PACAR KONTRAK SANG KETUA GENG
Fake Dating • Bad Boy • School Romance • Possessive Love
Nadine Kirana tidak pernah berniat terlibat dengan Axel Pratama—ketua kelompok Orbit yang terkenal dingin, sulit diatur, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Bagi Nadine, hidup sudah cukup rumit. Di tengah kesibukan sekolah dan pekerjaan paruh waktu, dia harus mencari uang untuk biaya perawatan ibunya. Sementara itu, impiannya melanjutkan kuliah di luar kota perlahan terancam oleh keadaan yang tidak bisa dia kendalikan.
Lalu Axel datang membawa tawaran yang tidak masuk akal.
Jadilah pacarku selama sembilan puluh hari, dan aku akan menanggung biaya yang kita sepakati.
Axel membutuhkan pacar pura-pura untuk menggagalkan rencana perjodohan keluarganya. Nadine membutuhkan uang. Kesepakatan itu seharusnya sederhana: berpura-pura saling mencintai di depan orang lain, menaati aturan, lalu berpisah ketika waktunya habis.
Tidak ada perasaan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada masa depan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GADIS YANG DIJODOHKAN
“Jadi, ini alasan Axel tiba-tiba punya pacar?”
Pertanyaan Keisha membuat suasana ruang makan berubah dalam sekejap.
Axel menghentikan gerakan tangannya. Garpu yang hampir menyentuh piringnya kembali diletakkan. Sementara itu, Arman menatap putranya dengan ekspresi yang sulit dibaca, seolah-olah pertanyaan Keisha baru saja mengungkap sesuatu yang sejak tadi ingin ia pastikan.
Nadine duduk diam di sebelah Axel.
Ia tidak tahu apakah harus menjawab, berpura-pura tidak memahami maksud Keisha, atau membiarkan Axel menangani situasi yang sejak awal merupakan urusannya.
Namun, sebelum ia sempat memutuskan, Axel sudah lebih dulu bersuara.
“Lo ngomong apa?”
Keisha mengangkat alis.
“Gue cuma bertanya. Bukannya keluarga kita berkumpul malam ini karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan?”
“Kalau lo punya pertanyaan, tanya yang jelas.”
“Baik.” Keisha menyandarkan punggungnya. Tatapannya beralih kepada Nadine. “Gue cuma penasaran sejak kapan lo punya pacar. Setahu gue, beberapa waktu lalu lo bahkan nggak pernah menyebut nama siapa pun.”
Axel mengatupkan rahang.
“Sejak kapan gue punya pacar bukan urusan lo.”
“Kalau begitu, kenapa Ayah gue harus datang ke sini untuk membicarakan masa depan lo?”
“Keisha,” tegur Mahendra, ayahnya.
Keisha menoleh. “Aku cuma ingin tahu, Pa.”
“Dan kamu bisa menanyakannya dengan cara yang lebih baik.”
Keisha mengembuskan napas, lalu kembali menghadap Axel.
“Oke. Maaf kalau pertanyaan gue terdengar kasar.”
Permintaan maaf itu terdengar tulus, meskipun ekspresinya masih menunjukkan bahwa ia belum puas dengan keadaan.
Kemudian, Keisha mengalihkan pandangannya kepada Nadine.
“Gue Keisha Mahendra.”
“Nadine Kirana.”
“Gue tahu.” Keisha tersenyum tipis. “Axel tadi sudah menyebut nama lo.”
Nadine membalas senyumnya sekadarnya.
Ia mulai menyadari bahwa Keisha bukan gadis yang datang dengan niat langsung mempermalukannya. Namun, itu tidak berarti situasi menjadi lebih mudah. Justru karena Keisha berbicara dengan tenang, Nadine harus berhati-hati memilih jawabannya.
Ia tidak ingin terjebak dalam permainan saling menyindir yang bahkan tidak pernah ingin ia ikuti.
Ibu Keisha, Mira, mencoba mencairkan suasana.
“Sepertinya kita sebaiknya makan dulu. Makanan yang disiapkan Maya sudah hampir dingin.”
Maya mengangguk dan mempersilakan semua orang melanjutkan makan.
Percakapan sempat beralih pada urusan pekerjaan dan kegiatan keluarga. Namun, Nadine dapat merasakan bahwa persoalan sebenarnya belum selesai. Arman beberapa kali melirik Axel, sedangkan Keisha tampak lebih banyak mengamati daripada berbicara.
Nadine berusaha menikmati makanannya meskipun selera makannya mulai berkurang.
Ia datang dengan persiapan untuk menghadapi pertanyaan tentang sekolah dan masa depannya. Ia bahkan sudah mengantisipasi kemungkinan Arman meragukan hubungannya dengan Axel.
Namun, ia tidak menyangka akan duduk semeja dengan perempuan yang sejak awal menjadi alasan hubungan kontrak itu dibuat.
Keisha bukan sekadar nama yang disebut Axel dalam percakapan mereka.
Ia nyata. Ia duduk hanya beberapa langkah dari Nadine, memiliki keluarga yang ikut menentukan arah hidupnya, dan mungkin sama sekali tidak menginginkan situasi ini.
Sementara itu, Nadine sendiri sedang berpura-pura menjadi pacar seorang laki-laki yang sebenarnya tidak ia kenal sedekat yang orang lain kira.
Pikiran itu membuatnya kehilangan selera makan.
“Nadine.”
Suara Arman membuatnya mengangkat kepala.
“Iya, Om?”
“Saya ingin bertanya sesuatu.”
Nadine meletakkan sendoknya.
“Silakan, Om.”
“Apakah kamu tahu bahwa keluarga kami sudah lama membicarakan kemungkinan hubungan antara Axel dan Keisha?”
Nadine melirik Axel sekilas sebelum kembali menatap Arman.
“Tahu, Om. Axel sudah menjelaskannya kepada saya sebelum saya datang malam ini.”
“Dan kamu tetap bersedia datang?”
“Iya.”
“Boleh saya tahu alasannya?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi Nadine memahami bahwa jawaban apa pun yang ia berikan bisa menimbulkan pertanyaan lain.
Ia tidak mungkin mengatakan bahwa hubungan mereka berawal dari sebuah tawaran kontrak yang ditandatangani beberapa hari lalu. Namun, ia juga tidak ingin berpura-pura bahwa dirinya dan Axel telah menjalin hubungan istimewa selama bertahun-tahun.
“Saya datang karena Axel mengundang saya, Om. Saya sudah tahu bahwa acara ini berkaitan dengan rencana perjodohan mereka.”
Arman menatapnya lekat-lekat.
“Apakah kamu tidak merasa sedang menempatkan dirimu dalam situasi yang rumit?”
Nadine terdiam sebentar.
“Kalau saya boleh jujur, saya memang merasa situasi ini rumit, Om. Tapi saya rasa saya tidak bisa memahami semuanya hanya dengan menghindari percakapan seperti ini.”
Axel menoleh kepadanya.
Jawaban Nadine bukan sesuatu yang mereka latih sebelumnya. Ia tidak terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha meyakinkan keluarga Pratama bahwa hubungan mereka sempurna.
Ia hanya menjawab dengan jujur sejauh yang masih bisa ia lakukan.
Arman menyatukan kedua tangannya di atas meja.
“Kalau begitu, kamu tentu memahami bahwa hubungan dengan Axel tidak sesederhana hubungan antara dua anak sekolah. Ada tanggung jawab keluarga yang juga harus dipertimbangkan.”
“Saya mengerti, Om. Tapi menurut saya, tanggung jawab keluarga dan keputusan pribadi tetap perlu dibicarakan dengan orang yang akan menjalaninya.”
Suasana kembali sunyi.
Maya memandang Nadine, lalu melirik suaminya. Sementara itu, Mahendra berhenti mengunyah untuk beberapa saat.
Arman tidak terlihat marah, tetapi tatapannya berubah lebih tajam.
“Kamu masih sangat muda untuk memahami seluruh tanggung jawab yang saya maksud.”
“Mungkin benar, Om. Saya memang masih harus banyak belajar.” Nadine mempertahankan nada suaranya. “Tapi saya rasa belajar memahami tanggung jawab juga berarti belajar mengambil keputusan dan menerima konsekuensinya.”
Axel menunduk sebentar.
Ada sesuatu dalam jawaban Nadine yang membuatnya ingin tersenyum, tetapi ia menahannya. Ia tahu Nadine tidak sedang membela dirinya. Gadis itu hanya menyampaikan pendapatnya sendiri, tanpa berusaha menyenangkan siapa pun.
Dan entah mengapa, hal itu justru membuatnya semakin yakin bahwa ia tidak salah memilih Nadine.
“Cukup,” ujar Arman akhirnya. “Saya tidak ingin makan malam ini berubah menjadi perdebatan.”
Ia kembali menyentuh makanannya, seolah-olah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Namun, Nadine tahu bahwa masalah belum selesai.
---
Beberapa menit kemudian, Keisha meletakkan sendoknya.
“Aku ingin bertanya sesuatu kepada Axel.”
Mahendra menoleh kepada putrinya.
“Apa lagi, Keisha?”
“Aku ingin tahu apakah Axel benar-benar punya hubungan dengan Nadine atau hanya sedang berusaha menghentikan rencana perjodohan kita.”
Kali ini, tidak ada seorang pun yang segera menanggapi.
Pertanyaan itu terlalu dekat dengan kenyataan.
Nadine dapat merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu bahwa hubungan mereka memang berawal dari kesepakatan untuk menghindari perjodohan tersebut. Namun, mendengar orang lain mengatakannya secara langsung membuat kebohongan itu terasa jauh lebih nyata.
Axel menatap Keisha.
“Kalau gue bilang hubungan gue sama Nadine serius, apa itu bakal mengubah sesuatu?”
“Gue nggak tahu.” Keisha mengangkat bahu. “Itu tergantung apakah lo benar-benar serius atau cuma ingin membuat keluarga kita berhenti membicarakan perjodohan.”
“Gue nggak perlu menjelaskan semua keputusan gue kepada lo.”
“Benar. Tapi lo juga nggak bisa berharap semua orang langsung percaya hanya karena lo bilang begitu.”
Axel terdiam.
Keisha tidak tersenyum mengejek. Ia justru tampak lelah menghadapi percakapan yang seharusnya tidak perlu terjadi jika orang-orang dewasa di sekeliling mereka bersedia mendengarkan sejak awal.
“Aku tidak punya masalah pribadi denganmu, Axel,” lanjutnya. “Tapi aku juga tidak ingin namaku digunakan untuk membuat hubungan bisnis keluarga kita semakin kuat. Aku punya rencana hidup sendiri.”
Arman menghela napas.
“Keisha, tidak ada yang mengatakan kamu harus menikah besok. Kami hanya ingin kalian saling mengenal lebih dekat.”
“Pa, kita berdua tahu bahwa ini bukan sekadar ajakan berteman.”
Mahendra terdiam.
Keisha menoleh kepada ayahnya, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.
“Kalau memang tujuannya hanya supaya kami saling mengenal, kenapa semua pembicaraan selalu berakhir pada kemungkinan pernikahan?”
Tidak ada jawaban yang langsung muncul.
Nadine memperhatikan Keisha dengan saksama. Gadis itu tidak tampak seperti seseorang yang ingin memenangkan pertengkaran. Ia tampak seperti seseorang yang sudah berkali-kali mencoba menyampaikan hal yang sama, tetapi tidak pernah benar-benar didengarkan.
Perasaan itu terasa akrab bagi Nadine.
Ia tahu bagaimana rasanya ketika keadaan membuat seseorang harus mempertimbangkan keinginan orang lain sebelum memikirkan keinginannya sendiri. Bedanya, Nadine berjuang menghadapi keterbatasan finansial, sementara Keisha menghadapi keluarga yang berusaha menentukan masa depannya.
Masalah mereka berbeda, tetapi keduanya sama-sama membutuhkan ruang untuk memilih.
“Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang perjodohan malam ini,” kata Keisha.
Arman mengangkat kepala.
“Keisha.”
“Aku serius, Om.” Keisha menatap Arman dengan sopan. “Aku menghargai hubungan keluarga kita. Tapi aku tidak ingin terus membicarakan masa depan seolah-olah aku dan Axel tidak punya pendapat sendiri.”
Arman mengatupkan rahang.
Untuk sesaat, Nadine mengira pria itu akan langsung menolak. Namun, Mahendra lebih dahulu berbicara.
“Sepertinya kita memang perlu memberi anak-anak waktu untuk memikirkan semuanya.”
Arman menoleh kepadanya.
“Masalahnya bukan hanya soal waktu. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.”
“Saya mengerti,” jawab Mahendra. “Tapi keputusan seperti ini tidak akan menjadi lebih baik kalau dipaksakan.”
Mira menyentuh lengan putrinya sebentar, lalu memandang kedua pria itu.
“Kami tidak datang untuk memaksa siapa pun. Kami hanya ingin memastikan bahwa hubungan kedua keluarga tetap baik.”
“Hubungan keluarga akan tetap baik,” jawab Keisha. “Tapi itu tidak berarti aku harus menjalani kehidupan yang sudah dipilihkan untukku.”
Kali ini, suaranya sedikit bergetar.
Hanya sesaat, tetapi Nadine melihatnya.
Keisha segera mengalihkan pandangan dan mengambil gelasnya. Ia tampak tidak ingin menunjukkan bahwa pembicaraan itu membuatnya tertekan.
Axel memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.
Mungkin untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa Keisha juga berada dalam situasi yang tidak ia inginkan. Gadis itu bukan orang yang berdiri di sisi berlawanan hanya untuk mempersulit hidupnya.
Mereka sama-sama sedang berusaha melepaskan diri dari rencana yang dibuat orang lain.
Bedanya, Axel memilih menggunakan hubungan kontrak untuk melawan ayahnya. Keisha memilih mengatakannya secara langsung.
Dan Nadine, yang awalnya hanya ingin mencari jalan keluar dari masalahnya sendiri, kini duduk di tengah-tengah dua orang yang sedang memperjuangkan kebebasan dengan cara berbeda.
---
Makan malam berakhir tanpa keputusan yang benar-benar menyelesaikan persoalan.
Keluarga Mahendra tidak lagi membicarakan perjodohan secara langsung. Mereka berpamitan setelah berbincang sebentar dengan Maya, sementara Arman tetap terlihat tidak puas dengan arah pembicaraan malam itu.
Sebelum meninggalkan ruang makan, Arman menghentikan Axel.
“Kita perlu bicara besok.”
Axel memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Soal apa?”
“Kamu tahu soal apa.”
“Kalau Ayah mau membahas hubungan gue, gue sudah menjelaskan keputusan gue.”
“Dan Ayah belum mengatakan bahwa Ayah menerima keputusan itu.”
Axel menatap ayahnya.
“Gue juga nggak pernah meminta Ayah menyetujui semua pilihan gue.”
Wajah Arman mengeras.
“Jangan mengira persoalan ini selesai hanya karena kamu membawa seorang perempuan ke rumah.”
“Gue nggak pernah bilang persoalannya selesai.”
“Bagus. Karena besok kita akan membicarakannya.”
Arman berbalik dan meninggalkan ruangan.
Axel tetap berdiri di tempatnya selama beberapa detik.
Ia memang berhasil memperlihatkan kepada kedua keluarga bahwa dirinya memiliki hubungan dengan Nadine. Namun, ia belum berhasil mengubah pendirian ayahnya. Sebaliknya, ia justru membuat Arman semakin ingin mengetahui siapa sebenarnya gadis yang dibawanya ke rumah.
Rencana itu belum selesai.
Dan untuk pertama kalinya, Axel mulai menyadari bahwa konsekuensinya mungkin akan lebih besar daripada yang ia perkirakan.
---
Nadine sedang berdiri di teras ketika Maya menghampirinya.
“Maaf kalau makan malam tadi terasa kurang nyaman,” ujar Maya.
Nadine menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, Tante. Saya mengerti ini urusan keluarga yang rumit.”
Maya tersenyum tipis, tetapi sorot matanya tampak serius.
“Ada satu hal yang ingin Tante sampaikan. Kamu tidak harus menyelesaikan semua masalah Axel.”
Nadine terdiam.
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang perlu ia dengar sejak awal.
“Saya tahu, Tante.”
“Semoga kamu benar-benar tahu.” Maya menatapnya lembut. “Kadang-kadang, seseorang yang terbiasa mengambil keputusan sendiri lupa bahwa orang lain juga punya batas.”
Nadine tidak tahu apakah Maya sedang berbicara tentang Axel atau tentang sesuatu yang lebih luas. Namun, ia menangkap kekhawatiran di balik perkataan perempuan itu.
“Terima kasih, Tante.”
Maya mengangguk sebelum kembali masuk ke rumah.
Beberapa saat kemudian, Axel keluar membawa kunci mobil.
“Gue antar pulang?”
Nadine menoleh.
“Gue bisa pulang sendiri.”
“Gue tahu. Gue cuma nawarin.”
Nadine memandangnya sejenak. Ia teringat bahwa sebelumnya Axel sempat mengirim pesan seolah-olah ia akan menjemput tanpa bertanya terlebih dahulu. Malam ini, setidaknya, ia benar-benar memberikan pilihan.
“Oke,” jawabnya. “Tapi gue mau ngobrol sama lo.”
Axel membuka pintu mobil untuknya.
“Soal bokap gue?”
“Bukan cuma itu.”
Axel tidak mendesak. Ia menunggu sampai Nadine duduk, lalu berjalan memutari mobil dan mengambil tempat di belakang kemudi.
Sepanjang beberapa menit pertama perjalanan, tidak ada yang berbicara.
Lampu-lampu jalan bergerak melewati jendela. Nadine memperhatikan pantulannya sendiri di kaca, mencoba merapikan pikirannya setelah percakapan yang terasa jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Akhirnya, ia menoleh kepada Axel.
“Kenapa lo memilih gue?”
Axel meliriknya sekilas.
“Bukannya gue udah bilang, gue butuh seseorang yang bisa gue percaya?”
“Itu jawaban yang terlalu umum.”
Axel kembali menatap jalan.
“Maksud lo?”
“Lo bisa memilih siapa pun. Ada banyak cewek di sekolah yang mungkin mau jadi pacar kontrak lo. Ada yang mungkin justru senang kalau bisa dekat sama lo.” Nadine berhenti sebentar. “Tapi lo datang ke tempat gue kerja dan menawarkan kesepakatan itu kepada gue.”
Axel tidak menjawab.
“Lo bilang kita pernah bertemu setahun lalu,” lanjut Nadine. “Lo juga bilang ada sesuatu yang gue lakukan dan nggak dilakukan orang lain. Tapi sampai sekarang, lo belum menjelaskan apa maksud lo.”
Jari Axel mengetuk setir satu kali.
Nadine memperhatikan gerakan kecil itu.
“Jadi, gue mau tahu. Apa sebenarnya yang terjadi waktu itu?”
Mobil berhenti di lampu merah.
Axel menoleh kepadanya. Kali ini, tidak ada senyum mengejek atau tatapan yang seolah-olah sedang menguji lawan bicara.
Hanya ada keseriusan yang membuat Nadine semakin yakin bahwa pertanyaannya menyentuh sesuatu yang penting.
“Gue mau cerita,” kata Axel.
Nadine menatapnya.
“Sekarang?”
“Kalau lo mau dengar.”
“Gue mau dengar. Tapi gue nggak mau lo menggunakan cerita itu sebagai alasan buat mengubah kesepakatan kita.”
Axel mengangguk pelan.
“Gue ngerti.”
Lampu berubah hijau. Mobil kembali bergerak.
Beberapa saat kemudian, Axel berkata, “Lo mungkin nggak ingat kejadian di ruang disiplin sekolah setahun lalu.”
Nadine mengerutkan kening.
Ruang disiplin?
Ia berusaha mengingat berbagai kejadian di sekolah, tetapi belum menemukan sesuatu yang langsung cocok dengan perkataan Axel.
“Gue harus ingat apa?”
Axel mengembuskan napas pelan.
“Waktu itu, semua orang mengira gue yang memulai masalah. Hampir nggak ada yang mau mendengar penjelasan gue.”
Nadine mulai memperhatikan perkataannya dengan lebih serius.
“Terus?”
“Lo satu-satunya orang yang maju dan mengatakan apa yang sebenarnya lo lihat.”
Nadine terdiam.
Ingatan samar mulai muncul, tetapi belum cukup jelas untuk menyusun seluruh kejadian.
Axel melanjutkan, suaranya lebih rendah daripada sebelumnya.
“Lo nggak membela gue karena lo suka sama gue. Lo bahkan nggak mencoba mendekati gue setelah semuanya selesai. Waktu gue mau mengucapkan terima kasih, lo pergi begitu aja.”
Nadine menatapnya, berusaha mengingat wajah, suara, dan kejadian yang mungkin telah lama ia lupakan.
“Jadi, sejak saat itu lo mengingat gue?”
Axel tidak langsung menjawab.
“Sejak saat itu, gue mulai memperhatikan lo.”
Jawaban itu membuat Nadine terdiam lebih lama.
Ia tidak tahu harus merasa terkejut, bingung, atau justru semakin curiga.
Satu hal yang pasti: hubungan kontrak mereka ternyata tidak dimulai dari sebuah pilihan yang benar-benar kebetulan.
Axel telah mengenalnya lebih dahulu.
Dan ada bagian dari masa lalu mereka yang selama ini hanya diingat oleh satu orang.
Nadine memalingkan wajah ke jendela, membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikirannya.
Untuk pertama kalinya sejak menandatangani kontrak sembilan puluh hari, ia menyadari bahwa mungkin ada alasan lain mengapa Axel memilihnya.
Alasan yang belum sepenuhnya ia pahami.
Dan yang membuatnya lebih gelisah daripada makan malam penuh tekanan tadi adalah kenyataan bahwa ia mulai ingin mengetahuinya.