NovelToon NovelToon
Simpanan Kesayangan Sang CEO

Simpanan Kesayangan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Dendam konglomerat / Sekretaris
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.

Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.

Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Kamu Bukan Orang Lain

"Bea Cukai?" Damar melepas jasnya dan menyampirkannya di sandaran kursi teras. "Pemeriksaan biasa. Kita kooperatif. Tagih bisa urus."

Hanya itu yang dia katakan sepanjang hari. Di kantor, di mobil, di meja makan. Pemeriksaan biasa. Tagih bisa urus. Seolah kontainer-kontainer di Batam itu berisi kardus kosong, dan bukan barang yang nilainya bisa membeli separuh gedung di Sudirman.

Pagi itu, di depan cermin meja rias, dia merasakan tatapan laki-laki itu di punggungnya ketika Reza mengatakan ada yang memberi info. Dia tidak menoleh. Dia terus menyisir rambutnya, karena hanya itu yang bisa dia lakukan.

Bukan dia. Dia tidak pernah menghubungi Bea Cukai. Dia bahkan tidak tahu nomor kontainer mana pun di Batam. Tapi ketika dia duduk sendirian di toilet kantor siang harinya, dia mengirim satu pesan singkat ke nomor yang tidak tersimpan di ponselnya: Kamu? Balasannya datang satu jam kemudian. Bukan aku. Hati-hati.

Kalau bukan dia, dan bukan Radit, berarti ada orang lain yang sedang bermain di papan yang sama.

Nala tidak bertanya. Dia sudah belajar bahwa laki-laki ini akan berbicara kalau dia mau, dan diam kalau dia tidak mau, dan pertanyaan hanya membuat diamnya lebih panjang.

Selasa malam, empat November. Pukul sebelas. Hujan baru saja berhenti, dan udara di balkon lantai dua rumah Pondok Indah terasa bersih dan dingin. Lampu-lampu taman di bawah memantul di genangan air di batu-batu jalan setapak. Dari kejauhan, bau tanah basah dan sedap malam naik ke balkon.

Nala duduk di kursi rotan dengan secangkir teh jahe. Damar berdiri di pagar, memunggunginya.

"Batam," katanya tiba-tiba.

Nala mengangkat mata.

"Lima tahun lalu aku mulai proyek di sana. Pelabuhan, gudang, distribusi. Zona perdagangan bebas. Ada beberapa mitra yang bekerja sama denganku. Beberapa yang tidak pernah kutemui wajahnya." Dia diam sebentar. "Beberapa dari mereka mulai tidak bisa dipercaya."

Nala menunggu. Dia tidak menyela.

"Yang di Bintan itu bukan pertama kalinya. Tahun lalu ada yang merusak rem mobilku. Sekarang ada yang memberi tahu Bea Cukai kontainer mana yang harus dibuka." Damar memutar badannya dan bersandar di pagar, menatap Nala. "Aku tidak tahu siapa. Belum."

Dia tidak mengatakan apa isi kontainer itu. Dia tidak mengatakan siapa mitra yang tidak pernah dia temui wajahnya. Dia hanya mengatakan sebanyak itu, dan berhenti, seperti orang yang baru membuka pintu sedikit untuk melihat apakah angin di luar terlalu kencang.

"Kenapa kamu cerita ke aku?" tanya Nala.

Damar menatapnya.

"Kamu bukan orang lain," katanya.

Teh di tangan Nala tiba-tiba terasa sangat panas.

Kamu bukan orang lain.

Dia meletakkan cangkir itu di meja rotan dengan sangat hati-hati, supaya tangannya tidak terlihat gemetar. Lalu dia berdiri dan berjalan ke pagar, ke tempat laki-laki itu bersandar, dan menyandarkan dahinya di dada Damar.

Damar melingkarkan lengannya di punggungnya.

Mereka berdiri seperti itu lama. Lalu Damar mengangkat dagunya dengan dua jari dan menciumnya, pelan, di bawah langit yang masih basah. Nala membalas ciuman itu dengan mata terpejam.

Di balik kelopak matanya, dia melihat dinding penuh foto. Kalender yang berhenti di bulan Desember. Selembar foto yang digunting.

Kamu bukan orang lain.

Dia adalah satu-satunya orang lain di rumah ini. Satu-satunya yang datang dari luar, dengan pisau di balik punggungnya, untuk menghancurkan semua yang laki-laki ini punya. Dan laki-laki ini baru saja membukakan pintu untuknya.

Damar menarik bibirnya sedikit dan menatapnya. "Kenapa?"

"Kenapa apa?"

"Kamu menangis."

Nala menyentuh pipinya. Basah.

"Angin," katanya. "Matanya kena angin."

Damar tidak percaya. Tapi dia tidak bertanya. Dia hanya menarik kepala Nala ke dadanya lagi dan mengusap rambutnya, dan Nala membiarkannya, dan membenci dirinya sendiri karena membiarkannya.

***

Kamis minggu berikutnya, Laras menelepon.

"Kak. Aku mau cerita, tapi jangan bilang Mas, ya."

"Kenapa?"

"Nanti Mas lebay. Ngirim bodyguard ke kampus." Laras menurunkan suaranya. "Kayaknya ada yang ngikutin aku, Kak. Udah seminggu. Cowok. Masih muda, mukanya bersih, ganteng malah. Pakai jaket hitam terus. Kadang di kantin, kadang di halte bikun, kadang di depan kos temanku di Kober. Waktu aku lihat, dia langsung pura-pura main HP."

"Kamu yakin dia mengikutimu? Bukan cuma kebetulan?"

"Lima kali, Kak. Lima kali dalam seminggu. Kebetulan apaan."

Nala memikirkannya sebentar. "Sabtu kamu ke kampus?"

"Ada rapat UKM. Sampai sore."

"Aku ke sana."

***

Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang dia kira. Jumat sore, Reza muncul di depan mejanya dengan sebuah keranjang buah besar yang dibungkus plastik bening dan pita merah.

"Bu Nala." Dia berdeham. "Besok kamu ke UI, kan? Laras cerita."

"Iya, Pak Reza."

"Titip ini." Dia meletakkan keranjang itu di meja. Apel, anggur, jeruk, dua buah naga, dan sebuah kartu kecil yang terselip di antara buah-buahan. "Bilang dari kantor. Buat... ya, buat semangat kuliah."

Nala menatap keranjang itu. Lalu menatap Reza. Laki-laki yang biasanya tidak pernah berhenti bercanda itu sekarang menggaruk tengkuknya dan menatap ke arah jendela.

"Dari kantor," ulang Nala.

"Dari kantor."

Dia tidak berkomentar.

***

Di kantin FISIP hari Sabtu siang, Laras menerima keranjang buah itu dengan teriakan senang. Dia membuka plastiknya, mengambil sebuah apel, dan menggigitnya. Lalu dia menemukan kartu kecil itu dan membacanya.

Senyumnya tidak hilang. Tapi berubah. Lebih sopan, lebih hati-hati.

"Kak Reza baik banget," katanya, dan menyelipkan kartu itu ke dalam tasnya tanpa membacanya dua kali. "Kayak kakak kedua."

Nala mengamati wajah gadis itu. Tidak ada rona merah. Tidak ada senyum yang ditahan. Hanya rasa sayang yang hangat dan tenang, jenis rasa sayang yang diberikan kepada keluarga.

Kayak kakak kedua. Kalau Reza ada di sini, dia akan menelan kalimat itu seperti menelan batu.

Nala memutuskan untuk tidak menyampaikannya.

***

Rapat UKM Laras selesai pukul lima lewat. Langit sudah mendung lagi, dan gerimis mulai turun ketika mereka berjalan keluar dari kampus ke arah Kober, ke kos teman Laras tempat gadis itu meninggalkan motornya.

Nala membawa payung panjang berwarna hitam. Dia membelinya pagi tadi di minimarket dekat stasiun, dan dia memilih yang gagangnya terbuat dari kayu keras, bukan plastik.

Gang di belakang deretan kos-kosan itu sempit, hanya muat dua motor berpapasan. Lampu jalannya baru menyala. Di kiri-kanan, pintu-pintu kos tertutup, jendela-jendela bertirai. Bau gorengan dari warung di ujung gang.

"Itu," bisik Laras. "Kak. Di belakang."

Nala tidak menoleh. Dia sudah melihatnya di pantulan kaca jendela sebuah kos, sepuluh langkah di belakang mereka. Laki-laki muda berjaket hitam, tudungnya ditarik ke atas kepala, kedua tangan di saku.

"Jalan terus," kata Nala. "Jangan lari."

Mereka berjalan. Langkah di belakang semakin cepat.

Lalu, di sebuah tikungan di mana gang itu menyempit lagi, laki-laki itu berlari.

Nala mendorong Laras ke samping, ke sebuah ceruk pintu, dan berbalik.

Tangan kanan laki-laki itu sudah keluar dari saku. Ada kilau logam di genggamannya.

Nala tidak berpikir. Gagang payung kayu itu berayun dari bawah ke atas, keras, menghantam pergelangan tangan laki-laki itu. Pisau itu terlempar dan berdenting di aspal. Laki-laki itu memekik. Sebelum dia bisa mundur, Nala menangkap lengannya, memutarnya ke belakang punggung, dan menekannya ke dinding.

"Kak!" Laras menjerit.

Laki-laki itu menggeliat. Dia jauh lebih muda dari dugaan Nala, sembilan belas atau dua puluh. Dan dia tidak berhenti. Tangan kirinya bergerak ke dalam jaket.

Nala melihatnya terlambat. Pisau kedua, lebih kecil, sudah ada di tangan kiri itu, dan berayun ke belakang, ke arah perutnya.

Lalu sebuah lengan muncul di antara mereka.

Pisau itu menyayat lengan itu, bukan perutnya. Darah menetes ke aspal yang basah, gelap dan cepat.

Nala menoleh.

Arka berdiri di sebelahnya, tangan kanannya masih terangkat, kemeja birunya robek di bagian lengan bawah dan basah oleh darah. Dia tidak terlihat kesakitan. Dia terlihat marah, dengan cara yang belum pernah Nala lihat di wajahnya.

Dengan tangan kirinya, dia merebut pisau kecil itu dari genggaman laki-laki muda itu dan melemparnya jauh ke selokan.

"Candra!" Suaranya menggelegar di gang sempit itu. "Minta maaf!"

Laki-laki muda itu berhenti melawan.

Nala melepaskan lengannya dan mundur selangkah. Laki-laki itu berbalik perlahan, bersandar di dinding, tudungnya terlepas dari kepala.

Wajahnya bersih dan halus, hampir seperti anak SMA. Matanya mirip mata Arka. Hanya saja, di mata itu tidak ada senyum. Hanya ada sesuatu yang panas dan pahit dan sudah lama dipelihara.

Dia menatap Arka. Lalu dia menatap Nala. Lalu Laras, yang masih meringkuk di ceruk pintu dengan tangan menutup mulut.

"Kenapa aku yang harus minta maaf?" katanya. Suaranya bergetar, tapi bukan karena takut. "Kenapa Kak Arka belain dia?"

Dia menunjuk Nala dengan dagunya.

"Dia orangnya Damar, Kak!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!