NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:551
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Kembali dengan Kewibawaan

Gerbang paviliun misi Sekte Mo-Yun biasanya hanya diramaikan oleh obrolan santai para murid yang menukar hasil buruan dengan kepingan kontribusi. Namun pagi ini, udara terasa berbeda. Ada kepuasan yang prematur di wajah Lu Zhen. Ia berdiri di tengah aula, dikelilingi oleh Mei dan Han yang tampak gelisah, sementara beberapa kantung kulit berisi tanaman obat diletakkan di atas meja batu pengawas.

"Lembah itu tidak menunjukkan ampun," Lu Zhen berbicara dengan nada yang sengaja diperas agar terdengar duka. "Yuen Guiren... dia tidak mampu mengikuti ritme tim. Sebuah kecelakaan di ceruk laba-laba. Kami mencoba menariknya kembali, tapi reruntuhan itu terlalu cepat."

Mei menunduk, menyembunyikan binar matanya di balik sandiwara wajah muram. Pengawas misi, seorang pria tua dengan jubah abu-abu kusam, mengangguk perlahan sambil mencatat di gulungan bambu. "Kehilangan murid luar adalah hal lumrah, namun tanaman Lidah Roh yang kalian bawa cukup untuk menutupi kerugian itu."

Di sudut aula, Xiaolian berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi, namun ia tidak menangis. Ia berdiri di sebelah Yue Chuntao yang hadir di sana dengan kursi tandunya. Yue menatap Lu Zhen dengan pandangan yang begitu dingin hingga mampu membekukan sumsum tulang.

"Kalian bilang dia tertimbun?" suara Yue Chuntao memecah keriuhan aula. Tipis, namun otoritasnya sebagai putri Penatua membuat semua orang menoleh. “Di bawah pengawasanku, Yuen Guiren bukanlah orang yang ceroboh untuk mati tertimbun batu begitu saja.”

Lu Zhen menelan ludah, keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. “Nona Yue, alam tidak peduli pada reputasi seseorang. Kami saksinya.”

“Saksi?” Yue Chuntao tersenyum getir. “Atau pelaku? Jika kau begitu yakin, Lu Zhen, bersumpahlah atas nama Inti Kultivasimu di depan Aula Pengawas. Katakan bahwa kau melakukan segala cara untuk menyelamatkannya.”

Aula menjadi senyap. Bersumpah atas Inti Kultivasi adalah taruhan nyawa, kebohongan akan menciptakan iblis batin yang menghambat kemajuan mereka selamanya. Han gemetar, namun Lu Zhen, yang terdesak oleh keserakahan akan poin kontribusi, menegakkan punggungnya.

“Aku, Lu Zhen, bersumpah di depan langit dan sekte,” ucapnya dengan suara lantang yang dipaksakan. “Bahwa Yuen Guiren tewas karena kecelakaan murni, dan kami tidak memiliki kuasa untuk mengubah takdirnya.”

Tepat saat kata terakhir keluar dari mulutnya, sebuah suara ketukan kayu yang berat bergema dari ambang pintu. Bukan ketukan tongkat bambu yang ringan, melainkan langkah kaki yang menyeret namun penuh penekanan.

Sesosok bayangan menutupi cahaya matahari yang masuk ke aula.

Guiren berdiri di sana. Jubahnya kotor dengan noda darah binatang roh yang sudah mengering dan menghitam. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat seolah setiap helaan udara adalah duri yang menggores paru-parunya. Namun, ia berdiri tegak.

Aula mendadak senyap. Sumpah Lu Zhen yang baru saja mengangkasa seolah terpotong oleh kehadiran “hantu” ini. Wajah Lu Zhen berubah dari pucat menjadi abu-abu dalam hitungan detik, Inti Kultivasinya berdenyut sakit, reaksi pertama dari sumpah palsu yang dilanggarnya.

Guiren melangkah maju tanpa suara. Ia tidak menatap Lu Zhen, tidak perlu. Ia berjalan langsung menuju meja pengawas dan menjatuhkan sebuah kantung kain besar yang tampak basah oleh cairan ungu. Saat kantung itu terbuka, aroma herbal yang sangat kuat dan murni menyeruak, mengalahkan bau apek tanaman yang dibawa Lu Zhen sebelumnya.

Di dalamnya bukan hanya Lidah Roh, melainkan juga tiga tangkai Akar Giok Rembulan tanaman langka yang hanya tumbuh di gua terdalam Lembah Roh.

"Tugas selesai," suara Guiren serak, namun memiliki resonansi yang lebih dalam dari sebelumnya.

"Kakak!"

Xiaolian berlari, menerjang kerumunan murid yang terpaku. Ia menabrak dada Guiren, memeluknya dengan kekuatan yang membuat Guiren sedikit terhuyung. Xiaolian terisak di pundaknya, sebuah tangis lega yang memecah kebekuan di aula. Guiren mengangkat tangannya yang gemetar, menepuk punggung adiknya perlahan. Itu adalah satu-satunya momen di mana kekakuan di wajahnya melunak.

"Aku pasti kembali, Lian-er," bisiknya.

Yue Chuntao langsung menatap Lu Zhen yang kini berlutut sambil memegang dadanya akibat efek dari sumpah palsunya mulai bekerja. “Sepertinya langit baru saja menjawab sumpahmu, Lu Zhen.”

Yue Chuntao mengisyaratkan pengawalnya untuk maju. Ia menatap pengawas misi dengan tajam. "Pengawas, sepertinya ada perbedaan besar antara laporan 'kecelakaan' yang saya dengar tadi dengan kenyataan yang berdiri di depan kita. Bagaimana mungkin seorang pria yang dikatakan tertimbun reruntuhan justru membawa hasil yang bahkan tidak berani dicari oleh rekan timnya yang 'selamat'?"

“Lu Zhen, Mei, Han! Kalian tidak hanya pengecut yang meninggalkan rekan, tapi juga penghianat yang berani bersumpah palsu di aula ini!” Pengawas itu memelototi Lu Zhen, Mei, dan Han dengan tatapan menghakimi. Bukti di atas meja tidak bisa berbohong. Hasil yang dibawa Guiren menunjukkan bahwa dia telah menjelajahi bagian lembah yang paling berbahaya, tempat di mana tim Lu Zhen bahkan tidak berani menginjakkan kaki. "Lu Zhen, jelaskan ini!”

"Kami... kami pikir—" Lu Zhen terbata, keringat dingin membasahi lehernya. Mei dan Han mundur beberapa langkah, mencoba menjauhkan diri dari pemimpin mereka yang kini terpojok.

"Mereka tidak salah," timpal Guiren tiba-tiba. Ia menoleh ke arah Lu Zhen, meski kain penutup matanya tidak memperlihatkan apa-apa, Lu Zhen merasa seolah sedang ditatap oleh hantu. "Mereka memang melihat reruntuhan itu jatuh. Hanya saja, mereka terlalu terburu-buru untuk pulang dan mengklaim jasa."

Sebuah penghinaan yang halus, namun telak. Guiren tidak menyebutkan pengkhianatan secara eksplisit, namun semua orang di aula tahu apa yang terjadi. Di sekte ini, meninggalkan rekan tim untuk mati demi poin adalah hal yang dibenci jika terungkap secara publik.

Pengawas itu mendengus. ”Tiga bulan pemotongan seluruh jatah sumber daya. Peringkat kalian dihapus dari daftar murid luar, dan kalian diwajibkan melakukan kerja kasar di Tambang Batu Roh selama enam bulan tanpa henti. Peringkat mereka dalam daftar murid luar diturunkan satu tingkat. Dan seluruh poin kontribusi misi ini... menjadi milik Yuen Guiren."

Mei jatuh terduduk, menyadari bahwa enam bulan di tambang tanpa sumber daya kultivasi berarti fondasi mereka akan melemah selamanya. Han menangis sesenggukan, sementara Lu Zhen hanya bisa menatap lantai dengan mata kosong, merasakan karir kultivasinya baru saja menemui jalan buntu. Penyesalan itu datang terlambat, rasa malu dan sakit dari sumpah yang dilanggar akan menghantui setiap meditasinya.

Guiren mengambil kepingan kontribusinya tanpa kata. Ia berjalan melewati Lu Zhen seolah pria itu hanya udara kosong. Namun, saat ia melangkah keluar bersama Xiaolian dan Yue Chuntao, ia merasakan atmosfer aula berubah.

Para murid senior yang biasanya memandang sebelah mata kini menatapnya dengan waspada. Ada rasa curiga dan ketakutan baru. Mereka melihat luka-lukanya, mereka melihat betapa hancurnya meridiannya, namun mereka juga melihat kekuatan yang kini mengendap di balik ketenangan Guiren.

Ia bukan lagi "Si Buta" yang beruntung. Ia adalah kultivator yang berbahaya.

Saat mereka menjauh dari paviliun, Yue Chuntao berbisik dari kursi tandunya, "Kau menarik perhatian yang tidak kau inginkan. Ayahku pasti akan segera memanggilmu."

Guiren berhenti sejenak, merasakan angin pegunungan yang membawa aroma badai. "Perhatian adalah harga dari sebuah kepastian, Nona Yue. Setidaknya sekarang, mereka tahu siapa yang tidak boleh mereka tinggalkan di kegelapan."

Ia terus berjalan, dibimbing oleh tangan Xiaolian yang tak lagi gemetar. Ia telah kembali dengan wibawa, namun ia tahu bahwa di sekte sebesar Mo-Yun, semakin tinggi seseorang berdiri, semakin kencang angin yang berusaha menjatuhkannya.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!