudang melihat perkelahian Althara dan Devan.
*Devan sudah tersungkur tak berdaya*,Lalu Althara duduk di atas tubuh Devan dan menarik kerah nya Devan.
“Denger gue baik-baik. Lo bisa aja berbuat seenak nya dulu sama Tania,karena lo sama dia ga ada beda nya, sama sama berengsek. Tapi untuk Alhena lebih baik lo fikirin lagi niat lo buat hancurin dia, karna untuk Alhena gue ga bisa tinggal diam kalo sampe terjadi apa-apa sama dia. Ngerti lo !!” ancam Althara dengan bersungguh sungguh.
Devan terkekeh walaupun dengan wajah nya yang sudah babak belur.
“Kalo gue gamau,lo mau apa?” Ucap Devan sambil tertawa lemah.
Puncak emosi Althara sudah begitu naik di buat nya. Tinju Althara seperti nya tak membuat Devan menyerah sedikitpun, dia tetap bersikap berani melawan Althara walaupun terlihat sudah tak bertenaga untuk melawan nya Devan tetap terlihat memancing amarah Althara.
Althara mengepal kan tangan nya dan mengangkat tangan nya tinggi untuk kembali meninju wajah Devan dengan sisa tenaga yang masih di miliki nya.
“ALTHARAA!!” Suara teriakan ku berhasil membuat Althara mengurungkan niatnya untuk menambah tinju nya lagi di wajah Devan.
Lusi mengintip ku di balik jendela Gudang, dan dia bersyukur karena perkelahian akhirnya berakhir karena datang nya aku.
Ketika aku dan Althara pergi dari tempat,Lusi segera keluar dan membantu Devan keruang perawatan. Dan membantu membersihkan luka luka nya yang begitu parah tanpa membahas sedikit pun masalah yang sudah di dengar nya itu.
“Jadi Althara berantem sama Devan karna itu?” Tanya ku tak percaya.
“Kak Althara emang ga cerita apa-apa waktu itu sama lo?”
Aku hanya mengingat ketika dia meminta ku untuk tidak pernah mendekati lagi Devan tanpa menjelaskan apa sebab nya.
“Ngga” ucapku begitu menyesal.
“Gue kira lo tau makan nya gue ga cerita ini”
“Dia sama sekali ga pernah cerita kalo sebenernya dia udah belain gue sama si brengsek Devan itu” ucapku geram mengingat Devan.
Cerita Lusi begitu menggangguku. Aku terus menyesali sikap ku kepada Althara. Bisa bisa nya aku mengira dia hanya memanfaatkan ku padahal dia begitu melindungi ku sejak awal. Dia berusaha menjauhkan ku dari Devan yang begitu memiliki fikiran yang kejam terhadap ku. Aku menyesal, aku begitu merindukan nya,aku ingin bicara dengan nya,namun entah bagaimana caranya.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu