Pekerjaan tambahan bagi seorang Nadya yang harus merubah sifat dan kebiasaan suami nya yang seorang playboy yang suka main perempuan dan suka minum-minuman, menurutnya itu lebih sulit dari pada menangani pasien dengan gejala sakit Jiwa yang sebenarnya.
Nadya gadis yang berprofesi sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa, dipaksa menikah dengan seorang playboy yang terkenal oleh wanita-wanita dikotanya yang bernama Gibran, pria yang suka mabuk-mabukan dan menginap dihotel bersama pacar-pacarnya.
Namun Nadya tidak bisa menolak, karna itu adalah salah satu permintaan terakhir dari sang kakek, karna kakek dari itu adalah sahabat dekat kakek Nadya, dan Ibu Nadya harus membayar hutang Budi pada kakek Handoyo kakeknya Gibran yang telah membantu membayar semua hutang-hutang nya.
meskipun sudah ditolak oleh Gibran Namun Nadya terus berusaha menerimanya, meskipun berat karna setelah menikahpun Gibran masih tetap menjadi playboy sejati.
suatu saat, Nadya menantang seorang Gibran untuk pura-pura miskin agar Gibran tahu jika sahabatnya hanya memanfaatkan dirinya saja.
berhasilkan ketulusan Nadya mengubah seorang Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAN sebenarnya
"Dah, sampe, lepasin pelukan nya, mentang-mentang suka dipeluk terus" Kata Mas Gibran meledek ku.
"Ih, apaan sih orang situ yang narik juga tadi" Balasku sambil menepuk punggungnya.
"Eh kebiasaan nabokin ngga ilang-ilang" Omelnya.
"Biarin, udah ah masuk, aku mau istirahat, mas laper ngga biar aku masakin dulu" Tawarku padanya.
"Iya nih laper banget, tadi dicafe ngga makan, kan tahu sendiri lagi pura-pura miskin, jadi ngga berani pesen-pesen makanan" Jawab Mas Gibran memegangi perutnya.
"Lah, temen-temen mu ngga nraktir gitu, bela sungkawa atas nasib sahabatnya?"
"Jangan kan ditraktir diajak ngobrol aja engga, oopss" Mas Gibran langsung membungkam mulutnya.
"Nah kan ketahuan, katanya tadi baik-baik aja, biasa aja yang bener gimana" Tanyaku kesal.
Mas Gibran terdiam sejenak, aku pergi ke dapur setelah ganti baju dan mulai memasak.
"Ehhm, ya ngga tau pokoknya tadi semua nya datar gitu, tapi kan setidaknya Dafa mau ngasi Kerjaan tandanya dia belum berubah dong Ya" Bela nya.
"Oke, ini baru awal Mas, semoga aja, nga seperti dugaan ku"
Aku menghidangkan makanan dan segera mengajak Suami ku itu makan, sederhana, hanya menghangatkan sop tadi pagi, ditambah sambal dan goreng tahu tempe, dan aku melihat Mas Gibran makan dengan lahap nya.
"Mas, laper banget apa gimana, tumben makan ampe segitunya? " Tanya ku.
"Ternyata kalo lagi laper banget itu makanan apa aja enak ya Ya, padahal biasanya kalo makan begini suka ngga doyan aku" Jawab Mas Gibran.
"Iya lah Mas, kemaren-kemaren kan bebas mau beli apa aja dan dimana saja, nah sekarang mau ngga mau harus hemat" Kataku.
"Tapi satu yang aku belum bisa Move on ya"
"Apa itu Mas, main cewek?"
"Ah engga, kan ada kamu hehe, itu aku kadang mulutnya suka pahit kalo ngga minum atau ngerokok, ya tahu sendiri hampir tiap malem kan kemaren"
"Oh itu, ya namanya juga baru berhenti sehari Mas, jadi wajar pahit rasanya, nanti aku beliin rokok, tapi dikit-dikit lho ya" Jawabku.
"Hehe, makasih" Balas Mas Gibran yang langsung semringah.
Ditengah-tengah keasyikan kami yang sedang menikmati makan siang, tiba-tiba hp ku berbunyi, dan ku lihat Mas Wahid menelpon.
Drrrttt Drrrrrt!!!
📞assalamualaikum Mas, ada apa?
📞kumsalam mba Aya, ini maaf mengganggu, Pak Johan kritis Mba, manggilin Mba Aya, piye iki?
📞Ya Allah, iya? Mas, bentar lagi Aya kesana, tetep kasi suport ya Mas.
Aku panik, bingung harus berbuat apa.
"Ya, kenapa panik gitu" Heran Mas Gibran.
"Ehm, itu Mas, pak Johan kritis, aku mau ke Rumah Sakit sebentar ya Mas"
"Eh, biar aku anter" Tawar Mas Gibran.
"Eh anu, ngga usah Mas biar aku sendiri, tapi? Mas, tolong pinjemin mobil kerumah kakek bentar, aku takut nanti harus dirujuk, aku minta tolong ya Mas". Pintaku pada Mas Gibran.
" Oke-oke, tapi kamu hati-hati ya, jangan kebawa panik, jangan ngebut-ngebut" Pesan Mas Gibran padaku.
