Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Apa?
Setelah menerima panggilan telepon tersebut, Althaf pun kembali masuk ke ruang tamu. Wajahnya yang semula tampak santai kini sedikit berubah serius meski senyum tipis tetap ia sunggingkan demi menghormati Ibu Yati dan Ayara.
"Maaf, Bu, Ayara... Sepertinya saya harus pamit. Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan," ucap Althaf sopan seraya berdiri tegak dan merapikan jaketnya.
Ibu Yati yang sejak tadi terpesona dengan kesantunan pemuda di hadapannya, ikut berdiri perlahan. "Wah, iya Nak Althaf. Terima kasih banyak ya sudah repot-repot mengantar Ayara."
"Sama-sama, Bu. Ini bukan repot kok, sudah kewajiban saya," balas Althaf takzim, lalu meraih tangan wanita paruh baya itu untuk disalaminya penuh hormat.
Ayara yang turut berdiri di samping sang ibu merasakan debaran di dadanya kian tak karuan. Ada rasa lega karena akhirnya Althaf akan pulang dan menghentikan kehebohan di kampung kecil ini, namun di sisi lain terselip rasa aneh yang mendadak merayap di rongga dadanya.
"Mari, saya antar sampai depan," kata Ayara canggung dan berjalan mendahului Althaf menuju pintu keluar.
Di bawah temaram cahaya lampu bohlam teras yang menerangi halaman kecil berpagar seng, Althaf menghentikan langkahnya tepat di sebelah pintu kemudi mobilnya. Pria itu menoleh menatap Ayara yang berdiri bergeming dengan tangan saling meremas di depan dada.
"Masuklah, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu setelah lelah mendaki gunung," ucap Althaf lembut.
"Iya, Mas Althaf. Terima kasih sekali lagi untuk semuanya, untuk tumpangan, oleh-oleh dan bantuannya selama pendakian," ucap Ayara tulus, memberanikan diri menatap manik mata tajam pria itu sejenak sebelum kembali menunduk.
Althaf terdiam sesaat. Alih-alih langsung membuka pintu mobil, ia justru melangkah selangkah lebih dekat ke arah Ayara dan membuat wanita itu refleks menahan napas.
"Ayara," panggil Althaf dengan suara baritonnya yang rendah dan begitu membuai.
"Ya, Mas?" cicit Ayara pelan.
"Besok saya ke sini lagi," ucap Althaf, tanpa keraguan sedikit pun di sorot matanya.
Ayara mendongak kaget, matanya membelalak lebar. "Hah? Untuk apa, Mas? Mas nggak sibuk? Lagipula rumah saya..."
"Saya tidak sedang minta izin, Ayara. Saya hanya memberitahu kamu," potong Althaf tenang dengan senyum tipis penuh percaya diri yang amat memesona.
"Istirahatlah yang cukup, pendakian kemarin pasti sangat menguras tenagamu." lanjutnya.
Sebelum Ayara sempat melayangkan protes atau kata-kata penolakan, Althaf sudah membuka pintu mobil, masuk ke dalam dan menyalakan mesin kendaraannya yang menderu halus. Dengan lambaian tangan singkat dan senyuman dari balik kaca mobil, mobil mewah itu perlahan mundur, memutar arah, lalu melaju meninggalkan gang sempit perkampungan Ayara, menyisakan deru angin malam dan jejak lampu ekor merah yang perlahan mengecil di kejauhan.
Ayara berdiri mematung di teras rumah cukup lama, meresapi setiap kata yang baru saja diucapkan oleh pria itu. Jantungnya bergemuruh hebat, seolah mengisyaratkan bahwa ketenangan hidupnya sebagai buruh pabrik yang monoton sebentar lagi akan berubah selamanya.
"Apa sih Mas Althaf itu, kenapa juga dia harus kesini lagi," gumam Ayara, lalu kembali masuk ke rumahnya dan beristirahat karena besok pagi ia harus berangkat bekerja.
...###...
Keesokan harinya, di sebuah rumah mewah berarsitektur modern yang terletak di kawasan perumahan elit kota Bandung, seorang pria tengah bersiap untuk memulai harinya. Pria itu adalah Althaf.
Di balik perawakan tenang dan penampilannya yang berkelas, pria bernama Ghifari Althaf Hardian, bukanlah pria sembarangan. Di usianya ke 29 tahun, ia adalah seorang pengacara muda berbakat sekaligus anak dari pendiri Hardian & Partners Law Firm, firma hukum ternama di Jakarta dan Bandung.
