Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - PEMUDA CEMAS DI POJOKAN
Suara derit kaku dari bangku kayu yang bergeser mendadak terhenti, menyisakan keheningan yang amat tegang di selasar depan Apotek Sentral. Udara pagi yang membawa aroma tanah lembap dan debu spora seolah memadat di antara celah-celah jeruji besi tempa yang kokoh. Luna tidak mengendurkan posisinya sedikit pun. Berdiri tegap dengan busur recurve terangkat anggun di dada, mata kelamnya menembus kegelapan interior apotek di balik tersingkapnya tirai kain tebal.
"Kami manusia. Tidak ada yang terinfeksi di antara kami." kata Luna tenang dengan vokal terukur yang membelah sunyi.
Tidak ada jawaban seketika dari dalam ruangan. Hanya ada deru napas pendek yang tertahan secara histeris di balik meja kasir utama.
Steve melangkah mendekati celah jeruji besi, menyandarkan bahu kirinya yang dibalut kasa pada kerangka logam yang dingin. Pria kekar itu menyunggingkan senyum tipis, mencoba menyalurkan rasa aman melalui nada suaranya yang hangat meski dahinya dipenuhi cucuran keringat dingin akibat demam.
"Kami bukan monster berspora di luar sana, Anak Muda. Kami kelompok penyintas yang butuh bantuan obat-obatan." sahut Steve lembut seraya menahan ringisan di dadanya.
"K-kalian... benar-benar manusia?" tanya suara seorang pemuda dari balik kegelapan etalase, terdengar amat gemetaran dan penuh kecemasan murni.
"Benar. Nama saya Nancy, dan ini teman-teman saya. Salah satu rekan kami mengalami luka gores yang terinfeksi dan butuh obat antibakteri secepatnya." tambah Nancy seraya melangkah mendekati selasar jeruji.
Keheningan kembali melingkupi ruangan selama beberapa detik. Dari balik tumpukan kardus kemasan obat berukuran besar di pojokan kasir belakang, sesosok figur perlahan-lahan menampakkan diri.
Seorang pemuda berusia awal dua puluh tahun melangkah ragu-ragu keluar dari bayangan. Pakaian jas laboratorium putih berlogo Apotek Sentral yang dikenakannya tampak agak kusut dan ternoda debu, melapisi kaos oblong abu-abu dan celana jins kusam. Wajahnya yang tirus tampak sangat pucat, dengan lingkaran hitam tebal mengelilingi kedua matanya di balik kacamata berbingkai logam tipis. Rambut hitamnya yang agak panjang berantakan, dan kedua tangannya yang kurus memegang erat sebatang nampan stainless steel kecil sebagai senjata darurat.
Pemuda itu menghentikan langkahnya tiga meter dari balik jeruji besi, menatap Luna, Steve, Nancy, dan Rian secara bergantian dengan mata terbelalak cemas.
"J-jangan lakukan hal aneh-aneh... Aku tidak punya senjata berharga di sini." seru pemuda itu tegang seraya mengangkat nampan besinya lebih tinggi.
"Turunkan nampanmu, Anak Muda. Kami tidak datang untuk merampok atau menyakitimu." ujar Steve terkekeh pelan sambil mengedipkan matanya.
Mata pemuda itu mendadak tertuju pada bahu kiri Steve yang terbungkus perban putih dengan bercak kemerahan tipis di tengahnya. Ia mengamati rona kemerahan yang menjalar di sekitar leher Steve serta napas pria kekar itu yang tampak berat dan memburu.
"Dia... dia demam tinggi. Itu tanda peradangan jaringan akibat kontaminasi bakteri." kata pemuda itu refleks, vokal kecemasannya seketika berubah diwarnai oleh naluri medis yang terasah.
"Makanya kami butuh bantuanmu. Bisakah kamu bukakan jeruji besi ini?" tanya Nancy memohon dengan raut wajah yang amat jujur.
Pemuda berkacamata itu menelan ludah kaku. Rasa takut di dadanya bertarung hebat dengan dorongan kemanusiaan dan profesinya sebagai tenaga medis. Setelah mengamati raut wajah Luna yang tenang serta ketulusan mata Nancy, ia akhirnya mengangguk pelan. Ia merogoh saku jas laboratorium putihnya, menarik keluar seuntai gantungan kunci kuningan yang sarat berisi puluhan anak kunci.
Dengan langkah ragu yang gemetaran, pemuda itu mendekati selot baja di balik jeruji besi. Jemarinya yang kurus beberapa kali salah memasukkan anak kunci ke dalam lubang gembok karena gemetar hebat.
KLAK... KLIK... KLANG!
Tiga gembok tebal terbuka satu per satu, disusul oleh suara gesekan lidah pengunci baja yang ditarik dari kerangka semen. Pemuda itu menggeser daun jeruji besi tempa ke samping seraya melangkah mundur cepat ke balik meja kasir.
Steve mendorong daun jeruji besi itu hingga terbuka cukup lebar untuk dilewati barisan mereka.
"Masuk cepat, lalu kunci kembali dari dalam." instruksi Luna tegas seraya memimpin barisan menyeberangi ambang pintu.
Rian dan Steve dengan cepat menggeser kembali daun jeruji besi tempa tersebut, menancapkan kembali selot baja dan menguncinya rapat dari dalam. Setelah barikade besi dipastikan terkunci sempurna, suasana di dalam ruangan apotek terasa jauh lebih tenang dan terisolasi dari ancaman luar.
Aroma tajam cairan alkohol antiseptik, antiseptik iodin, dan kertas kemasan obat kering memenuhi indra penciuman mereka. Di balik meja kasir lantai dasar, pemuda berkacamata itu berdiri merapat di pojokan ruangan, dikelilingi oleh benteng buatan yang unik.
Di pojokan lantai keramik itu, sang pemuda telah membangun tempat persembunyian darurat. Tumpukan puluhan kardus besar berisi botol obat, kantung cairan infus, dan kardus kasa steril disusun rapi membentuk dinding pembatas setinggi dada. Di tengah benteng kardus obat tersebut, terbentang sebuah kantung tidur sederhana, beberapa botol air mineral besar, dan sebuah lampu meja bertenaga baterai yang memancarkan pendaran cahaya kekuningan lembut.
"Nama aku Endru... aku asisten apoteker di apotek ini." bisik pemuda itu memperkenalkan diri seraya menurunkan nampan besinya ke atas meja.
"Aku Luna, ini Steve, Nancy, dan Rian." Luna memperkenalkan anggota kelompoknya dengan singkat dan jelas.
"Bagaimana kamu bisa bertahan sendirian di dalam sini, Endru?" tanya Rian penasaran seraya mengamati benteng kardus obat di pojokan.
Endru menghela napas panjang, mengusap kacamatanya yang agak berembun dengan ujung jas putihnya. Rasa takut yang tadinya mencengkeram dadanya perlahan terangkat saat melihat kelompok ini terkunci rapat bersama dirinya di dalam ruangan.
"Waktu kepanikan wabah meletus kemarin lusa, orang-orang saling berebut keluar dari pusat kota. Apoteker kepala dan staf lain melarikan diri, tapi aku memutuskan mengunci seluruh jeruji besi dari dalam untuk mengamankan stok medis ini." cerita Endru dengan suara melambat.
"Kamu bertindak sangat tepat dan berani, Endru." puji Nancy jujur seraya tersenyum hangat.
Endru tersenyum canggung, lalu pandangannya kembali tertuju pada Steve yang mulai duduk bersandar di kursi plastik kasir. Wajah pria kekar itu makin memerah, dan napasnya terdengar kian memburu.
Tanpa ragu lagi, naluri medis Endru mengambil alih seluruh kecemasannya. Pemuda itu melangkah keluar dari balik benteng kardusnya, mendekati Steve seraya merogoh kotakan instrumen medis dari rak di belakangnya.
"Buka perban bahumu, Steve. Aku harus memeriksa tingkat peradangan lukamu sekarang." kata Endru dengan vokal yang berubah menjadi sangat profesional dan cekatan.
Steve menyunggingkan senyum tipisnya, mengacak rambut pendeknya pelan. "Suaramu mendadak mantap sekali kalau bicara soal obat, Anak Muda."
"Obat dan luka adalah wilayahku, Steve. Di luar sana aku tidak berguna, tapi di dalam sini, aku tahu apa yang harus dilakukan." balas Endru seraya menyiapkan sarung tangan medis steril dan botol cairan pembersih.
Luna menatap Endru yang mulai memilah-milah kardus obat di benteng pojokannya dengan cekatan. Di matanya, pemuda cemas yang tadinya bersembunyi ketakutan ini kini bertransformasi menjadi aset medis yang sangat krusial bagi keberlangsungan hidup kelompok mereka di tengah Kota Mati yang kejam.