Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syukurlah
Waktu seakan merambat lambat, hawa pengap bercampur aroma minyak kayu putih, keringat warga dan tanah basah mengepung indra penciuman Hazel. Ia mengabaikan denyut perih di telapak tangan dan kedua tumitnya, ia tetap memaksakan diri tersenyum hangat kepada setiap warga desa yang duduk di hadapannya.
"Sesudah makan, obat batuknya diminum tiga kali sehari ya, Kek. Ingat, sementara jangan minum air dingin dulu," ujar Hazel lembut sembari menyerahkan sebungkus plastik obat kepada seorang kakek tua.
"Terima kasih ya, Bu Dokter," ucap Kakek tersebut dan Hazel tersenyum ramah sebagai jawaban.
Tepat pukul dua siang, Sersan Baim meniup peluit singkat sebagai tanda bahwa pelayanan kesehatan untuk hari pertama telah selesai dan warga desa pun membubarkan diri dengan tertib.
"Kerja bagus semuanya, sekarang kita rapikan barang-barangnya dan segera kembali ke pos komando sebelum hujan," instruksi Sersan Baim seraya mulai mengangkat kotak-kotak besar berisi sisa obat.
Hazel melepas sarung tangan lateksnya dengan perlahan. Saat karet itu terkelupas, kulit telapak tangannya yang terluka akibat jatuh tadi terasa berdenyut ngilu. Plester yang sempat ia pasang sudah basah oleh keringat dan rembesan d*r*h tipis, ia menghela napas dan mengemasi stetoskop dan tensimeter ke dalam tas ransel medis.
Perjalanan kembali ke pos komando terasa dua kali lebih menyiksa, jalur bubur lumpur yang mereka lalui kini semakin licin karena mulai kehilangan sinar matahari.
Namun, kali ini Sersan Baim membantu para tenaga medis dengan perlahan sehingga mereka bisa melewatinya dengan lancar
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di pos komando. Begitu sampai, Hazel segera mengambil alat mandi, tubuhnya terasa remuk redam, seragam lapangannya kotor dan kepalanya terasa pusing karena kelelahan, saat ini ia hanya ingin mandi lalu tidur.
"Dokter Hazel, nggak ikut makan siang dulu?" tanya Suster Kinan saat mereka berpapasan di depan pintu kamar mandi..
"Duluan saja, Suster. Saya... saya mau langsung mandi dan istirahat," jawab Hazel dengan suara serak yang nyaris habis.
Di dalam kamar mandi, Hazel membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya luruh bersama kucuran air gunung yang membekukan kulit. Rasa perih saat air mengenai luka di telapak tangan dan kakinya, seolah menjadi penegas betapa menyedihkannya hidup yang ia jalani.
Setelah membersihkan tubuhnya, Hazel berganti pakaian dengan kaos yang nyaman. Ia tidak peduli dengan perutnya yang mulai berbunyi karena melewatkan makan siang, ia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya dan menutup matanya.
Begitu sampai di barak, Hazel langsung ke atas ranjang lipatnya dan menarik selimut hingga sebatas dada. Kedua matanya terpejam erat dan dalam hitungan detik, kesadarannya menguap dan membawanya jatuh ke dalam tidur yang lelap.
Untuk pertama kakinya, Hazel benar-benar tidur dengan nyenyak, ia mengerjap-ngerjap dan berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang total. Suasana di dalam barak begitu sepi, hanya terdengar dengus napas teratur dari Suster Kinan yang tampaknya masih enggan beranjak dari ranjang seberang, Hazel melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Astaga," gumam Hazel parau, tenggorokannya terasa sangat kering.
Hazel baru ingat, jika ia melewatkan makan siang, makan malam dan tertidur selama hampir lima belas jam penuh, ini juga menjadi tidur terlama yang pernah ia rasakan dalam hidupnya
Hazel menyingkap kelambu, menurunkan kedua kakinya perlahan. Begitu tumitnya menyentuh lantai papan, rasa perih langsung terasa. Luka lecet akibat gesekan sepatu kemarin telah mengering, namun kulit di sekitarnya terasa kaku dan mengeras. Ia meringis pelan, meraih botol air mineral di bawah ranjang dan meneguknya hingga tandas setengah botol.