Aku mengangguk menurutinya, dan langsung mencium tangan nya untuk pergi.
Disepanjang jalan, aku memikirkan pak Johan, berharap semoga masih ada harapan untukya.
Sesampainya disana aku langsung ke Ruangan observasi dan menemui pak Johan yang sedang ditunggu oleh Mas Wahid dan rekan yang lain.
"Mas, gimana keadaanya Mas, masih kritis kah" Tanya ku pada Mas Wahid.
"Udah ngga terlalu kayak tadi Mba, udah sadar juga, tapi minta ketemu Mba Aya katanya" Jawabnya.
Aku langsung beralih menemui pak Johan.
"Pak, gimana kabarnya pak? Maaf tadi dinas pagi ngga sempet jengukin karna jadwal Padet" Kata ku padanya.
"Mba Aya, saya tadi tiba-tiba inget dan kangen anak saya Mba, saya pengen ketemu, saya ngga minta banyak, ketemu sebentar aja ngga papa" Ujarnya.
"Saya sampe sekarang ngga tahu dimana keberadaanya Pak, saya udah cari info kemana-mana, bahkan saya ke Rumah adik bapak kemarin" Jelasku.
"Mereka udah ngga mau saya Mba, mereka itu udah anggap saya ngga ada, tapi saya rindu Isty anak saya" Kata Pak Johan lagi.
"Isty itu anak bapak? "
"Iya Mba, usianya sama dengan Mba Aya sekitar 25 tahunan, nama lengkapya Dian Adisty Mba"
Mataku langsung terbelalak, terkejut mendengar nama dari anak Pak Johan, sama persis dengan nama Dian calon istri Mas Doni, tapi aku tetap berusaha tenang.
"Pak, bapak istirahat dulu ya, tadi udah minum Obat kan, besok kalo ketemu saya ajak anak bapak kesini ya" Jawabku mencoba menenangkan nya.
Pak Johan tak berkata apa-apa lagi hanya mengangguk dan tidur.
Aku berdiri menghampiri Mas Wahid.
"Mas, ikut saya sebentar" Kataku.
"Iya Mba, kemana kita"
"Ke bangsal Mas, tolong bukain pintu kamarnya Mas" Pintaku pada Mas Wahid.
Aku langsung masuk, menuju kamar Pak Johan, dan langsung ku cari buku diari nya yang berisi foto kemarin.
"Ya Allah, ternyata Isty dan Dian itu orang yang sama, berarti calon istri Mas Doni itu anak pak Johan, tapi kenapa Dia bilang yatim piatu, Ya Allah. "
Aku termenung sejenak memikirkan apa yang harus aku lakukan berikutnya.
"Aku harus ketemu Mas doni, iya harus ngomong sama Dia" Aku segera beranjak dari kamar bangsal dan keluar.
"Mas Wahid, apa instruksi dari dokter tadi? " Tanyaku.
"Pak Johan harus dirawat intensif di Rumah Sakit umum Mba yang fasilitasnya lengkap, supaya pengobatan nya maksimal" Jawabnya.
"Iya Mas, tolong diurus ya, pakai mobil Rumah Sakit aja, saya akan jadi penanggung jawabnya, nanti saya akan susul Kesana" Ujarku.
"Iya Mba, akan segera diurus" Jawabnya lagi.
Aku pamit, menemui Mas Gibran yang ternyata sudah menunggu diluar.
"Gimana Ya" Tanya nya padaku.
"Mas, kita kerumah Mas Doni ya" Pintaku.
"Heh, ngapain kesana, males aku nemenin kamu ketemu mantan".
" Mas, tolong, nanti aku jelasin, aku telpon Mas Doni dulu"
Mas Gibran menurutiku meskipun dengan terpaksa.
📞Hallo Mas lagi dimana?
📞dirumah Ya, ada apa?
📞aku kerumah sekarang ya, ada urusan bentar, nanti aku jelasin disana aja.
📞oh, oke aku tunggu.
Aku menutup telpon ku, dan kembali pada Mas Gibran, aku menjelaskan semua yang terjadi dengan pak Johan dan siapa Dian sebenarnya.
"Hah, serius Ya, jadi calon istri mantan kamu itu anaknya pasienmu, dan dia ngga mau ngakuin bapakny?" Tanya Mas Gibran yang terkejut.
"Iya Mas, aku pun terkejut Mas, dan sekarang aku pengen selesain Masalah ini dulu, setidaknya Dian mau menjenguk ayahnya meskipun sebentar, maaf ya Mas harus ngerepotin".
"Iya ngga papa, lagian aku sekarang kan pengangguran yang numpang hidup sama kamu, jadi aku harus ikutin kamu terus, apa lagi mau ketemu mantan" Jawabnya lagi.
"Massss mulai deh" Tegurku.
Mas Gibran hanya tersenyum mendengar teguranku tadi, kami berhenti bicara sejenak, mungkin Mas Gibran membiarkanku untuk berfikir tentang masalah ini.
Setengah Jam perjalanan kami sampai dirumah Mas Doni, dan langsung disambut dari depan teras rumahnya.
"Lihat tuh, kamu udah disambut" Kata Mas Gibran.
"Udah deh Mas, yok masuk" Ajak ku.
"Assalamualaikum Mas" Sapa ku pada Mas Doni.
"Waalaikum salam Aya Gibran, ayo masuk, udah aku tungguin" Kata Mas Doni.
Ku lihat Mas Gibran Diam saja dengan gaya sok cool didepan Mas Doni..
"Ada apa Ya, kok kelihatan nya penting banget? " Tanya Mas Doni setelah kami duduk.
"Ehm, Mas maaf sebelumnya, aku mau nanyain tentang Dian"
"Oh iya tanya apa,? Aku akan jawab sebisa ku"
"Ehm, apa Dian itu benar-benar, Yatim piatu Mas? " Tanyaku lagi.
"Iya, menurut pengakuanya sih begitu, ibu nya sudah meninggal tiga tahun lalu karna sakit setelah ditinggal ayahnya yang meninggal juga karna kecelakaan". Ujar Mas Doni.
" Wah bohong Dia, tega-teganya bialng ayah nya udah Mati" Celetuk Mas Gibran.
"Mas, tolong diemdiem, biar aku yang ngomong" Tegur ku.
Mas Gibran langsung Diam dan memainkan hpnya.
"Hah, Dian bohong, ada apa ini Aya, kamu tau sesuatu, apa Dian punya Rahasia? " Tanya Mas Doni lagi.
"Satu pertanyaan lagi Mas, apa Dian itu Namanya Dian Adisty? "
"Iya, nama Lengkapnya Dian Adisty dan di akad nanti yang kusebut adalah Dian Adisty binti Johan Prawiryo, bagaimana kamu tahu Aya" Tanya Mas Gibran lagi.
"Maaf Mas, tapi kamu harus tahu kenyataanya, tapi Ayah Dian belum meninggal melainkan di Rawat di Rumah Sakit Jiwa tempatku bekerja, ini foto pak Joha, dan ini foto pak Johan bersama Anak istrinya, dan ternyata anaknya itu adalah Dian calon istrimu" Jelask ku.
Betapa terkejut nya Mas Doni melihat semua bukti dari apa yang ku katakan tadi, raut Wajahnya langsung berubah rasa ingin marah, kasihan dan sedih bercampur aduk menjadi satu saat itu.
"Lalu, bagaimana bisa pak Johan dirawat disana Ya? Gimana kabarnya sekarang" Tanya nya lagi.
"untuk alasan masuk nya, nanti saja aku jelaskan, tapi yang jelas sekarang kondisi pak Johan sendiri sedang kritis Mas, ada tumor di Otak beliau dan harus segera diobati, dan untuk mengoprasi nya, kami harus meminta persetujuan Wali nya Mas"
"Ya Allah, apa sebelumnya kalian pernah menghubungi Dian, lalu bagaimana katanya? "
"Pernah sekali aku hubungi Mas, tapi jawabanya, Dian tidak mau mengambil Alih tanggung jawab itu, dan menyerahkan sepenuhnya pada kami, aku sebenarnya ingin Mas meengambil tanggung jawab itu, tapi Pak Johan sendiri sangat ingin bertemu anaknya".
"Berarti kita harus bawa Dian bertemu Ayahnya Ya"
"Itu maksudku Mas, tapi gimana caranya?"
"Ya itu tinggal urusan Doni lagi Ya, gimana cara nya bawa calon istrinya itu ke Rumah Sakit, kamu kan harus kesana juga ngurusin Rujukan"
"Iya Mas, tumben bener" Ledek ku.
"Aku ngga bego-bego amat kali Ya," Sahut Mas Gibran lagi.
"Oke, aku usahain bawa Dian kesana, paling engga, nanti malem" Janji Mas Doni.
"Iya Mas, aku tunggu sampe nanti malem, sekarang aku permisi dulu, nanti aku Wa beliau dirawat diruang apa"
"Iya Ya, sebelumnya Makasih ya".
" Iya Mas, assalamualaikum".
"Waalaikumsalam" Jawab Mas Doni.
Aku dan Mas Gibran langsung beranjak pergi, ke mobil dan langsung menuju Rumah Sakit umum.
"Mas Antr aku aja ngga papa, kalo capek Mas pulang aja" Ujarku.
"Terus nanti kamu pulangnya Gimana? "
"Ya, nanti bisa nebeng Mas Doni"
"Eeeh, engga-engga, biar aku antr terus tungguin kamu sampe pulang, daripada nanti kesempatan sama si Doni terus".
" Cemburu Mas? " Ledek ku.
"Engga, siapa yang cemburu, cuma supaya nanti kalo dilihat orang aku itu suami yang bertanggung jawab aja" Tangkas nya.
"Bilang aja cemburu, ayooo" Aku terus menggodanya, tertawa seraya mencubiti lengan nya.
"Apaan sih Aya, udah aku lagi nyetir Ya, Aya.." Tegurnya.
Tapi aku tetap menggodanya, dengan mengatakan Ia sedang cemburu padaku hingga kami sampai di RSUD.