Althaf lahir dari keluarga terpandang, Ayahnya adalah mantan pengacara, Ayahnya memilih berhenti setelah Althaf sudah pengacara dan mewarisi firma hukumnya, lalu saat ini Ayahnya menjadi seorang pebisnis properti yang begitu sukses. Sementara ibunya adalah seorang mantan hakim tinggi, Kakak perempuannya seorang Notaris, Kakak iparnya Dokter, dan adik perempuannya saat ini sedang berkuliah di Inggris.
Meski dibesarkan dalam gelimang kemewahan dan memegang posisi terhormat di bidang hukum, Althaf bukanlah pria yang congkak. Sifatnya cenderung tertutup, tenang dan sangat selektif dalam memilih lingkar pertemanan. Selama ini, banyak wanita dari kalangan atas yang berusaha menarik perhatiannya, namun Althaf selalu tidak tertarik.
Pagi ini, Althaf tampak gagah mengenakan kemeja putih bersih dipadu celana kain disesuaikan dengan setelan jas hitam yang terikat rapi di gantungan mobilnya, ia baru saja menyelesaikan sarapan di ruang makan utama rumah keluarganya.
"Al, kamu sudah dapat rincian kasusnya Pak Daniel?" tanya seorang pria paruh baya berpenampilan kharismatik yang duduk di ujung meja. Ia adalah Papa Aditya, ayah kandung Althaf.
Althaf menyesap kopi hitamnya pelan sebelum menjawab, "Sudah, Pa. Tim penyidik sudah kumpulkan berkas tambahan, siang nanti berkas sidang sengketa lahan itu bakal Althaf pelajari."
"Bagus, Papa selalu percaya sama cara kerjamu," sahut Papa Aditya mengangguk puas.
"Papa beneran nggak mau balik jadi pengacara lagi?" tanya Kak Indira.
"Papa sudah bosen harus musuhan sama orang terus, Papa juga nggak mau pusing sama urusan orang. Lagipula, Adik kamu ini kan sudah menggantikan Papa, jadi Papa bisa tenang," jawab Papa Aditya.
"Althaf harus ke kantor sekarang, Pa," pamit Althaf.
"Iya, kamu pasti sibuk. Jangan capek-capek ya," ucap Mama Hasna.
"Iya, Ma," jawab Althaf.
Althaf pun pergi meninggalkan rumah mewah itu, dan menuju firma hukumnya. Setibanya di kantor, Althaf disambut hormat oleh para staf dan resepsionis. Ia berjalan penuh wibawa dengan setelan jas melekat sempurna di tubuhnya, melangkah menuju ruang kerjanya yang luas di lantai atas.
Namun, baru saja ia duduk di kursi kerjanya dan membuka laptop, pintu ruangannya diketuk pelan. Masuklah Rendy, asisten pribadinya.
"Pak Althaf, ini berkas klien untuk sidang arbitrase minggu depan sudah saya revisi," ucap Rendy sambil meletakkan map tebal di atas meja.
Althaf mengangguk sekilas, "Terima kasih, Ren. Oh ya, untuk kasusnya Pak Daniel, bagaimana? Kemarin katanya sudah ada berkas tambahan dari penyidik, kan?"
"Pak, se-sebenarnya ada masalah...," ucap Rendy gugup.
"Masalah apa?" tanya Althaf.
Rendy menelan ludahnya susah payah di hadapan meja kerja Althaf. Ketegangan mendadak menyelimuti ruangan ber-AC dingin itu, sementara Althaf tetap memasang raut wajah tenang, menunggu asistennya melanjutkan perkataannya tanpa interupsi.
"Begini, Pak... Pihak lawan dari kasus sengketa lahan Pak Daniel rupanya menyewa pengacara dari firma hukum senior dan mereka baru saja menyerahkan bukti baru terkait sertifikat tumpang tindih. Jika kita tidak menyajikan saksi ahli tambahan atau bukti dokumen kepemilikan awal minggu ini, posisi klien kita di persidangan akan sangat berbahaya," terang Rendy seraya menyerahkan map cokelat tipis berisi dokumen susulan.
Althaf menerima map tersebut, membukanya dengan tenang dan memindai setiap halaman dengan tajam, jemari tangannya mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca.
"Sengketa lahan ini sudah berlangsung dua tahun dan mereka baru mengeluarkan dokumen ini sekarang? Setelah ini kita berkunjung ke lokasi sengketa dan segera jadwalkan pertemuan dengan saksi kunci sebelum hari Kamis, saya sendiri yang akan turun menangani pemeriksaan ulang," ucap Althaf.
"Baik, Pak." jawab Rendy.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita