NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Pagi itu, Araluna keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sangat "Arsen-sentris". Ia mengenakan jaket kulit hitam milik Arsen yang aromanya masih tertinggal kuat—campuran antara parfum maskulin dan aroma buku. Jaket itu terlihat sedikit kebesaran di tubuh mungilnya, namun Luna justru merasa sangat percaya diri. Dipadukan dengan celana jeans ketat dan rambut yang diikat kuda, ia tampak siap menaklukkan hari—atau lebih tepatnya, menaklukkan perhatian kakaknya.

Tangannya penuh dengan setumpuk buku tebal dan tas jinjing berisi peralatan cat air. Wajahnya yang cantik dihiasi senyum tipis, meski ada sedikit gurat kelelahan karena sesi "pertemuan rahasia" di kamar Arsen semalam berlangsung cukup lama.

Di ruang makan, Bunda sedang menata sarapan. Melihat Luna keluar dengan penampilan seperti itu, Bunda hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Waduh, jaket Arsen lagi yang dipake, Luna?" tanya Bunda menggoda.

Luna nyengir lebar, lalu meletakkan tumpukan bukunya di meja makan. "Hehe, habisnya jaket ini paling nyaman, Bun. Oh iya, Luna sarapan roti aja ya. Hari ini ada praktik sama kuis juga di kampus, tapi tadi malem aku belum sempet belajar banyak, jadinya agak deg-degan," bohong Luna dengan wajah polos, padahal semalam ia lebih sibuk menggoda Arsen daripada membaca diktat.

Melihat Arsen yang belum juga keluar dari kamarnya, Luna mulai kehilangan kesabaran. Sifat "cegil"-nya yang tidak suka menunggu langsung kumat. Ia berjalan ke kaki tangga dan berteriak sekuat tenaga.

"AYOK WOI KAK! LAMA BANGET LO DANDAN KAYAK CEWEK! GUE BISA TELAT KUIS NIH!"

Pintu lantai atas terbuka dengan sentakan. Arsen muncul dengan kemeja flanel yang dikancing rapi dan tas ransel di bahu. Wajahnya tetap kaku, namun matanya memicing saat melihat jaketnya melekat di tubuh Luna.

"Berisik, Araluna. Gue baru beresin berkas tugas," sahut Arsen datar sambil menuruni tangga. Ia sempat melirik jaketnya sebentar, ingin protes, tapi melihat Luna yang sudah cemberut, ia memilih untuk diam dan mengambil kunci motor.

Begitu motor sport Arsen terparkir di pelataran Fakultas Seni Budaya, Araluna langsung melompat turun. Begitu Arsen melepas helmnya, Luna tidak memberikan celah sedikit pun bagi cowok itu untuk menjauh. Ia langsung menyambar lengan Arsen, melingkarkan tangannya di sana dengan erat seolah sedang mengunci barang berharga.

"Jangan jauh-jauh dari gue, Kak!" perintah Luna sambil menarik Arsen masuk ke area fakultas yang mulai ramai oleh mahasiswa.

Arsen mendengus, rahangnya mengeras karena sifat kakunya kembali muncul saat mereka menjadi pusat perhatian [cite: 2025-12-26]. "Luna, lepasin. Malu dilihat orang, ini lingkungan kampus, bukan pasar malam."

"Biarin aja! Biar semua orang tahu, terutama agen-agen FBI suruhan Clarissa itu, kalau lo udah ada yang punya," balas Luna tanpa rasa takut sedikit pun. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya ke lengan Arsen, membuat beberapa mahasiswi yang tadinya ingin menyapa Arsen jadi mengurungkan niat karena ngeri melihat tatapan tajam Luna.

Sambil berjalan menuju koridor kelas, Luna terus mengoceh. "Nanti pas gue praktik cat air, lo harus mampir ke studio ya, Kak. Gue mau gambar sesuatu yang spesial, dan gue butuh model gratisan kayak lo."

"Gue ada kelas, Luna. Jangan manja," kata Arsen pendek, namun tangannya yang bebas secara tidak sadar merapikan kerah jaket yang dipakai Luna agar gadis itu tidak kedinginan karena AC koridor yang kencang.

"Pelit banget! Pokoknya kalau lo nggak muncul, gue bakal gambar wajah Galaksi di kanvas gue!" ancam Luna dengan nada menantang.

Mendengar nama Galaksi, langkah Arsen sempat terhenti sejenak. Ia menatap Luna dengan sorot mata yang sedikit lebih gelap. "Coba aja kalau lo berani. Gue bakar kanvas lo detik itu juga."

Luna tertawa puas. Reaksi Arsen yang posesif adalah asupan energi terbaiknya sebelum menghadapi kuis. Ia berjinjit pelan, lalu membisikkan sesuatu di dekat bahu Arsen. "Makanya, jangan jauh-jauh dari gue. Karena cuma lo yang boleh ada di kanvas gue, dan cuma gue yang boleh pake jaket lo. Oke, Kak Arsen Sayang?"

Arsen hanya bisa membuang muka, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya. Sifat kakunya benar-benar dihancurkan oleh keberanian Luna pagi ini. Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, Clarissa yang baru saja tiba di kampus melihat pemandangan itu dengan tangan mengepal kuat. Namun Araluna tidak peduli; selama jaket Arsen ada di pundaknya dan lengan Arsen ada di genggamannya, dunia adalah miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!