NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Super Tajir

Sistem Ayah Super Tajir

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:30.5k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.

Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.

Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Tiga puluh detik yang lalu, gerombolan beringas itu masih bisa tertawa lepas, menganggap pria berpakaian putih di hadapan mereka tak lebih dari sekadar domba yang tersesat. Namun sekarang? Jalan raya sunyi di bibir tebing Dragon Bay itu telah berubah fungsi menjadi arena pembantaian sepihak.

Brak!

Krak!

Suara hantaman daging padat yang bertemu dengan aspal, bunyi ngilu dari tulang-tulang yang remuk, serta paduan jeritan kesakitan bersahutan memecah keheningan lereng bukit. Darah segar mulai menciprat, melukis aspal yang berdebu.

Dari awal hingga detik ini, tidak ada satu pun ujung senjata bahkan sehelai benang dari kemeja putih Jiang Muchen yang berhasil disentuh oleh para preman itu. Setiap kali siluet pria itu berkelebat, satu tubuh dipastikan ambruk tak berdaya. Entah itu dengan tulang rusuk yang melesak ke dalam, atau pingsan seketika dengan mata terbalik.

'Delapan detik.'

Batin Muchen menghitung mundur dengan ketenangan yang membekukan darah.

Pria itu kini berdiri tegak tepat di tengah kepungan belasan preman yang masih memaksakan diri untuk berdiri. Napas para begundal itu memburu liar. Tangan-tangan kokoh yang tadinya menggenggam erat pipa besi dan parang, kini bergetar sehebat daun kering ditiup badai.

Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan dan sorot mata meremehkan. Yang tersisa hanyalah teror absolut yang menenggelamkan dasar bola mata mereka.

Monster... Iblis macam apa yang sedang mereka hadapi ini?! Senjata tajam di tangan mereka mendadak terasa seperti ranting kayu lapuk yang sama sekali tak ada gunanya melawan pria yang bergerak melampaui batas hukum fisika tersebut.

"Maju," desis Muchen pelan. Sepasang matanya menatap lurus, sedingin bongkahan es abadi.

Srek... srek...

Hanya dari satu kata itu, tekanan aura membunuh yang memancar dari pori-pori Muchen langsung menghantam mental mereka. Belasan preman beringas itu secara refleks melangkah mundur, sepatu mereka bergesekan ketakutan dengan aspal secara serentak.

Dari jarak sepuluh meter, Macan Hitam mematung kaku.

Wajah sang bos dunia bawah yang biasanya sangar dan dipenuhi bekas luka mengerikan itu, kini sepucat mayat yang sudah seminggu membusuk. Cerutu mahal di bibirnya sudah lama jatuh ke tanah tanpa ia sadari. Kakinya kehilangan fungsi motoriknya. Ia baru saja melihat dengan mata kepalanya sendiri; anak-anak buah terbaiknya yang paling haus darah di seantero distrik barat, dihancurkan hanya dalam hitungan detik layaknya segerombolan serangga rapuh.

"I-ini tidak mungkin..."

Macan Hitam merinding hebat. Seluruh bulu kuduknya berdiri tegak. Naluri bertahan hidup hewani di dalam otaknya menjerit merobek kewarasannya.

Tanpa sudi lagi mempedulikan belasan anak buahnya yang masih gemetar di medan laga, Macan Hitam memutar tubuh besarnya. Ia melompat panik ke dalam kursi penumpang van hitam terdekat.

"Cepat! Injak gasnya, Bangsat! Putar balik! Kita lari dari sini!!" teriak Macan Hitam histeris, memukuli bahu sopirnya yang sama-sama berwajah pias.

Wrrrrmmm!

Ciiit!

Van hitam itu langsung menderu nyaring, memutar arah dengan manuver ugal-ugalan. Mobil itu melesat kabur meninggalkan sisa-sisa pasukannya yang terluka parah di aspal, murni didorong oleh hasrat menyelamatkan nyawa sendiri.

Namun, Muchen sama sekali tidak berniat membiarkan hama itu lolos begitu saja.

'Sembilan detik.'

Muchen memutar lehernya, menatap buritan van yang semakin menjauh.

'Sepuluh detik.'

Dengan gerakan santai, pria itu membungkuk, memungut sebuah pipa besi tebal dan berat yang tergeletak di dekat ujung sepatunya. Muchen menimbang bobot pipa itu sejenak, lalu menarik lengan kanannya ke belakang.

Dibantu oleh tenaga dari Pil Peningkatan Fisik Dasar, otot lengannya mengembang. Dengan kecepatan rotasi yang melampaui batas wajar atlet Olimpiade, pergelangan tangan Muchen berkelebat.

Wushhh!

Pipa besi itu melesat membelah udara dengan suara mendesing yang tajam. Benda padat itu meluncur bebas layaknya misil kendali sejauh puluhan meter, membelah angin, dan menghantam telak velg serta ban belakang van hitam yang sedang berakselerasi dalam kecepatan tinggi.

Bum!!

Suara ledakan ban yang memekakkan telinga bergema memantul di dinding tebing.

Van hitam itu seketika kehilangan keseimbangan. Bodi besarnya terbanting ke samping, berputar dua kali di atas aspal seperti gasing yang kehilangan porosnya, sebelum akhirnya...

Brakkk!

Hantaman logam padat yang sangat mengerikan terjadi. Van tersebut menabrak telak pagar pembatas beton di bibir tebing. Bagian depan mobil itu remuk total hingga tak berbentuk, melesak ke dalam layaknya kaleng soda yang diinjak. Asap hitam pekat langsung mengepul tebal ke udara dari radiator yang hancur berantakan.

Melihat bos besar mereka sendiri berakhir tragis hanya dengan satu lemparan pipa besi, sisa preman yang belum pingsan seketika kehilangan fungsi akal sehat mereka.

Prang... klontang...

Tongkat bisbol, parang, dan pipa besi terlepas dari genggaman mereka, jatuh berhamburan ke aspal. Puluhan pria berbadan tato itu serempak menjatuhkan diri, berlutut sambil menangis histeris di atas aspal yang bersimbah darah.

"Tuan... ampun, Tuan! Tolong jangan bunuh kami!"

Kepala mereka bersujud membentur-bentur aspal, memohon ampunan ke arah Muchen layaknya menyembah dewa kematian.

"Kami hanya anjing suruhan! Tolong ampuni nyawa kami ini, Tuan!"

Muchen sama sekali tidak melirik sekumpulan manusia tak berguna itu. Ia berjalan santai melewati barisan preman yang sedang bersujud. Langkah pantofelnya berdetak tenang mendekati bangkai van hitam yang mulai berasap di ujung jalan.

Sesampainya di sana, Muchen melihat pintu samping van itu telah ringsek dan melesak ke dalam, macet total menjepit penumpangnya. Muchen tidak repot-repot mencari alat bantu. Ia menyelipkan jemarinya ke sela-sela bingkai jendela pintu besi tersebut. Tangan kanannya mencengkeram kuat, membuat urat-urat di punggung tangannya menonjol.

Hanya dengan sedikit tambahan tenaga di lengannya...

Sreeeeekk... KRAAK!

Suara jeritan logam yang dikoyak paksa mengiris pendengaran. Pintu geser berbahan baja tebal itu robek, terlepas sepenuhnya dari engsel dan relnya, seolah Muchen baru saja merobek selembar kertas koran murahan.

Di dalam kabin yang pengap, Macan Hitam terkapar menyedihkan. Darah kental mengalir dari pelipis dan kepalanya yang botak. Ia meringis kesakitan, menahan napas dengan sebelah mata yang setengah terpejam merespons cahaya matahari dari luar.

Grep.

Tangan Muchen menembus masuk, mencengkeram erat kerah baju Macan Hitam. Tanpa usaha berarti, ia menyeret pria plontos berbobot seratus kilogram itu keluar dari bangkai mobil, lalu melemparkannya begitu saja ke aspal panas tepat di bawah kakinya.

