Novia Maharani itu paket lengkap masalah: ratu bolos, langganan BK, dan hobi bikin rusuh di sekolah. Tapi hidupnya berbalik 180 derajat saat dijodohkan paksa dengan Reyhan Aldebaran, Ketua OSIS paling dingin, perfeksionis, dan kaku se-antara jagat.
Tinggal seatap dengan musuh bebuyutan itu neraka. Reyhan benci kekacauan, sedangkan Novia adalah kekacauan itu sendiri. Namun, di balik sikap pemberontak Novia, ada luka masa lalu yang ia sembunyikan dengan tawa. Dan di balik wajah datar Reyhan, ada rahasia yang membuatnya enggan menyentuh cinta.
Saat tembok pertahanan mereka mulai runtuh oleh perhatian kecil yang bikin baper, rahasia keluarga dan ego remaja mengancam segalanya. Bisakah si pembuat onar dan si Ketua OSIS belajar dewasa bersama, atau pernikahan ini justru menghancurkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Dingin Mulai Mencair? 07.
Cahaya koridor yang masuk lewat pintu yang terbuka paksa itu terasa menyakitkan di mata Novia.
Namun, pemandangan di depannya jauh lebih tidak nyata.
Reyhan ada di sana. Cowok yang beberapa jam lalu menatapnya penuh ancaman, kini berdiri dengan napas tersengal-sengal.
Dada cowok itu naik turun dengan brutal. Rambutnya basah kuyup, membasahi kening dan menyembunyikan sebagian sorot matanya yang biasanya sedingin es.
"Novia..."
Suara Reyhan serak, nyaris hilang ditelan gemuruh guntur. Begitu matanya menangkap sosok Novia yang meringkuk gemetar di sudut ruangan seperti binatang buruan yang terluka, topeng dinginnya Reyhan runtuh total.
Tanpa memedulikan genangan air yang terbawa dari sepatunya, Reyhan melangkah lebar. Dia berlutut di depan Novia.
Tangan cowok itu terulur, gemetar samar—sebuah pemandangan langka bagi seorang Reyhan yang selalu memegang kendali atas segalanya.
"Jangan sentuh gue!" jerit Novia histeris. Suaranya serak, habis karena terlalu banyak berteriak. Dia semakin merapatkan tubuhnya ke dinding berdebu, menolak kehadiran siapapun.
Di kepalanya, bayangan ayahnya dan wajah dingin Reyhan melebur menjadi satu monster yang sama. "Pergi! Gue benci sama lo! Pergi!"
Reyhan tidak mundur. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah menampar wajahnya dengan begitu keras.
Ego yang biasanya dia agungkan seolah menguap keluar dari pori-pori tubuhnya yang kedinginan.
"Ini gue, Nov. Ini gue, Reyhan," bisik Reyhan, mengabaikan bentakan gadis itu. Dia meraih kedua pergelangan tangan Novia yang gemetar hebat, menahannya dengan lembut tapi tegas. "Lo aman. Gue di sini."
"Lepas! Lo jahat, Rey! Kenapa lo hukum gue di sini?!" Tangis Novia pecah. Dia memukul dada basah Reyhan dengan sisa tenaga yang dia miliki. Pukulan-pukulan itu lemah, sama sekali tidak menyakiti Reyhan, justru getaran keputusasaan di setiap hantaman itulah yang mencabik-cabik hati cowok itu.
"Maaf..." Suara Reyhan bergetar. Dia menarik tubuh Novia ke dalam pelukannya. Rapat. Sangat rapat hingga detak jantungnya yang berpacu gila bisa dirasakan langsung oleh Novia. "Maafkan gue. Gue nggak tahu lo takut gelap. Gue nggak tahu, Nov..."
Kehangatan tubuh Reyhan yang kontras dengan dinginnya udara gudang perlahan menyerang indra peraba Novia.
Aroma maskulin bercampur wangi air hujan dari tubuh Reyhan perlahan menggantikan bau debu dan trauma yang menyesakkan parunya.
Perlahan, cengkeraman histeris di jemari Novia melemas. Kepalanya terkulai di bahu Reyhan, kesadarannya mulai menipis akibat hiperventilasi yang menguras habis dayanya.
"Dingin, Rey..." cicit Novia lirih, sebelum matanya terpejam total. Tubuhnya mendadak jadi seringan kapas, terkulai lemas dalam dekapan cowok itu.
"Nov? Novia! Buka mata lo, sialan!" Reyhan menepuk pipi Novia panik. Nihil. Wajah gadis itu sepucat kertas tipis, dengan sisa air mata yang mengering di pipinya.
Tanpa berpikir dua kali, Reyhan menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Novia dan tangan lainnya menopang punggung gadis itu.
Dia mengangkat tubuh Novia dalam satu gerakan mulus.
Di bawah guyuran hujan yang masih menggila di luar area sekolah, Reyhan menerobos badai, membawa Novia menuju mobilnya yang terparkir sembarangan di depan gerbang.
Masa bodoh dengan satpam yang terus mengomelinya.
Saat ini, hanya ada satu hal yang berputar di otak Reyhan: Novia tidak boleh mati.
Perjalanan menuju apartemen terasa seperti neraka yang berjalan lambat bagi Reyhan.
Tangan kirinya mencengkeram setir dengan kuat, sementara tangan kanannya sesekali menyentuh kening Novia yang berbaring di kursi penumpang, memastikan gadis itu masih bernapas.
AC mobil sudah dia matikan total, diganti dengan heater yang dipasang di suhu tertinggi.
Begitu sampai di unit apartemen mereka yang menjadi saksi bisu pernikahan rahasia mereka, Reyhan kembali menggendong Novia.
Dia membawa tubuh ringkih itu langsung menuju kamar tidur Novia.
Dengan canggung namun penuh kehati-hatian, Reyhan mengganti kaus kaki Novia yang basah dengan yang kering, menyelimuti tubuh gadis itu hingga sebatas dada dengan bed cover tebal. Dia mengambil handuk kecil dan baskom berisi air hangat, lalu duduk di tepi ranjang.
Lampu tidur yang temaram memantulkan siluet wajah Novia.
Dalam tidurnya, gadis itu tidak terlihat seperti Novia si pembangkang yang selalu menatapnya dengan pandangan menantang di sekolah.
Di sini, di bawah temaram lampu, dia hanyalah seorang gadis remaja yang terlihat begitu rapuh, seolah jika Reyhan menyentuhnya terlalu keras, dia akan hancur berkeping-keping.
Reyhan mengusap sisa air mata di sudut mata Novia dengan handuk hangat. "Kenapa lo harus sekeras kepala itu di depan gue, Nov?" bisiknya lirih pada kesunyian kamar. "Kalau lo bilang dari awal lo punya trauma... gue nggak akan pernah ngelakuin hal sebodoh ini."
Tiba-tiba, tubuh di balik selimut itu menegang. Alis Novia bertaut rapat, ekspresi wajahnya mendadak berubah penuh kesakitan yang amat sangat.
"Nggak... Ibu, jangan pergi..."
Reyhan tersentak. Dia memajukan tubuhnya, mendekatkan telinganya ke bibir Novia yang bergetar.
"Ibu... tolongin Novia... di sini gelap..." Air mata baru kembali luruh dari sudut mata Novia yang terpejam. Suaranya terdengar begitu kekanak-kanakan, persis seperti suara anak kecil yang tersesat di tengah hutan. "Ayah jahat, Bu... Ayah jodohin Novia. Ibu di mana? Kenapa Ibu tinggalin Novia sendirian? Novia kangen..."
Mendengar racauan itu, ada sesuatu yang mendadak patah di dalam dada Reyhan.
Selama ini yang dia tahu dari berkas data siswa, ibu kandung Novia sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Namun, melihat bagaimana cara Novia menangis—sebuah tangisan yang menyimpan luka kehilangan yang begitu menganga dan tak terselesaikan—membuat hati dingin sang robot sekolah terusik hebat.
Ada getaran aneh yang menjalar di dada Reyhan. Rasa bersalah yang tadi mengepungnya, kini bermutasi menjadi rasa ingin melindungi yang luar biasa besar.
Reyhan mengulurkan tangannya, menyusupkan jemarinya ke dalam genggaman tangan Novia yang mencari-cari pegangan dalam igauannya.
Begitu jemari mereka bertautan, Novia mencengkeram tangan Reyhan dengan amat erat, seolah tangan cowok itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra traumanya.
Reyhan tertegun menatap tautan tangan mereka. Dia tidak melepaskannya.
Ditatapnya wajah damai Novia yang perlahan mulai tenang setelah menggenggam tangannya.
'Siapa sebenarnya lo yang terkubur di balik topeng cewek pemberontak itu, Novia?' batin Reyhan, matanya menggelap penuh tekad yang belum pernah ada sebelumnya.
......................
...***************...
Tbc,