Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Ketahuan — Part 2
Dari arah jalan setapak tempat mereka datang tadi, sayup-sayup terdengar suara beberapa mahasiswa yang sedang berjalan mendekat.
"Eh, seriusan, tadi tuh gue ngerasa lihat Alya Renata di kedai depan." "Mana ada artis gede nongkrong di situ. Halu lu." "Beneran! Cewek yang maskeran tadi. Postur badannya itu lho."
Senyum di wajah Alya langsung luntur. Tangannya menggenggam gelas kopinya erat-erat hingga plastik itu berbunyi.
Arka sontak menoleh ke arah datangnya suara.
Tiga mahasiswa berjalan menuju arah mereka. Salah satu dari mereka sedang sibuk melihat foto dari galeri ponselnya.
"Serius, tadi di kedai ada cewek yang mirip banget." "Terus sekarang ke mana ceweknya?" "Kayaknya dia masuk ke lorong taman belakang sini deh tadi."
Alya membelalakkan matanya dan menatap Arka dengan panik.
Arka langsung berdiri tanpa bersuara. "Ikut ke belakang."
"Apa?"
"Percaya sama aku. Jalan sekarang."
Arka melangkah cepat lebih dulu. Alya buru-buru memasang topinya dan mengikuti tepat di belakang punggung lebar pria itu.
Mereka berbelok cepat masuk ke jalur lorong sempit yang memisahkan bagian belakang gedung perpustakaan dan gedung fakultas lain.
Namun, suara rombongan mahasiswa tadi terdengar semakin jelas dan dekat.
"Tuh kan! Kayaknya mereka belok ke sini tadi."
Napas Alya mulai memburu. Kepanikan perlahan mengambil alih logikanya. "Arka..."
"Tenang," potong Arka berbisik.
Arka berhenti di persimpangan lorong, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan cepat.
Di sebelah kiri ada pintu samping gedung fakultas. Di sebelah kanan ada jalur terbuka menuju area parkir staf. Jika mereka memilih ke kanan, mereka pasti akan langsung terlihat jelas dari ujung lorong.
Tanpa banyak berpikir lagi, Arka menarik ujung lengan baju Alya menuju ke arah kiri.
Suara derap langkah sepatu tiga mahasiswa itu terdengar semakin dekat.
"Eh, bentar, itu ada orang di depan!"
Jantung Alya rasanya mau copot. Arka berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna pudar.
Ia menekan tuas pintunya. Tidak terkunci.
Arka langsung menoleh pada Alya. "Masuk ke sini."
Mata Alya membulat sempurna. "Ke mana?!"
"Ruang BEM. Cepat."
"Boleh masuk ke situ?!"
"Nggak usah banyak tanya, masuk sekarang."
Alya langsung menyelinap masuk. Arka menyusul dengan cepat dan menutup kembali pintu kayu itu tanpa menimbulkan suara keras.
Klik.
Kondisi ruangan itu sedikit remang-remang karena lampunya dimatikan, hanya diterangi sinar matahari sore dari ventilasi. Beruntung, tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada beberapa meja panjang yang penuh kertas, tumpukan kardus banner, dan deretan kursi lipat.
Alya menempelkan tubuhnya di balik tembok samping pintu sambil menahan napas rapat-rapat. Jantungnya berdetak gila-gilaan di rongga dada.
Arka berdiri merapat di sebelahnya, menyandarkan tubuh ke pintu, memasang telinga.
Dari luar, suara langkah kaki tiga mahasiswa itu terdengar berjalan pelan melewati lorong depan pintu tersebut.
"Mana? Katanya lu lihat orang?" "Nggak ada. Tadi sekilas kayak ada dua orang belok ke sini." "Yakin tadi belok ke sini? Buntu tau." "Mungkin salah lihat gue."
Suara perdebatan receh itu berangsur-angsur menghilang di ujung lorong seiring derap langkah mereka menjauh.
Alya mengembuskan napas panjang dengan bunyi 'fuuhh', tubuhnya merosot sedikit saking leganya.
Arka perlahan membuka kenop pintu selebar dua sentimeter, mengintip keadaan lorong. Kosong.
Ia menoleh ke arah Alya. "Udah aman."
Alya membalas tatapannya. Ketegangan yang tadi memuncak perlahan mengendur, lalu tiba-tiba meledak menjadi tawa kecil yang harus ia tahan rapat-rapat dengan punggung tangannya.
"Astaga... seumur-umur jadi aktris, aku nggak pernah ngebayangin bakal sembunyi ketakutan di ruang organisasi kampus kayak gini," bisik Alya sambil masih terkikik pelan.
Arka tersenyum melihatnya. "Pengalaman baru kan?"
