Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
...****************...
"Hahaha...lucu banget sih, tenang aja nenek gue seru kok, santai aja sama dia nanti"
"Gue tau isi pikiran lo..hmm"
'eca sambil senyum'
"Sotoy,"
sanggah theo datar, menyembunyikan rasa kikuk yang tiba-tiba menyengat balik lehernya. Senyum mencurigakan di paras mungil itu terasa menguliti privasi pikirannya sendiri. Demi mengikis jarak yang mendadak terasa canggung, ia melangkah panjang, mendorong gerbang besi yang berderit nyaring lalu menunggu di jalan setapak bebatuan.
Langkah kaki theo terasa berat di atas teras sempit beralas keset anyam usang. Bau tanah basah dan aroma minyak kayu putih sayup-sayup merayap dari ventilasi rumah kayu tersebut. theo membenamkan jemarinya lebih dalam ke saku jaket, menjaga bahunya tetap tegak agar aura arogannya tidak runtuh oleh kehangatan suasana rumah keluarga yang sudah lama tak ia rasakan.
"Jangan kelamaan buka pintunya,
ketus theo, matanya memindai pot-pot tanaman lidah mertua yang berjajar di sudut teras dengan tatapan bosan yang dipaksakan.
"Gue nggak punya waktu seharian buat berdiri kayak patung selamat datang di sini."
Eca pun membuka pintu dan mengajak theo masuk, tidak jauh dari pintu masuk, terdengar suara nenek yang memanggil nama eca, di situ eca memperkenalkan theo ke nenek yang sedang berbaring
"Nenek, ini eca nek...eca sudah pulang, obatnya eca bantu minumkan yah" sembari membawa obat dan gelas minum yang berisi air putih
"oh iya, ini teman eca semalam eca menginap di rumahnya karena kecopetan dia namanya theo, anaknya baik banget meski style dia seperti berandalan begini"
"Cium tangan lo ke nenek buruan, kalau perlu sungkem lo"
' eca sambil tertawa lirih'
Theo mendadak merasa seperti orang asing yang salah memasuki teritori. Bau minyak angin dan aroma kayu lapuk di ruangan sempit ini terasa begitu pekat, kontras dengan bau aspal serta asap knalpot yang biasa ia hirup. Sindiran soal penampilannya kontan membuat rahang pemuda itu mengeras, tetapi ia menahan diri untuk tidak membalas makian itu di hadapan wanita renta yang terbaring lemah.
Alih-alih menyemburkan sarkasme, theo menghela napas pendek dan menurunkan gengsinya beberapa inci. Tubuh jangkungnya membungkuk canggung, meraih tangan kurus keriput itu dengan hati-hati lalu menempelkannya sekilas ke punggung tangannya sendiri. Gerakan itu kaku, cerminan dari betapa jarangnya ia bersikap patuh pada siapa pun.
"theo, Nek,"
ucapnya rendah, nada bicaranya ditekan sedemikian rupa agar tidak terdengar seperti pentolan jalanan yang gemar mencari perkara.
Setelah menegakkan kembali punggungnya, theo melayangkan tatapan membunuh ke arah perempuan di sampingnya, mendengus pelan penuh ancaman terselubung.
"Puas lo ngerjain gue? Jangan sampai gue tagih balik perlakuan lo barusan pas kita di luar."
Nenek yang melihat tingkah laku mereka berdua ikut tersenyum, hingga mengira eca dan theo adalah sepasang kekasih. Nenek sangat terhibur dengan kedatangan orang baru ke dalam rumahnya yang sudah lapuk itu.
"Lo mau tagih yang mana? Tagih suruh cium tangan lo atau cium yang lain?" canda eca sembari menatap theo
Garis bibir theo menegang kaku. Otaknya mendadak memutar ulang kilasan ingatan di kamar mandi beberapa jam lalu—sensasi lembut yang tak sengaja bertubrukan dan kepanikan konyol yang mengikutinya. Menyaksikan binar jenaka dari manik mata gadis itu, kekesalan theo bercampur aduk dengan rasa canggung yang menusuk telak harga dirinya.
Tatapan teduh sang nenek yang mengamati mereka seakan kian menyudutkan posisinya. theo berdeham berat, menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku jins agar jemarinya yang mendadak dingin tak terlihat gemetar. Lelaki jangkung itu menunduk sedikit, menatap lawan bicaranya dengan sorot mata mengintimidasi yang dipaksakan.
"Mulut lo sembarangan banget ya kalau ngomong di depan orang tua,"
bisik theo tajam, suaranya sengaja ditekan rendah tepat di samping telinga gadis itu. Sudut bibirnya berkedut tipis, memunculkan seringai berbahaya yang getir.
"Jangan mancing-mancing. Kalau gue beneran minta bayaran yang itu, lo sendiri yang bakal lari ketakutan."
theo menegakkan kembali bahunya, melirik sekilas ke arah ranjang sebelum berbalik setengah badan menghadap pintu keluar.
"Urusan gue udah selesai di sini. Kasih obat itu ke nenek lo sebelum gue berubah pikiran."
hadir kak, mampir juga ya😊