NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mafia / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bubu1234

yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(season 2 ( benci jadi cinta ( bab 8) pilihan di persimpangan jalan

Malam itu, perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun hanya suara mesin mobil dan deru angin yang terdengar di luar sana. Yuna memegang amplop itu di pangkuannya, seakan di dalamnya tersimpan bukan sekadar selembar kertas dan sebuah kunci, melainkan seluruh masa depan mereka — baik yang damai maupun yang penuh bahaya. Cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip menimpa wajahnya yang serius, dan di dalam hatinya ia terus bertanya-tanya: apakah ia benar-benar siap untuk melangkah lebih jauh ke dalam dunia yang Marco berusaha lindunginya seumur hidup? Apakah keberaniannya cukup kuat untuk menopang beban yang bahkan membuat lelaki sekuat Marco merasa berat?

Sesampainya di yayasan, Yuna langsung menuju ruang kerja dan menutup pintu rapat-rapat.

 

Malam itu, perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun hanya suara mesin mobil dan deru angin yang terdengar. tangan Marco terlihat jelas dan rapi, seakan ia baru saja menuliskannya kemarin sore:

"Jika kau membaca ini, berarti kau telah memutuskan untuk tidak berbalik pulang. Aku tidak memintamu melakukan ini, Yuna. Aku bahkan berharap kau memilih jalan yang aman — melupakan semua ini, hidup tenang, dan bahagia tanpa bayang-bayang masa laluku yang kelam. Tapi aku mengenalmu lebih dari siapa pun. Hatimu terlalu besar untuk membiarkan kejahatan menang begitu saja. Petunjuk kedua menuju ke tempat yang pernah kau sebut 'rumah masa

 

Malam itu, perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun hanya suara mesin mobil dan deru angin yang terdengar di luar sana. Yuna memegang amplop itu di pangkuannya, seakan di dalamnya tersimpan bukan sekadar selembar kertas dan sebuah kunci, melainkan seluruh masa depan mereka — baik yang damai maupun yang penuh bahaya. Cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip menimpa wajahnya yang serius, dan di dalam hatinya ia terus bertanya-tanya: apakah ia benar-benar siap untuk melangkah lebih jauh ke dalam dunia yang Marco berusaha lindunginya seumur hidup? Apakah keberaniannya cukup kuat untuk menopang beban yang bahkan membuat lelaki sekuat Marco merasa berat?

Sesampainya di yayasan, Yuna langsung menuju ruang kerja dan menutup pintu rapat-rapat. Ia meletakkan kunci perak itu di atas meja, lalu membuka lipatan kertas kecil yang ditemukannya di dalam kotak logam itu. Tulisan tangan Marco terlihat jelas dan rapi, seakan ia baru saja menuliskannya kemarin sore:

"Jika kau membaca ini, berarti kau telah memutuskan untuk tidak berbalik pulang. Aku tidak memintamu melakukan ini, Yuna. Aku bahkan berharap kau memilih jalan yang aman — melupakan semua ini, hidup tenang, dan bahagia tanpa bayang-bayang masa laluku yang kelam. Tapi aku mengenalmu lebih dari siapa pun. Hatimu terlalu besar untuk membiarkan kejahatan menang begitu saja. Petunjuk kedua menuju ke tempat yang pernah kau sebut 'rumah masa kecilku'. Di sana kau akan menemukan dua pintu — satu membawa kepastian namun bahaya besar, satu membawa perlindungan namun keraguan abadi. Pilihlah dengan bijak, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kebenaran di hatimu."

Arga berdiri di ambang pintu, menunggu sampai Yuna selesai membaca, lalu melangkah masuk perlahan. "Tempat masa kecilmu?" tanyanya pelan. "Maksudnya rumah tempat kau dibesarkan?"

Yuna mengangguk pelan, namun keraguan mulai menyelinap di hatinya. "Itu rumah ayahku. Dan jika Tuan Bayu benar-benar sedang mengawasi setiap gerak-gerik kita, pergi ke sana berarti kita langsung masuk ke dalam pandangannya. Tapi Marco tidak akan mengirim ku ke sana tanpa alasan yang kuat. Dia tahu apa yang dia lakukan."

Keesokan paginya, mereka berangkat lebih awal. Rumah masa kecil Yuna terletak di pinggiran kota yang tenang, dikelilingi pohon-pohon besar yang rindang dan halaman yang luas namun sederhana. Tempat ini selalu terasa damai di hatinya, namun hari ini, saat ia berdiri di depan pintu yang dulu sering ia ketuk dengan ceria sebagai anak kecil, ia merasakan sesuatu yang berbeda — udara terasa lebih dingin, dan ada kesunyian yang terasa terlalu berat, seakan tempat ini juga menyimpan rahasia yang sudah lama menunggu untuk terungkap.

Ayahnya menyambutnya dengan senyum hangat yang tulus, namun saat melihat wajah putrinya yang serius dan kehadiran Arga di belakangnya, senyum itu perlahan memudar. Yuna tidak bertele-tele. Ia duduk di ruang tengah, menatap ayahnya dengan lembut namun tegas, lalu bercerita tentang semuanya — dokumen yang ditemukan, Tuan Bayu, ancaman yang datang, dan petunjuk yang ditinggalkan Marco.

Ayahnya terdiam lama, menatap ke luar jendela seakan sedang menyusun potongan kenangan yang sudah lama ia coba lupakan. Akhirnya ia menghela napas panjang, dan dengan suara yang bergetar namun jujur, ia berbicara:

"Aku tahu suatu hari nanti kebenaran ini akan terungkap. Aku hanya berharap kau tidak harus terlibat di dalamnya, Yuna. Tuan Bayu... dia sering datang ke sini bersama ayah Marco dulu. Dia selalu tersenyum, selalu sopan, selalu terlihat seperti orang yang paling dapat dipercaya. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak pernah merasa tenang. Marco pernah memperingatkan ku tentang dia, namun dia belum sempat menceritakan semuanya secara lengkap sebelum dia pergi

ayah Yuna berdiri dan berjalan menuju lemari tua di sudut ruangan, membukanya dan mengeluarkan sebuah kotak kayu yang mirip dengan kotak peninggalan Marco. "Sebelum Marco menikahi mu, dia datang ke sini satu malam. Dia menyerahkan kotak ini kepadaku dan berkata: 'Jika aku tidak kembali, berikan ini kepada Yuna hanya saat dia benar-benar siap menghadapi kebenaran yang lebih besar.' Aku menunggumu datang, dan aku tahu hari ini adalah hari yang dia maksud."

Saat kotak itu terbuka, di dalamnya tidak ada dokumen berbahaya seperti yang mereka duga, melainkan sebuah rekaman suara lama dan sebuah buku harian milik ayah Marco — Tuan Hendar. Di halaman pertama tertulis tulisan tangan yang kasar namun tegas:

"Bayu bukan sekadar mitra. Dia adalah hantu yang kumasukkan ke dalam rumahku karena aku terlalu percaya padanya. Dia merencanakan semuanya — kebakaran rumahku, kematianku, dan akhirnya mengambil alih kekuasaanku melalui anakku yang masih muda. Marco tahu. Dia berjuang sendirian melawan bayang-bayang yang aku ciptakan sendiri karena kesombonganku. Dokumen asli yang menjatuhkannya disembunyikan di tempat yang hanya bisa ditemukan oleh hati yang tulus dan berani. Selamatkan anakku. Hentikan kesalahan ini."

Tapi di halaman terakhir, ada catatan yang membuat darah mereka berdua terasa berhenti sejenak:

"Hati-hati. Bayu punya seseorang yang ia jadikan mata-mata di dekat kalian. Orang yang kalian percaya, namun bekerja untuknya sejak awal. Kepercayaan adalah kelemahan terbesar kalian sekarang."

Saat mereka sedang terpaku membaca halaman itu, terdengar suara langkah kaki mendekat di luar pintu ruangan — langkah kaki yang terhenti tiba-tiba seakan menyadari bahwa mereka telah ketahuan. Yuna dan Arga saling berpandangan dengan mata membelalak, lalu Arga berjalan perlahan menuju pintu dan membukanya dengan cepat. Di sana tidak ada siapa-siapa, tapi di lantai teras terlihat jelas jejak sepatu yang masih basah oleh embun pagi, dan jauh di ujung jalan, sosok seseorang yang terburu-buru berjalan menjauh menghilang di balik tikungan.

Yuna duduk kembali di kursinya, tangannya gemetar hebat. "Ada orang di antara kita... seseorang yang kita kenal, yang dipercaya... tapi bekerja untuk Tuan Bayu."

Arga menutup pintu dan berbicara dengan suara yang rendah namun tegas, matanya waspada ke segala arah. "Ini artinya bahaya tidak datang hanya dari luar. Ia sudah ada di dekat kita sejak lama. Kita tidak bisa lagi mempercayai siapa pun secara membabi buta, bahkan orang yang paling setia sekalipun. Marco memperingatkan kita, dan sekarang kita tahu alasannya — musuh terbesar kita mungkin sedang tersenyum tepat di depan wajah kita setiap hari."

Hati Yuna terasa berat bagai dihantam batu besar. Di mana pun ia berada, siapa pun yang ia temui, kini ia akan selalu bertanya-tanya dalam hatinya: siapa teman, dan siapa musuh yang menyamar? Siapa yang tulus peduli, dan siapa yang hanya menunggu momen yang tepat untuk menghancurkan mereka dari belakang? Di antara para pengasuh di yayasan, di antara tetangga, bahkan mungkin di antara orang-orang yang selama ini ia anggap sahabat terdekatnya — siapa yang sebenarnya berdiri di pihak kegelapan?

Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dan menakutkan dari sebelumnya, karena kini mereka menyadari bahwa pintu masuk menuju kehancuran mereka mungkin sudah terbuka lebar, dan seseorang sedang berdiri tepat di dalam rumah mereka sendiri, menunggu saat yang tepat untuk menyerang dari belakang saat mereka paling tidak siap.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!