"Dokter Hazel? Sudah bangun?" sebuah suara berbisik dari arah pintu.
Suster Rara masuk dengan membawa sebuah baskom plastik kecil dan handuk yang tersampir di pundak. Wajahnya tampak segar, berbeda dengan Hazel yang rambutnya masih berantakan.
"Eh, iya, Suster. Maaf ya, saya lama tidurnya," ucap Hazel kikuk, tangannya bergerak refleks merapikan rambutnya yang kusut.
Suster Rara terkekeh pelan dan melangkah mendekat, "Nggak apa-apa, Dok. Wajar kok, kemarin jalannya memang parah banget, oh ya hari ini kita free, Dok. Untung jadwal pelayanan ke desa berikutnya baru mulai besok, jadi hari ini kita cuma stand by di pos komando, kalau-kalau ada anggota tentara atau warga yang datang berobat ke barak medis," ucap Suster Rara.
Mendengar hal itu, separuh beban di pundak Hazel pun hilang seketika. Setidaknya, hari ini ia tidak perlu menyeret kakinya menembus bubur lumpur merah yang menyiksa itu lagi.
"Syukurlah," gumam Hazel.
Setelah itu, Hazel melangkah ke kamar mandi utnuk bersih-bersih dan tak lama kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, rambutnya yang basah sengaja dibiarkan terurai.
Pagi ini, langit tampak bersahabat. Matahari bersinar cerah tanpa terik yang menyengat, perlahan mengeringkan kubangan lumpur merah di luar.
Setelah mengganti pakaiannya, Hazel duduk bersila di atas ranjang lipatnya. Di tempat terpencil seperti ini, waktu luang adalah sebuah kemewahan yang langka.
Sementara yang lainnya memilih pergi ke area depan untuk mengobrol dengan para bintara, Hazel justru menikmati kesunyian barak wanita yang kosong lalu ia merogoh bagian bawah tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah novel tebal.
Hazel membuka halaman yang telah ditandai dan mulai menenggelamkan diri dalam untaian kalimat di dalamnya, jemarinya yang masih berbalut plester perlahan membalik halaman demi halaman. Keheningan di dalam barak, diselingi suara gemerisik daun pinus yang tertiup angin dari arah hutan, membuat fokus Hazel terkunci sepenuhnya.
Hazel benar-benar lupa waktu, tak terasa sudah pukul 11 siang dan Hazel masih larut dalam bacaannya hingga Suster Nayla datang.
"Dokter, ayo makan," ajak Suster Nayla.
"Oh ya, sudah waktunya makan siang ya," jawab Hazel.
Hazel menutup novel tebalnya, menyisipkan selembar kertas kecil sebagai pembatas halaman. Ajakan Suster Nayla barusan sukses menariknya kembali ke dunia nyata, perutnya sendiri langsung merespons dengan bunyi keroncongan yang cukup nyaring, wajar saja karena ia sudah melewatkan tiga kali waktu makan sejak kemarin siang.
Setelah merapikan rambutnya yang sudah mengering, Hazel menguncirnya asal ke belakang dan melangkah keluar dari barak. Sinar matahari siang ini terasa cukup terik, bau tanah kering yang khas menguar di udara dan bercampur dengan aroma masakan yang tercium dari arah kantin semi permanen.
Begitu Hazel menginjakkan kaki di ambang pintu kantin, suasana di dalam ruangan langsung menyergap indra pendengarannya. Riuh rendah suara tawa, denting sendok yang beradu dengan piring aluminium, serta obrolan santai para prajurit terdengar jauh lebih ramai daripada biasanya.
Kantin itu benar-benar penuh sesak, hampir seluruh bangku kayu panjang sudah terisi. Di sudut kanan, para tenaga medis tampak duduk bergerombol. Sementara di sudut kiri, para sersan dan bintara muda duduk menikmati jatah makan siang mereka dengan lahap.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak