NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MOBIL MEWAH CLARISSA

Matahari sore membiaskan pendar keemasan di atas pelataran parkir luar gedung konvensi. Udara hangat berembus pelan, membawa aroma aspal basah dan sisa-sisa debu usai hujan deras tadi malam. Suara deru mesin kendaraan yang melintas di jalan raya utama terdengar konstan dari kejauhan.

Enzo menyapu keringat tipis di dahinya dengan punggung tangan. Pemuda itu baru saja menyelesaikan tugas mengangkat tumpukan papan reklame kayu bersama dua staf kebersihan lainnya. Kaus polos hitam lamanya tampak agak berdebu di bagian bahu, dan celana jins lamanya sudah memudar di bagian lutut. Namun, di balik penampilannya yang sederhana dan bersahaja, raut wajah Enzo memancarkan ketenangan yang amat mantap.

Pengalaman menuntun Tante Rika mengambil keputusan tegas tadi pagi masih menyisakan kehangatan tekad di dalam dadanya. Enzo menyadari bahwa hidup ini tidak memberi ruang bagi pria yang ragu-ragu. Ketegasan moral dan keberanian untuk bertindak jujur adalah satu-satunya cara untuk dihormati—baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri.

Saat Enzo melangkah menuju bangku semen di bawah naungan pohon peneduh untuk mengambil botol air minumnya, sebuah suara deru mesin mobil bersilinder besar mendadak memecah keheningan pelataran parkir.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna merah menyala dengan desain aerodinamis yang mengilap meluncur pelan masuk ke area parkir luar. Cat mobil itu memantulkan pendar sinar matahari sore begitu sempurna, menarik perhatian beberapa petugas kebersihan dan pejalan kaki yang melintas. Mobil mahal itu berhenti tepat beberapa meter dari tempat Enzo berdiri.

Pintu kemudi berbahan serat karbon itu terbuka perlahan. Dari dalam kendaraan, melangkah keluar seorang gadis muda dengan penampilan yang sangat kontras dari lingkungan sekitarnya.

Gadis itu adalah Clarissa.

Clarissa mengenakan atasan blus sutra berwarna putih gading dipadu dengan rok kustom berpotongan rapi yang memamerkan kaki jenjangnya. Kacamata hitam berbingkai emas terpasang di atas hidungnya yang mancung, dan tas tangan kulit merek ternama menggantung anggun di lengannya. Penampilannya memancarkan aura kemewahan kelas atas yang dingin dan tak tersentuh.

Gadis dua puluh tahun itu melepas kacamata hitamnya, menyisipkan tangkai kacamata ke rambut cokelat terangnya yang ditata bergelombang. Matanya yang tajam mengedarkan pandangan ke sekeliling pelataran parkir yang agak berdebu dengan kening berkerut tipis, seolah-olah tempat itu terlalu kotor untuk dipijak oleh sepatu hak mewahnya.

Namun, saat sepasang mata indahnya menangkap sosok Enzo yang sedang berdiri memegang botol air minum di bawah pohon, langkah kaki Clarissa langsung tertuju lurus ke arah pemuda itu.

Enzo menyandarkan punggungnya pada batang pohon peneduh, meneguk air putih dingin dari botol plastiknya, lalu menatap kedatangan Clarissa dengan raut wajah yang sangat tenang dan membumi. Ia tidak menunjukkan rasa kagum berlebihan atas mobil sedan mewah atau pakaian mahal yang dikenakan gadis itu.

Clarissa menghentikan langkah kakinya tepat dua meter di hadapan Enzo. Gadis kaya itu bersedekap dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi seraya menyapu penampilan kusam Enzo dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Pantesan pesan singkat gue semalem cuma dibalas sepatah kata," cetus Clarissa dengan nada suara ketus yang sengaja dibuat-buat.

"Ternyata lu masih sibuk jadi kuli angkut di tempat kusam begini," sambung Clarissa seraya menyunggingkan senyum miring yang bernada sindiran.

Enzo menurunkan botol air minumnya, menyapu mulutnya dengan punggung tangan, lalu menatap Clarissa dengan pandangan mata yang jernih tanpa ada rasa tersinggung sedikit pun.

"Gue emang kerja di sini, Clarissa," sahut Enzo datar dan tenang.

"Kerja jujur pakai keringat sendiri itu nggak ada kusamnya," sambung Enzo seraya menatap lurus ke dalam binar mata gadis di hadapannya.

Clarissa tersentak tipis mendengarkan balasan Enzo yang begitu lugas. Pipi cantiknya bersemu merah samar, namun keangkuhan dan gengsi tingginya dengan cepat menutup kembali rasa canggung itu. Gadis itu mengetukkan jari-jarinya di atas tas tangan mewahnya, berusaha mempertahankan raut wajah acuh tak acuh.

"Lagian lu ngapain ke sini?" tanya Enzo heran seraya memiringkan kepalanya tipis.

"Area parkir ini berdebu. Nanti sepatu mahal lu kotor," sambung Enzo dengan nada bicara biasa tanpa maksud mengejek.

"Siapa juga yang sengaja datang nyari lu?!" sembur Clarissa cepat seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Gue cuma kebetulan lewat jalan depan!" paksanya seraya merapikan rambut cokelat terangnya dengan gerakan gugup.

"Terus pas gue lihat ada orang kusam berdiri di bawah pohon, gue cuma mau memastikan kalau mata gue nggak salah lihat," lanjut Clarissa seraya mengibaskan tangannya di udara.

Enzo menyunggingkan senyum tipis yang membumi. Pemuda itu tentu tidak bodoh. Jalan raya di depan gedung konvensi ini bukanlah jalur utama menuju kawasan perumahan elit tempat Clarissa tinggal, melainkan jalur melingkar yang agak jauh dari pusat pertokoan mewah. Kecil kemungkinan seorang gadis kaya seperti Clarissa "tidak sengaja" memutar mobil mewahnya hingga ke pelataran parkir berdebu ini hanya untuk menegurnya.

Di balik sindiran tajam dan nada bicaranya yang ketus, Enzo bisa merasakan ada rasa sepi yang pekat dan keinginan kuat dari Clarissa untuk sekadar mengobrol dengannya. Latar belakang Clarissa yang tumbuh dalam keluarga kaya namun diabaikan oleh orang tuanya membuat gadis itu terbiasa menyembunyikan rasa haus perhatian di balik tembok keangkuhan.

"Masa sih cuma kebetulan?" gumam Enzo tenang seraya melipat kedua tangannya di dada.

"Kalau cuma kebetulan lewat, harusnya lu langsung tancap gas pulang, bukan malah turun dari mobil panas-panas begini," lanjut Enzo jujur dan mantap.

Clarissa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Sindiran tajam yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi orang lain mendadak mental tak berguna di hadapan ketenangan Enzo. Pria-pria kaya di sekitarnya biasanya akan langsung menyanggah, memamerkan harta, atau mengemis perhatian jika Clarissa bersikap ketus. Namun Enzo justru menanggapi keangkuhannya dengan sangat santai, seolah-olah kemewahan Clarissa sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun padanya.

"Lu... lu kok pede banget sih?!" cetus Clarissa kesal seraya melangkah satu tapak lebih dekat.

"Gue cuma bosan di rumah, makanya jalan-jalan!" kelit Clarissa seraya menatap Enzo dengan binar mata yang campur aduk antara sebal dan penasaran.

"Lagian tempat tinggal lu sempit, kafe tempat lu nongkrong juga murah. Harusnya lu bersyukur ada mobil mewah parkir di dekat lu!" sambung Clarissa berusaha mengembalikan gengsinya.

Enzo menatap gadis kaya di hadapannya itu dalam diam. Pakaian mahal dan mobil sedan mewah yang dikendarai Clarissa tidak sanggup menutupi pancaran matanya yang merindukan kehangatan percakapan yang tulus tanpa kepalsuan status sosial.

"Clarissa," panggil Enzo dengan suara rendah yang amat tenang.

Clarissa tertegun, menahan napasnya sejenak mendengarkan nada suara Enzo yang mendadak berubah serius.

"Kalau lu bosan dan butuh teman ngobrol, bilang saja jujur," kata Enzo lugas tanpa ada polesan sindiran.

"Nggak perlu pakai sindir-sindir baju kusam atau tempat kerja gue," lanjut Enzo seraya menatap mata Clarissa lurus-lurus.

"Gue nggak bakal ngetawain lu cuma karena lu merasa kesepian," sambung Enzo mantap.

Kalimat jujur yang keluar dari mulut Enzo itu bagaikan anak panah yang menembus tepat di pusat keangkuhan Clarissa. Gadis itu mematung di tempatnya berdiri. Selama belasan tahun hidupnya, orang-orang di sekitarnya selalu berpura-pura ramah demi uang ayahnya, atau menjauh karena takut pada sikap galaknya. Tidak pernah ada satu orang pun yang berani membongkar rasa kesepian di balik keangkuhannya secara terbuka dan jujur seperti yang dilakukan Enzo saat ini.

Dada Clarissa berdebar agak kencang. Ada rasa hangat yang aneh merayap naik di dalam jiwanya—sebuah rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari pria mana pun.

"Si... siapa juga yang kesepian!" bisik Clarissa lirih, nada suaranya mendadak kehilangan ketajamannya, berganti menjadi getaran canggung yang amat murni.

"Gue... gue cuma mau ngajak lu makan!" aku Clarissa akhirnya, memalingkan wajahnya yang kini memerah padam hingga ke ujung telinga.

"Gue males makan sendirian di restoran. Dan lu... lu harus nemenin gue sebagai ganti rugi karena pesan gue semalam cuma lu balas pendek!" sambung Clarissa seraya meremas strap tas tangannya.

Enzo menyunggingkan senyum tipis yang ramah. Pemuda itu menggelengkan kepalanya pelan, melihat bagaimana gadis kaya yang angkuh ini akhirnya mau menurunkan gengsinya sedikit demi sedikit.

"Shift kerja gue selesai lima belas menit lagi," jawab Enzo tenang.

"Kalau lu mau tunggu sebentar di dalam mobil, nanti gue temenin cari makan," lanjut Enzo jujur.

Binar mata Clarissa mendadak memancarkan kebahagiaan kecil yang tak sanggup ia sembunyikan sepenuhnya. Namun dengan cepat, gadis itu menyunggingkan kembali senyum tipisnya yang sok jual mahal.

"Y-ya udah! Gue tunggu di mobil lima belas menit! Kalau lu terlambat semenit, gue tinggalkan!" cetus Clarissa seraya berbalik cepat melangkah menuju sedan mewahnya.

Enzo memperhatikan Clarissa yang melangkah masuk ke dalam mobil merahnya dengan senyum tipis di bibirnya.

Tepat saat pintu mobil sedan itu tertutup rapat, ponsel tua di saku celana jins Enzo bergetar halus dua kali secara berurutan. Enzo merogoh benda itu, membuka pendar layar retaknya yang menyala keemasan.

[Pembaruan Data Target: Clarissa (20 Tahun)]

[Analisis Tindakan: Menembus Tembok Keangkuhan dengan Kejujuran & Ketenangan Sikap.]

[Evaluasi Psikologis Target: Target terkejut dan kagum atas kemampuan Anda membaca rasa kesepian di balik keangkuhannya. Target merasa dihargai sebagai manusia murni tanpa melihat status kekayaannya.]

[Keterikatan Clarissa Meningkat: 10% -> 18%]

[Catatan Sistem: Ketenangan Anda di hadapan status sosial tinggi telah menarik perhatian Target secara mendalam.]

Enzo mengantongi kembali ponsel tuanya seraya melangkah menuju ruang ganti untuk merapikan pakaiannya, siap menemani gadis kaya itu menyongsong sore.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!