Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.
Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.
"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.
Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.
Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?
Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Still) You...
Davina keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat merah. Dia mengamati wajahnya di depan cermin.
"Ya ampun, Dav, pinter banget sih lo!" Dia menyentuh pipinya yang kini terasa perih.
HANYA KARENA RAKA! HANYA KARENA MEMBIARKAN HATINYA KEMBALI DIKUASAI PERASAAN PADA RAKA! AKHIRNYA DIA MEMBENAMKAN KEPALANYA SELAMA MUNGKIN DI DALAM BAK BERISI AIR HANGAT!
Dia sampai heran sendiri bagaimana dia bisa bertindak setolol tadi hanya karena laki-laki macam Raka.
Dia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Davina lumayan tenang setelah itu. Suara bising hair dryer membuat Davina tidak perlu mendengar pikirannya sendiri yang meneriakkan betapa bodohnya kelakuannya tadi.
Selesai dia mengeringkan rambut, dia memandangi dirinya sendiri di depan kaca. Wajah yang sama, tapi dia berusaha meyakinkan diri sendiri, bahwa hatinya telah berubah. Perasaannya pada Raka sudah dia buang jauh-jauh. Benar kan?
Tiba-tiba dia mendengar sebuah ketukan dari jendelanya.
Dia menoleh.
Hatinya langsung mencelos.
Betapa kagetnya dia saat menemukan Raka sedang duduk mengamatinya sambil tersenyum lebar di balik kaca. Dia langsung melangkah mundur, takut kalau Raka berhasil masuk lagi dan kembali mengacaukan pikirannya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raka.
Raka : Tenang, Devni, aku gak bisa masuk. Kamu ngunci jendelanya.
Davina segera mengetik balasan atas pesan itu.
Davina : Mau aku panggilin satpam? Gak cukup kamu tadi aku usir?
Raka terlihat tertawa saat membaca balasan Davina.
Raka : Kamu bisa usir aku darimana aja, tapi enggak dari hati kamu.
Davina terpelongo dengan balasan Raka. Dia tidak lagi punya minat membalas pesan itu.
Kalau bisa memilih, dia ingin meneriakkannya saja langsung ke telinga Raka.
Pria brengsek! Kepala besar! Tidak tahu malu!
Tapi Davina tidak berani mengambil pilihan itu. Bukannya menang, bisa-bisa Raka akan memeluknya erat dan tubuhnya yang selalu seperti mengkhianati dirinya sendiri itu akan bereaksi berlebihan pada sentuhan Raka.
Sebuah pesan masuk lagi, membuyarkan lamunan Davina.
Raka : Aku bakal pergi, aku letakin bunganya disini ya. Jangan lupa makan. Kamu kurus banget sekarang.
Davina menoleh pada jendela dan benar saja, Raka sudah menghilang. Hanya tersisa buket bunga di balik jendela kaca tersebut. Davina tidak punya nyali untuk langsung membuka jendela, dia takut itu hanya trik Raka agak dia segera membukanya agar dia dapat menerobos masuk.
Setelah beberapa waktu meyakinkan diri bahwa Raka telah pergi, Davina kembali mematut wajahnya di depan cermin.
Kurus?
Bukankah pipinya malah terlihat chubby sekarang ini?
Lalu dalam sekejap dia tersadar. Kenapa dia jadi khawatir dengan pendapat Raka tentang keadaan fisiknya?
Davina lagi-lagi merasakan dorongan untuk memarahi diri sendiri.
"Daaaav! Makan yuuuk!" Sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya. Ternyata Rara yang memanggilnya.
"Iya, Kak!" Dia pun cepat-cepat keluar.
Sebelum menutup pintu, matanya sempat tertuju pada buket mawar yang berada di balik jendela kamarnya.
"Dav?" panggil Rara, menyentak lamunannya.
"Eh, iya, Kak."
"Lo kenapa tiba-tiba melamun sih?" Rara tertawa.
"Gak apa-apa." Davina tersenyum, lalu menutup pintu dengan sempurna.
"Hari ini Mama masak tauco udang, enak banget. Puedesnya nampol!" Rara memeluk tangannya.
"Wuih, makan enak nih kita!"
"Iya, pokoknya lo harus makan yang banyak! Lo udah kurus banget ini!"
Lagi-lagi kalimat yang sama. Apakah Davina memang sudah sekurus itu?
Sesampainya di ruang makan, mereka menemukan Keysha sudah menjajah Dave sepenuhnya. Keysha duduk di atas pangkuan Dave dan menyuapi Dave dengan sembarangan sampai semua nasi dan makanannya jatuh semua.
