Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Rasa sesak yang tercipta di dalam mansion megah Ashford benar-benar menghimpit dada Dominic hingga ia merasa tak lagi memiliki ruang untuk bernapas.
Suasana ruang tengah yang dilapisi dinding marmer dan ukiran emas itu terasa begitu dingin, menjelma menjadi arena pengadilan berdarah baginya.
Berulang kali Dominic melempar sanggahan, menggeleng keras dengan wajah yang terbakar amarah dan keputusasaan, menyatakan bahwa ia tidak pernah meniduri Florence. Namun, kata-katanya menguap begitu saja, tergilas oleh histeria sang Mommy yang menangis dan ancaman keluarga besar yang menuntut pertanggungjawaban.
"Aku tidak bersalah, Dad! Demi Tuhan, aku tidak pernah menidurinya!" bentak Dominic, suaranya parau menahan sesak.
Namun sebelum kalimat itu selesai memotong ketegangan, pintu mansion yang megah tiba-tiba terdorong terbuka.
Langkah kaki yang tenang namun tegas bergema di atas lantai marmer.
Seorang gadis muda berparas jelita berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan kemeja katun berkerah sedikit terbuka yang gagal menyembunyikan corak kemerahan—bercak kepemilikan dan penyatuan panas yang terukir di sepanjang leher hingga tulang selangkanya dari malam tadi.
Dia adalah Ester Alba.
Ester berdiri di sana dengan raut wajah yang dipasang begitu sempurna: perpaduan antara kepasrahan seorang korban, keteguhan hati, dan luka yang dalam. Tanpa ragu, ia melangkah maju beberapa tindak, cukup dekat untuk memancing perhatian seluruh pasang mata yang terperanjat di ruangan itu.
Dengan nada suara yang sengaja dibuat lirih namun bergetar hebat—cukup nyaring untuk memecah keheningan yang mencekam—Ester memutar balik arah angin.
"Lalu bagaimana dengan saya, Tuan?" suara Ester mengalun lembut, memotong perdebatan. "Saya juga... sedang hamil."
DUAR!
Pengakuan itu menghantam ruang tengah Ashford bagaikan ledakan bom atom di pagi buta.
Seketika, atmosfer di ruangan itu membeku. Seluruh pasang mata beralih menatap sosok Ester yang berdiri anggun di dekat pilar porselen.
"Hamil?!" cetus Florence seketika, matanya membelalak lebar, wajah pucatnya berubah menjadi kemerahan akibat amarah yang mendadak membakar dadanya.
Ester tak mengalihkan pandangannya.
Manik mata cokelatnya yang berkaca-kaca terkunci rapat pada sosok Dominic yang berdiri kaku di tengah ruangan. Dengan bibir yang sedikit bergetar dan nada suara yang terdengar begitu tulus tanpa beban, Ester menjawab, "Yah... saya hamil anak Dominic."
Tanpa sebutan 'Tuan'. Tanpa embel-embel formalitas. Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, menegaskan kedekatan intim yang tak lagi bisa dibantah.
Deg!
Kaetos Ashford—sang kepala keluarga yang selama ini dihormati di seluruh penjuru kota—hanya mampu mengusap mukanya kasar lalu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut hebat.
Dua wanita dalam satu pagi berdiri di rumahnya dan sama-sama mengaku sedang mengandung anak dari putra Ketiganya. Jika saja Dominic sejak dulu dikenal sebagai pria yang gemar berganti pasangan atau bermain wanita, Kaetos tidak akan semenyedihkan ini menghadapi kekacauan.
Di mata dunia dan keluarga, Dominic Ashford adalah sosok yang tampak sempurna dari sudut mana pun—pria paling lembut, paling teratur, dan paling beradab dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.
Namun lihatlah pagi ini!
Pria itu bertransformasi menjadi seorang casanova tak tahu diri yang menghamili kekasih sepuluh tahunnya sekaligus guru privat dari keponakannya sendiri di bawah satu atap yang sama.
"Oh, Tuhan..." gumam Parrie Ashford tak kalah histeris.
Suara tangis sang ibu pecah kembali, menutup wajahnya yang sembab dengan kedua telapak tangannya.
"Apa yang sudah kau lakukan, Dominic... Apa yang terjadi dengan keluargaku..."