"Dan semuanya ini mutlak gara-gara kamu tadi ngajakin ngopi di kampus."
Arka langsung mendelik protes. "Loh? Jelas-jelas kamu sendiri tadi yang ngerengek minta es kopi."
Alya terdiam. Mengingat fakta itu.
"Iya, benar juga," akuinya pasrah lalu tertawa lagi.
Arka ikut tersenyum.
Untuk sesaat, dalam kelegaan setelah rasa panik itu reda, mereka hanya berdiri saling memandang di dalam ruangan yang sunyi dan berdebu itu.
Tidak ada naskah dialog yang harus dihafal. Tidak ada suara jepretan kamera memekakkan telinga. Hanya ritme napas mereka yang berangsur normal, berpadu dengan sinar jingga matahari sore yang masuk dari ventilasi menimpa sebagian wajah mereka.
Kedekatan jarak ini mendadak terasa sedikit berbahaya, namun terlalu nyaman untuk dihindari.
Alya menatap mata pria di depannya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara sangat pelan.
"Terima kasih ya, Ka."
Arka mengangguk. "Sama-sama."
"Aku serius lho. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus kabur ke mana."
"Aku juga serius balasnya."
Alya tersenyum hangat. "Aku beneran beruntung bisa kebetulan ketemu kamu lagi."
Arka baru saja membuka mulut untuk menjawab, namun sebuah getaran kasar di saku celananya memotong momen tersebut.
Ponselnya berdering pelan. Arka mengeluarkannya.
Satu notifikasi WhatsApp dari Rendy.
Rendy: Bro, lu posisi di mana?
Rendy: Di grup angkatan lagi pada ribut katanya ada maba yang yakin banget lihat Alya Renata di depan kedai deket perpus.
Rendy: Jangan bilang lu lagi sama dia sekarang? 🗿
Arka membaca pesan itu dengan wajah datar, lalu segera mengunci dan mematikan layar ponselnya.
Alya yang mengintip dari dekat ikut penasaran. "Siapa? Teman kamu?"
"Rendy."
"Oh, temenmu yang berisik itu. Dia tahu aku lagi sembunyi di sini?"
"Belum."
Alya tersenyum geli. "Tolong banget, jangan sampai dia tahu soal hari ini."
"Kenapa?"
"Kalau cowok ember itu sampai tahu, besok pagi berita soal kita sembunyi berdua di gudang BEM bisa jadi trending topic satu kampus."
Arka tertawa mengiyakan. "Fakta yang sangat tidak bisa disangkal."
Alya kembali merapikan rambutnya dan memakai topinya agak rendah.
Mereka berdua berjalan mengendap-endap keluar dari ruangan setelah Arka memastikan lorong luar benar-benar sudah bersih dari mahasiswa.
Saat mereka tiba di persimpangan jalan setapak menuju parkiran utama, Alya menghentikan langkahnya.
"Arka."
"Hmm?"
"Kalau tadi seandainya kamu enggak sigap narik aku ke ruang itu..." Alya menggantung kalimatnya.
Arka menatapnya, sabar menunggu. "Terus?"
Alya menatap mata pria itu sekilas, lalu mengubah pikirannya dan hanya tersenyum usil. "Ah, enggak jadi."
"Lho, kenapa?"
"Rahasia."
Alya melenggang berjalan lebih dulu dengan gaya puas. Arka hanya menggelengkan kepala pasrah melihat kelakuan artis itu dan mengikutinya dari belakang.
Namun, tanpa mereka berdua sadari...
Dari balkon lantai dua gedung fakultas di seberang taman... seseorang tengah berdiri diam di balik pilar dekat jendela.
Ponsel canggih dengan kamera berlensa zoom maksimal berada di tangan orang itu.
Orang itu baru saja melihat sosok Alya yang berjalan beriringan dari arah lorong sempit menuju parkiran bersama Arka.
Kamera ponsel terangkat. Lensa difokuskan.
Cekrek.
Satu foto berhasil diambil dengan sangat jernih.
Bukan foto candid Alya sendirian. Melainkan foto Alya Renata, sang aktris A-list, yang sedang berjalan bersisian dan saling melempar senyum dengan seorang mahasiswa pria yang identitasnya tidak pernah diketahui publik.
Sebuah senyum puas muncul di bibir orang di balik kamera tersebut.
Dan sore itu juga...
Sebuah foto sederhana yang seharusnya tidak berarti apa-apa itu, mulai dikirim dan berpindah dari satu obrolan ponsel ke ponsel lainnya bagaikan virus.
Menandai hitungan mundur sebelum dunia Alya dan dunia Arka benar-benar akan bertabrakan secara brutal.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!