"Uhuk... uhuk... ampun..." rintih Macan Hitam, memuntahkan gumpalan darah dari mulutnya. Tangannya meremas tanah dengan putus asa. "Jangan... jangan bunuh aku..."

Muchen berjongkok perlahan. Pria itu mencondongkan tubuhnya, lalu menepuk-nepuk pipi Macan Hitam yang sudah tak berdaya dengan gerakan yang lembut, namun memancarkan aura niat membunuh yang sangat pekat.

"Pulanglah pada Zhao Qiming," ucap Muchen.

Suara rendah dan dingin itu menembus langsung ke gendang telinga Macan Hitam, menanamkan kutukan maut di dalam jiwa sang preman.

"Katakan pada tuanmu itu... mainannya sudah rusak." Muchen menyunggingkan senyum miring yang sangat kejam. "Dan katakan padanya... aku sendiri yang akan datang menemuinya malam ini."

Setelah menanamkan pesan pencabut nyawa tersebut, Muchen bangkit berdiri. Ia memutar tubuhnya dan melangkah santai melintasi jalanan sunyi itu, kembali menuju kabin Dartz Prombron. Rintihan kesakitan dan tangisan ketakutan dari para preman yang berserakan di aspal itu sama sekali tak dihiraukannya.

Wrrrrmmm!

Mesin V8 monster baja itu kembali mengaum buas. Keempat ban raksasanya melindas dan melompati serpihan kaca serta logam yang berserakan di jalan. Dartz Prombron hitam pekat itu melaju kencang menembus tikungan tebing, meninggalkan pemandangan neraka kecil di lereng perbukitan Dragon Bay.

1
Seung
🤣 jadi ank nya
Luna
nikah dulu woy ,,,,
Seung
kok ngga nyambung? 😂
Luna
1 miliar Dollar jadi berapa triliun itu 😱😱😱😱😱😱
Mu Lin@42443
chp 15 dan 16 sama, lalu chp 14 ke 15 kayak di lewatin, dari gudang, tiba tiba udh berantem di kaki villa
Luna
calon ibu sikembar cie cie
Was pray
kok diekspor? berarti tenaga pengajarnya dibuang ke eropa dong .... 🤭🤭🤣
RaMna Hanyonggun Isj
Ceritanya sama persis dgn cerita sebelah dgn titik komanya hanya beda di disni yg di Usir Cowok di sebelah Cewek yg di Usir
💫Penjelajah Novel💫
saran jangan terlalu banyak membuat cerita. fokus ke 1 - 2 aja dulu. setelah tamat baru buat lagi. nanti banyak yg gak ke urus kek yg sudah2🙏
Luna
👏👏👏👏pak dudaku keren👍
Fajar Fathur rizky
cepat bantai bayangan abu
Luna
semoga lolos Thor,,, beberapa akhir ini banyak novel favorit ku yg gagal kontrak 💪
Yui: makasih kak dukungannya😊, iyah ntah apa yang merasuki Aplikasi ini
total 1 replies
💫Penjelajah Novel💫
tolong up 10 bab/hari thor. jangan nanggung gini 🤣
Yuliana Tunru
linna kau terlalu pede ya jgn kau kita jiang vm.orang biasa ditunghu kejutan krn niat jahatmu
Yuliana Tunru
👍👍👍 jiang munchen kau bagai eewa kematian bagi orang2 jqhat
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dewiendahsetiowati
cerita dicerai di hari tua aku kembali menjadi nona muda kok dihapus ya thor
Yui: mau direvisii kak😊
total 1 replies
Yuliana Tunru
benar2 pembalasan yg mutlak 👍👍
Luna
lah ngapain kamu nyalahin tuan muda Zhao kan elu yg gatal dulu Lin🤣🤣🤣🤣
Luna
request kalo bisa si mantan istri diteror sampai gila yh Thor🤣🤣🤣
Luna: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!