Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 04
Kerah dress selutut itu direnggangkan, dan lipatan tepian terbuka hingga belahan dada menyembul keluar. Saila mengelus bukti betapa panasnya permainan ranjang Herlan barusan sampai meninggalkan banyak tanda kemerahan di area masih mudah terjangkau oleh mata.
Jemari terkulai di sisi badan, perlahan bergerak ke belakang dan meremas abaya. Dia melihat jelas jejak kecupan disertai hisapan pada belahan dada berkulit putih. Kemudian pandangannya silih berganti memperhatikan tanda yang sama di sisi leher suaminya.
Herlan mengikuti arah pandang istri pertama, netranya terbuka lebar. Baru teringat akan tanda merah yang dibuat Saila saat dia menikmati pelepasan. Kerah kaos pun dinaikan demi menutupi, namun terlanjur dilihat Janti.
“Mas lupa mau ngomong sama kamu, lagian cuma 4 hari, gak lebih.” Dia maju, namun seketika berhenti ketika Janti memilih mundur teratur. “Sayang, kamu marah?”
Masih dengan meremas abaya bagian belakang, Janti menjawab setelah beberapa kali menelan air ludah supaya suaranya tidak gemetaran. “Pergilah. Hati-hati di jalan. Semoga bulan madunya memberi kesan mendalam.”
Setengah tidak percaya mendengar jawaban Janti, rasanya aneh meski wanita ini memang penyabar, dan bijaksana, sering memaklumi. Herlan menyodorkan tangan kanan.
Janti melepaskan rematan pada baju, ia raih dan kecup punggung tangan yang kini bukan hanya miliknya lagi namun dipaksa harus berbagi.
“Mas boleh peluk kamu?” ada rasa enggan, tidak rela meninggalkan istrinya ini. Entah mengapa, seperti mulai tercipta jarak diantara mereka.
Saila menghentakkan kaki, tentu tidak senang Herlan masih perhatian ke Janti. Walaupun kesal, dia berusaha bersabar.
“Aku bau keringat. Diwakilkan Saila saja.” Disuguhkannya sebuah senyum manis, apa adanya. Pancaran mata pun tetap hangat.
Janti melewati suami dan adik madu. Menapaki tangga, baru saja berada di bagian tengah, langkahnya terjeda.
“Tolong kamu kemasi barang pribadimu, soalnya sepulangnya aku dari bulan madu, langsung mau menempati kamar utama,” Saila menyeletuk.
Tanpa menoleh ke belakang, dan enggan menjawab, dia melanjutkan menaiki anak tangga.
“Ayo, Mas. Nanti kita ketinggalan pesawat!” Saila menyentak tangan suaminya.
Pria masih memandangi punggung wanita menolak dipeluk itu, tiba-tiba tersadar dari lamunan. Keinginan menenangkan, meyakinkan istri pertama pun urung.
Sepasang pengantin baru, sama-sama menarik gagang koper, lalu mereka berpamitan ke orang tua yang duduk di sofa.
“Mama tunggu kabar baiknya setelah bulan madu nanti.” Darti mengelus punggung menantunya yang membungkuk demi bisa memeluk.
Saila menarik diri, lalu menggenggam tangan ibu mertua. “Doain ya, Ma, semoga langsung jadi dua. Anak kembar.”
Wajah Darti berseri-seri. “Wah … bakalan seneng banget kalau semisal beneran. Tapi biasanya anak kembar itu lebih besar berhasilnya semisal punya garis keturunan kembar juga, kan?”
Tanira menyahuti. “Garis keturunan keluarga mendiang suamiku, ada dua orang yang punya anak kembar. Saila pun sebelum melahirkan putrinya, sempat hamil bayi kembar, tapi sayang dia keguguran karena ulah mantan suaminya yang jahat itu.”
“Beneran kamu pernah keguguran dan janinnya kembar, Nak?” tanyanya menggebu-gebu.
Saila mengangguk. Sepasang bola mata beriris hitam tergenang buliran bening. “Kalau saja aku gak stres berat karena perselingkuhan laki-laki pengkhianat itu, anakku sudah tiga, Ma.”
Sebelum dinikahi oleh Herlan, status Saila adalah janda. Dia pernah menikah, namun tidak bertahan lama, cuma 4 tahun saja menjadi istri dari pria yang dilabeli penjudi dan tukang selingkuh.
Ibu mertua menunjukkan sikap empati tinggi, menepuk-nepuk punggung tangan menantu kesayangan. “Sudah jangan dipikirkan, semua telah berlalu. Sekarang kamu bersuamikan laki-laki bertanggung jawab dan pastinya setia.”
Air mata Saila pun terjatuh, membuat hati Herlan dan Darti terenyuh.
“Terima kasih, Ma. Mama, Papa, mas Herlan baik sekali. Berhati malaikat. Mau menerima seorang janda seperti aku ini,” katanya dengan suara pelan, air mata berderai.
Darti mengusap sebentar lengan mulus berjari lentik, kuku terawat. “Sengaja memang Mama nyarinya janda yang setidaknya pernah hamil dan melahirkan. Biar gak seperti beli Kucing dalam karung. Contohnya si Janti itu. Gadis tapi mandul, buat apa coba? Ngabisin beras ngasih makan setiap harinya.”
“Mama!” Herlan menegur, suaranya tetap pelan.
“Sudah-sudah, jangan berdebat. Buruan kalian jalan, nanti terlambat sampai bandara,” Tanira menyela, menjadi penengah.
Pengantin baru tersebut menyudahi acara pamitan, mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Tidak menyadari sepasang mata menyaksikan dibalik dinding ruang tangga terbuka.
Arjanti masih berdiam di sana, ingin mendengar percakapan lanjutan ibu mertua dengan besannya.
“Saila itu baiknya kebangetan ya, Jeng. Sudah tau suaminya penjudi, masih saja dia bertahan. Gitu si Riski ketahuan selingkuh, bisa-bisanya dikasih kesempatan kedua sampai lahir si Naida,” Darti menyayangkan sekaligus bangga memiliki menantu berhati lembut.
“Lah iya, Jeng. Bukan cuma Saila yang stres dulu, aku juga mengalami. Bayangin saja, belum selesai masa nifas, eh si mantan menantu gila itu kembali selingkuh sampai buat gempar satu desa. Untung saja pikiran putriku terbuka, menurut sewaktu dipaksa menggugat cerai Riski. Yang sampai sekarang masih kami sesali, kalah dalam perebutan hak asuh anak.” Tanira menyeka sudut mata basah.
“Sudah satu tahun semenjak perceraian itu, Saila gak diizinin bertemu putrinya yang sekarang sudah berumur 2 tahun,” suaranya kian lirih, seolah dia benar-benar sedih.
Darti pun ikutan darah tinggi ketika membayangkan bagaimana hancurnya seorang ibu dipisahkan dari buah hatinya.
“Semoga Saila segera hamil biar rasa sakit hatinya terobati dengan kehadiran anak. Ya, pasti bisa cepet hamil, dia kan masih 28 tahun sama seperti Herlan. Mereka berdua lagi subur-suburnya,” ia meyakinkan diri sendiri.
“Aku juga yakin banget kalau Saila bakalan cepet hamil, terlebih Herlan mulai kelihatan kecintaan. Siapa yang gak candu sama janda sudah memiliki jam terbang tinggi ya, Jeng?” ia tutup kalimat dengan terkikik pelan.
“Ya jelas sudah berhasil buat anakku ketagihan, Jeng.”
Suara tawa Darti dan besannya membahana hingga terdengar sampai lantai dua.
“Kalian berdua itu wanita bergelar ibu, mengapa sampai hati menyakiti perasaan wanita lain,” gumam Janti, dia menyudahi aksi menguping.
Pintu bercat putih itu didorong hingga terbuka separuh.
Hatinya bak diremas, dan jantung seperti ditikam saat melihat kamar pernah menjadi saksi cinta manisnya bersama sang suami, kini dalam keadaan ....
.
.
Bersambung.
poligami kata agama, giliran ngomongin adil persi dirinya sendiri,,, kocak emang manusia....
Eitss...apakah nanti Jantinakan ketemu dama.mantannya Saila yg super.kayakah...
Tapimjanhan kasih tahu kak Ninh dulu mumpungvradaranya belum menyala..
Beda dari yang lain cara penyajian,bahasa dan juga penulisannya nggak ngebikin kita sebagai pembaca ngerasa bosan.
memilih hidup bermartabat daripada hidup yang terjajah dan selalu direndahkan
👍💪
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti