Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.32 — Memasuki Kota Batu Hitam
Hari demi hari berlalu seiring langkah Xiao Yun yang terus mengarah ke utara. Semakin jauh ia meninggalkan Hutan Pinus Utara, pemandangan di sekitarnya pun perlahan berubah. Hutan lebat yang sebelumnya mendominasi perjalanan mulai berkurang sedikit demi sedikit, berganti dengan jalan-jalan yang semakin lebar dan ramai dilalui orang. Jalur setapak yang dahulu sunyi kini berubah menjadi jalur perdagangan yang dipenuhi lalu-lalang para pedagang, pengembara, dan rombongan musafir yang datang dari berbagai penjuru.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Xiao Yun menyaksikan kereta dagang dalam jumlah yang begitu banyak. Kuda-kuda menarik gerobak besar yang dipenuhi berbagai macam barang dagangan, sementara para pedagang berjalan hilir mudik sambil menawarkan dagangan mereka kepada setiap orang yang lewat. Percakapan, tawa, dan suara roda kereta yang bergesekan dengan jalan berpadu menjadi keramaian yang belum pernah ia temui sebelumnya. Semua pemandangan itu terasa begitu asing sekaligus menarik bagi seorang bocah yang selama ini hanya mengenal kehidupan sederhana di Desa Kabut.
"Dunia ternyata sebesar ini," gumam Xiao Yun tanpa mampu menyembunyikan rasa kagumnya.
Luo Hai hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu. "Apa yang kau lihat sekarang hanyalah sebagian kecil dari dunia ini. Semakin jauh kau melangkah, semakin kau akan menyadari betapa luasnya langit dan bumi."
Perjalanan terus berlanjut. Tidak lama kemudian, Xiao Yun mulai melihat sosok-sosok yang tampak berbeda dari orang biasa. Sebagian membawa pedang panjang di punggung, sebagian lagi mengenakan jubah indah dengan lambang yang tidak dikenalnya. Ada pula beberapa orang yang hanya berjalan santai, tetapi memancarkan aura kuat yang membuat orang-orang di sekitar tanpa sadar memilih menyingkir untuk memberi jalan.
"Itu para kultivator," ujar Luo Hai. "Mereka bukan pemburu biasa seperti Han Wei."
Xiao Yun mengamati mereka dengan penuh rasa ingin tahu. Dari cara berjalan, sorot mata, hingga aura yang mereka pancarkan, semuanya memperlihatkan perbedaan yang sangat jelas dibanding orang-orang biasa. Saat itu ia benar-benar menyadari bahwa dirinya masih sangat kecil jika dibandingkan dengan dunia luar yang baru mulai dimasukinya. Namun anehnya, kesadaran itu tidak membuat semangatnya surut. Justru sebaliknya, tekad di dalam hatinya semakin kuat untuk menjadi lebih tangguh.
Menjelang sore, sebuah bayangan raksasa perlahan muncul di kejauhan. Xiao Yun tanpa sadar menghentikan langkahnya. Matanya membelalak ketika melihat tembok batu yang menjulang sangat tinggi membentang sejauh mata memandang. Di atas tembok itu berkibar bendera-bendera besar berwarna hitam dan emas yang terus berkibar tertiup angin. Menara-menara penjagaan berdiri kokoh di beberapa sudut, sementara puluhan penjaga bersenjata lengkap berjaga dengan wajah penuh kewaspadaan.
"Ini..." bisik Xiao Yun lirih.
Ia tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Selama hidupnya, ia belum pernah melihat bangunan sebesar dan semegah itu. Gerbang batu raksasa berdiri terbuka lebar, memperlihatkan arus manusia yang keluar masuk tanpa henti. Pedagang, pengembara, pemburu, hingga para kultivator bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang jauh lebih ramai daripada apa pun yang pernah ia lihat sebelumnya.
Luo Hai berdiri di sampingnya sambil memandang tembok raksasa itu.
"Terkejut?"
Xiao Yun hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
Luo Hai tersenyum tipis sebelum berkata dengan suara tenang, "Desa Kabut hanyalah setitik debu. Kerajaan Yan Utara pun hanyalah sebuah permulaan. Kau masih belum benar-benar melihat dunia yang sesungguhnya."
Ucapan itu membuat jantung Xiao Yun berdegup semakin kencang. Jika sebuah kerajaan saja sudah tampak sebesar dan semegah ini, seberapa luas dunia yang terbentang di luar sana? Seberapa kuat para kultivator yang hidup di dalamnya? Dan seberapa panjang jalan yang harus ia tempuh untuk mengungkap seluruh rahasia Nadi Kekosongan?
Dengan semangat yang semakin membara, Xiao Yun kembali melangkah menuju gerbang. Pemeriksaan berlangsung sederhana. Karena ia tidak membawa barang yang mencurigakan dan tidak membuat keributan, para penjaga segera mengizinkannya melewati gerbang tanpa kesulitan.
Matahari mulai condong ke arah barat ketika Xiao Yun meninggalkan jalan utama dan mengikuti arus orang-orang yang bergerak menuju sebuah kota besar di perbatasan Kerajaan Yan Utara. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari sejak berpisah dengan Han Wei dan kelompok pemburu, akhirnya tujuan berikutnya telah berada tepat di depan matanya.
Dari kejauhan, tembok Kota Batu Hitam tampak menjulang tinggi bagaikan dinding raksasa yang membelah daratan. Batu-batu hitam yang menjadi penyusun tembok memantulkan cahaya matahari senja sehingga kota itu terlihat kokoh sekaligus megah. Di atasnya berkibar beberapa panji kerajaan, sementara para penjaga bersenjata berdiri tegak mengawasi setiap orang yang keluar maupun masuk melalui gerbang utama.
Xiao Yun menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya menyapu bangunan besar itu tanpa berkedip. Selama hidupnya di Desa Kabut, ia belum pernah membayangkan ada kota sebesar ini. Dibandingkan dengan desa kecil tempat ia dibesarkan, Kota Batu Hitam benar-benar tampak seperti dunia yang berbeda.
Luo Hai memperhatikan raut kagum di wajah muridnya, lalu tersenyum tipis.
"Baru melihat kota perbatasan saja sudah seperti ini. Kalau suatu hari nanti kau melihat ibu kota kerajaan atau kota milik sekte besar, kau akan mengerti betapa luasnya dunia kultivasi."
Xiao Yun mengangguk perlahan.
"Dunia ternyata jauh lebih besar daripada yang kubayangkan."
"Itulah sebabnya kau tidak boleh cepat puas," jawab Luo Hai dengan tenang. "Semakin luas dunia yang kau lihat, semakin kau akan menyadari betapa sedikit yang telah kau ketahui."
Kata-kata itu tertanam dalam benak Xiao Yun. Ia menarik napas panjang sebelum kembali melangkah mengikuti antrean orang-orang yang hendak memasuki kota.
Suasana di depan gerbang sangat ramai. Pedagang membawa kereta penuh barang dagangan, para pengembara memikul ransel besar di punggung mereka, sementara beberapa pemburu membawa hasil buruan yang masih berlumuran darah. Sesekali tampak sosok berpakaian mewah dengan pedang tergantung di pinggang berjalan melewati kerumunan. Orang-orang di sekitar tanpa sadar memberi jalan kepada mereka.
Tatapan Xiao Yun tidak bisa berhenti mengamati semua pemandangan baru itu.
"Itu para kultivator?" tanyanya pelan.
"Sebagian besar memang begitu," jawab Luo Hai. "Meski kultivasi mereka tidak tinggi, orang biasa tetap enggan mencari masalah dengan mereka."
Xiao Yun hanya mengangguk. Ia semakin memahami bahwa dunia di luar Desa Kabut memiliki aturan yang sama sekali berbeda.
Tak lama kemudian gilirannya tiba.
Seorang penjaga berbadan tegap melirik Xiao Yun dari atas hingga bawah. Melihat bocah berusia sepuluh tahun datang seorang diri tanpa pendamping, wajahnya sempat menunjukkan sedikit keheranan.
"Kau datang sendirian?"
"Iya."
"Tujuanmu?"
"Mencari tempat singgah."
Penjaga itu kembali memperhatikan Xiao Yun beberapa saat, lalu mengulurkan tangan.
"Biaya masuk."
Xiao Yun segera mengeluarkan beberapa koin tembaga dari kantong kain yang diberikan Han Wei. Setelah menerima pembayaran, penjaga itu mengangguk dan memberi jalan.
"Masuklah. Jangan membuat keributan di dalam kota."
"Terima kasih."
Xiao Yun melangkah melewati gerbang batu yang menjulang tinggi. Begitu benar-benar memasuki Kota Batu Hitam, matanya langsung membelalak.
Jalan-jalan utama terbentang lebar dengan batu-batu yang tersusun rapi. Bangunan bertingkat berjajar di kedua sisi jalan, jauh lebih tinggi daripada rumah-rumah sederhana yang pernah ia lihat sebelumnya. Berbagai toko memajang barang dagangan di depan bangunan mereka, sementara para pedagang sibuk menawarkan dagangan kepada setiap orang yang lewat.
Suara roda kereta yang bergesekan dengan batu jalan berpadu dengan teriakan para penjual, percakapan para pembeli, dan langkah kaki ratusan orang yang berlalu-lalang. Keramaian itu menciptakan suasana hidup yang belum pernah Xiao Yun rasakan sebelumnya.
Ia berjalan perlahan sambil memandang ke segala arah.
Di sisi kanan jalan berdiri sebuah toko pandai besi. Beberapa bilah pedang, tombak, dan kapak tergantung rapi di depan toko, memantulkan cahaya senja. Tak jauh dari sana terdapat toko obat dengan rak-rak penuh botol kecil berisi cairan berwarna-warni. Aroma berbagai tanaman obat memenuhi udara di sekitarnya.
...BERSAMBUNG ...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?