Ajaibnya, di tengah pusaran tuduhan dan tatapan murka dari seluruh anggota keluarganya, Dominic justru menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.
Bukan senyuman seorang pria yang tersudut atau merasa menjadi korban, melainkan senyuman miris dari seorang pria yang tiba-tiba merasa begitu menikmati drama gila yang dipentaskan di pagi buta ini.
Pria itu menyilangkan tangannya di dada, menatap dua wanita yang kini berhadapan di depannya.
Florence Nightingale tidak tinggal diam. Matanya yang membengkak menatap Ester dengan kilat kebencian yang amat pekat.
"Bitch!" jerit Florence histeris, melangkah maju beberapa tindak dengan jari menunjuk kasar ke wajah Ester.
"Kau menggoda kekasihku?! Jalang murahan miskin! Kau datang kemari hanya untuk menggoda calon suamiku?! Katakan, Dom! Katakan bahwa dia berbohong! Kau tidak pernah menyentuhnya, kan?! Dia hanya jalang murahan yang memanfaatkan situasi ini!"
"Cukup, Florence!" potong Dominic tegas, suaranya tajam meretas jeritan wanita itu. "Aku hanya akan menikahi wanita yang benar-benar hamil anakku."
Huxley menatap Dominic dengan raut wajah penuh ketidakpercayaan. Di mata mereka, respon Dominic yang dingin dan sinis adalah bukti nyata dari seorang pria pengecut dan bajingan sampah yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya.
"Kau benar-benar tidak punya hati, Dominic!" bentak Huxley dengan rahang mengeras.
Tiba-tiba, tawa menyalang meledak dari bibir Florence. Sebuah tawa histeris, sumbang, dan sarat akan kegilaan emosional yang tak lagi tertampung.
"Kupikir semalam adalah yang pertama kalinya kalian tidur bersama!" celekit Florence seraya tertawa sumbang, matanya menatap Dominic dengan cemoohan yang menyakitkan.
Deg.
Dahi Dominic mengernyit dalam. "Apa maksudmu?"
"Kenapa? Kau kaget?!" seru Florence, melangkah mendekati Dominic dengan napas yang memburu naik turun. "Ku pikir dia pelarianmu yang hanya terjadi semalam seperti jalang murahan?! Kau pikir aku tidak tahu?!"
"Hentikan omong kosongmu, Flo!" teriak Dominic, rahangnya mengeras ketat.
Namun Florence makin kalap. Ia maju dan mengepalkan tangannya, memukul dada bidang Dominic berulang kali dengan sisa kekuatannya.
"Kemarin... aku menunggumu di mansion seperti orang gila!" jerit Florence dengan air mata yang menetes deras di pipinya yang pucat.
"Dan aku mengikutimu! Aku mengikutimu dari saat kau naik bus murahan itu bersama gadis ini hingga kau masuk ke apartemennya! Kau pikir aku tidak tahu, hah?! Semalam aku menunggumu di luar pintu apartemen itu! Kupikir kau hanya mengantarnya seperti biasa! Tapi aku menunggu hingga tengah malam dan kau tak kunjung keluar, bajingan! Kupikir kau hanya sedang stres atas penolakanku dan menidurinya seperti meniduri jalang untuk pelampiasan semalam! Aku tidak marah... aku bahkan berniat memaafkanmu!"
Florence menyapu air matanya kasar, lalu menuding Ester dengan napas yang tersengal-sengal.
"Tapi lihat sekarang! Kalian datang bersama-sama ke sini karena baru saja menghabiskan waktu bersama sampai pagi, mengkhianatiku! Dan itulah kenapa aku mengatakan kehamilanku pagi ini!"
Akui Florence tanpa malu, menelanjangi motif di balik kebohongannya di hadapan seluruh keluarga Ashford.
"Aku tidak mau kehilangan kau, Dom! Demi apa pun aku tidak mau! Sekarang usir wanita murahan itu demi aku! Demi aku, Dominic! Mom, Dad, lihatlah wanita yang datang kemari sebagai guru privat ini! Dia mencerminkan hal murahan di depan Angelo! Dia hanya gadis murahan!"
Di tengah amukan histeris dan tuduhan kotor yang dilemparkan Florence, sebuah suara tenang dan dingin meretas suasana.
"Apakah belum selesai, Nona Florence?"
Itu suara Ester.
Gadis itu berdiri tegak tanpa gentar sedikit pun. Manik mata cokelatnya menatap Florence dengan ketenangan yang mematikan.
"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, Nona Florence?" lanjut Ester pelan namun menusuk.
"Kau menyebutku wanita murahan, sedang dirimu sendiri apa? Jika hubungan yang dilandasi rasa saling membutuhkan kau anggap murahan, lalu hubunganmu dengan Dominic selama sepuluh tahun ini apa? Apa yang salah? Kami saling membutuhkan dan kami saling—"
"Tutup mulutmu yang lancang itu!" potong Florence murka, matanya menyalang merah. "Aku bukan gadis murahan seperti dirimu, bitch!"
"Cukup!"
Suara Dominic menggelegar, menghentikan pertikaian itu seketika.
Dominic melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Ester, membentengi gadis itu dari amukan Florence.
Pria 32 tahun itu menatap lurus pada kedua orang tuanya dengan mata yang berkilat penuh ketegasan yang tak lagi bisa tergoyahkan. Ia baru saja mendengar pengakuan jujur Florence yang membuntutinya, sekaligus menyaksikan bagaimana Ester bersedia membuang harga dirinya di depan keluarga ini demi membelanya dan berdiri di sisinya.
"Aku hanya akan menikah sekali seumur hidup, Dad," ucap Dominic dengan suara mantap namun sarat akan permohonan yang dalam. "Demi Tuhan... maafkan aku. Ester hamil, dan kami baru saja memastikannya!"
BINGO!
Di balik raut wajahnya yang tampak terpukul dan terluka, dada Ester bersorak riang.
Sebuah teriakan kemenangan menggema di dalam kepalanya saat ia menatap Florence Nightingale yang berdiri membeku di depannya. Semua kepingan catur yang ia susun kini jatuh tepat pada posisinya.
Huxley, melangkah maju dengan amarah yang kian memuncak. "Lalu bagaimana dengan Florence?! Kau juga harus menikahi Florence, Dominic! Aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan keponakanku begitu saja setelah sepuluh tahun!"
Dominic menoleh pada Huxley, menyunggingkan senyum sinis yang dingin. "Pernikahan itu hanya diisi oleh dua orang, Hux... Dan jika ada orang ketiga, biasanya hubungan itu hanya akan menjadi bencana."
"Berhenti membual!" potong Kaetos Ashford keras, menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer hingga menimbulkan bunyi dentuman yang nyaring.
Sang kepala keluarga tak lagi sanggup menyaksikan drama murahan yang dipentaskan anak-anak muda di hadapannya. "Ayo kita lakukan tes DNA! Sekarang juga! Kita pergi ke rumah sakit dan buktikan siapa yang benar-benar mengandung darah daging keluarga ini!"
"Tidak perlu, Dad," potong Dominic mutlak, menggelengkan kepalanya tanpa ragu. "Aku tidak akan melakukan tes apa pun. Aku hanya akan menikahi Ester."
Florence yang mendengar keputusan itu langsung kehilangan akal sehatnya.
Umpatan demi umpatan kotor meluncur terus-menerus dari bibirnya. Ego dan kebanggaannya sebagai wanita bangsawan hancur berkeping-keping di atas lantai mansion.
"Kenapa?! Kenapa hanya dia?!" jerit Florence histeris, suaranya pecah di udara. "Jika kau tidak bisa memilih, kenapa tidak kau nikahi saja kami berdua sekaligus, Dominic?! Kenapa harus membuangku demi dia?!"
Dominic menatap Florence dengan tatapan tak percaya yang mendalam. Rahangnya terkunci rapat. Ia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak wanita yang pernah dicintainya selama satu dekade itu.
Rasanya, sosok Florence yang berdiri di depannya saat ini adalah orang asing yang sama sekali tak pernah ia kenal sebelumnya.
Dan Ester?
Dominic menoleh perlahan ke belakang, menatap gadis muda yang masih berdiri setia menunggunya di bawah tekanan keluarga besar Ashford.
Di dalam batinnya, Dominic berbisik penuh kepasrahan dan rasa terima kasih yang tak terhingga: Demi apa pun... aku berhutang nyawa dan kebebasanku padamu hari ini, Ester...
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