"Aaaa, Opaaaaa!" katanya kembali menyendokkan makanan ke mulut Dave.
"Nyammm nyammm nyaaaam! Enak bangeeeet, Key!" Dave pura-pura mengunyah banyak-banyak, padahal sebenarnya nasi yang disendokkan Keysha lebih banyak jatuh daripada sampai ke mulutnya.
Beginilah nasib seorang kakek saat dijajah cucunya. Mau bilang apa?
"Ya ampun, Key..." Rara tertawa.
"Enak ya, Opa, disuapin sama Key. Tante Davina juga mau dong." Davina pura-pura merengek.
"Aaaa, Tante!" Keysha menyendokkan makanan juga ke mulut Davina.
"Hm... yummy!" Davina mengacungkan jempol.
Keysha merengut, lalu menggeleng.
"Mama bilang, no English, Tante! No English! Only Bahasa!"
Mereka semua tertawa karena Keysha sedang menirukan ucapan Rara yang selalu melarang orang-orang di sekitarnya untuk berbahasa Inggris dengan anaknya itu.
Setelah itu, mereka pun mulai menyantap makan malam.
"Suamimu udah sampai di Melbourne, Ra?" tanya Diana pada Rara. Suami Rara memang pulang lebih dahulu ke Melbourne, karena Rara memutuskan untuk tinggal di Indonesia lebih lama. Dia harus mengawasi adik-adiknya.
"Udah, Ma. Sejam yang lalu."
Mereka mengangguk.
"Gak apa-apa Abang dibiarin sendirian di Melbourne?" tanyaku.
"Gak apa, udah gede, harus mandiri."
"Ntar kalau disana Abang nyari yang bisa ngurusin. Gimana, Kak?" goda Davina.
"Gak mungkin dia mah." Rara mengibas-ngibaskan tangan.
"Pede banget kamu!" Diana ikut menggoda.
"Ya ampun, bukan pede, Ma. Dia itu kerja mulu yang dipikirin, gak bakal sempat mikir yang aneh-aneh." Rara tertawa.
Setelah itu, makan malam hanya diisi dengan candaan dan tawa dari keluarga itu. Davina bahkan sempat bermain sebentar dengan Davina sebelum akhirnya masuk ke kamarnya karena merasa sangat kelelahan.
Selesai menggosok gigi, dia pun membaringkan badan di tempat tidur. Dia sempat memeriksa ponsel, tapi tidak menemukan satu pun pesan dari Nikolas. Dia pun mengirimkan pesan singkat untuk tunangannya itu.
Davina : Kamu dimana? Aku tidur duluan ya.
Dia pun larut di dalam kantuk. Dia hampir terlelap dengan sempurna, tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.
Dia menoleh ke arah jendela.
Bunga itu masih tergeletak disana. Bunga yang sama sekali tidak punya salah apapun. Kenapa Davina tega membiarkan bunga itu tergeletak mati di luar kamarnya?
Dia pun akhirnya beranjak, membuka jendela dan mengambil buket bunga mawar merah yang wangi dan sedang mekar-mekarnya itu.
Airmatanya malah menggenang karena sadar Raka masih ingat dengan bunga kesukaannya. Davina mungkin menghiasi seluruh gereja dengan mawar putih kemarin, tapi sebenarnya bunga mawar merah tetaplah menjadi favoritnya.
Tidak ada yang tahu kenapa Davina bisa sangat menyukai bunga mawar merah. Bahkan Raka pun tidak sadar. Padahal jawabannya hanya sesederhana... karena mawar merah adalah bunga pertama yang diberikan Raka untuknya.
Bunga itu yang mengubah status hubungan mereka berdua, dari hanya sepasang sahabat yang saling menjaga sejak kecil, menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.
Dulu.
Dulunya saling mencintai.
Airmata Davina semakin merebak ketika menemukan sebuah kertas foto, berisi gambarnya tadi siang saat menari balet. Dia membalik kertas foto tersebut dan menemukan dua buah kata saja.
(Still) you...
(Masih) kamu...
Dua kata sederhana yang malah membuat Davina tidak lagi bisa menguasai diri.
"Raka! You, stupid devil!" maki Davina, tapi dia malah tidak bisa membendung lagi isakan tangisnya.
***
Sa ae dah lu, Ka! 😂
Readersku yang baik hatinya, kakak2 kesayangannya Raka (eh, pada mau gak sih disayang sama si anak setan?) HAHAHAHA, mohon bantuannya untuk like dan vote ya. Kalian yang terbaik 😘
IG Author : @ingrid.nadya
aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu
jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)
kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain
ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah
author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,
novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina
aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini
jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil
lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh
pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita
*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu
pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
sekian